Kamis, 27 Desember 2012

El-Wardah: Mawar Milik Matahari


Wardah mengetuk-ngetukkan jarinya di meja makan. Sayur bening lengkap dengan segala lauk pauk favorit suaminya telah siap ia hidangkan sejak lepas ashar tadi. Hari ini tepat 3 tahun mereka menikah. Wardah berniat memberi kejutan untuk suaminya, sepagian ia sibuk menghias kamar mereka, memasak segala masakan favorit suaminya. Tapi sekarang, semangatnya yang tadi pagi menggelora telah mendingin bersamaan dengan sayur bening dan lauk pauk yang telah ia hidangkan di meja makan. Suaminya pulang terlambat lagi, dan yang membuatnya bersedih adalah karena suaminya tidak mengirimkan satu sms pun untuk mengabarkan keterlambatannya. Wardah menangis. Ia telah mempersiapkan dua tiket bioskop untuk ia tonton bersama suaminya malam ini, dua tiket bioskop untuk film Habibie dan Ainun. Tapi sampai film itu hampir habis diputar di bioskop, suaminya belum juga pulang padahal ini sudah lewat pukul 10. Ia robek tiket bioskop itu dan menelungkupkan wajahnya. Terisak-isak. Ia tidak menangisi hilangnya kesempatan menonton film tersebut, atau sia-sianya usahanya sepagian ini dalam menyiapkan kejutan manis untuk suaminya. Sungguh tidak. Ia menangisi perubahan sikap suaminya akhir-akhir ini. Pikirannya mulai bergeriliya ke masa-masa awal pernikahan mereka.
Wardah dan suaminya, Syam, menikah tiga tahun lalu. Sebuah jawaban dari doa panjang yang ia panjatkan pada Sang Mahacinta. Satu tahun pertama mereka lewati dengan bahagia, pernikahan sempurna tanpa prahara. Memasuki tahun kedua, ribut-ribut kecil mulai mengambil peran dalam pernikahan mereka, dan semua itu selalu dimulai dari sifat pencemburu Wardah.  Ya, Wardah adalah seorang wanita pencemburu. Pernah suatu kali mereka bertengkar karena Wardah mencium aroma parfum di pakaian Syam, padahal laki-laki itu bukan penyuka parfum dan ia hanya mengenakan parfum jika akan sholat jum’at.
“Kamu beli parfum, Bi?”
“Tidak, kamu kan tau aku tidak suka memakai parfum Umi.”
“Lalu ini bau parfum siapa? Wanita lain?
“Innalillah.. bagaimana mungkin kamu berbicara seperti itu kepadaku, Mi? Telah hilangkah kepercayaanmu terhadapku?”
“Maaf Bi, tidak. Aku.. aku hanya,”
“Cemburu?”
“Ya.” Wardah menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia takut menatap mata suaminya. Namun Syam mengangkat wajahnya. Membuatnya menatap lurus biji zaitun yang tersimpan dalam sorot mata lelaki yang ia cintai sepenuh hati itu.
“Lihat mata Abi, Umi.” Katan Syam tegas. Wardah menatap lekat mata suaminya.
“Apakah Umi menemukan cinta untuk wanita lain dalam mata Abi?” Katanya sungguh dan dalam. Wardah menggeleng. Ia berkata perlahan,
“Abi, maafkan Umi.. Umi percaya pada Abi. Umi hanya tidak percaya dengan wanita-wanita di sekeliling Abi. Maafkan Umi, Bi.”
Syam memeluk istrinya itu erat. Dalam pelukannya Syam berusaha meyakinkan Wardah bahwa cintanya hanya untuk wanita itu. Tidak untuk yang lain.
Lamunan Wardah dibuyarkan oleh suara hujan yang tiba-tiba menderas di luar. Alam seolah berkomplot dengan hujan, menerjemahkan hati yang tak pernah mampu berkata-kata. ‘Hujan, tak pernah sepenuhnya air.. karena selalu ada kamu, Bi, di separuh tetesnya..’ gumamnya di tengah isak yang tak ada tanda-tanda akan segera reda. Ia tertidur, terlelap dalam isakan. Dalam mimpinya, ia menemukan Syam tengah bersama wanita lain. Mereka berdua menatap Wardah yang menatap ke arah mereka, yang membuat Wardah semakin sedih adalah hadirnya seorang bayi dalam gendongan Syam.
“Tidaaaaaaaaak....” Wardah terbangun dari mimpi buruk yang menghampirinya.
Astaghfirullah..” Ia beristighfar. Merasa tidak tenang dengan mimpi yang baru saja ia lihat, ia memutuskan untuk melaksanakan tahajjud. Ia melihat jam dinding yang menggantung di dinding ruang makan, sudah pukul 2 dini hari dan suaminya belum juga ada kabar. Rasa cemas merayapi hati Wardah, bukan lagi cemburu yang bertakhta di sana, hanya ada harap semoga di maana pun suaminya berada, ia selalu dalam lindungan Allah. Wardah menghabiskan malamnya dalam munajah panjang. Hingga subuh menyapa dan akhirnya ia mendengar suara sepeda motor suaminya memasuki beranda rumah mungil mereka.
“Assalamualaikum.” Ucapan salam itu milik Syam. Wardah lega bukan main, suaminya itu pulang juga.
“Waalaikumsalam.” Wardah bergegas membukakan pintu untuk suaminya. Pintu terbuka dan Wardah menubruk suaminya dengan pelukan, sayang. Syam membalas pelukan istrinya itu. Mereka masih tetap berpelukan sampai Wardah melihat ada sosok lain di belakang suaminya. Syam tidak pulang seorang diri, ia pulang bersama seorang wanita. Cantik dengan pakaian yang.. ‘Astaghfirullah,’ batinnya menengang. Sebagai seorang wanita normal, instingnya akan bahaya mulai berbicara, tapi ia menahannya agar kata-kata itu tidak keluar, meluncur dari satu-satunya senjata yang ia miliki, lidahnya.
“Masuk, Bi.. maaf, Aku memelukmu terlalu lama sampai tidak sadar jika kita kedatangan tamu.” Wardah mempersilahkan tamunya masuk sementara ia membawakan tas dan jaket suaminya ke kamar. Syam masuk ke kamar dan mengganti baju dan bergegas mengambil air wudhu. ‘Dia belum sholat?’ Wardah melihat jam dinding di kamar mereka, sudah pukul 5 lewat. Wardah berjalan ke arah dapur, menghangatkan lauk pauk yang kemarin ia masak, membuat sayur bening sekali lagi, dan secangkir teh hangat untuk wanita yang pulang bersama suaminya.
“Silahkan Mbak, diminum dulu tehnya. Mbak mau baju ganti?” Wardah berusaha sopan terhadap wanita berpakain kantoran yang minim kain itu. Ia bertindak layaknya tidak ada badai yang tengah merajai hatinya saat ini. Ia bertindak sesuai dengan apa yang agamanya ajarkan. Wanita itu menyaut,
“Terimakasih, Mbak. Mm, boleh Mbak, jika Mbak tidak berekberatan meminjamkan baju untuk saya, tapi sebelumnya maaf jika saya berlaku tidak sopan karena belum memperkenalkan diri. Kenalkan, nama saya Asha.” Kata wanita itu seraya meyodorkan tangannya. Wardah menyambutnya, berusaha tetap hangat meskipun kenyataannya ia hampir pingsan menahan segala buncah dalam hatinya. Ia mungkin seorang muslimah yang taat, tapi ia juga merupakan seorang istri dengan kadar cinta yang besar—meski tidak sebesar cintanya kepada Tuhannya—kepada suaminya.
“Wardah. Baiklah, saya ambilkan baju saya dulu.” Katanya singkat. Ia berjalan menuju kamarnya. Syam masih di sana. Berdiri menatap pintu, seolah-olah ia memang sengaja berdiri mengunggu Wardah. Wardah tidak berkata apapun. Ia menuju lemari dan mengambil satu gamis terbaiknya untuk diberikan kepada Asha. Sebelum ia keluar kamar, Syam menahan tangannya. Ia meraih tangan istrinya dan membawanya dalam pelukan.
“Maaf..” lirihnya.
“Umi harus memberikan ini kepada teman Abi. Maaf, tidak sekarang.” Wardah melepaskan dirinya dari pelukan Syam. Ada kristal bening yang terlanjur meloloskan diri dari benteng rapuh yang ia bangun di pelupuk matanya. Ia memeberikan baju itu dengan segera, menjelaskan di mana letak kamar mandi, dan mempersilahkan Asha untuk mengganti baju. Setelah itu, ia beranjak ke dapur. Mempersiapkan sarapan untuk ia, suaminya dan tamu mereka.
Asha keluar dari kamar mandi, Wardah menyilahkannya untuk duduk di meja makan untuk sarapan bersama sementara ia berjalan ke kamarnya untuk memanggil Syam.
Dan, duduklah mereka bertiga di meja makan. Mereka makan dalam hening. Asha yang merasa tidak nyaman dengan suasana yang hening itu berusaha memecah sunyi dengan memuji masakan Wardah,
“Mbak Wardah ini, pintar sekali memasak ya? Masakannya enak lho. Mas Syam pasti seneng banget dimasakin begini enaknya setiap hari.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman tulus, sepertinya. Syam hanya membalas perkataan Asha dengan senyuman singkat, sementara yang dipuji, Wardah, tidak mengatakan apapun. Tersenyum pun, tidak. Merasa tidak ditanggapi oleh tuan rumahnya, Asha akhirnya menyerah dan melanjutkan makannya dalam diam.
Selesai makan, Asha menawarkan diri untuk membantu Wardah mencuci piring sebagai balasan atas sarapan yang telah ia dapatkan, namun atas nama sopan santun sebagai tuan rumah Wardah menolaknya. Akhirnya Asha pamit pulang kepada Syam dan Wardah.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Syam dan Wardah. Syam menunggu Wardah membukan keheningan di antara mereka, tetapi ia tidak juga membuka mulutnya. Wardah sendiri bingung harus mengatakan apa, terlalu banyak yang ingin ia katakan dan semua itu menegrucut pada diam. Syam tidak lagi tahan, ia membuka pembicaraan,
“Katakan sesuatu Umi.. Abi tau Umi ingin menanyakan sesuatu.” Wardah masih diam. Lima menit yang sunyi kembali berlalu.
“Abi darimana semalam?” tanya Wardah akhirnya.
Alhamdulillah.. akhirnya. Baiklah, Abi akan jelaskan.. Umi, kemarin Abi tiba-tiba mendapatkan tugas untuk mengahdiri sebuah rapat di hotel Trio Indah, rapat itu untuk membahas proyek yang akan perusahaan Abi jalankan.”
“Dengan Asha?” Wardah mulai menangis. Ia sebal pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa menahan pertanyaan ini meluncur dari mulutnya.
“Iya Umi, dengan Asha. Asha adalah sekretaris bos Abi, tapi karena bos Abi juga sedang ada urusan di Surabaya, jadi Abi diminta menggantikannya, dengan Asha.”
“Bermalam di hotel? Kenapa Abi tidak memberi kabar apa pun kepada Umi?”
“Iya Umi, kami bermalam di hotel. Di kamar yang berbeda tentunya. Abi sebenarnya ingin menghubungi Umi, tapi rapat berakhir pukul 11 malam. Abi takut akan mengganggu tidur Umi jika Abi harus menelpon selarut itu.”
“Umi bahkan tidak tidur sampai pukul 12 malam, menunggu kabar dari Abi. Tapi, yasudahlah.. sudah berlalu.”
“Umi tidak marah?” tanya Syam takut-takut. Ia sungguh mencintai wanita itu, Wardah, istri yang ia persunting 3 tahun yang lalu itu sudah berhasil mencuri perhatiannya sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Ia takut jika ia menyakiti wanita itu, karena ia tidak pernah ingin menyakitinya.
“Marah atau tidak itu tidak penting lagi sekarang, yang penting Abi pulang dalam keadaan selamat.” Pungkasnya. Sejujurnya ia masih marah, masih banyak yang ingin ia katakan, tapi ia menahan semua itu. Menahannya samapai ke dasar emosinya. Dan mereka kembali terdiam.
“Mi, kok tumben sih pagi-pagi tadi kamu sudah masak selengkap itu. Sayur bening dengan lauk pauk lengkap favorit Abi, kapan belanjanya?” Kata-kata Syam ini justru menjadi pemantik api bagi emosi yang baru saja Wardah kubur ke dalam dasra yang paling dalam. Sekarang, pertanyaan yang baru saja Syam lontarkan itu justru membangunkan kembali emosi itu, maka Wardah tidak lagi sanngup bertahan dalam diamnya, ia menangis terisak-isak membuat Syam kebingungan.
“Umi, Abi salah ngomong ya?” tanyanya dengan raut muka kebingungan.
“Abi memang tidak pernah lama mengingat sesuatu ya? Atau memang Abi tidak pernah peduli? Atau jangan-jangan Abi memang tidak tau apaun tentang Umi?”
“Umi ngomong apa sih? Abi nggak ngerti Mi,”
“Kemarin, Umi sengaja masak makanan favorit Abi, menyiapkan dua tiket untuk nonton bioskop film Habibie dan Ainun seperti yang sudah kita rencakan, salah, yang sudah Abi rencanakan, sebelumnya.. untuk momen spesial 3 tahun pernikahan kita, tapi Abi bahkan tidak pulang semalaman, tidak memberi kabar dan ketika pulang, Umi mendapati Abi pulang dengan wanita lain yang pakaiannya sama sekali tidak pantas, Abi pikir bagaimana rasanya jadi Umi?”
Astaghfirullah.. Maafkan Abi, Umi..” Syam terduduk lemas.
“Dalam tidur, Umi bermimpi Abi bersama wanita lain menggendong seorang bayi. Istri mana yang pikirannya tidak macam-macam ketika sadar dirinya belum juga mampu memberi keturunan untuk suaminya, Bi? Umi begitu takut Abi meninggalkan Umi.. Abi bahkan lupa hari pernikahan kita, kan? Padahal Abi sendiri yang membuat rencana..”
“Mi, Abi sudah menjelaskan tentang kenapa Abi pulang terlambat dan siapa Asha bukan? Maafkan Abi.. dan, Abi juga meminta maaf karena telah menggagalkan rencana kita. Maafkan Abi yang pelupa..”
“Abi tidak pelupa, Abi hanya tidak mau mengingat dengan baik.. Atau memang Abi tidak tau apa-apa tentang Umi. Mungkin sekarang Abi lupa, siapa nama wanita yang Abi nikahi saat ini? Apa kesukaannya? Bunga Favoritnya? Tidak? Abi tidak tau apa-apa? Abi sudah tidak sayang sama Umi karena Umi belum mampu memberikan Abi keturunan sedangkan orangtua Abi sudah menuntut momongan dari Abi, bukan?”
“Kenapa jadi melebar seperti ini, Umi? Abi memang pelupa. Abi bukannya tidak mau mengingat Umi.. Maafkan Abi, kalilain Abi akan membawa buku kemana-mana untuk mencatat janji kita, dan Umi salah jika menyangka Abi melupakan semuanya tentang Umi. Abi tau semuanya tentang Umi. Abi tau siapa wanita yang Abi nikahi, dia El- Wardah Annisa. Sangat suka bahasa. Mawar pink dan dandelion? Ada yang salah Umi? Abi hanya merasa Umi tau kalau Abi memahami Umi, meskipun Abi—kita—lebih banyak diam, Abi pikir, begitulah cara kita selama ini saling mencinntai?” Syam menangis. Wardah belum pernah menyaksikannya menangis selama ini, tapi Wardah diam saja.
“Soal keturunan, Allah lah yang menentukan kapan Ia akan menitipkan keturunan di tengah-tengah keluarga kita, jika Abi tidak lagi menyayangi Umi karena permasalahan kecil seperti ini, sungguh Abi bodoh. Apa pun yang ibu dan bapak katakan, Abi tidak akan pernah menuntut Umi apa-apa.. selama Umi masih mau bertahan menemani Abi sampai kita tua nanti, ada anak atau tidak, jika Abi berdua dengan Umi, tidak akan ada masalah.”
Wardah terharu. Istri mana yang tidak terharu jika diberikan kata-kata seperti itu dari seorang suami yang notabene tidak berbakat menjadi seorang pujangga? Wardah dan Syam, dua individu berbeda yang disatukan Allah dalam satu ikatan suci pernikahan. Saling mengagumi satu sama lain, saling mencintai satu sama lain. Cinta yang satu sama dalamnya dengan cinta yang lain. Jika ada kesamaan yang membuat mereka merugi satu-satunya adalah, gengsi. Harga diri yang terlewat tinggi dengan tingkat cemburu berlebih membuat Wardah kadang memilih mengubur semuanya sendiri, berharap waktu membantunya memperbaiki semua dengan sendirinya. Sedangkan Syam, ia terlalu kikuk untuk mengungkapkan perasaannya, bahkan kepada istrinya sendiri.
“Abi, jika Abi tidak akan pernah mendapatkan keturunan dari Umi, apakah Abi akan meninggalkan Umi?” tanyaWardah. Ia sebenarnya tau jawaban apa yang akan diberikan oleh suaminya, tapi ia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak berdiri sendirian dengan perasaannya.
“Abi tidak bisa memberikan Umi janji apapun, karena Allah lah yang Maha membolak-balikkan hati, tapi dengan apa yang Abi miliki saat ini, Abi sudah merasa cukup dengan Umi, ada atau tidak ada anak.” Wardah lega. Tapi ia masih belum mampu berkata apapun. Ia meninggalkan suaminya sendirian di ruang makan sementara ia masuk kamar. Mengambil scrapbook yang berisi foto-foto perjalanan mereka selama 3 tahun ini dan menuliskan sesuatu di halaman paling belakang buku tersebut. Ia menulis sebuah puisi, untuk Syam, suaminya.
Selesai menulis puisi tersebut, Wardah menelungkupkan wajahnya. Airmata masih terus membasah ia terisak-isak sampai tertidur. Kurang tidur semalam serta perasaan lelah dalam hatinya membuat kantuk menjadi satu-satunya pelipur. Syam ingin menyusul Wardah ke kamar, tapi ia paham betul jika dalam kondisi seperti ini yang istrinya itu butuhkan adalah menyendiri. Menunggu semuanya mereda. Pukul 10, Syam beranjak dari kursinya. Ia memutuskan untuk mengajak Wardah sholat dhuha, setidaknya apapun kondisi hati mereka jika semuanya dikemabalikan kepada yang Mahacinta, mereka tidak akan kehilangan pijakan.
klek..’ Syam membuka kenop pintu kamar mereka. Ia melihat Wardah menelungkupkan wajahnya. Scrapbook yang berisi foto-foto perjalanan pernikanahan mereka selama 3 tahun ia letaklan di sampingnya. Syam berjalan menghampiri istrinya, namun sebelum tangannya bergerak membangunkan istrinya, ia menangkap sebuah tulisan dalam scrapbook itu yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Maka, ia baca ambil scrapbook itu, dan ia baca. Puisi, untuknya.

Pukul tujuh pagi
Matamu mulai menyajikan drama
Yang sudah lama
Tak ditayangkan di televisi
Kau hamparkan surat kabar di seluas ruangan, berharap
Kata-kata kan menutupi retak di dinding
Dan pecahan kata jendela

Bagaimana rasanya jadi lelaki?
yang teramat dicintai
semesta kau remas di tangan kananmu, sementara
tangan kirimu sibuk memangkas awan
dan menaburkan gerimis di bebukit gersang.

Kamu, lelakiku, ialah cuaca yang tak pernah datang tepat waktu
matahari kau padamkan tiap pagi, lalu
kau sajikan irisan rembulan

Tiap malam, lelakiku gemar mematahkan embun
lalu menyimpannya diam-diam di liang mataku saat aku terlelap
aku pun terjaga tiap pagi
Dengan rasa takut kau tinggal pergi*
Mata Syam basah membaca puisi yang ditulis oleh istrinya tersebut. Ia ingin membalas puisi tersebut, tapi ia sadar ia tidak sepandai istrinya dalam hal merangkai kata, maka ia putuskan untuk menulis hal lain dalam buku itu. Tepat di bawah puisi tulisan istrinya, ia menulis puisi yang lain, bukan karyanya tapi ia menyukai bagian puisi tersebut. Setelah menulis bagian puisi favoritnya, ia meletakkan scrapbook itu di tempatnya semula kemudian ia mengambil wudhu. Ia memilih untuk melaksanakan sholat dhuha di kamar, tidak di mushola seperti biasanya. Ia keraskan bacaan sholatnya, agar Wardah terbangun. Dan benar, memang Wardah terbangun. Ia mendapatkan scrapbook yang tadi ia tulisi, telah terisi dengan tulisan lain..

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia. kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

(Bagian puisi favoritku yang ditulis oleh BJ Habibie, untuk Almh. Istrinya, Ibu Ainun)

*Maafkan aku, Wardah..

Mata Wardah basah. Ia memandangi punggung suaminya. Wardah beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Menempatkan posisinya di belakang sang suami. Melaksanakan sholat dhuha bersama. Syam telah menyelesaikan 8 rakaatnya, dan berdiam dalam doa dan munajah sementara Wardah masih menggenapi rakaatnya yang ke delapan. Selesai melaksanakan dhuha mereka berdua larut dalam doa masing-masing. Syam terisak dalam doanya, pun Wardah. mereka berdua sama-sama menyerahkan segala permasalahan mereka pada Sang Maha. Selesai dengan doanya masing-masing, mereka terdiam. Sama-sama kikuk untuk memulai pembicaraan, sampai akhirnya Wardah memeluk suaminya dari belakang.
“Jangan katakan apa-apa, Bi.” Pintanya. Maka berdua, mereka tetap terdiam. Sampai Wardah melepaskan pelukannya, Syam berbalik menatap istrinya.
“Mungkin istriku bukan siapa-siapa, tapi istrikulah yang membuatku merasa menjadi seorang suami yang beruntung. Dan aku tau, ia lah satu-satunya mawar yang menjadi milik matahari. Bersamanya, aku yakin bisa menciptakan kisah yang mungkin jauh lebih indah dari kisah milik Pak Habibie dan Bu Ainun.” Ucap Syam.
Mata Wardah basah tapi bibirnya mengurucutkan senyum yang manis. Syam juga tersenyum. Mereka berdua tersenyum.



***




*) : Puisi tersebut berjudul : Tentang Sepasang Suami Istri Pada Pukul Tujuh Pagi, karya Mbak Fadhila Eka R. yang saya sadur dengan sedikit gubahan.


-Aesaazzam-



2 komentar:

  1. syam dan wardah...
    kisah cinta "habibie ainun" versi antum,
    mantap!

    coba masalahnya dibikin lebih greget lagi
    ana tunggu karya berikutnya

    BalasHapus
  2. hehehe..
    syukron.
    tapi ini ngga ada apa-apanya sm ceritanya pak habibie sm bu ainun,
    :D

    iya, insyaAllah nanti bikin yg lebih greget lagi.

    BalasHapus