Kamis, 27 Desember 2012

Matahari Untuk Ugy




Dunia tersa begitu gelap
Tak ada cahaya
Tapi ia tetap bersinar
Dengan keyakinan harapan dan cinta..

Kugy terdiam di kamarnya dan segalanya masih terasa gelap; bibir kugy mengulum senyum. Kugy mengalami kebutaan saat ia masih berusia dua tahun. Saat itu ia mengalami kecelakaan bersama kedua orangtuanya yang mengakibatkan papanya meninggal dan ia sendiri mengalami kebutaan permanen sedangkan mamanya hanya mengalami luka-luka ringan. Sejak kecelakaan itu, kugy mengalami trauma yang dalam terhadap motor dan jalan raya. Kugy tak menyalahkan siapapun atas kebutaan yang merenggut cahaya dalam hidupnya. Ia juga tak pernah menangis karena selalu menjadi olok-olokan teman seumurannya. Ia selalu terlihat kuat karena ia tidak ingin mamanya bersedih. Sejak papanya meninggal, mamanya berjuang sendirian membesarkannya sampai ia berusia 17 tahun. Mereka berdua tidak hidup dalam kelebihan tidak juga dalam kekurangan, segalanya terasa cukup. Kugy sangat menyayangi mamanya begitupun mamanya yang sangat menyayangi Kugy. Sore ini, mamanya berulang tahun. Kugy telah mempersiapkan kado kecil untuk mamanya, sebuah lagu yang liriknya ia ciptakan sendiri. Mbok Minah juga telah ia minta untuk membuatkan kue tart kecil untuk mamanya. Kugy sudah tidak sabar menunggu kehadiran mamanya.
Derum mobil Kinar, mama Kugy, terdengar memasuki halaman. Kugy berjalan dengan dituntun mbok Minah di sampingnya menuju pintu depan. Ia ingin menyambut kedatangan mamanya dengan kue tart dan nyanyian selamat ulang tahun. Namun sebelum Kugy melaksanakan niatnya, ia mendengar suara langkah kaki lain, langkah kaki selain milik mamanya. Kugy hanya berdiri di depan pintu tanpa melakukan apapun sampai mamanya menghampirinya dan mencium pipinya sayang.
“Sore sayang.. kamu ngapain berdiri di depan pintu kayak gini?” tanya mamanya.
“Sore ma, eh-oh.. emm.. Mama dateng sama sapa?” Kugy balik bertanya kepada mamanya, alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan mamanya.
“Oh.. mata-hati kamu semakin tajam ya? Mama datang sama om Adit. Dia teman sekantor mama. Kenalin gy..”
Kugy mengulurkan tangannya dan disambut oleh laki-laki yang sekarang berdiri di samping mamanya.
“Kenalkan om, nama saya Rikugy Karunia tapi om cukup panggil saya Ugy.” Kata Kugy memperkenalkan dirinya. Kinar tersenyum melihat Kugy.
“Salam kenal Ugy, nama om, Aditya Satrio. Kamu boleh panggil om, apa aja yang kamu suka.” Laki-laki itu tersenyum ramah.
“Om Paijo boleh dong om? Hehehe.” Kugy bercanda dengan laki-laki teman ibunya yang baru dikenalnya itu. Kemudian ia teringat sesuatu yang sudah ia rencanakan bersama mbok Minah. Kugy memulai menyanyikan lagunya. “...Kuingin seperti pelangi memberikan warna-warni walau hanya sekejap saja, tapi indahnya selalu ada.. kuingin seperti mentari menyinari hari-hari dengan senyum yang menghangatkan hati walau hanya sekejap saja tapi indahnya membekas selamnya..” Kugy menghentikan nyanyiannya dan memeluk mamanya. Ia membisikkan lagu ulang tahun di telinga mamanya. Ibu dan anak itu larut dalam haru yang menyeruak. Mbok Minah ikut meneteskan airmatanya begitu juga dengan Adit, laki-laki itu semakin bulat tekadnya untuk menikahi Kinar, mama Kugy.
Kinar melepaskan pelukannya dan meniup lilin di atas kue yang dari tadi di pegang oleh Mbok Minah. Sambil menyeka airmata yang menetes, Kinar mengatakan sesuatu kepada Kugy.
“Sayang, Mama dan Om Adit punya sesuatu untuk kami sampaikan ke kamu. Ayo kita masuk dan bicara di dalam.”
Sesampainya di ruang tamu, Kugy membuka percakapan.
“Mama sama om Adit mau ngomong apa ke Ugy?”
Kinar dan Adit terlihat bertatapan sebelum akhirnya tangan Kinar memegang tangan Adit untuk menguatkannya.
“Ugy, Om Adit minta maaf jika apa yang nanti om sampaikan membuat Ugy kaget. Tapi om harap, Ugy mau mengerti.” Adit membuka percakapan mereka. Terlihat sekali jika ia sedikit gugup, tapi genggaman tangan Kinar mampu meredam rasa gugupnya.
“Om sama Mama mau nikah?” Tembak Kugy tepat sasaran.
Kinar menatap putrinya tak percaya. Kebutaan mengasah matahati Kugy menjadi lebih tajam. Segera Kinar menjawab pertanyaan Kugy.
“Iya sayang.. kamu tidak keberatan kan?” Katanya takut-takut.
“Tentu saja nggak Ma.. Kugy seneng kalo akhirnya Mama bisa menemukan pengganti Papa untuk Kugy.. menikahlah.”
Kinar menghambur memeluk putrinya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan restu yang mulus dari Kugy. Kugy mengijinkannya menikah dengan Adit tanpa bantahan sedikitpun. Kinar memang telah menyangka bahwa Kugy tidak akan keberatan ia menikah lagi setelah 15 tahun menjanda tapi ia mengira Kugy akan sedikit mengajukan pertanyaan atau semacamnya tapi ternyata tidak.
“Terimakasih Ugy,” ucap Adit pelan.
“Terimakasih juga Om,” balas Kugy.
Masalah yang tersisa sekarang adalah menaklukkan hati Galang, putra semata-wayang Adit, yang sampai detik ini masih menunjukkan sikap permusuhannya kepada Adit. Galang menganggap papanya-lah yang harus dipersalahkan karena kematian mamanya. Sejak kematian mamanya, Galang mulai menjaga jarak dengan papanya.
Di tengah kehangatan di rumah Ugy, Galang di tempat yang lain tengah asik dengan kegiatan yang mulai ia tekuni sejak mamanya meninggal, balap motor. Malam ini  akan ada balapan motor antar geng motor se-Surabaya, Galang tengah bersiap-siap bersama-sama teman satu gengnya untuk balapan nanti malam ketika tiba-tiba dering handponenya berbunyi.
“Halo?” Sapa Galang acuh tak acuh pada pria di sebrang telepon. Ia Adit, papanya.
“Galang, ada yang mau Papa bicarain.. kamu bisa pulang cepat dan ikut makan malam bareng Papa?” Kata Adit.
“Mau ngomong apaan sih? Ngomong aja disini.” Galang menjawab Papanya ogah-ogahan.
“Pokoknya malam ini, kita makan bareng. Kalau kamu nggak pulang, uang jajan kamu Papa stop.” ancam Adit.
“Huh! You Got It. Oke, aku pulang.” Galang menutup teleponnya dan beralih pada teman-temannya.
“Aku pulang.” Katanya. Tanpa menjelaskan apapun, Galang memacu motornya secepat kilat.
Dan ceritapun mengalir sampai pada hari pernikahan antara Kinar dan Adit. Meskipun pada awalnya Galang menentang keras pernikahan mereka, namun pada akhirnya ia hanya bisa membiarkan papanya mendapatkan apa yang ia inginkan. Selepas pesta pernikahan, Kinar dan Adit merasa sangat lelah karena seharian melayani tamu undangan yang datang. Di tengah semua rasa penat, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan Galang dari arah dapur rumah mereka. Seminggu yang lalu sebelum pernikahan Kinar dan Adit memutuskan untuk tinggal di rumah Kinar, sedangkan rumah Adit mereka sewakan kepada orang lain. Keputusan ini awalnya ditentang keras oleh Galang, namun pada akhirnya ia mengalah pada papanya.
“Heh! BUTA kamu ya? Kalau jalan lihat-lihat! Dasar BUTA!” Teriak Galang brutal kepada Kugy.
Kugy yang serta merta mendapat teriakan yang begitu keras dari Galang hanya bisa menggigil dan berkata takut-takut kepadanya.
“Ma-ma-maaf Kak, Ugy nggak sengaja. Ugy kira nggak ada siapa-siapa di depan Ugy.”
“Kakak, kakak!  Siapa yang mau punya adek BUTA kayak kamu hah? Jangan pernah berpikir aku bakalan mau saudaraan sama orang BUTA dan BODOH kayak kamu! Dengerin itu!” Bentak Galang. Dan ia pun membanting gelas yang separuh isinya sudah tumpah karena tertabrak Kugy.
Kinar dan Adit datang tergopoh-gopoh mendengar suara teriakan Galang yang begitu keras.
“Galang! Apa-apaan kamu? Ugy sekarang adik kamu, tolong jangan kasar sama dia!” Teriak Adit.
“Sudah Mas, sudah..” kata Kinar menengahi, kemudian ia berkata pada Galang, “Galang, kamu boleh tidak senang pada saya, kamu boleh membentak saya, kamu boleh berteriak kepada saya tapi tolong jangan bentak Ugy. Dia nggak salah apapun sama kamu. Dia memang buta, tapi bukan berarti kamu bisa berteriak-teriak menghinanya seperti tadi.” Ucap Kinar lirih tapi tegas.
Galang beralih tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Sementara Kugy masih cukup kaget dengan apa yang baru saja ia alami.
“Ugy, kamu nggak papa kan sayang?” Kata Kinar beralih memeluk Kugy.
“Nggak Ma, Ugy nggak papa. Ugy tidur dulu ya Ma, malem.” Pamit Kugy.
Dan malam itu pun berakhir dalam senyap. Keesokan paginya Kugy sudah terlihat ceria kembali, seperti kebiasaannya ia memainkan pianonya dengan perasaan senang.
“Heh BUTA! Kamu pikir lagu yang kamu mainin itu enak ya? Berisik tau! Berhenti main atau aku suruh orang buang piano bulukan ini!” Kata Galang yang tiba-tiba muncul mengagetkan Kugy.
“Kakak nggak suka Ugy main piano? Kenapa? Ugy mainnya fals ya?” Kata Kugy ramah. Ia seolah-olah mengabaikan perkataan kasar Galang.
“Aku harus bilang berapa kali ke kamu hah? Aku bukan kakak kamu!” Bentak Galang.
“Kenapa aku nggak boleh panggil Kak Galang kakak? Papa-Mama kita kan sudah menikah, berarti kita saudaraan dong?” Jawabnya riang.
“Aku nggak SUDI punya saudara BUTA kayak kamu!”
Kinar yang tiba-tiba datang dari arah dapur menampar keras pipi Galang. Matanya berkaca-kaca.
“Saya sudah bilang sama kamu, jangan menghina Ugy! Kamu sama sekali tidak berhak menghina anak saya!” Kinar berteriak, tangisnya pecah. Hatinya terluka mendengar buah hati yang begitu ia sayangi dihina serta merta oleh Galang, anak tirinya. Kugy yang bisa merasakan bahwa mamanya tengah menangis, berkata perlahan.
“Ma, jangan nangis.” Ia beralih pada Galang, “Kak, kalau Ugy nggak boleh panggil Kak Galang kakak, terus Ugy harus panggil Kakak apa?”
“Nggak usah panggil-panggil aku!” Dan Galang pun pergi ke kamarnya dengan membanting pintunya keras-keras.
Kugy berjalan meraba-raba ke arah mamanya dan memeluknya sambil berbisik,
“Ma, Ugy nggak papa kok kalau Kak Galang bentak-bentakin Ugy kayak tadi. Mama jangan nangis ya? Ugy sayang sama Mama, Ugy nggak mau lihat Mama nangis gara-gara Ugy.”
Kinar terdiam. Airmatanya meleleh deras. Betapapun Kugy mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan perkataan Galang namun tetap saja ia tak bisa menerima perlakuan Galang terhadap Kugy.
Setelah kejadian piano itu, Galang tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke tempat teman-teman geng motornya. Melampiaskan segala kekesalannya dengan balapan liar di malam hari. Hari itu, hujan mengguyur Surabaya sejak pagi. Adit yang sejak beberapa hari mengkhwatirkan tingkah laku Galang mulai mencari-cari kemana Galang pergi selama ia meninggalkan rumah. Adit menghubungi semua teman Galang yang ia ketahui tapi nihil, karena tidak seorangpun dari mereka tahu kemana Galang pergi. Adit mencoba menghubungi ponsel Galang berulang-ulang tapi teleponnya tidak dijawab. Ia mencoba menelpon dengan nomor lain, tapi setelah Galang mendengar itu suara papanya, ia memutuskan sambungan. Kinar pun mencoba menghungi Galang dan meminta maaf atas tindakannya yang telah menampar Galang tempo hari, tapi semua itu tidak ia gubris. Setelah beberapa hari mencoba dengan hasil yang nihil, Adit hampir menyerah menghadapi Galang ketika sebuah kabar mengejutkan diterimanya dari rumah sakit. Galang kecelakaan dan sekarang ia koma. Adit bergegas menuju rumah sakit tempat Galang dirawat. Ia menghubungi Kinar, yang hari itu kebetulan tidak masuk kantor, melalui ponselnya.
“Halo, Ma.. Galang kecelakaan. Dia koma. Aku sedang menuju ke RS. Mitra Keluarga, kamu nyusul ya?” telepon ditutup dan Adit menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal, sayang kondisi jalanan Surabaya yang macet pada jam makan siang menguji kesabarannya.
Ruangan itu bercat coklat putih. Tidak ada apa-apa di ruangan itu kecuali sebuah ranjang dengan Galang yang terbaring lemah di atasnya. Pintu depan ruangan itu bertuliskan ICU. Adit tengah menatap putranya dibalik pintu itu. Ia menatap Galang yang belum sadarkan diri sejak ia dibawa kesini kemarin sore. Di koridor yang panjang, seorang perempuan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Adit yang tengah berdiri kuyu. Adit menoleh dan mereka berpelukan. Adit menangis di bahu perempuan itu. Ini kali kedua ia menangis setlah kematian istri pertamanya, mama Galang.
“Sabar ya Pa, Galang pasti sembuh. Dia pasti sadar kembali.” kata perempuan itu, berusaha menenangkan suaminya. Sementara Adit tidak mampu berkata apapun.
Dokter yang menangani Galang menghampiri Adit dan Kinar yang tengah duduk di ruang tunggu. Ia meminta mereka mengikutinya ke ruangannya. Sesampainya di ruangan yang tidak lebih ramai dari kamar ICU yang sekarang ditempati Galang, ia menyilahkan suami-istri yang terlihat sama lelahnya itu untuk duduk. Adit yang merasa sudah tidak memiliki tenaga lagi, meminta sang dokter untuk langsung menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
“Begini Pak, Bu, kecelakaan yang dialami oleh Galang telah membuat saraf kiri Galang mati, kemungkinan besar Galang akan mengalami kelumpuhan permanen pada anggota tubuhnya yang kanan.”
“Apa? Lumpuh?” Adit tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Putra tampannya akan mengalami kelumpuhan permanen pada anggota tubuh sebelah kanan? Ini adalah mimpi buruk yang tidak pernah melintas dalam benaknya.
“Apa kelumpuhan ini tidak dapat diterapi, Dok?” tanya Kinar yang tangannya terus menggenggam tangan Adit.
“Ini hanya perkiraan saya, kondisi Galang yang sesungguhnya tidak bisa dipastikan sebelum dia siuman. Prediksi ini tidak mutlak, apapun bisa terjadi. Tapi, mengingat benturan kepala yang dialami oleh Galang cukup keras bisa jadi apa yang sudah saya prediksikan menjadi lebih buruk jika Galang tidak juga sadar. Saya harap, Bapak dan Ibu tetap sabar. Kami akan berusaha yang terbaik untuk Galang.”
Mendengar penuturan dokter, Adit tidak mampu berkata apa-apa. Batinnya dipenuhi rasa bersalah kepada Galang. Adit terdiam dan menunduk, sementara Kinar berusaha menghiburnya dengan mengelus-elus pundaknya.
“Baiklah, Dok. Terimakasih untuk penjelasannya, kami mohon lakukan yang terbaik untuk anak kami. Kami permisi.” Ucap Kinar yang disambut oleh sang dokter dengan menyilahkan mereka untuk menemui Galang yang masih terbaring lemah di kamar ICU.
Saat Adit dan Kinar kembali dari ruangan dokter, Kugy telah duduk di ruang tunggu bersama Pak Murdi, supir kantor Adit, yang mengantar Kugy untuk menmui mamanya setelah mendengar kabar bahwa Galang kecelakaan. Kugy mendengar langkah kaki mendekat, kali ini ia tidak mencoba menghampiri langkah kaki yang sudah ia hapal tersebut, melainkan menunggunya menghampirinya. Kinar duduk di samping Kugy dan menggenggam tangan Kugy rapat tanpa suara, sementara Adit berdiri mematung dibalik pintu ruang ICU.
“Kak Galang pasti sembuh Pa,” ucap Kugy pada Adit. Adit menoleh dan berjalan menghampiri Kugy.
“Iya, Ugy. Kak Galang pasti sembuh.” Adit mengatakan itu dengan airmata menetes dari kedua matanya yang tampak lelah. Lalu ia melanjutkan..
“Ugy, maafin Kak Galang ya? Kak Galang sudah kasar sama Ugy, doakan Kak Galang, biar Kak Galang cepat sadar dan bisa kembali ke tengah-tengah kita lagi.”
“Iya, Pa.” Kugy melepaskan genggaman tangan Mamanya dan memeluk papa tirinya itu, sayang.
Sepuluh hari berlalu, tapi Galang belum juga sadar. Dokter sudah mulai kehilangan harapan akan kesembuhan Galang, sementara Adit hanya bisa berdoa semoga Tuhan berkenan membagi mukjizatNya untuk putra semata-wayangnya, Galang. Sore hari pada hari ke sebelas, Galang akhirnya sadar dari komanya. Dokter yang menangani Galang berkata bahwa apa yang terjadi pada Galang benar-benar merupakan mukjizat dari Tuhan. Galang kembali dari komanya setelah sepuluh hari terbaring tak sadarkan diri, dan semua prediksi yang sempat diberikan dokter saat Galang koma ternyata salah. Setelah beberapa kali pemeriksaan, Galang dinyatakan tidak akan mengalami kelumpuhan secara permanen. Ia memang akan lumpuh sementara, tapi kelumpuhan itu akan pulih setelah diterapi secara perlahan-lahan. Adit sangat bersyukur, Tuhan Maha Baik. Ia mendegar doa Adit untuk Galang.
Hari ke lima belas Galang dirawat di rumah sakit, ia sudah diperbolehkan pulang. Dengan menggunakan kursi roda, ia dituntun papanya untuk pulang ke rumah, tapi sebelum mereka memasuki mobil Galang berkata pada papanya.
“Aku mau ke makam Mama sebentar, boleh?”
Adit yang sempat terbengong mendengar permintaan Galang yang tidak biasa itu segera menjawab permintaan Galang dengan anggukan senang. Ia senang akhirnya Galang mau berkunjung ke makam istri pertamanya. Sejak Almarhumah mamanya meninggal, Galang tidak pernah mengunjungi makam wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu karena Galang tidak pernah mau menerima kenyataan kalau mamanya telah meninggal. Ia menjaga jarak dengan Adit dan menimpakan semua kesalahan pada Adit atas meninggalnya mamanya karena ia sendiri takut untuk mengakui bahwa ia juga bersalah pada mamanya. Semasa wanita itu hidup, Galang tidak pernah menjadi anak yang manis. Ia merasa, semua kasih sayang yang diberikan oleh mamanya terlalu berlebihan sehingga terkadang ia justru menjadi acuh terhadap mamanya dan membiarkan mamanya berteman dengan kesendirian dan menyembunyian penyakitnya sampai beliau meninggal. Galang menyesal. Tapi itu dulu, sekarang Galang mau mengunjungi makam mamanya dan itu membuat Adit senang sekali. kinar yang melihat kilau bahagia di mata suaminya, bertanya takut-takut pada Galang. Ia takut emosi Galang masih belum stabil, jadi ia bertanya dengan menggunakan sebutan ‘tante’ untuk dirinya.
“Em, Tante boleh ikut ke makam Mama kamu, Galang?” pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Galang.
Tiga puluh menit berada di depan makam mamanya, Galang tidak melakukan apapun. Tidak ada pergerakan dari tubuhnya, kecuali matanya yang terus mengalirkan airmata. Adit mengusap-usap bahu Galang, berusaha menenangkan sesenggukan Galang. Setelah puas menangis, Galang akhirnya berkata pada nisan mamanya.
“Maaf Ma, Maafin Galang.. Galang janji akan berubah. Sepuluh hari bareng Mama sudah bikin Galang sadar, Galang sudah banyak salah sama Papa juga Tante Kinar. Mama baik-baik disana ya? Galang janji, Galang nggak akan lama-lama ninggalin Mama disana sendirian.”
Adit merasa terenyak mendengar perkataan Galang. Ada sesuatu yang berubah mengganjal hatinya, tapi ia berusaha mengenyahkan perasaan itu dan berkata pada Galang.
“Sudah, Galang?”
“Sudah. Ayo pulang.” katanya singkat. Dan mobil pun melaju membelah senja yang mulai merangkak menghadirkan pesona petang di hari itu.
Di rumah, Kugy telah menyiapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk kakaknya. Dengan dibantu Mbok Minah, ia membuat spanduk kecil yang bertuliskan ‘Selamat Datang’ untuk Galang yang dipasang di atas pintu masuk. Lima belas menit berlalu, suara mobil Adit terdengar sayup-sayup memasuki halaman rumah. Adit turun dan membantu Galang untuk duduk di kursi rodanya. Bertiga dengan Kinar mereka berjalan menuju beranda rumah dan mendapati sebuah spanduk sederhana yang telah disiapkan Kugy untuk Galang. Kinar tersenyum, Kugy selalu punya kejutan untuk orang-orang disekelilingnya. Meski demikian, usaha Kugy tak cukup membuat Galang tersenyum. Ia hanya diam menatap spanduk kecil yang dibuat khusus untuknya itu. Dituntun Mbok Minah, Kugy berjalan menghampiri Galang.
“Selamat datang, Kak Galang.” ucapnya lirih.
“Terimakasih,” jawab Galang singkat. Ia lalu menoleh pada papanya dan berkata, “aku capek.” lalu Adit mendorong kursi roda Galang menuju kamarnya.
Satu bulan berlalu sejak Gaalng kembali pulang ke rumah. Kondisinya sudah lebih baik, meskipun ia masih harus tetap terapi untuk bisa kembali berjalan normal. Sikap Galang pun sedikit demi sedikit berubah, meski tidak sepenuhnya bisa terbuka terhadap keluarga barunya, tapi ia sudah tidak sekasar dulu dan ini membuat Kinar bersyukur. Sutau siang, ketika Kugy sedang memainkan lagu dengan piano klasiknya, Galang menjalankan kursi rodanya menuju Kugy. Kugy yang kali ini sedang asyik memainkan lagu dengan pianonya, tidak menyadari kehadiran Galang di sampingnya sampai Galang memanggil namanya.
“Gy..”
“Eh-oh..” Kugy tergeragap. Ia takut Galang akan marah-marah seperti dulu saat ia memainkan piano. Galang yang menangkap aroma takut dari gelagat Kugy langsung menjelaskan.
“Nggak papa, aku nggak marah kamu main piano. Aku Cuma mau ngobrol bentar, kalau boleh.” katanya.
Hufff.. Kugy menghembuskan nafasnya lega. Galang hanya tersenyum melihat Kugy yang sudah ketakutan di awal, lalu Galang melanjutkan kembali kata-katanya.
“Kamu takut banget ya sama aku?”
“Nggak sih Kak, eh?” Kugi menghentikan perkataannya sebelum akhirnya bertanya pada Galang, “aku boleh panggil Kak Galang, kakak?”
“Boleh,” jawab Galang singkat. Lalu ia mengulangi kembali pertanyaannya kepada Kugy, “jadi, kalau kamu nggak takut sama aku kenapa kamu sampai menghembuskan nafas lega begitu aku bilang kalau aku nggak marah?” tanyanya penasaran.
“Aku memang nggak takut sama kakak, aku tau kakak nggak akan menyakiti secara fisik, tapi aku takut kalau justru kakak yang akan sakit kalau marah-marah..”
“Hah?” tanya Galang tak mengerti atas penjelasan Kugy.
“Intinya, Ugy nggak pengen Kak Galang marah-marah. Marah-marah itu nggak sehat.”
“Ooo,” Galang mebulatkan bibirnya. Lalu Kugy bertanya kepadanya,
“Kak Galang katanya mau ngobrol, apa?”
“Gy, kamu uda berapa lama buta?” tanyanya. Pertanyaan itu membuat Kugy terdiam. Galang merasa ia telah salah mengajukan pertanyaan, ia takut Kugy akan tersinggung dengan kata-katanya, lalu dia memumutuskan untuk meralat pertanyaannya, tapi Kugy sudah menjawab pertanyaannya kalem.
“15 tahun kak. Aku buta sejak aku umur 2 tahun, sekarang aku sudah 17 tahun, jadi aku sudah akrab dengan gelap selama 15 tahun. Kenapa kakak menanyakan itu?”
“Gy, sori. Aku nggak maksud nyinggung perasaan kamu..” Galang mencoba mengklarifikasi maksudnya sebelum nakhirnya ia menambahkan pertanyaan yang lain untuk Kugy, “15 tahun hidup dalam gelap, yang paling kamu kangenin apa Gy?”
“Matahari..” jawab Kugy kalem. Matanya menerawang kosong.
“Kenapa matahari?” tanya Galang bingung.
“Selama ini aku cuma bisa ngerasain hangatnya matahari aja, aku sudah lupa gimana bentuknya matahari.. makanya, aku kangen banget sama warna matahari. Hehehe.”
“Oo.. siapa yang paling bersalah atas kebutaan kamu Gy?”
“Nggak ada yang salah kali kak. Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan seperti ini, and I am very grateful for whatever He has chosen for me.”
“Bahasa Inggris kamu bagus Gy,” timpal Galang nggak nyambung, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
Di dapur, Kinar dan Mbok Minah ikut tersenyum bahagia menyaksikan keakuran dua kakak-beradik yang berbeda orang tua tersebut.
Kata-kata Kugy membuat Galang mengagumi adik tirinya tersebut. Sejak obrolan singkat tersebut, Galang jadi sering tertawa bersama Kugy. Kugy juga tidak pernah lupa mengingatkan Galang untuk terapi dan meminum obat.
Jam demi jam menjumlahkan dirinya menjadi hari, hari demi hari menggabungkan dirinya menjadi bulan. Sudah dua bulan terlewati sejak galang sadar dari komanya. Sekarang ia dinyatakan sembuh total oleh dokter. Ia sudah bisa berjalan dan beraktivitas seperti sedia kala.
Gerimis mewarnai subuh kala itu. Galang terduduk di sajadahnya. Kepalanya pusing. Ia merasa bahwa waktunya akan segera habis. Ia mengambil kertas dan menulis sesuatu. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan terpejam. Ia melihat sosok putih yang sudah menunggunya untuk bergabung. Galang pergi untuk selamanya.
Kinar mengetuk pintu kamar galang, namun tidak ada jawaban. Ia memanggil-manggil nama Galang, tetap tidak ada jawaban. Ia memutar kenok pintu kamar Galang, tidak dikunci. Ia melihat Galang tidur terbaring dan mendapati ia sudah tidak lagi bernafas. Kinar menangis, ia berteriak memanggil Adit yang lari tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan Kinar. Mereka berdua menangis. Di tengah tangisan mereka, Kugy masuk dan bertanya apa yang telah terjadi, namun tak satu pun dari Adit maupun Kinar mampu berkata-kata. Adit berjalan menhampiri sajadah yang masih tergelar di samping ranjang Galang dan menemukan secarik kertas. Kertas yang sempat ditulisi Galang sebelum ia pergi. Di dalam kertas tersebut terdapat tulisan:
“Berikan matahari yang Kugy rindukan dengan memberikan kedua bola mataku. Biarkan ia melihat warna matahari setelah ia bersabar hanya dengan merasakan hangatnya. Galang minta maaf atas semua kesalaahan yang pernah Galang lakukan. Semoga Papa, Tante Kinar dan Kugy bahagia selamanya.”

Adit jatuh terduduk. Kinar berlari menghampirinya, ia bertanya pada Adit dan Adit memberikan surat yang ditulis Galang sebelum ia pergi. Kinar menangis. Ia memeluk Adit erat, mencoba menabahkan hati suaminya itu. Dalam tangis pilu, memori membawa ingatan Adit peda saat mereka mengunjungi makam almarhumah istri pertamanya dua bulan yang lalu.  Ia ingat betul perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup hatinya saat Galang mengatakan bahwa ia tidak akan berlama-lama meninggalkan mamanya sendirian. Rupanya saat itu galang telah merasa bahwa waktunya tidak banyal tersisa. Adit kembali menangis dalam pelukan Kinar.
Galang dimakamkan keesokan harinya, setelah menjalani proses otopsi. Dokter menyatakan ada penggumpalan pembuluh darah di otak Galang yang luput dari pengetahuan dokterdan membuatnya meninggal. Pihak rumah sakit meminta maaf atas kelalaian dalam proses pemeriksaan dan berjanji akan memberikan asuransi kematian, tapi Adit menolaknya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah. Ia sudah mengikhlaskan apapun yang telah terjadi pada putranya.
Hari ketiga setelah kepergian Galang, Adit memasuki kamar Galang, mencoba mengenang apapun tentang putra semata wayangnya itu. Ia sangat menyesal. Semasa Galang hidup, sedikit sekali waktu yang dihabiskan Adit bersama Galang. Tapi penyesalan selalu datang lebih lambat dari kenyataan yang sudah terjadi. Kinar menyusul Adit ke kamar Galang, mengajaknya untuk keluar. Ia tidak ingin Adit berlarut-larut dalam penyesalannya.

Satu bulan kemudian...

Matahri bersinar terik sekali. kugy berada di depan sebuah makam yang penuh dengan bunga tulip. Bunga tulip itu baru saja diletakkannya disana, Kugy berharap semoga orang yang telah berbaring di dalam makam itu tahu bahwa ia merindukannya. Nisan di makam itu bertuliskan nama Galang Prasetya bin Aditya Satrio. Kugy mengelus nisan itu, dan berkata lirih.
“Terimakasih atas matahari yang kakak kasih, matahari itu cantik ya kak?” Ia berhenti, mengusap airmata yang jatuh satu-satu, lalu melanjutkan, “secantik hati kakak yang telah berbaik hati membagi cahaya untuk Ugy, semoga Tuhan memberikan tempat terbaikNya untuk kakak.”
Kugy selesai. Ia berjalan menyusuri setiap makam menuju pintu keluar. Tapi ia tidak keluar sendirian, karena ia selalu membawa serta Galang dalam sorot matanya yang teduh.

¤¤¤

Tidak ada komentar:

Posting Komentar