Jumat, 14 Oktober 2011

Diorama Dilema

Malam menjelang menghadirkan ribuan cahaya bintang

Ketika harapan terbingkai dalam setiap tarikan nafas untuk sebuah senyum yang terkembang



Bingkisan cinta ini tercekat di tenggorokan

Kata-kata indah mengambang tak tersampaikan

Hanya sebuah simpul senyuman yang melukiskan kelebatan kehangatan dalam ingatan,

Dari sebuah kasih sayang yang tak mungkin terbalaskan

Meski ditebus lewat panjangnya pengabdian



Kugoreskan pena penuh keharuan dalam tiap butir yang turut leleh

Untuk mata bening Mama yang selalu meneduhkan hati kala gundah

Untuk setiap tetes peluh Ayah yang selalu mampu membakar semangat kala raga mulai lelah

Dan untuk setiap pengorbanan yang selalu mampu melecut kekuatan saat jiwa beranjak lemah dan goyah



Kubisikkan senandung lirih dari ananda

Yang terekam disetiap bait-bait doa penuh kerinduan

Dalam sebuah diorama dilema

Yang membasahkan kelopak mata



Kusungkurkan tubuhku di atas sajadah yang terbentang,

Meleburkan segala usaha dan doa dalam titik kulminatif bernama pasrah

Semoga fana tak membuat jiwa lengah,

Dan lupa bahwa kaki harus tetap menjejak tanah



-aesaazzam-


#Rindu kuu untuk mama dan ayah.. :)
semoga, galau tak berlama-lama hadir menyusup dalam relung jiwa..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar