Senja tak
kemana-kemana. Ia terlihat ‘anteng’ dipelukan jingga, membuat semua yang di
bumi terkesima akan keindahannya. Hari itu senja tampak sempurna cantiknya,
sayang Pracita sama sekali tak bisa menikmatinya. Hatinya sedang tak
bersahabat. Laki-laki di hadapannya pun sama. Mereka bungkam. Tak ada yang mau
mendahului untuk berbicara. Sudah hampir satu jam dan mereka masih bertahan. Berperang
dalam diam. Hanya desahan angin yang menggugurkan daun-daun menjadi
satu-satunya suara terdengar. Sepi.
Pracita berdeham. Ia
sudah lelah bermain-main dalam diam, tapi laki-laki di hadapannya tak
menggubris. Ia masih betah bertahta dalam singgsana yang ia cipta tanpa suara. Pracita
tidak lagi bisa menahan kesabarannya,
“Game on.. mari saling berpura-pura. Saya
berpura-pura dengan kondisi baik-baik saja dan Anda silahkan tetap pada
ketidaktahuan Anda yang telah menyakiti saya, kita lihat, hasil akhirnya akan
seperti apa.”
“Cit,”
“Apa?”
“Mengertilah..”
“Saya sudah cukup
mengerti kamu Im, tapi saya tidak akan pernah bisa berdiri sendirian dengan
perasaan saya. Saya bukan robot-robot bermesin yang biasa kamu ciptakan. Saya
manusia biasa.” Airmata Pracita meleleh. Di hadapan laki-laki ini, dia tidak
pernah bisa menyembunyikan airmatanya. Ia benci dirinya yang terlihat lemah,
tapi itulah kenyataannya.
“Saya hanya minta
waktu.” Laki-laki itu seperti kehabisan kata-kata. Ia sendiri tidak mengerti
apa yang sedang ia lakukan.
“Tidak Im, sudah
cukup kamu membuat hati saya berdarah-darah setiap kali sikapmu yang
kekanak-kanakan ini muncul. Hati saya tidak cukup kuat menjadi bahan uji
cobamu. Saya lelah.”
“Cit,”
“Setiap kali kita
bertengkar karena kamu menginginkan perpisahan di antara kita, saya selalu
beranggapan bahwa semua kata-kata yang telah kamu lontarkan adalah bagian dari
mimpi buruk. Mimpi buruk yang nantinya bisa saya tertawakan, tapi 5 detik
kemudian saya terbangun dan benar-benar sadar ini bukan sekedar mimpi buruk ,
tapi kenyataan. Saat itulah hati berdarah lagi.”
“Cit,”
“Immy, hati saya
bukan komponen-komponen robot yang setelah dihancurkan bisa dirakit kembali dan
bisa berfungsi dengan baik tanpa cacat.”
“Saya tahu,”
“Tidak kamu tidak
tahu, karena jika kamu tahu, kamu tidak akan membiarkan saya bertahan sendirian
dengan satu tangan yang menepuk ruangan hampa. Kita butuh dua tangan untuk bisa
bertepuk dengan sempurna, yang terjadi pada kita adalah...” Pracita menggantung
kata-katanya, airmatanya berlelehan. Ia menghapus airmatanya, dan melanjutkan.
“Saya selalu
bertepuk sendirian. Bertahan sendirian.”
“Bagaimana saya
bisa menjelaskannya agar kamu bisa mengerti cit?”
“Immy, lupakan
pertunangan kita. Lupakan bahwa kamu telah menyakiti saya, dan saya pun akan
melupakan bahwa saya telah tersakiti.”
“Kamu membuat ini
menjadi tidak mudah.”
“Kamu yang
memulainya.”
“Tidak.”
“Ya, hanya saja
kamu terlalu egois untuk mengakuinya dan saya terlalu bodoh untuk tetap
bertahan bersama laki-laki yang sama sekali tidak pernah menghargai perasaan
saya, seperti kamu.” Pracita menghapus airmatanya. Menekan kesedihannya ke
dalam ruang antah berantah dalam hatinya. Baginya semua ini lebih baik
diakhiri, karena tidak akan ada gunanya mempertahankan sebuah hubungan yang ia
selalu berdiri sendirian di dalamnya.
“Selesai. Saya kembalikan
ini kepada kamu.” Ptacita mengakhiri pembicaraan mereka dan mengembalikan cicin
pertunangan mereka ke tangan Immy.
“Kamu tidak
apa-apa?”
“Laki-laki bodoh.”
Pracita berlari. Ia meninggalkan Immy yang masih berdiri mematung menggenggam
cicin Pracita.
Pracita berlari
sambil terus menangis. Pertunangannya dengan Immy selesai. Hubungan yang selama
dua tahun ia coba pertahankan roboh. Parahnya, Immy sama sekali tidak merasa
kehilangannya. Bahkan ia masih sempat bertanya apakah ia tidak apa-apa setelah
semua yang ia lakukan. ‘Laki-laki bodoh’
ucap Pracita berkali-kali di tengah deras airmatanya.
Pracita masuk ke
kamarnya. Matanya sembab. Ia membaringkan tubuhnya mencoba memejamkan mata. Seperti
biasa, ia berharap tidur bisa menghapus memorinya. Membiarkannya bernapas lega,
setidaknya untuk sementara. Sia-sia. Memori tentang Immy mencekiknya sampai ke
alam mimpi. Ia bngun dan menuju meja di samping tempat tidurnya, menulis
sesuatu. Pracita meremas-remas kertas berisi tulisan yang baru saja ia tulis
dengan kedua tangannya, lalu mencoba menulis lagi, tapi kertas itu pun bernasib
sama dengan kertas sebelumnya. Menulis merupakan sebuah pelampiasan rasa atas
kecewa yang tak mampu ia ungkapkan dalam suara. Ia menyerah. Menelungkupkan wajahnya
dan perlahan anak sungai mengalir jernih dari kedua matanya. Hatinya sedang
tidak baik-baik saja. Ada luka menganga di sana, ia kalah dalam permainan yang
ia buat sendiri. Berpura-pura tidak tersakiti tidak akan pernah menjadi hal
yang mudah. Ia menangis, memadamkan gairah bulan menerangi malam. Ia menangis,
mengundang gerimis memeluk bumi.
Drrt.. drrt..
ponselnya bergetar. Immy. Nama itu tertera pada layar ponselnya. ‘Mau apa lagi
dia?’ batinnya.
“Halo?” jawabnya.
“Cit, saya minta
maaf..” ucap Immy.
“Untuk?” tanya
Pracita.
“Untuk semua yang
telah saya lakukan sama kamu. Saya salah, maafkan saya. bisakah kita memulai
semuanya dari awal? Saya tidak ingin pertunangan kita berhenti di tengah jalan.”
Ucapnya. Pracita terenyak. Selalu seperti ini. Bertengkar hebat karena menginginkan
perpisahan, kemudian kembali memohon untuk memulai semuanya dari awal. Mudah sekali
laki-laki ini meminta maaf setelah semua yang telah ia lakukan. Pracita diam
tidak menjawab.
“Cit? Kamu masih di
sana, kan?”
“Ya. Saya masih di
sini.”
“Bagaimana?” tanya
Immy.
“Immy, dengarkan
saya, cinta itu bukan seperti ingus anak kecil yang keluar masuk; pergi dan kembali sesuka hati. Belum satu hari kamu meminta perpisahan di antara kita, sekarang kamu
meminta saya memaafkan kamu dan kembali memulai semuanya dari awal, saya tidak
mau. Tidak ada lagi kita sekarang, hanya ada saya dan kamu.”
“Tapi..”
“Ini bukan kali
pertama.. bukan juga kali kedua.. atau kali ketiga. Saya sudah cukup sering
memaafkan kamu. Lupakan pertunangan kita, kamu bisa mencari robot yang bisa
mendampingi kamu, saya yakin kamu akan lebih berbahagia.” Tutupnya. Ia menutup
teleponnya. Tidak membiarkan Immy membodohi hatinya lagi, tidak untuk kesekian
kalinya.
Pracita tertegun. Ia
tidak menyangka akan bersikap setegas itu terhadap Immy. Selama ini, ia selalu
mengalah dan menjadi yang tersalah tapi kali ini ia bersikap tegas. Jika ia
kembali memaafkan Immy, ia yakin laki-laki itu tidak akan pernah belajar dari
kesalahannya dan aku terus mengulangi kesalahn yang sama. Mungkin ia bisa
bertahan, tapi sampai kapan? Pracita berdiri, menatap cermin yang berada di
samping lemarinya. Ada wajah yang tidak ia kenali tersenyum dengan mata yang
sembab dalam cermin itu. Wajah yang jauh lebih tegar.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar