Kembali ingin berbagi,
Coretan ini, saya hadiahkan untuk diri saya sendiri dan saudara-sauadara saya.. teriring do’a semoga Allah senantiasa menjaga dan mencintai kita.. Amin.
Cinta,
Ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih, dan cerita..
Cinta,
Luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih, dan badai..
Satu kata AJAIB yang tersusun atas 5 huruf inti. CINTA. Rasa yang ada di balik kata ini, bisa membuat orang mengubah ekspresi secepat lintasan komet (padahal belum pernah lihat komet, hehehe :P), dari sedih menjadi senang, dari muram menejadi periang, dari diam menjadi ceria ataupun sebaliknya. Ketika seseorang berkata sedang jatuh cinta, maka tawa, canda, dan ceria menjadi kamus wajib dalam hari-harinya, dan ketika telah dipatahkan oleh cinta, muram, suram, tidak ada gairah dan sebagainya, menjadi ekspresi ‘mati’ dalam kamus hariannya, wah.. wah. Dalam sebuah kutipan, dikatakan:
“Tidak ada di dunia ini yang lebih sengsara daripada seorang pecinta. Kasmaran itu merupakan siksa yang paling besar di hati.” (Ibn Qayyim Al Jauziyah)
Rumit? Ya, memang sedikit rumit. Banyak orang mempertanyakan arti cinta, maknanya, de-es-be. Tapi, sudahkah pencarian tersebut menemukan jalan keluar? Saya rasa.., sebagian besar belum. Karena, pada kenyataannya masih banyak yang nyeletuk, “sst.. sst.. cinta apaan sih?” nah loh.. plis deh, ngakunya pernah jatuh cinta, lha kok masih nyeletuk mempertanyakan cinta itu apa? -.-a. Pada belum ngerti cinta aja pake ngaku-ngaku pernah jatuh cinta (emang, yang nulis udah ngerti? Hehehe.. :P)
Sebenarnya sauadaraku,
Cinta adalah energi, yang membuat sang pencinta memiliki tatapan pinta kepada Rabb-nya. Pandangan kasihnya jatuh tepat di atas retina cinta dan tidak akan berpaling selamanya. Setelah demikian, senyum pun merekah, mekar dari pucuk cinta. Bahkan, dikala tangis, ia menimba luh nya dari mata air cinta (sastra sekalii...).
Energi cinta, energi yang meredakan segala resah dan gelisah dengan mengingat “Sang Kekasih”. Ketenangan di segala suasana, keteduhan di setiap terik, cinta, jika diibaratkan, layaknya dzikir naturi yang selalu menentramkan, kapanpun, dimanapun.
“...hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (TQS. Ar Ra’ad: 28)
Bergetarnya hati disaat namaNya disebut, bertambahnya yakin saat ayat-ayat cintaNya dilantunkan, adalah mutlak menjadi patokan cinta yang tak bisa dibantah. Ada kenikmatan tersendiri ketika kita pasrah, bertawakkal, dan menggantungkan segala keputusan atas setiap usaha kepada Rabb saja.
Itulah cinta yang hakiki. Cinta antara seorang hamba kepada Rabb-nya. Karena Allah-lah pemilik cinta yang sebenarnya, dan kelak ketika waktunya tiba, Allah akan menghadiahi kita kado cinta yang akan menemani kita bersama-sama mencintaiNya.
Jadi... desir-desir halus pada hati dan semburat merah pada pipi kita kita bertemu dengan seseorang yang kita kagumi itu bukan cinta? Terus apa doong? Hmmm.. (mikir, serius.. -.-a)
Mungkin itu juga disebut cinta...... ---yang maya. Cinta yang semu. Cinta yang memungkinkan kita merasa tersakiti karenanya. Sedangkan cinta yang benar-benar haq adalah cinta kepada Allah dan RasulNya. Cinta yang tidak akan pernah menyakiti kita, dan justru.. cinta inilah yang akan membuat kita merasa tenang dan nyaman, kapanpun, dimanapun.
--Waallahu a’lam bi showab --
-----------------------------------
Juni, 2011
Aesa-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar