Terimakasih
Allah yang telah mengijinkanku melewati berbagai ujian dariNya..
Cukup
dengan membaca judul yang tertera di atas kita pasti sudah bisa memperdiksi apa
yang akan aku bahas dalam coretan ini. Apa? Yap. Tentu saja tentang perjalanan
seorang mahasiswi labil—aku sendiri—di semester yang penuh tantangan—err,
perjuangan. Mungkin ada yang bertanya-tanya—yakale—kenapa aku menuliskan kata
labil? Oke, banyak orang yang menyangka aku adalah pribadi dewasa, tapi ya, terkadang
aku memang masih sangat labil dalam beberapa kondisi, salah satunya di semester
ini.
Semester
5. Semester yang penuh perjuangan, kata kebanyakan orang. Dan nyatanya aku
setuju dengan kebanyakan orang. Semester 5 ku memang penuh dengan perjuangan. Angka
5 terlihat sangat menyeramkan—ah, lebay—bagiku kala itu—kala kali pertama mendaftar
rencana perkuliahan selama satu semester. Semester 5 ibarat orang yang tengah
hamil 6-7 bulan, sudah cukup tua tapi belum cukup waktu untuk melahirkan,
hehehe. Aku pun juga begitu, menjadi mahasiswa semester 5 membuatku tidak lagi
berada pada posisi sophomore
(mahasiswa tahun kedua), tapi satu tingkat lebih tinggi, apa? Yap. Junior. Mahasiswi setengah matang—atau,
aku lebih suka meneyebut diriku sendiri sebagai calon guru setengah matang.
Semester
5 ini kusebut sebagai semester pelangi. Kenapa pelangi? Karena di semester ini
aku merasakan banyak warna, dari yang pekat—tapi bukan hitam—sampai ke warna
yang paling terang. Semester ini aku memadatkan jumlah SKS ku dengan bobot
matakuliah yang lumayan—jika tidak boleh disebut berat—dan variasi dosen yang
sifatnya beragam. Di semester 5 ini aku diperkenalkan dengan 10 matakuliah
baru, beberapa diantaranya cukup menguras perasaan, energi, dan pikiran. Aku tidak
bermaksud berlebihan dalam mendeskripsikan betapa “lumayan”nya semester 5 ini,
tapi begitulah kenyataan yang aku hadapi kawan, mungkin kalian juga
merasakannya, aku tidak tahu.
English Curriculum. Matakuliah
dengan bobot 4 SKS ini sempat membuatku ingin men-skip bulan menjadi lebih cepat. Bagiku, matakuliah ini adalah
matakuliah yang sangat krusial bagi karirku di masa depan sebagai seorang guru,
dan posisi ‘krusial’ yang kulabelkan pada matakuliah ini berbanding lurus
dengan usaha yang harus kukeluarkan untuk bisa lulus dengan terhormat dari matakuliah ini. Sekali lagi,
label krusial yang kucantumkan pada matakuliah ini mengujiku dengan gaya
pengajarnya yang begitu ‘unik’. Ya, pengajar matakuliah ini begitu unik. Beliau
selalu mengatakan bahwa, beliau ingin kami—aku dan teman-temanku yang mengambil
matakuliah ini—lulus dari kampus tercinta kami tidak hanya dangan nilai yang
memuaskan, tapi juga skill yang
mumpuni sebagai seorang tenaga pendidik di masa depan. Dengan cara yang tidak
biasa, beliau mempush kami sampai
batas maksimal. Pengalaman meramu kurikulum untuk TK, SD, SMP, SMA bahkan
Mahasiswa—atau yang lebih keren disebut dengan tertiary level—untuk bahasa Inggris profesi telah aku dan
teman-temanku lewatkan. Ajaib! Ya. Ini semua terasa ajaib, karena jika boleh
jujur, aku sudah dua kali dibuat menangis gara-gara matakuliah satu ini, dan semua
itu kini terbayar lunas. Satu-satunya yang ingin kuucapkan pada dosen yang
telah mengajarkan matakuliah ini kepadaku adalah: Terimakasih untuk ilmu, dorongan dan airmata yang telah ibu berikan,
saya cinta ibu. Hehehe.
Statistics. Matakuliah
ini menempati posisi kedua dari matakuliah yang telah membuatku stress. Bagaimana
tidak? Sejak SMA aku sadar betul aku tidak begitu bagus dalam bidang eksakta
dan di semester ini aku diharuskan mengambil matakuliah yang notabene bertalian erat dengan
matematika dan angka-angka, ya Allah. Minggu demi minggu berjalan dengan
terburu berganti bulan, genap 5 bulan dan semua itu berakhir, Manis. Tapi itu
bukan berarti aku telah benar-benar menguasai ilmu statistik, belum. Dan karena
itulah aku berpikir, bahwa mungkin kelak di masa depan ketika aku harus memilih
pendamping hidup, aku membutuhkan seseorang dengan kemampuan yang baik di
bidang eksakta, agar kami bisa saling melengkapi satu sama lain—err, baik kita
beralih.
English for Young Learners (EYL). Salah satu matakuliah yang sebenarnya paling aku
sukai, karena keterkaitannya dengan anak-anak. Aku suka anak-anak. Tapi, yah,
sama halnya dengan matakuliah Curriculum,
matakuliah ini pun didukung dengan dosen yang cukup ‘tegas’ dalam arti kata
sesungguhnya. Bagaimanapun, aku tetap suka dengan matakuliah ini. Pengalaman observasi
lapangan tentanng penerapan pengajaran bahasa Inggris pada anak-anak TK yang
telah mempertemukanku dengan si kecil menawan, Fatih—yang semoga kelak akan
seperti Muhammad Al Fatih—sungguh akan menjadi memori yang tidak akan aku
lupakan sepanjang hayat masih dikadung badan, hehe. Selain itu, proses peer-teaching (praktik mengajar sebaya)
saat aku harus mempratikkan bagaimana aku dan teman satu grupku (septa dan
guldy) mengajar siswa kelas 6 SD dengan lesson
plan (rencana pembelajaran) yang telah kami ramu sebelumnya, juga termasuk
kedalam daftar memori yang tidak akan pernah aku lupakan—apalagi saat melakukan
peer-teaching kala itu aku sedang
dalam kondisi demam yang dikarenakan sakit cacar air.
Research Method in English Language Teaching. Matakuliah yang lebih suka kusebut ELT ini
memperkenalkanku dengan seorang dosen yang menurutku pribadi adalah dosen yang
cukup luar biasa. Dosen luar biasa ini adalah Dr. Suharmanto, M. Pd, beliau
adalah staf pengajar bahasa Inggris sekaligus Pembantu Dekan II fakultas sastra.
Apa yang membuat Pak Suharmanto—atau yang lebih akrab aku dan teman-temanku
sapa sebagai Pak Harmanto—ini istimewa di mataku? Jawabannya tentu bukan karena
titel yang beliau sandang, atau amanah jabatan yang beliau emban, melainkan
karena sifat beliau yang sangat arif. Dalam diri beliau aku berhasil merumuskan
bagaimana tipikal dosen ideal, versiku. Beliau adalah dosen blak-blakan yang
mampu memotivasi setiap mahasiwanya untuk membuka mata tentang kondisi bangsa
ini. Beliau juga selalu mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan bidang
keilmuan yang beliau sampaikan. Ayat-ayat Allah yang Mahaindah menjadi dasar
materi yang diajarkan. Aku berharap, semoga suatu saat—ketika aku mendapatkan
giliranku untuk menyumbangkan ilmu yang telah aku peroleh sebagai salah satu
pendidik di negeri ini—aku mampu menjadi seperti beliau, Amiin ya Robb.
Selain
empat matakuliah yang telah kusebutkan di atas, aku juga masih memiliki
segudang memori tentang enam matakuliah lainnya di antaranya: English for
Specific Purpose atau yang lebih akrab disebut ESP—salah satu matakuliah dengan
dosen cantik yang seperti tidak pernah kehilangan kesabarannya dalam ‘menangani’
ku dan teman-temanku, Language Learning Assessment (LLA)—satu dari bagian matakuliah
krusial yang mengajarkanku bagaimana membuat tipe soal yang ‘pas’ untuk siswaku
kelak, didukung dengan dosen luar biasa yag baik hati, English Morphology—matakuliah
yang membuatku semakin jatuh hati dengan bahasa, terutama Arab dan Inggris
karena keberagamannya, dalam matakuliah ini aku mengenal berbagai macam proses
yang terjadi dalam sebuah bahasa. Aku sempat membahas tentang bahasa Arab yang
luar biasa sebagai presentasi final dalam matakuliah ini, Extensive Reading—aku
sungguh jatuh cinta pada dosen cantik yang mengajarkanku matakuliah ini,
bagiku, matakuliah ini adalah matakuliah paling asik sepanjang sejarah
perkuliahanku, hehehe, Basic Prosaic Studies (BPS)—meskipun aku susah sekali
memfokuskan konsentrasiku saat matakuliah ini berlangsung, hehehe, tapi aku
sungguh berterimakasih kepada dosen yang telah mengajarkanku matakuliah ini, karena beliau lah rasanya aku
menjadi semakin sensitif dengan cerita dan semakin mahir dalam menarikan
jari-jariku untuk mencipta rasa dalam
sebuah karya berupa cerita, dan terakhir adalah Classroom Management—penempatan
waktu yang kurang sesuai untuk matakuliah ini (Jum’at jam ke 9-10 atau lebih
tepatnya dimulai pukul 15.00-16.20) membuat matakuliah ini tidak meninggalkan banyak
kenangan manis bagiku, ah, tapi tetap saja aku berterimakasih atas ilmu yang
telah kuterima.
Semester
pelangi. Tidak berhenti pada kisahnya tentang matakuliah dan dosen pengajarnya
yang beragam, tapi juga tentang pengalaman pribadiku menjadi seorang pengajar
privat beberapa siswa SMP, SMA, dan Mahasiswa. Selalu ada kejutan saat aku
mengajar karena “You are teaching when
you learn, and you are learning when you teach.” Kejutan-kejutan itu
terlontar dari pertanyaan dan semangat yang luar biasa besar dari
murid-muridku. Semester ini memang tidak biasa, karena jika pada
semester-semester sebelumnya aku hanya berani mengambil 2 atau 3 siswa saja,
semester ini aku memutuskan untuk memadatkan hari-hariku dengan memberikan
privat. Ketika seorang teman bertanya “Kamu
ngga capek tah esa? Belum kajiannya..” maka dengan nada bercanda aku
menjawabnya “Ngga laah, kan buat kejar
setoran nikah, hehehe. Kalo kajian, itukan kebutuhan jadi ya ngga ada capeklah.”
Tidak
lengkap rasanya jika pelangi hanya berisi warna-warna cerah tanpa didampingi
warna-warna gelap. Semester pelangi ini juga memberikanku pengalaman yang
sebelumnya tidak pernah aku harapkan, apa? Cacar. Ya. Satu bulan sebelum
semester pelangi ini berakhir, aku mendapatkan cacar air yang akhirnya membuatku
harus meliburkan diri dari kegiatan perkuliahan selama satu minggu. Belum cukup
itu, satu minggu setelah aku sembuh dari cacar aku kembali rubuh karena gejala
thypus. Saat itu aku cukup heran kenapa daya than tubuhku mendadak letoy
padahal sebelumnya aku tidak pernah begini, tapi pada akhirnya aku menyimpulkan
bahwa Allah tengah mengujiku dengan ujian sabar berlipat, Astaghfirullah. Karena sakit yang berurutan itulah mama harus
bolak-balik Sidoarjo-Malang untuk merawatku yang sempat memaksa tetap masuk
kuliah. Ah, Mama.. terimakasih.
Dan
pelangi tidak akan pernah menjadi pelangi tanpa teman-teman dan saudara-saudara
hebat seperti Amalina—yang belakangan mengajarkanku ilmu lalat, terimakasih
lin, aku beruntung punya teman yang sudah seperti saudara sepertimu, Dwi Puji
Septarini yang lebih akrab kupanggil kasep (kak septa) karena usianya yang
hanya beberapa hari lebih tua dariku, hehehe—terimakasih karena sudah tidak
menyerah terhadapku, Febi—teman dari semester pertama yang benar-benar
unpredictable—err, hehehe, Fida, Citra, Cicin, Ajeng, sekelompok laki-laki yang
menamakan dirinya Morons—4 laki-laki ditambah si kasep—Himawan, Fery, Evan, dan
Guldy, Faiz, Mas Ian, Pak Amir dan pasangannya, Fahmi, dan lain-lain yang tidak
bisa disebutkan satu per satu, hehehe. Terimakasih. Semoga kita bisa belajar
dari semester 5 yang sudah kita lalui bersama-sama. Semoga semester pelangiku—atau,
kita—ini mengerucutkan hasil yang maksimal. Semoga kita mampu belajar lebih
baik agar kelak menuai hasil yang terbaik.
-Aesaazzam-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar