Kamis, 13 Oktober 2011

Antara Cita dan Rasa

Sebuah coretan lama yang saya tulis ketika saya harus sedikit membelokkan arah lesat sang cita..

Bismillah,

Antara Cita dan Rasa..

Cita, satu kata yang membumbung tinggi. Ia mengangkasa sejauh tumbuhnya harapan yang kita tanam di taman kehidupan. Mimpi, sesekali mewakili cita, meski secara maknawiyah-nya jauh berbeda. Mimpi kita hari ini, -menurut Hasan Al Banna- adalah kenyataan di hari esok. Demikian halnya dengan, mimpi kita kemarin adalah kenyataan hari ini. Hukum ini berlaku tentu jika -dan hanya jika-, hari-hari antara kedua masa itu (kemarin dan hari ini) kita isi dengan ikhtiyar, do’a, dan tawakkal, untuk mengejar lesatan sang cita. Dengan kata lain, inilah yang disebut mimpi yang ditindaklanjuti.

Jika membahas tentang cita, tentulah selalu diidentikkan dengan ‘tinggi’. “Gantung ia setinggi bintang di angkasa jauh,” kata ayah dan mama. Setinggi bintang. Dan dalam Al-Qur’an, di dalam surat ‘Bintang’ kita akan menemukan sebuah pertanyaan tentang cita, yang dengan-nya Allah ingin membuat kita tersadar akan siapa sesungguhnya kita dan siapa Dia.

“Atau apakah manusia akan mendapat segala apa yang dicita-citakannya? (Tidak), maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan juga dunia.”

(TQS. 53: 24-25)

Ada banyak hal di balik jangkauan ikhtiyar kita. Ada ragam perkara dengan masing-masing kerumitannya, yang terkadang membuat kita terpaksa harus membelokkan arah lari kita dalam mengejar lesatan sang cita. Dan mungkin, ada banyak hal yang telah tergaris, tak pernah mencocoki cita kita yang memang cenderung.

Maka, sebuah cita selalu membutuhkan rasa. Jika dipadukan, terciptalah CITA RASA. Cita rasa dibutuhkan agar belokan-belokan cita menjadi petualangan yang indah dalam ampiran sejenak kita di dunia.

Terkadang, kita dituntut untuk menyadari dan menerima bahwa banyak hal harus terjadi di luar cita, tetapi.. dengan mengasah rasa, InsyaAllah, segala belokan yang harus kita ambil akan menjadi pilihan yang menentramkan.

Semua ini, tentu tak boleh dilepaskan begitu saja tanpa usaha..

Kita, tetap harus berusaha untuk mengejar lesatan sang cita secara maksimal. Dan jika, dalam proses pengejaran tersebut Allah telah menyiapkan pilihan yang lain untuk kita, asahlah rasa agar cita berpadu sempurna mencipta CITA RASA, maka qana’ah dan ikhlas adalah jawabannya.

Sesungguhnya, seperti yang telah tertuang dalam penggalan surat cinta-Nya yang artinya:

“.... boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal sesuatu itu sangatlah buruk bagi kalian. Allah mengetahui sedang kalian tidak mengetahui.”

(TQS. 2: 216)

Dalam sebuah hadits shahih dikatakan:

“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan pasti Allah akan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih baik bagimu.”

(HR. Ahmad, Shahih)

Pilihan-Nya lah yang terbaik, karena sungguh Allah Maha Tahu sedangkan kita tidak tahu..

--Waallahu a’lam bi showab—

--------------------------------

2 Januari 2010,

Aesa-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar