Senja tengah
menggeliat bergegas menuju malam. Syam duduk di ruang tamu sendirian, merenung.
Hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya, badannya tak enak sejak kemarin
sore. Syam tahu sakit yang tengah bersarang di tubuhnya tidak ada apa-apanya
jika dibandingkan sakit yang kini perlahan menggerogoti hatinya. Ia cacat. Tapi
bukan kecacatannya yang membuatnya bersedih, melainkan penyesalan atas apa yang
telah diterima istrinya selama ini. Sesuatu yang lebih tepat ditujukan
untuknya, daripada istrinya. Memorinya menerawang jauh ke masa tiga tahun
silam, saat ibu dan bapaknya terus menerus mendesaknya untuk melakukan poligami
dikarenakan istrinya, Wardah, yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan
segera memiliki momongan, padahal telah berbagai upaya dilakukan agar mereka
bisa mendengar tangis bayi di tengah-tengah keluarga mereka.
“Syam, bapak dan
ibumu ini sudah sepuh. Sampai kapan kamu mau kami menunggu untuk mendapatkan
cucu? Ibumu ini sudah malu diejek teman-teman sebaya ibu yang cucunya sudah 2,
3, bahkan ada yang cucunya sudah 10. Kamu anak bapak dan ibu satu-satunya,
bapak dan ibumu ini sudah rindu ngemong
cucu le.” Ucap ibunya.
“Bapak, ibu, syam
mengerti benar kalau bapak dan ibu sudaj rindu ngemong cucu, tapi masalah
anak itu urusan Gusti Allah pak, bu.
Bapak dan ibu kan juga sudah tahu kami—Syam dan Wardah—juga telah melakukan
segala usaha untuk memiliki momongan, tapi nyatanya Allah belum berkenan
menitipkan anak di tengah-tengah keluarga kecil kami.” Ucap syam, kalem.
“Menikah lagi.”
Ucap bapaknya singkat.
“Ngapunten pak? Bapak menyuruh Syam
untuk, apa?” tanya Syam terenyak. Ia tidak pernah menyangka bahwa kedua
orangtuanya akan memberikannya saran yang sama sekali tidak ingin ia dengar
terlontar dari kedua orangtuanya.
“Menikahlah lagi.
Bapak akan memilihkanmu calon terbaik yang sekiranya bisa memberikan cucu untuk
bapak dan ibu.”
“Tidak pak, ngapunten. Bapak dan ibu boleh minta
apapun kepada Syam, tapi tidak untuk berpoligami. Syam tidak ingin menduakan Wardah.”
Kata Syam tegas. Ia bukan tipikal anak yang suka membantah perkataan
orangtuanya, tapi kali ini ia merasa orangtuanya telah kelewatan. Menyruhnya
berpoligami sama saja dengan menyuruhnya untuk menyakiti hati istrinya, wanita
yang begitu ia cintai karena kecintaannya kepada Penciptanya, hal yang sangat
ia hindari selama ini.
“Syam! Jangan kamu
jadi anak durhaka hanya karena tidak ingin menduakan istrimu yang tidak bisa
punya anak itu. Lagipula, istrimu itu kan ngerti agama, pasti dia mengerti
bahwa poligami boleh dilakukan jika memang terdapat kekurangan dari pihak istri
dan istrimu itu punya kekurangan, dia tidak bisa punya anak Syam. Bapak yakin
dia bisa mengerti kalau kamu memutuskan untu berpoligami, apalagi ini kamu
lakukan demi baktimu kepada kedua orangtuamu.” Kata bapaknya keras dan tegas.
Syam tidak bisa
membantah lagi. Ia takut jika ia terus ngeyel tidak mau melakukan poligami
bapaknya akan sakit. Bapak Syam memiliki riwayat penyakit jantung, jadi ia
tidak boleh terlalu marah. Syam bingung. Di satu sisi, ia tidak ingin
mengecewakan kedua orangtuanya yang begitu ia cintai, tapi di sisi yang
bersebrangan dengan semua itu, ia juga tidak ingin mengecewakan istrinya yang
selama ini begitu setia mendampinginya.
Wardah yang saat
itu berada dalam kamar hanya bisa berdiri kaku membelakangi pintu. Ia sudah
menduga bahwa semua ini akan terjadi pada akhirnya. Ketidakmampuannya untuk
segera memberikan cucu di tengah keluarganya dan keluarga suaminya pasti akan
menimpbulkan permasalahan, apalagi ia dan suaminya sama-sama anak tunggal. Ia
menggigit-gigit bibirnya sampai berdarah, sebisa mungkin menahan tangis. Ia
harus tegar. Harus. Ia tidak mampu membebani suaminya lagi dengan airmatanya.
Suara percakapan di ruang tengah kembali terdengar, wardah mendengarkan dengan
seksama, kali ini suara Syam yang terdengar.
“Bapak, ibu,
maafkanlah Syam jika Syam telah menjadi anak durhaka bagi ibu dan bapak, tapi
Syam minta waktu. Syam ingin diberikan waktu lagi, jika sampai batas waktu itu
Syam dan Wardah belum juga dikaruniai momongan, barulah Syam akan
mempertimbangkan kembali saran bapak dan ibu untuk melakukan poligami.” Ucap
Syam. Di balik pintu kamarnya, Wardah semakin keras menggigit bibirnya, darah
yang keluar dari bibirnya terasa asin di mulutnya. Ia menangis terisak-isak. Ia
tidak menyangkan bahwa suaminya akan menjawab demikian diplomatis—sesuatu yang
begitu ditakutkan oleh Wardah akhirnya terjadi. Cepat atau lambat, ia harus
siap dipoligami.
“Baiklah, tapi
sampai kapan kamu mau bapak dan ibu menunggu lagi?” ucap ibunya, mengalah.
“Lima tahun?” tawar
Syam.
“Apa? Tidak. Tiga
tahun atau kamu akan melihat kedua orangtuamu ini meninggal dalam kekecewaan.”
Ucap ibunya tegas, raut mukanya keras. Tidak menerima bantahan.
“Baiklah. Tiga
tahun.”
“Ya.”
***
Satu tahun berlalu
begitu cepat dan selama satu tahun itu telah berbagai upaya dilakukan oleh Syam
dan Wardah untuk menghadirkan tangis bayi di tengah-tengah keluarga mereka,
mereka datangi berbagai pengobatan alternatif, Wardah harus meminum berbagai
macam ramuan untuk kesuburan dan ia juga sudah rutin dipijat satu minggu sekali
demi bisa memiliki momongan, nihil. Manusia boleh berusaha, Allah jua lah yang
menentukan. Selama satu tahun itu orangtua Syam rajin menelpon setiap satu
bulan sekali, untuk menanyakan apakah Wardah sudah hamil atau belum. Sore itu,
minggu terakhir ditahun pertama bapak Syam menelpon dari Surabaya.
“Assalamualaikum.”
Jawab wardah yang kala itu menjawab teleponnya.
“Waalaikumsalam,
nduk ini bapak. Gimana? Sudah ada hasilnya? Kamu sudah hamil apa belum?”
“Nggih pak, Alhamdulillah belum pak. Allah masih belum menitipkan anak untuk
Wardah dan mas Syam.”
“Hhh...” terdengar
helaan nafas panjang di sebrang telepon. Bapaknya mertuanya itu kemudian
melanjutkan,
“Kamu ini bagaimana
sih? Belum hamil kok malah Alhamdulillah.
Yasudah, bulan depan bapak telepon lagi, semoga kamu tidak lagi mengecewakan
kami lagi.”
“Iya pak,
Assalamualaikum.” Ucap Wardah yang dibalas dengan suara bantingan telepon di
sebrang.
Hati Wardah
tercabik sekali rasanya. Syam mungkin tidak pernah mengatakan apa pun mengenai
momongan kepadanya. Sesuai janjinya, Syam tidak menuntut Wardah apapun. Tapi
kedua orangtua Syam berbeda. Mereka terus mendesak agar Wardah segera memiliki
momongan. Hati kecilnya juga sudah sangat rindu akan tangisan anak kecil di
tengah-tengah keluarga kecil mereka, lima tahun pernikahan tanpa hadirnya
seorang anak bukanlah hal yang mudah baginya. Ia mendapatkan tekanan dari kiri
dan kanan, sindiran dari kiri dan kanan, karena tak juga memberikan Syam anak.
Ia berdiri mematung sembari menggenggam gagang telepon, Syam yang baru selesai
mandi bingung mendapati istrinya berdiri kaku.
“Mi, kamu kenapa?
Siapa yang telepon?” tanyanya.
“Eh-oh, bi.. Abi
sudah selesai mandinya?” jawab Wardah, tak nyambung.
“Sudah. Tapi, Abi
tanya, siapa yang telepon? Bapak ya?” tanya Syam menebak-nebak.
“Emm, iya.”
Jawabnya.
“Bapak, ngomong apa
sama Umi?” tanya Syam takut-takut. Ia khawatir jika bapaknya telah mengatakan
sesuatu yang telah menyakiti hati istrinya itu.
“Hanya menanyakan
kabar.” Jawab Wardah jujur. Kabar yang ia maksud adalah kabar apakah ia sudah
hamil atau belum. Secara tidak sadar ia menghela nafas panjang.
“Umi?” panggil
Syam.
“Eh-oh, maaf Bi?
Kenapa?” tanya Wardah.
“Umi tidak apa-apa
kan? Umi tenang ya, Allah pasti akan segera menjawab petanyaan kita,
insyaAllah.” Kata Syam, ia berjalan menghapiri istrinya kemudian memeluknya.
“Bi, menikahlah
lagi.” Ucap Wardah secara tidak terduga.
“Umi ngomong apa
sih?” Syam yang tersentak dengan perkataan Wardah, melepaskan pelukannya secara
tiba-tiba sehingga membuat Wardah sedikit terpental. Syam buru-buru minta maaf
atas perbuatannya yang tidak ia sengaja. Wardah tersenyum. Ia kikuk. Ia juga
tidak sadar tentang apa yang baru saja ia ucapkan.
“Maaf Bi, lupakan
saja. Umi tidak tahu apa yang tadi Umi katakan.”
“Mi, Abi mohon Umi
bisa sabar menghadapi kedua orangtua Abi.”
“Iya.” Jawab Wardah
singkat. Syam mengambilnya dalam pelukan, ia menurut.
***
Tiga tahun hapir
berlalu. Semuanya masih sama. Wardah belum juga hamil dan kedua orangtua Syam menjadi
semakin bersemangat mendesak Syam untuk melakukan poligami. Wardah mulai
pasrah. Bukan perkara mudah baginya jika pada akhirnya harus merelakan kasih
sayang suaminya terbagi. Tapi ia berusaha untuk menyadari posisinya. Tapi di
tengah kepasrahannya, Wardah ingin mencoba satu hal lagi. Satu hal yang belum
pernah ia dan suaminya lakukan selama ini, pergi ke dokter ahli kandungan. Ya,
meskipun selama ini mereka berdua sudah melakukan berbagai macam usaha untuk
mendapatkan momongan, tapi semua usaha yang mereka lakoni adalah pengobtan
alternatif. Mereka belum pernah sekalipun pergi ke dokter ahli kandungan karena
Wardah selalu takut pergi ke dokter. Tapi kali itu Wardah melawan kuat-kuat
rasa takutnya demi menyelamatkan rumah tangganya bersama Syam. Masih ada satu
bulan, dan semuanya masih bisa berubah jika Allah berkehendak. Maka sore itu ia
putuskan untuk berbicara pada suaminya.
Senja telah terusir
malam. Adzan maghrib telah lama berkumandang, tapi Syam belum juga pulang.
Wardah mulai khawatir, ia mencoba menghungi nomer ponsel Syam. Tuut.. tuut. Terdengar nada sambung dari
telepon seberang. Detik selanjutnya terdengar suara Syam menjawb teleponnya.
“Assalamulaikum.”
“Waalaikumsalam,
Bi? Kok belum pulang? Abi lagi dimana ini?” tanya Wardah beruntun.
“Ehm.. Abi, Abi...”
belum sempat Syam menjawab pertanyaan Wardah, terdengar suara perempuan
setengah baya menyauti teleponnya.
“Siapa yang telepon
Syam? Istrimu?” katanya. Wardah tertegun. Itu suara milik ibu mertuanya. Tapi,
sedang dimana suaminya itu, mungkinkah?
“Iya, bu..” jawab
Syam kepada ibunya.
“Sini biar ibu yang
ngomong.” Katanya. Kemudian terdengar suara telepon yang berpindah tangan.
“Halo, nduk.. ini ibu. Langsung saja, suamimu
sekarang sedang di Surabaya. Ibu yang menyuruhnya pulang tadi siang. Hari ini
ibu akan mengenalkannya kepada salah seorang anak dari kenalan bapakmu untuk
menjadi madumu kelak. Satu bulan lagi jika kamu belum juga hamil, maka kamu
harus legowo membagi suamimu dengan
perempuan lain yang bisa memberikannya anak.” Tuut.. tuut. Telepon diputus. Wardah tersentak. Ibu mertuanya
memberitahu perihal madunya semudah ia memberitahukan bahwa ia akan ke Malang
besok. Wardah hanya bisa menangis. Menangis keras-keras hingga tangisnya
membawanya tertidur. Ia terbangun pukul 10 malam. Melaksanakan sholat Isya’ dan
tetap terjaga sampai saatnya tahajjud. Dalam sujud tahajjudnya ia mengadu pada
Rabbnya. Ia memohon ampun atas segala kesalahannya, kesalahan suaminya, kedua
orangtuanya, dan mertuanya. Ia minta agar diberi kuat jika kelak benar ia harus
berbagi hati dengan madunya. Ia berdoa dan melupakan tidur, hingga Shubuh
mengecup malam, menggantinya dengan pagi dan kokok ayam.
Wardah sama sekali
tidak tidur selepas pukul 10 tadi malam. Matanya merah, campuran antara sembab
sehabis menangis dan lelah belum tidur. Pukul 7 pagi terdengar suara mobil
memasuki halaman rumah mereka. Syam sudah pulang. Wardah bergegas masuk ke
kamar. Ia tidak ingin membicarakan apapun dengan Syam, rencananya untuk
mengajak Syam ke dokter ia batalkan. Ia memutuskan akan membicarakannya lain
waktu, ketika hatinya sudah benar-benar siap dan tidak rentan. Ia menaikkan
selimutnya. Berpura-pura tertidur.
Syam mengetuk
pintu. Tidak ada jawaban. Ia memutar kenok pintu, tidak dikunci. Perasaannya
amburadul sejak ibunya mengambil alih teleponnya semalam. Ia tidak berani
menatap istrinya itu. Tidak setelah ibunya berbicara ‘cukup’ kasar kepada
istrinya itu. Ia tahu istrinya pasti telah sangat tersakiti dengan perkataan
ibunya semalam. Syam memasuki kamar dengan langkah hening. Ia melihat istrinya
tertidur. Ia melepas bajunya dan menggantinya dengan baju rumah. Ia sudah ijin
dari kantornya untuk libur hari ini, ia lelah secara fisik dan mental. Ia
keluar kamar, dan duduk di ruang tamu rumah mereka. Wardah menangis di bawah
selimutnya. Ia tak bisa tidur. Maka ia putuskan untuk mandi dan menyegarkan
pikirannya. Ia berendam cukup lama sebelum kemudian berpakaian sangat rapi dan
merias wajah secantik mungkin. Ia tidak tahu kenapa ia berlaku demikian. Ia
hanya melakukan apa yang nalurinya ingin lakukan. Ia keluar kamar dan menyusul
suaminya yang duduk di ruang tamu. Syam heran melihat Wardah yang berpakaian
sangat rapi dan berdandan sangat cantik. Sembab masih jelas menghiasi matanya,
tapi rona pipi dan bibirnya menutup gurat sedih yang coba ia sembunyikan dari
sembab di matanya.
“Jadi, bagaimana
calon istri kedua Abi tadi malam?” ucapnya membuka pembicaraan di antara
mereka.
“Umi.. aku mohon.”
Ucap Syam dengan nada lelah. Wardah terdiam.
“Sudah tidak
cantik, tidak bekerja, tidak bisa punya anak lagi. Nyaring sekali rasanya
sindiran itu ya, Bi? Apapun yang aku lakukan, selalu bernilai minus dimata
keluarga dan saudara-saudara Abi. Abi, memang ada baiknya jika Abi menikah
lagi. Abi juga boleh menceraikan Umi jika Abi mau. Tapi, Umi tidak bisa meminta
cerai dari Abi, Umi mencintai Abi. Tapi, jika Abi menginginkan perceraian, Umi
akan mengabulkannya.” Wardah mulai menangis. Ketegarannya luntur bersamaan
dengan polesan bedak dan blush on
yang tadi ia kenakan. Ia menangis. Menggigiti bibirnya hingga warna lipstiknya
bercampur dengan darah yang mengakibatkan perih di bibirnya, tapi perih itu
tidak seberapa jika dibandingkan rasa sakit yang ia coba kubur dalam hatinya.
Syam tidak mampu berkata-kata. Ia juga sakit. Hatinya tercabik melihat istrinya
yang menangis tersedu-sedu di hadapannya. Istrinya adalah wanita yang selalu
berusaha untuk terlihat kuat. Ia pencemburu, tapi ia selalu bisa
mengesampingkan rasa cemburunya dengan rasa cinta yang ia miliki untuk
suaminya, Syam sendiri.
“Umi..” hanya
kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Syam. Tidak ada kalimat lain.
“Abi, apakah aku
seburuk itu dihadapan orangtua Abi? Abi, apakah Abi berbohong waktu dulu
mengatakan bahwa orangtua Abi merestui pernikahan kita?”
“Tidak, tidak Umi.
Bapak dan ibu begitu karena mereka begitu ingin menimang cucu, aku tahu itu
dengan baik, Mi. Bapak dan ibu menyayangimu, mereka hanya khilaf. Tolong
maafkan mereka ya, Umi?”
“Aku tidak harus
memaafkan apa-apa Bi. Aku tahu, aku yang salah. Kesalahan tidak memiliki
momongan itu milikku pribadi. Bukan kamu.”
“Maksud kamu apa,
Mi?” tanya Syam yang mulai bingung dengan arah pembicaraan istrinya.
“Tidak ada maksud
apa-apa, hanya saja aku merasa disudutkan Bi. Seolah-olah memiliki momongan
adalah urusan manusia, bukan kuasa
Allah.”
“Maafkan Abi..”
“Ini bukan salah
Abi.” Kata Wardah sembari mengusap airmatanya. Kemudian ia melanjutkan,
“Bi, ada satu hal
yang ingin aku lakukan sebelum kamu benar-benar berpoligami.”
“Abi akan berusaha
meyakinkan bapak dan ibu untuk tidak berpoligami Mi, kita bisa mengadopsi anak.
Aku, aku tidak sanggup menduakanmu.” Kata Syam, yakin.
“Aku tidak ingin
kamu menjadi anak yang durhaka Bi, sudahlah, kamu tidak perlu meyakinkan bapak
dan ibu untuk tidak berpoligami. Aku akan belajar ikhlas jika benar nanti kamu
akan berpoligami, setelah kita melakukan satu hal ini.” Kata Wardah tegas.
Hilang sudah airmata yang membanjiri wajahnya. Ia mendapatkan kekuatan secara
tiba-tiba. Kekuatan untuk memperjuangkan rumah tangganya.
“Baiklah, apa itu?”
“Kita ke dokter
ahli kandungan. Selama ini, usaha yang kita lakukan adalah cara-cara alternatif
karena aku tidak pernah berani ke dokter. Tapi kali ini aku ingin kita ke
dokter kandungan terlebih dahulu. Jika memang aku mandul, aku akan rela
dipoligami, tapi jika ternyata aku sehat, kamu sehat, berarti ini hanya masalah
waktu. Dan kita akan berjuang bersama, meyakinkan bapak dan ibu bahwa suatu
hari Allah pasti akan menitipkan anak di tengah-tengah keluarga kita.”
“Kamu yakin?” tanya
Syam ragu-ragu. Ia tahu bahwa Wardah sangat takut jika diminta pergi ke dokter
untuk alasan yang sampai sekarang masih belum diketahuinya.
“Yakin. Kita ke
dokter kandungan, sekarang?” katanya mantap.
“Baiklah jika
demikian.”
Maka, berangkatlah
Syam dan Wardah ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit ibu dan anak
terbesar di Kota Apel itu. Dan setelah menjalani beberapa pemeriksaan, mereka
dijanjikan hasilnya satu minggu kemudian.
***
Satu minggu berlalu
dengan cepat. Pagi-pagi sekali, setelah menyiapkan sarapan dan segala keperluan
kantor untuk suaminya, Wardah berkemas. Ia akan mengambil hasil tes yang ia dan
suaminya lakukan seminggu yang lalu. Hasil tes inilah yang akan menentukan
keberlangsungan rumah tangganya yang utuh bersama suaminya, nanti.
“Mi, aku ijin untuk
datang terlambat hari ini. Kita bisa berangkat mengambil hasil tes itu berdua.”
Kata Syam.
“Lho? Memangnya
tidak apa-apa Bi?”
“Tidak apa-apa. Ayo
berangkat sekarang.” Kata Syam bersemangat. Ia yakin hasil tes hari ini akan
baik.
“Tidak sarapan
dulu?” tanya Wardah.
“Nanti saja
sarapannya, Abi sudah tidak sabar. Hehehe.” Kata Syam sambil tertawa.
“Baiklah, ayo.”
Sesampainya di
rumah sakit ibu dan anak yang mereka datangi minggu lalu itu, Syam dan Wardah
langsung mendapatkan gilirannya. Karena memang hari itu masih pagi, sekitar
pukul 8.
“Selamat pagi, pak,
bu.” Sapa dokter kandungan yang menangani mereka.
“Pagi, dok. Jadi
bagaimana hasil pemeriksaan kami berdua?” tanya Wardah, harap-harap cemas.
“Semuanya
menunjukkan tidak ada masalah dengan ibu.. rahim ibu sehat, ovariumnya juga
sehat, malah sangat subur. Tapi..” Kalimat dokter setengah baya itu menggantung
sebelum Wardah dan Syam sempat mengucapkan hamdalah,
wujud syukur.
“Tapi? Tapi kenapa
dok?” tanya Wardah lagi. Kali ini terdengar sedikit panik.
“Pak Syam memiliki
masalah yang menyebabkannya akan susah mebuahi sel telur dari Bu Wardah.”
Praang... bumi
tempat Syam berpijak seolah hancur berkeping-keping. Ia mendadak diserang
pusing bukan main. Wardah menggenggam tangannya erat.
“Pasti ada yang
bisa dilakukan, kan dok?” tanya Wardah. Ia tahu, suaminya saat ini pasti sedang
sangat kalut.
“Ada, tapi mungkin
akan sangat kecil kemungkinannya dan memakan banyak waktu serta biaya.” Kata dokter
itu.
Syam melepaskan
genggaman tangan istrinya. Ia keluar dari ruangan dokter itu. Berlari ke arah
mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan maksimal. Ia kalut. Ternyata,
selama ini permasalahan ada pada dirinya, tapi justru istrinyalah yang menerima
berbagai macam tekanan dan sindiran dari keluarganya. Ia merasa teramat
bersalah, dan malu kepada Wardah. Ia mengemudi tak tau arah. Ia hanya melajukan
mobilnya sesuai dengan instingnya. Ia tidak pulang selama dua malam, membuat
Wardah khawatir.
Setelah dua malam
lontang-lantung di jalanan dan tidur di masjid, akhirnya ia pulang. Badannya demam
tinggi. Wardah menyambutnya dengan raut khawatir. Syam tidak mengatakan apapun.
Ia membisu. Syaraf bicaranya seperti terganggu. Ia masuk ke rumah dan mengambil
air wudhu. Memang sudah waktu dhuhur. Ia sholat, tapi ditengah-tengah rakaat ke
tiga, ia jatuh pingsan. Wardah yang khawatir akan kondisi suaminya memanggil
dokter ke rumah mereka untuk memeriksa kondisi suaminya itu.
“Bagaimana kondisi
suami saya, dok?” tanyanya. Raut mukanya jelas menampakkan bahwa ia sangat
khawatir.
“Suami ibu
baik-baik saja, mungkin hanya demam karena kelelahan dan sepertinya sedikit
stress. Demamnya cukup dikompres dan minum obat yang saya berikan. InsyaAllah besok akan membaik.” Terang dokter
tersebut.
“Baiklah,
terimakasih dok.”
Semalaman Wardah
menjaga dan menemani suaminya. Ia berdoa agar Yang Mahakuasa memberi suaminya
kekuatan untuk menjalani setiap ujian yang Ia berikan.
Esok harinya, Syam
memang sudah lebih baik. Ia sudah masuk kerja, tapi ia belum berbicara sepatah
kata pun pada Wardah. Wardah memilih
untuk mendiamkannya, ia tahu suaminya butuh waktu.
Kondisinya yang
belum benar-benar membaik membuatnya tidak konsentrasi dalam bekerja, akhirnya
ia memutuskan untuk ijin pulang lebih cepat dengan alasan masih tidak enak
badan. Dan, di sinilah ia sekarang. Duduk di ruang tamu sendirian, merenung. Renungannya
buyar ketika Wardah menepuk punggungya dari belakang. Syam tergeragap. Alam nyatanya
kembali.
“Bi, ayo kita
sholat Maghrib, sudah adzan. Kita jamaah ya? Umi kangen diimamin sama Abi. Dua hari
ini Umi sholat sendirian terus.” Kata Wardah seraya tersenyum.
Syam tidak
mengatakan apapun, tapi ia beranjak dari tempatnya duduk dan mengambil air
wudhu. Mereka sholat dalam khidmat. Selesai
melantunkan salam terakhir, keduanya berdoa dalam keheningan yang khusyu’. Airmata Syam berlelehan, pun
Wardah. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan, sebelum kemudian Syam—yang tetap
berada dalam posisinya tanpa menatap Wardah—membuka pembicaraan.
“Maafkan Abi, Umi. Abi,
cacat.” Katanya. Airmatanya meleleh, deras. Wardah memeluknya dari belakang. Tidak
mengatakan apapun. Ia berharap, pelukannya mampu menenangkan hati suaminya yang
tengah bergemuruh. Tidak mudah bagi seorang laki-laki untuk menerima
ketidaksempurnaannya. Maka Wardah hanya ingin suaminya tahu, bahwa tidak akan
ada yang berubah. Cintanya masih sama besar. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Cintanya
tidak akan mudah beralih, semudah malam menggulingkan siang. Ia mencintai
suaminya karena kecintaannya kepada Allah, karena kepatuhannya kepada Allah.
“Kamu harus
menerima tekanan dan sindiran dari kedua orangtua dan saudara-saudaraku untuk
permasalahan yang menjadi milikku. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik,
Wardah. Akan aku ceraikan kamu jika kamu memintanya. Carilah suami yang
sekiranya bisa melengkapi dirimu, yang mampu menjadikanmu ibu bagi
anak-anaknya.” Kata suaminya, sesenggukan. Bukan hal yang mudah bagi Syam
mengatakan demikian kepada istri yang teramat ia cintai. Akhirnya, ia merasakan
apa yang selama ini rasakan. ‘Sesakit ini
rasanya, Rabb..’ batinnya. Airmata wardah membasahi punggung Syam. Ia berkata
terbata-bata.
“Aku menyadari satu
hal Bi,” ia menggantung kalimatnya,
sebelum kemudian melanjutkannya,
“Aku menyadari
bahwa mencintaimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan
berlapis yang kusyukuri, karena tak pernah ada penyesalan yang mengikuti.
Karena bisa mencintaimu adalah sebuah keajaiban sempurna yang mengakar lekang
dalam barisan waktu. Menjadi istrimu adalah sebuah anugerah yang tak pernah
berhenti kusyukuri setiap harinya. Aku ingat, hari itu, ketika kita bersama
mengucap janji, tunduk teduh pada keakuan hattim detik ini, dan selamanya,
nanti. Sumpah demi Rabb yang memegang nyawaku, jangan pernah terucap kata cerai
darimu, untukku Bi. Aku mencintaimu, titik tanpa koma. Tidak peduli apa
kekuranganmu atau kelebihanmu. Karena pernikahan bukan tentang kekurangan atau
kelebihan, tapi tentang kesempurnaan yang saling melengkapi di antara keduanya.”
Airmata Wardah berderai selesai ia mengucapkan kalimat itu. Ia mencintai
suaminya, sudah itu saja.
Syam tertegun. Ia tau istrinya
mahir merangkai kata-kata indah, tapi tidak pernah terdengar seindah ini. Dalam
jernih kata-kata itu, ia temukan cinta yang selama ini membuatnya selalu merasa
teduh. Tapi ia tetap tidak bisa membiarkan istrinya tersiksa dengan ketiadaan
anak-anak di tengah keluarga kecil mereka.
“Tapi aku tidak sempurna, Wardah.
Aku bukan laki-laki yang pantas mendampingimu. Aku laki-laki yang mungkin tidak akan pernah
mampu memberimu tangisan anak-anak yang begitu kamu rindukan.” Katanya.
“Kamu memang bukan laki-laki Bi. Tapi
kamulah pria yang dipilihkan Allah untukku. Pria yang berhasil memetik mawar untuk
melengkapi ketidak sempurnaannya, karena aku pun tidak sempurna. Tapi bersamamu,
aku memiliki kesempurnaan itu. Mungkin aku akan merindukan tangisan anak-anak
di tengah keluarga kita, aku tidak akan munafik, naluriku sebagai wanita yang
juga ingin merasakan hamil, melahirkan, dan menyusui anak-anakku kuat tapi
cintaku kepadamu, karena ketaatanmu, karena kepatuhanmu terhadap Pencipta kita,
jauh lebih kuat melebihi apapun.”
Syam terharu. Benar terharu. Ia merasa
Allah begitu murah hati kepadanya, sehingga memberikan wanita luar biasa
untuknya.
“Ayah dan ibumu? Mereka pasti
akan menyuruhmu meminta cerai dariku.” Kata Syam masih merasa ia tidak pantas,
kali ini di depan kedua mertuanya.
“Abi, ayah dan ibu tidak akan
pernah begitu. Mereka akan menghormati keputusanku.” Kata Wardah, kalem.
Syam berbalik, membuat wardah
melepaskan pelukannya. Ia menatap wardah lekat-lekat.
“Terimakasih, Mawarku.”
“Untuk apa?”
“Untuk kesetiaan dan pengertianmu
yang begitu besar.”
“Hmm.. baiklah. Terimakasih..”
balas Wardah.
“Untuk apa?” tanya Syam bingung.
“Untuk sinarmu yang selalu
membuatku merasa hangat, Matahariku.” Katanya dengan senyum manis. Syam tersenyum,
lalu ia berkata.
“Soal anak..”
“Ssst..” kata Wardah memutus
perkataan Syam sebelum ia sempat melanjutkan. Kemudian, ia berkata,
“Abi tidak perlu khawatir soal
anak, kita bisa adopsi anak terlebih dahulu kan? Sembari Abi menjalani pengobatan
dari dokter? Apa yang Abi alami saat ini belum mutlak. Masih ada kemungkinan
kita akan memiliki anak, sekecil apapun kemungkinan itu kita tetap harus
percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambaNya.”
“Alhamdulillah ya Allah, Engkau
anugerahkan hamba bidadari cantik yang mampu menerima kekuranganku..” ucap
Syam. Ia mengecup kening istrinya, sayang.
“Bapak dan ibu?” tanya Syam lagi.
Ia bingung harus mengatakan apa pada bapak dan ibunya nanti.
“Allah yang akan membantu kita
menjelaskan kepada bapak dan ibu tentang kondisi Abi.” Kata Wardah, mantap.
“InsyaAllah, Amin.” Ucap Syam,
kemudian ia melanjutkan perkataannya,
“Ngomong-nomong, Umi mau adopsi
berapa anak?” tanyanya sambil tersenyum.
“Terserah Abi, 1, 2, atau 3 juga
boleh. Hehehe.” Jawab Wardah, tertawa.
“3? Apa Umi sanggup?” Gurau Syam.
“Kenapa tidak? Kan ada Abi..” Dan
mereka berdua pun tertawa. Tawa yang indah. Tawa bahagia yang mengiring adzan
Isya’ yang sayup-sayup terdengar.
El-Wardah, mawar yang telah
dipilih Allah untuk mendampingi dan menyempurnakan kekurangan matahari yang
telah menyinari hidupnya dalam naungan lembaga suci pernikahan. Syamsuddin
Rijal, matahari milik mawar yang mampu menghangatkan hari-harinya,
membuatkannya cerita seindah kisah milik Habibie dan Ainun, versi mereka.
***
Absurd tapi absolut. Begitu mengagumkan
kemiripan antara cinta, dan kelekatan. Dua-duanya serba tak terduga. Cinta yang
terlahir dari ketaatan dan kepatuhan pada Ilahi telah membumihanguskan
kewarasan, mengesampingkan keegoisan, itulah nyatanya. Seperti lilin yang
membakar dirinya hingga luluh lantak pada ketiadaan. Menjadi awal seperti sedia
kala, senyawa dalam dirinya tanpa api yang berpijar sebagai pengakhirannya.
-aesaazzam-

konfliknya lebih greget,
BalasHapustapi ada sedikit yg agak berlebihan, syam mengendarai mobil tidak pulang 2 hari 2 malam, itu terlalu.. hehe
dan masih terasa wardah lebih dominan daripada syam sbg tokoh utama, ^^
namanya juga lagi labil, hehehehehehe
BalasHapustapi kan dianya kan ke masjid, meskipun gak pulang ^^v
#penulis yang suka ngeles :p
lhoo, iya memang masih pakai wardah..
cuman judulnya pakai suaminya,
kok sdh baca aja sih? terimakasih yaa..
ini sekuel terakhir, setelah ini an ngga nulis ttg suami-istri dulu, libur ^^
ganti genre.