Selasa, 01 Januari 2013

Semester Pelangi


Terimakasih Allah yang telah mengijinkanku melewati berbagai ujian dariNya..

Cukup dengan membaca judul yang tertera di atas kita pasti sudah bisa memperdiksi apa yang akan aku bahas dalam coretan ini. Apa? Yap. Tentu saja tentang perjalanan seorang mahasiswi labil—aku sendiri—di semester yang penuh tantangan—err, perjuangan. Mungkin ada yang bertanya-tanya—yakale—kenapa aku menuliskan kata labil? Oke, banyak orang yang menyangka aku adalah pribadi dewasa, tapi ya, terkadang aku memang masih sangat labil dalam beberapa kondisi, salah satunya di semester ini.
Semester 5. Semester yang penuh perjuangan, kata kebanyakan orang. Dan nyatanya aku setuju dengan kebanyakan orang. Semester 5 ku memang penuh dengan perjuangan. Angka 5 terlihat sangat menyeramkan—ah, lebay—bagiku kala itu—kala kali pertama mendaftar rencana perkuliahan selama satu semester. Semester 5 ibarat orang yang tengah hamil 6-7 bulan, sudah cukup tua tapi belum cukup waktu untuk melahirkan, hehehe. Aku pun juga begitu, menjadi mahasiswa semester 5 membuatku tidak lagi berada pada posisi sophomore (mahasiswa tahun kedua), tapi satu tingkat lebih tinggi, apa? Yap. Junior. Mahasiswi setengah matang—atau, aku lebih suka meneyebut diriku sendiri sebagai calon guru setengah matang.
Semester 5 ini kusebut sebagai semester pelangi. Kenapa pelangi? Karena di semester ini aku merasakan banyak warna, dari yang pekat—tapi bukan hitam—sampai ke warna yang paling terang. Semester ini aku memadatkan jumlah SKS ku dengan bobot matakuliah yang lumayan—jika tidak boleh disebut berat—dan variasi dosen yang sifatnya beragam. Di semester 5 ini aku diperkenalkan dengan 10 matakuliah baru, beberapa diantaranya cukup menguras perasaan, energi, dan pikiran. Aku tidak bermaksud berlebihan dalam mendeskripsikan betapa “lumayan”nya semester 5 ini, tapi begitulah kenyataan yang aku hadapi kawan, mungkin kalian juga merasakannya, aku tidak tahu.
English Curriculum. Matakuliah dengan bobot 4 SKS ini sempat membuatku ingin men-skip bulan menjadi lebih cepat. Bagiku, matakuliah ini adalah matakuliah yang sangat krusial bagi karirku di masa depan sebagai seorang guru, dan posisi ‘krusial’ yang kulabelkan pada matakuliah ini berbanding lurus dengan usaha yang harus kukeluarkan untuk bisa lulus dengan terhormat dari matakuliah ini. Sekali lagi, label krusial yang kucantumkan pada matakuliah ini mengujiku dengan gaya pengajarnya yang begitu ‘unik’. Ya, pengajar matakuliah ini begitu unik. Beliau selalu mengatakan bahwa, beliau ingin kami—aku dan teman-temanku yang mengambil matakuliah ini—lulus dari kampus tercinta kami tidak hanya dangan nilai yang memuaskan, tapi juga skill yang mumpuni sebagai seorang tenaga pendidik di masa depan. Dengan cara yang tidak biasa, beliau mempush kami sampai batas maksimal. Pengalaman meramu kurikulum untuk TK, SD, SMP, SMA bahkan Mahasiswa—atau yang lebih keren disebut dengan tertiary level—untuk bahasa Inggris profesi telah aku dan teman-temanku lewatkan. Ajaib! Ya. Ini semua terasa ajaib, karena jika boleh jujur, aku sudah dua kali dibuat menangis gara-gara matakuliah satu ini, dan semua itu kini terbayar lunas. Satu-satunya yang ingin kuucapkan pada dosen yang telah mengajarkan matakuliah ini kepadaku adalah: Terimakasih untuk ilmu, dorongan dan airmata yang telah ibu berikan, saya cinta ibu. Hehehe.
Statistics. Matakuliah ini menempati posisi kedua dari matakuliah yang telah membuatku stress. Bagaimana tidak? Sejak SMA aku sadar betul aku tidak begitu bagus dalam bidang eksakta dan di semester ini aku diharuskan mengambil matakuliah yang notabene bertalian erat dengan matematika dan angka-angka, ya Allah. Minggu demi minggu berjalan dengan terburu berganti bulan, genap 5 bulan dan semua itu berakhir, Manis. Tapi itu bukan berarti aku telah benar-benar menguasai ilmu statistik, belum. Dan karena itulah aku berpikir, bahwa mungkin kelak di masa depan ketika aku harus memilih pendamping hidup, aku membutuhkan seseorang dengan kemampuan yang baik di bidang eksakta, agar kami bisa saling melengkapi satu sama lain—err, baik kita beralih.
English for Young Learners (EYL). Salah satu matakuliah yang sebenarnya paling aku sukai, karena keterkaitannya dengan anak-anak. Aku suka anak-anak. Tapi, yah, sama halnya dengan matakuliah Curriculum, matakuliah ini pun didukung dengan dosen yang cukup ‘tegas’ dalam arti kata sesungguhnya. Bagaimanapun, aku tetap suka dengan matakuliah ini. Pengalaman observasi lapangan tentanng penerapan pengajaran bahasa Inggris pada anak-anak TK yang telah mempertemukanku dengan si kecil menawan, Fatih—yang semoga kelak akan seperti Muhammad Al Fatih—sungguh akan menjadi memori yang tidak akan aku lupakan sepanjang hayat masih dikadung badan, hehe. Selain itu, proses peer-teaching (praktik mengajar sebaya) saat aku harus mempratikkan bagaimana aku dan teman satu grupku (septa dan guldy) mengajar siswa kelas 6 SD dengan lesson plan (rencana pembelajaran) yang telah kami ramu sebelumnya, juga termasuk kedalam daftar memori yang tidak akan pernah aku lupakan—apalagi saat melakukan peer-teaching kala itu aku sedang dalam kondisi demam yang dikarenakan sakit cacar air.
Research Method in English Language Teaching. Matakuliah yang lebih suka kusebut ELT ini memperkenalkanku dengan seorang dosen yang menurutku pribadi adalah dosen yang cukup luar biasa. Dosen luar biasa ini adalah Dr. Suharmanto, M. Pd, beliau adalah staf pengajar bahasa Inggris sekaligus Pembantu Dekan II fakultas sastra. Apa yang membuat Pak Suharmanto—atau yang lebih akrab aku dan teman-temanku sapa sebagai Pak Harmanto—ini istimewa di mataku? Jawabannya tentu bukan karena titel yang beliau sandang, atau amanah jabatan yang beliau emban, melainkan karena sifat beliau yang sangat arif. Dalam diri beliau aku berhasil merumuskan bagaimana tipikal dosen ideal, versiku. Beliau adalah dosen blak-blakan yang mampu memotivasi setiap mahasiwanya untuk membuka mata tentang kondisi bangsa ini. Beliau juga selalu mengintegrasikan nilai-nilai agama dengan bidang keilmuan yang beliau sampaikan. Ayat-ayat Allah yang Mahaindah menjadi dasar materi yang diajarkan. Aku berharap, semoga suatu saat—ketika aku mendapatkan giliranku untuk menyumbangkan ilmu yang telah aku peroleh sebagai salah satu pendidik di negeri ini—aku mampu menjadi seperti beliau, Amiin ya Robb.
Selain empat matakuliah yang telah kusebutkan di atas, aku juga masih memiliki segudang memori tentang enam matakuliah lainnya di antaranya: English for Specific Purpose atau yang lebih akrab disebut ESP—salah satu matakuliah dengan dosen cantik yang seperti tidak pernah kehilangan kesabarannya dalam ‘menangani’ ku dan teman-temanku, Language Learning Assessment (LLA)—satu dari bagian matakuliah krusial yang mengajarkanku bagaimana membuat tipe soal yang ‘pas’ untuk siswaku kelak, didukung dengan dosen luar biasa yag baik hati, English Morphology—matakuliah yang membuatku semakin jatuh hati dengan bahasa, terutama Arab dan Inggris karena keberagamannya, dalam matakuliah ini aku mengenal berbagai macam proses yang terjadi dalam sebuah bahasa. Aku sempat membahas tentang bahasa Arab yang luar biasa sebagai presentasi final dalam matakuliah ini, Extensive Reading—aku sungguh jatuh cinta pada dosen cantik yang mengajarkanku matakuliah ini, bagiku, matakuliah ini adalah matakuliah paling asik sepanjang sejarah perkuliahanku, hehehe, Basic Prosaic Studies (BPS)—meskipun aku susah sekali memfokuskan konsentrasiku saat matakuliah ini berlangsung, hehehe, tapi aku sungguh berterimakasih kepada dosen yang telah mengajarkanku  matakuliah ini, karena beliau lah rasanya aku menjadi semakin sensitif dengan cerita dan semakin mahir dalam menarikan jari-jariku untuk  mencipta rasa dalam sebuah karya berupa cerita, dan terakhir adalah Classroom Management—penempatan waktu yang kurang sesuai untuk matakuliah ini (Jum’at jam ke 9-10 atau lebih tepatnya dimulai pukul 15.00-16.20) membuat matakuliah ini tidak meninggalkan banyak kenangan manis bagiku, ah, tapi tetap saja aku berterimakasih atas ilmu yang telah kuterima.
Semester pelangi. Tidak berhenti pada kisahnya tentang matakuliah dan dosen pengajarnya yang beragam, tapi juga tentang pengalaman pribadiku menjadi seorang pengajar privat beberapa siswa SMP, SMA, dan Mahasiswa. Selalu ada kejutan saat aku mengajar karena “You are teaching when you learn, and you are learning when you teach.” Kejutan-kejutan itu terlontar dari pertanyaan dan semangat yang luar biasa besar dari murid-muridku. Semester ini memang tidak biasa, karena jika pada semester-semester sebelumnya aku hanya berani mengambil 2 atau 3 siswa saja, semester ini aku memutuskan untuk memadatkan hari-hariku dengan memberikan privat. Ketika seorang teman bertanya “Kamu ngga capek tah esa? Belum kajiannya..” maka dengan nada bercanda aku menjawabnya “Ngga laah, kan buat kejar setoran nikah, hehehe. Kalo kajian, itukan kebutuhan jadi ya ngga ada capeklah.
Tidak lengkap rasanya jika pelangi hanya berisi warna-warna cerah tanpa didampingi warna-warna gelap. Semester pelangi ini juga memberikanku pengalaman yang sebelumnya tidak pernah aku harapkan, apa? Cacar. Ya. Satu bulan sebelum semester pelangi ini berakhir, aku mendapatkan cacar air yang akhirnya membuatku harus meliburkan diri dari kegiatan perkuliahan selama satu minggu. Belum cukup itu, satu minggu setelah aku sembuh dari cacar aku kembali rubuh karena gejala thypus. Saat itu aku cukup heran kenapa daya than tubuhku mendadak  letoy padahal sebelumnya aku tidak pernah begini, tapi pada akhirnya aku menyimpulkan bahwa Allah tengah mengujiku dengan ujian sabar berlipat, Astaghfirullah. Karena sakit yang berurutan itulah mama harus bolak-balik Sidoarjo-Malang untuk merawatku yang sempat memaksa tetap masuk kuliah. Ah, Mama.. terimakasih.
Dan pelangi tidak akan pernah menjadi pelangi tanpa teman-teman dan saudara-saudara hebat seperti Amalina—yang belakangan mengajarkanku ilmu lalat, terimakasih lin, aku beruntung punya teman yang sudah seperti saudara sepertimu, Dwi Puji Septarini yang lebih akrab kupanggil kasep (kak septa) karena usianya yang hanya beberapa hari lebih tua dariku, hehehe—terimakasih karena sudah tidak menyerah terhadapku, Febi—teman dari semester pertama yang benar-benar unpredictable—err, hehehe, Fida, Citra, Cicin, Ajeng, sekelompok laki-laki yang menamakan dirinya Morons—4 laki-laki ditambah si kasep—Himawan, Fery, Evan, dan Guldy, Faiz, Mas Ian, Pak Amir dan pasangannya, Fahmi, dan lain-lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu, hehehe. Terimakasih. Semoga kita bisa belajar dari semester 5 yang sudah kita lalui bersama-sama. Semoga semester pelangiku—atau, kita—ini mengerucutkan hasil yang maksimal. Semoga kita mampu belajar lebih baik agar kelak menuai hasil yang terbaik.


-Aesaazzam-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar