Senin, 07 Januari 2013

SekuelCinta2


Senja tak kemana-kemana. Ia terlihat ‘anteng’ dipelukan jingga, membuat semua yang di bumi terkesima akan keindahannya. Hari itu senja tampak sempurna cantiknya, sayang Pracita sama sekali tak bisa menikmatinya. Hatinya sedang tak bersahabat. Laki-laki di hadapannya pun sama. Mereka bungkam. Tak ada yang mau mendahului untuk berbicara. Sudah hampir satu jam dan mereka masih bertahan. Berperang dalam diam. Hanya desahan angin yang menggugurkan daun-daun menjadi satu-satunya suara terdengar. Sepi.
Pracita berdeham. Ia sudah lelah bermain-main dalam diam, tapi laki-laki di hadapannya tak menggubris. Ia masih betah bertahta dalam singgsana yang ia cipta tanpa suara. Pracita tidak lagi bisa menahan kesabarannya,
Game on.. mari saling berpura-pura. Saya berpura-pura dengan kondisi baik-baik saja dan Anda silahkan tetap pada ketidaktahuan Anda yang telah menyakiti saya, kita lihat, hasil akhirnya akan seperti apa.”
“Cit,”
“Apa?”
“Mengertilah..”
“Saya sudah cukup mengerti kamu Im, tapi saya tidak akan pernah bisa berdiri sendirian dengan perasaan saya. Saya bukan robot-robot bermesin yang biasa kamu ciptakan. Saya manusia biasa.” Airmata Pracita meleleh. Di hadapan laki-laki ini, dia tidak pernah bisa menyembunyikan airmatanya. Ia benci dirinya yang terlihat lemah, tapi itulah kenyataannya.
“Saya hanya minta waktu.” Laki-laki itu seperti kehabisan kata-kata. Ia sendiri tidak mengerti apa yang sedang ia lakukan.
“Tidak Im, sudah cukup kamu membuat hati saya berdarah-darah setiap kali sikapmu yang kekanak-kanakan ini muncul. Hati saya tidak cukup kuat menjadi bahan uji cobamu. Saya lelah.”
“Cit,”
“Setiap kali kita bertengkar karena kamu menginginkan perpisahan di antara kita, saya selalu beranggapan bahwa semua kata-kata yang telah kamu lontarkan adalah bagian dari mimpi buruk. Mimpi buruk yang nantinya bisa saya tertawakan, tapi 5 detik kemudian saya terbangun dan benar-benar sadar ini bukan sekedar mimpi buruk , tapi kenyataan. Saat itulah hati berdarah lagi.”
“Cit,”
“Immy, hati saya bukan komponen-komponen robot yang setelah dihancurkan bisa dirakit kembali dan bisa berfungsi dengan baik tanpa cacat.”
“Saya tahu,”
“Tidak kamu tidak tahu, karena jika kamu tahu, kamu tidak akan membiarkan saya bertahan sendirian dengan satu tangan yang menepuk ruangan hampa. Kita butuh dua tangan untuk bisa bertepuk dengan sempurna, yang terjadi pada kita adalah...” Pracita menggantung kata-katanya, airmatanya berlelehan. Ia menghapus airmatanya, dan melanjutkan.
“Saya selalu bertepuk sendirian. Bertahan sendirian.”
“Bagaimana saya bisa menjelaskannya agar kamu bisa mengerti cit?”
“Immy, lupakan pertunangan kita. Lupakan bahwa kamu telah menyakiti saya, dan saya pun akan melupakan bahwa saya telah tersakiti.”
“Kamu membuat ini menjadi tidak mudah.”
“Kamu yang memulainya.”
“Tidak.”
“Ya, hanya saja kamu terlalu egois untuk mengakuinya dan saya terlalu bodoh untuk tetap bertahan bersama laki-laki yang sama sekali tidak pernah menghargai perasaan saya, seperti kamu.” Pracita menghapus airmatanya. Menekan kesedihannya ke dalam ruang antah berantah dalam hatinya. Baginya semua ini lebih baik diakhiri, karena tidak akan ada gunanya mempertahankan sebuah hubungan yang ia selalu berdiri sendirian di dalamnya.
“Selesai. Saya kembalikan ini kepada kamu.” Ptacita mengakhiri pembicaraan mereka dan mengembalikan cicin pertunangan mereka ke tangan Immy.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Laki-laki bodoh.” Pracita berlari. Ia meninggalkan Immy yang masih berdiri mematung menggenggam cicin Pracita.
Pracita berlari sambil terus menangis. Pertunangannya dengan Immy selesai. Hubungan yang selama dua tahun ia coba pertahankan roboh. Parahnya, Immy sama sekali tidak merasa kehilangannya. Bahkan ia masih sempat bertanya apakah ia tidak apa-apa setelah semua yang ia lakukan. ‘Laki-laki bodoh’ ucap Pracita berkali-kali di tengah deras airmatanya.
Pracita masuk ke kamarnya. Matanya sembab. Ia membaringkan tubuhnya mencoba memejamkan mata. Seperti biasa, ia berharap tidur bisa menghapus memorinya. Membiarkannya bernapas lega, setidaknya untuk sementara. Sia-sia. Memori tentang Immy mencekiknya sampai ke alam mimpi. Ia bngun dan menuju meja di samping tempat tidurnya, menulis sesuatu. Pracita meremas-remas kertas berisi tulisan yang baru saja ia tulis dengan kedua tangannya, lalu mencoba menulis lagi, tapi kertas itu pun bernasib sama dengan kertas sebelumnya. Menulis merupakan sebuah pelampiasan rasa atas kecewa yang tak mampu ia ungkapkan dalam suara. Ia menyerah. Menelungkupkan wajahnya dan perlahan anak sungai mengalir jernih dari kedua matanya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. Ada luka menganga di sana, ia kalah dalam permainan yang ia buat sendiri. Berpura-pura tidak tersakiti tidak akan pernah menjadi hal yang mudah. Ia menangis, memadamkan gairah bulan menerangi malam. Ia menangis, mengundang gerimis memeluk bumi.
Drrt.. drrt.. ponselnya bergetar. Immy. Nama itu tertera pada layar ponselnya. ‘Mau apa lagi dia?’ batinnya.
“Halo?” jawabnya.
“Cit, saya minta maaf..” ucap Immy.
“Untuk?” tanya Pracita.
“Untuk semua yang telah saya lakukan sama kamu. Saya salah, maafkan saya. bisakah kita memulai semuanya dari awal? Saya tidak ingin pertunangan kita berhenti di tengah jalan.” Ucapnya. Pracita terenyak. Selalu seperti ini. Bertengkar hebat karena menginginkan perpisahan, kemudian kembali memohon untuk memulai semuanya dari awal. Mudah sekali laki-laki ini meminta maaf setelah semua yang telah ia lakukan. Pracita diam tidak menjawab.
“Cit? Kamu masih di sana, kan?”
“Ya. Saya masih di sini.”
“Bagaimana?” tanya Immy.
“Immy, dengarkan saya, cinta itu bukan seperti ingus anak kecil yang keluar masuk; pergi dan kembali sesuka hati. Belum satu hari kamu meminta perpisahan di antara kita, sekarang kamu meminta saya memaafkan kamu dan kembali memulai semuanya dari awal, saya tidak mau. Tidak ada lagi kita sekarang, hanya ada saya dan kamu.”
“Tapi..”
“Ini bukan kali pertama.. bukan juga kali kedua.. atau kali ketiga. Saya sudah cukup sering memaafkan kamu. Lupakan pertunangan kita, kamu bisa mencari robot yang bisa mendampingi kamu, saya yakin kamu akan lebih berbahagia.” Tutupnya. Ia menutup teleponnya. Tidak membiarkan Immy membodohi hatinya lagi, tidak untuk kesekian kalinya.
Pracita tertegun. Ia tidak menyangka akan bersikap setegas itu terhadap Immy. Selama ini, ia selalu mengalah dan menjadi yang tersalah tapi kali ini ia bersikap tegas. Jika ia kembali memaafkan Immy, ia yakin laki-laki itu tidak akan pernah belajar dari kesalahannya dan aku terus mengulangi kesalahn yang sama. Mungkin ia bisa bertahan, tapi sampai kapan? Pracita berdiri, menatap cermin yang berada di samping lemarinya. Ada wajah yang tidak ia kenali tersenyum dengan mata yang sembab dalam cermin itu. Wajah yang jauh lebih tegar.

***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar