Rabu, 02 Januari 2013

Syam: Matahari Yang Menyinari Mawar



Senja tengah menggeliat bergegas menuju malam. Syam duduk di ruang tamu sendirian, merenung. Hari ini ia pulang lebih cepat dari biasanya, badannya tak enak sejak kemarin sore. Syam tahu sakit yang tengah bersarang di tubuhnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan sakit yang kini perlahan menggerogoti hatinya. Ia cacat. Tapi bukan kecacatannya yang membuatnya bersedih, melainkan penyesalan atas apa yang telah diterima istrinya selama ini. Sesuatu yang lebih tepat ditujukan untuknya, daripada istrinya. Memorinya menerawang jauh ke masa tiga tahun silam, saat ibu dan bapaknya terus menerus mendesaknya untuk melakukan poligami dikarenakan istrinya, Wardah, yang tak kunjung menunjukkan tanda-tanda akan segera memiliki momongan, padahal telah berbagai upaya dilakukan agar mereka bisa mendengar tangis bayi di tengah-tengah keluarga mereka.
“Syam, bapak dan ibumu ini sudah sepuh. Sampai kapan kamu mau kami menunggu untuk mendapatkan cucu? Ibumu ini sudah malu diejek teman-teman sebaya ibu yang cucunya sudah 2, 3, bahkan ada yang cucunya sudah 10. Kamu anak bapak dan ibu satu-satunya, bapak dan ibumu ini sudah rindu ngemong cucu le.” Ucap ibunya.
“Bapak, ibu, syam mengerti benar kalau bapak dan ibu sudaj rindu ngemong  cucu, tapi masalah anak itu urusan Gusti Allah pak, bu. Bapak dan ibu kan juga sudah tahu kami—Syam dan Wardah—juga telah melakukan segala usaha untuk memiliki momongan, tapi nyatanya Allah belum berkenan menitipkan anak di tengah-tengah keluarga kecil kami.” Ucap syam, kalem.
“Menikah lagi.” Ucap bapaknya singkat.
Ngapunten pak? Bapak menyuruh Syam untuk, apa?” tanya Syam terenyak. Ia tidak pernah menyangka bahwa kedua orangtuanya akan memberikannya saran yang sama sekali tidak ingin ia dengar terlontar dari kedua orangtuanya.
“Menikahlah lagi. Bapak akan memilihkanmu calon terbaik yang sekiranya bisa memberikan cucu untuk bapak dan ibu.”
“Tidak pak, ngapunten. Bapak dan ibu boleh minta apapun kepada Syam, tapi tidak untuk berpoligami. Syam tidak ingin menduakan Wardah.” Kata Syam tegas. Ia bukan tipikal anak yang suka membantah perkataan orangtuanya, tapi kali ini ia merasa orangtuanya telah kelewatan. Menyruhnya berpoligami sama saja dengan menyuruhnya untuk menyakiti hati istrinya, wanita yang begitu ia cintai karena kecintaannya kepada Penciptanya, hal yang sangat ia hindari selama ini.
“Syam! Jangan kamu jadi anak durhaka hanya karena tidak ingin menduakan istrimu yang tidak bisa punya anak itu. Lagipula, istrimu itu kan ngerti agama, pasti dia mengerti bahwa poligami boleh dilakukan jika memang terdapat kekurangan dari pihak istri dan istrimu itu punya kekurangan, dia tidak bisa punya anak Syam. Bapak yakin dia bisa mengerti kalau kamu memutuskan untu berpoligami, apalagi ini kamu lakukan demi baktimu kepada kedua orangtuamu.” Kata bapaknya keras dan tegas.
Syam tidak bisa membantah lagi. Ia takut jika ia terus ngeyel tidak mau melakukan poligami bapaknya akan sakit. Bapak Syam memiliki riwayat penyakit jantung, jadi ia tidak boleh terlalu marah. Syam bingung. Di satu sisi, ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya yang begitu ia cintai, tapi di sisi yang bersebrangan dengan semua itu, ia juga tidak ingin mengecewakan istrinya yang selama ini begitu setia mendampinginya.
Wardah yang saat itu berada dalam kamar hanya bisa berdiri kaku membelakangi pintu. Ia sudah menduga bahwa semua ini akan terjadi pada akhirnya. Ketidakmampuannya untuk segera memberikan cucu di tengah keluarganya dan keluarga suaminya pasti akan menimpbulkan permasalahan, apalagi ia dan suaminya sama-sama anak tunggal. Ia menggigit-gigit bibirnya sampai berdarah, sebisa mungkin menahan tangis. Ia harus tegar. Harus. Ia tidak mampu membebani suaminya lagi dengan airmatanya. Suara percakapan di ruang tengah kembali terdengar, wardah mendengarkan dengan seksama, kali ini suara Syam yang terdengar.
“Bapak, ibu, maafkanlah Syam jika Syam telah menjadi anak durhaka bagi ibu dan bapak, tapi Syam minta waktu. Syam ingin diberikan waktu lagi, jika sampai batas waktu itu Syam dan Wardah belum juga dikaruniai momongan, barulah Syam akan mempertimbangkan kembali saran bapak dan ibu untuk melakukan poligami.” Ucap Syam. Di balik pintu kamarnya, Wardah semakin keras menggigit bibirnya, darah yang keluar dari bibirnya terasa asin di mulutnya. Ia menangis terisak-isak. Ia tidak menyangkan bahwa suaminya akan menjawab demikian diplomatis—sesuatu yang begitu ditakutkan oleh Wardah akhirnya terjadi. Cepat atau lambat, ia harus siap dipoligami.
“Baiklah, tapi sampai kapan kamu mau bapak dan ibu menunggu lagi?” ucap ibunya, mengalah.
“Lima tahun?” tawar Syam.
“Apa? Tidak. Tiga tahun atau kamu akan melihat kedua orangtuamu ini meninggal dalam kekecewaan.” Ucap ibunya tegas, raut mukanya keras. Tidak menerima bantahan.
“Baiklah. Tiga tahun.”
“Ya.”
***

Satu tahun berlalu begitu cepat dan selama satu tahun itu telah berbagai upaya dilakukan oleh Syam dan Wardah untuk menghadirkan tangis bayi di tengah-tengah keluarga mereka, mereka datangi berbagai pengobatan alternatif, Wardah harus meminum berbagai macam ramuan untuk kesuburan dan ia juga sudah rutin dipijat satu minggu sekali demi bisa memiliki momongan, nihil. Manusia boleh berusaha, Allah jua lah yang menentukan. Selama satu tahun itu orangtua Syam rajin menelpon setiap satu bulan sekali, untuk menanyakan apakah Wardah sudah hamil atau belum. Sore itu, minggu terakhir ditahun pertama bapak Syam menelpon dari Surabaya.
“Assalamualaikum.” Jawab wardah yang kala itu menjawab teleponnya.
“Waalaikumsalam, nduk ini bapak. Gimana? Sudah ada hasilnya? Kamu sudah hamil apa belum?”
Nggih pak, Alhamdulillah belum pak. Allah masih belum menitipkan anak untuk Wardah dan mas Syam.”
“Hhh...” terdengar helaan nafas panjang di sebrang telepon. Bapaknya mertuanya itu kemudian melanjutkan,
“Kamu ini bagaimana sih? Belum hamil kok malah Alhamdulillah. Yasudah, bulan depan bapak telepon lagi, semoga kamu tidak lagi mengecewakan kami lagi.” 
“Iya pak, Assalamualaikum.” Ucap Wardah yang dibalas dengan suara bantingan telepon di sebrang.
Hati Wardah tercabik sekali rasanya. Syam mungkin tidak pernah mengatakan apa pun mengenai momongan kepadanya. Sesuai janjinya, Syam tidak menuntut Wardah apapun. Tapi kedua orangtua Syam berbeda. Mereka terus mendesak agar Wardah segera memiliki momongan. Hati kecilnya juga sudah sangat rindu akan tangisan anak kecil di tengah-tengah keluarga kecil mereka, lima tahun pernikahan tanpa hadirnya seorang anak bukanlah hal yang mudah baginya. Ia mendapatkan tekanan dari kiri dan kanan, sindiran dari kiri dan kanan, karena tak juga memberikan Syam anak. Ia berdiri mematung sembari menggenggam gagang telepon, Syam yang baru selesai mandi bingung mendapati istrinya berdiri kaku.
“Mi, kamu kenapa? Siapa yang telepon?” tanyanya.
“Eh-oh, bi.. Abi sudah selesai mandinya?” jawab Wardah, tak nyambung.
“Sudah. Tapi, Abi tanya, siapa yang telepon? Bapak ya?” tanya Syam menebak-nebak.
“Emm, iya.” Jawabnya.
“Bapak, ngomong apa sama Umi?” tanya Syam takut-takut. Ia khawatir jika bapaknya telah mengatakan sesuatu yang telah menyakiti hati istrinya itu.
“Hanya menanyakan kabar.” Jawab Wardah jujur. Kabar yang ia maksud adalah kabar apakah ia sudah hamil atau belum. Secara tidak sadar ia menghela nafas panjang.
“Umi?” panggil Syam.
“Eh-oh, maaf Bi? Kenapa?” tanya Wardah.
“Umi tidak apa-apa kan? Umi tenang ya, Allah pasti akan segera menjawab petanyaan kita, insyaAllah.” Kata Syam, ia berjalan menghapiri istrinya kemudian memeluknya.
“Bi, menikahlah lagi.” Ucap Wardah secara tidak terduga.
“Umi ngomong apa sih?” Syam yang tersentak dengan perkataan Wardah, melepaskan pelukannya secara tiba-tiba sehingga membuat Wardah sedikit terpental. Syam buru-buru minta maaf atas perbuatannya yang tidak ia sengaja. Wardah tersenyum. Ia kikuk. Ia juga tidak sadar tentang apa yang baru saja ia ucapkan.
“Maaf Bi, lupakan saja. Umi tidak tahu apa yang tadi Umi katakan.”
“Mi, Abi mohon Umi bisa sabar menghadapi kedua orangtua Abi.”
“Iya.” Jawab Wardah singkat. Syam mengambilnya dalam pelukan, ia menurut.
***

Tiga tahun hapir berlalu. Semuanya masih sama. Wardah belum juga hamil dan kedua orangtua Syam menjadi semakin bersemangat mendesak Syam untuk melakukan poligami. Wardah mulai pasrah. Bukan perkara mudah baginya jika pada akhirnya harus merelakan kasih sayang suaminya terbagi. Tapi ia berusaha untuk menyadari posisinya. Tapi di tengah kepasrahannya, Wardah ingin mencoba satu hal lagi. Satu hal yang belum pernah ia dan suaminya lakukan selama ini, pergi ke dokter ahli kandungan. Ya, meskipun selama ini mereka berdua sudah melakukan berbagai macam usaha untuk mendapatkan momongan, tapi semua usaha yang mereka lakoni adalah pengobtan alternatif. Mereka belum pernah sekalipun pergi ke dokter ahli kandungan karena Wardah selalu takut pergi ke dokter. Tapi kali itu Wardah melawan kuat-kuat rasa takutnya demi menyelamatkan rumah tangganya bersama Syam. Masih ada satu bulan, dan semuanya masih bisa berubah jika Allah berkehendak. Maka sore itu ia putuskan untuk berbicara pada suaminya.
Senja telah terusir malam. Adzan maghrib telah lama berkumandang, tapi Syam belum juga pulang. Wardah mulai khawatir, ia mencoba menghungi nomer ponsel Syam. Tuut.. tuut. Terdengar nada sambung dari telepon seberang. Detik selanjutnya terdengar suara Syam menjawb teleponnya.
“Assalamulaikum.”
“Waalaikumsalam, Bi? Kok belum pulang? Abi lagi dimana ini?” tanya Wardah beruntun.
“Ehm.. Abi, Abi...” belum sempat Syam menjawab pertanyaan Wardah, terdengar suara perempuan setengah baya menyauti teleponnya.
“Siapa yang telepon Syam? Istrimu?” katanya. Wardah tertegun. Itu suara milik ibu mertuanya. Tapi, sedang dimana suaminya itu, mungkinkah?
“Iya, bu..” jawab Syam kepada ibunya.
“Sini biar ibu yang ngomong.” Katanya. Kemudian terdengar suara telepon yang berpindah tangan.
“Halo, nduk.. ini ibu. Langsung saja, suamimu sekarang sedang di Surabaya. Ibu yang menyuruhnya pulang tadi siang. Hari ini ibu akan mengenalkannya kepada salah seorang anak dari kenalan bapakmu untuk menjadi madumu kelak. Satu bulan lagi jika kamu belum juga hamil, maka kamu harus legowo membagi suamimu dengan perempuan lain yang bisa memberikannya anak.” Tuut.. tuut. Telepon diputus. Wardah tersentak. Ibu mertuanya memberitahu perihal madunya semudah ia memberitahukan bahwa ia akan ke Malang besok. Wardah hanya bisa menangis. Menangis keras-keras hingga tangisnya membawanya tertidur. Ia terbangun pukul 10 malam. Melaksanakan sholat Isya’ dan tetap terjaga sampai saatnya tahajjud. Dalam sujud tahajjudnya ia mengadu pada Rabbnya. Ia memohon ampun atas segala kesalahannya, kesalahan suaminya, kedua orangtuanya, dan mertuanya. Ia minta agar diberi kuat jika kelak benar ia harus berbagi hati dengan madunya. Ia berdoa dan melupakan tidur, hingga Shubuh mengecup malam, menggantinya dengan pagi dan kokok ayam.
Wardah sama sekali tidak tidur selepas pukul 10 tadi malam. Matanya merah, campuran antara sembab sehabis menangis dan lelah belum tidur. Pukul 7 pagi terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mereka. Syam sudah pulang. Wardah bergegas masuk ke kamar. Ia tidak ingin membicarakan apapun dengan Syam, rencananya untuk mengajak Syam ke dokter ia batalkan. Ia memutuskan akan membicarakannya lain waktu, ketika hatinya sudah benar-benar siap dan tidak rentan. Ia menaikkan selimutnya. Berpura-pura tertidur.
Syam mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia memutar kenok pintu, tidak dikunci. Perasaannya amburadul sejak ibunya mengambil alih teleponnya semalam. Ia tidak berani menatap istrinya itu. Tidak setelah ibunya berbicara ‘cukup’ kasar kepada istrinya itu. Ia tahu istrinya pasti telah sangat tersakiti dengan perkataan ibunya semalam. Syam memasuki kamar dengan langkah hening. Ia melihat istrinya tertidur. Ia melepas bajunya dan menggantinya dengan baju rumah. Ia sudah ijin dari kantornya untuk libur hari ini, ia lelah secara fisik dan mental. Ia keluar kamar, dan duduk di ruang tamu rumah mereka. Wardah menangis di bawah selimutnya. Ia tak bisa tidur. Maka ia putuskan untuk mandi dan menyegarkan pikirannya. Ia berendam cukup lama sebelum kemudian berpakaian sangat rapi dan merias wajah secantik mungkin. Ia tidak tahu kenapa ia berlaku demikian. Ia hanya melakukan apa yang nalurinya ingin lakukan. Ia keluar kamar dan menyusul suaminya yang duduk di ruang tamu. Syam heran melihat Wardah yang berpakaian sangat rapi dan berdandan sangat cantik. Sembab masih jelas menghiasi matanya, tapi rona pipi dan bibirnya menutup gurat sedih yang coba ia sembunyikan dari sembab di matanya.
“Jadi, bagaimana calon istri kedua Abi tadi malam?” ucapnya membuka pembicaraan di antara mereka.
“Umi.. aku mohon.” Ucap Syam dengan nada lelah. Wardah terdiam.
“Sudah tidak cantik, tidak bekerja, tidak bisa punya anak lagi. Nyaring sekali rasanya sindiran itu ya, Bi? Apapun yang aku lakukan, selalu bernilai minus dimata keluarga dan saudara-saudara Abi. Abi, memang ada baiknya jika Abi menikah lagi. Abi juga boleh menceraikan Umi jika Abi mau. Tapi, Umi tidak bisa meminta cerai dari Abi, Umi mencintai Abi. Tapi, jika Abi menginginkan perceraian, Umi akan mengabulkannya.” Wardah mulai menangis. Ketegarannya luntur bersamaan dengan polesan bedak dan blush on yang tadi ia kenakan. Ia menangis. Menggigiti bibirnya hingga warna lipstiknya bercampur dengan darah yang mengakibatkan perih di bibirnya, tapi perih itu tidak seberapa jika dibandingkan rasa sakit yang ia coba kubur dalam hatinya. Syam tidak mampu berkata-kata. Ia juga sakit. Hatinya tercabik melihat istrinya yang menangis tersedu-sedu di hadapannya. Istrinya adalah wanita yang selalu berusaha untuk terlihat kuat. Ia pencemburu, tapi ia selalu bisa mengesampingkan rasa cemburunya dengan rasa cinta yang ia miliki untuk suaminya, Syam sendiri.
“Umi..” hanya kata-kata itu yang mampu keluar dari mulut Syam. Tidak ada kalimat lain.
“Abi, apakah aku seburuk itu dihadapan orangtua Abi? Abi, apakah Abi berbohong waktu dulu mengatakan bahwa orangtua Abi merestui pernikahan kita?”
“Tidak, tidak Umi. Bapak dan ibu begitu karena mereka begitu ingin menimang cucu, aku tahu itu dengan baik, Mi. Bapak dan ibu menyayangimu, mereka hanya khilaf. Tolong maafkan mereka ya, Umi?”
“Aku tidak harus memaafkan apa-apa Bi. Aku tahu, aku yang salah. Kesalahan tidak memiliki momongan itu milikku pribadi. Bukan kamu.”
“Maksud kamu apa, Mi?” tanya Syam yang mulai bingung dengan arah pembicaraan istrinya.
“Tidak ada maksud apa-apa, hanya saja aku merasa disudutkan Bi. Seolah-olah memiliki momongan adalah urusan manusia, bukan kuasa  Allah.”
“Maafkan Abi..”
“Ini bukan salah Abi.” Kata Wardah sembari mengusap airmatanya. Kemudian ia melanjutkan,
“Bi, ada satu hal yang ingin aku lakukan sebelum kamu benar-benar berpoligami.”
“Abi akan berusaha meyakinkan bapak dan ibu untuk tidak berpoligami Mi, kita bisa mengadopsi anak. Aku, aku tidak sanggup menduakanmu.” Kata Syam, yakin.
“Aku tidak ingin kamu menjadi anak yang durhaka Bi, sudahlah, kamu tidak perlu meyakinkan bapak dan ibu untuk tidak berpoligami. Aku akan belajar ikhlas jika benar nanti kamu akan berpoligami, setelah kita melakukan satu hal ini.” Kata Wardah tegas. Hilang sudah airmata yang membanjiri wajahnya. Ia mendapatkan kekuatan secara tiba-tiba. Kekuatan untuk memperjuangkan rumah tangganya.
“Baiklah, apa itu?”
“Kita ke dokter ahli kandungan. Selama ini, usaha yang kita lakukan adalah cara-cara alternatif karena aku tidak pernah berani ke dokter. Tapi kali ini aku ingin kita ke dokter kandungan terlebih dahulu. Jika memang aku mandul, aku akan rela dipoligami, tapi jika ternyata aku sehat, kamu sehat, berarti ini hanya masalah waktu. Dan kita akan berjuang bersama, meyakinkan bapak dan ibu bahwa suatu hari Allah pasti akan menitipkan anak di tengah-tengah keluarga kita.”
“Kamu yakin?” tanya Syam ragu-ragu. Ia tahu bahwa Wardah sangat takut jika diminta pergi ke dokter untuk alasan yang sampai sekarang masih belum diketahuinya.
“Yakin. Kita ke dokter kandungan, sekarang?” katanya mantap.
“Baiklah jika demikian.”
Maka, berangkatlah Syam dan Wardah ke dokter kandungan di salah satu rumah sakit ibu dan anak terbesar di Kota Apel itu. Dan setelah menjalani beberapa pemeriksaan, mereka dijanjikan hasilnya satu minggu kemudian.
***

Satu minggu berlalu dengan cepat. Pagi-pagi sekali, setelah menyiapkan sarapan dan segala keperluan kantor untuk suaminya, Wardah berkemas. Ia akan mengambil hasil tes yang ia dan suaminya lakukan seminggu yang lalu. Hasil tes inilah yang akan menentukan keberlangsungan rumah tangganya yang utuh bersama suaminya, nanti.
“Mi, aku ijin untuk datang terlambat hari ini. Kita bisa berangkat mengambil hasil tes itu berdua.” Kata Syam.
“Lho? Memangnya tidak apa-apa Bi?”
“Tidak apa-apa. Ayo berangkat sekarang.” Kata Syam bersemangat. Ia yakin hasil tes hari ini akan baik.
“Tidak sarapan dulu?” tanya Wardah.
“Nanti saja sarapannya, Abi sudah tidak sabar. Hehehe.” Kata Syam sambil tertawa.
“Baiklah, ayo.”
Sesampainya di rumah sakit ibu dan anak yang mereka datangi minggu lalu itu, Syam dan Wardah langsung mendapatkan gilirannya. Karena memang hari itu masih pagi, sekitar pukul 8.
“Selamat pagi, pak, bu.” Sapa dokter kandungan yang menangani mereka.
“Pagi, dok. Jadi bagaimana hasil pemeriksaan kami berdua?” tanya Wardah, harap-harap cemas.
“Semuanya menunjukkan tidak ada masalah dengan ibu.. rahim ibu sehat, ovariumnya juga sehat, malah sangat subur. Tapi..” Kalimat dokter setengah baya itu menggantung sebelum Wardah dan Syam sempat mengucapkan hamdalah, wujud syukur.
“Tapi? Tapi kenapa dok?” tanya Wardah lagi. Kali ini terdengar sedikit panik.
“Pak Syam memiliki masalah yang menyebabkannya akan susah mebuahi sel telur dari Bu Wardah.”
Praang... bumi tempat Syam berpijak seolah hancur berkeping-keping. Ia mendadak diserang pusing bukan main. Wardah menggenggam tangannya erat.
“Pasti ada yang bisa dilakukan, kan dok?” tanya Wardah. Ia tahu, suaminya saat ini pasti sedang sangat kalut.
“Ada, tapi mungkin akan sangat kecil kemungkinannya dan memakan banyak waktu serta biaya.” Kata dokter itu.
Syam melepaskan genggaman tangan istrinya. Ia keluar dari ruangan dokter itu. Berlari ke arah mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan maksimal. Ia kalut. Ternyata, selama ini permasalahan ada pada dirinya, tapi justru istrinyalah yang menerima berbagai macam tekanan dan sindiran dari keluarganya. Ia merasa teramat bersalah, dan malu kepada Wardah. Ia mengemudi tak tau arah. Ia hanya melajukan mobilnya sesuai dengan instingnya. Ia tidak pulang selama dua malam, membuat Wardah khawatir.
Setelah dua malam lontang-lantung di jalanan dan tidur di masjid, akhirnya ia pulang. Badannya demam tinggi. Wardah menyambutnya dengan raut khawatir. Syam tidak mengatakan apapun. Ia membisu. Syaraf bicaranya seperti terganggu. Ia masuk ke rumah dan mengambil air wudhu. Memang sudah waktu dhuhur. Ia sholat, tapi ditengah-tengah rakaat ke tiga, ia jatuh pingsan. Wardah yang khawatir akan kondisi suaminya memanggil dokter ke rumah mereka untuk memeriksa kondisi suaminya itu.
“Bagaimana kondisi suami saya, dok?” tanyanya. Raut mukanya jelas menampakkan bahwa ia sangat khawatir.
“Suami ibu baik-baik saja, mungkin hanya demam karena kelelahan dan sepertinya sedikit stress. Demamnya cukup dikompres dan minum obat yang saya berikan. InsyaAllah besok akan membaik.” Terang dokter tersebut.
“Baiklah, terimakasih dok.”
Semalaman Wardah menjaga dan menemani suaminya. Ia berdoa agar Yang Mahakuasa memberi suaminya kekuatan untuk menjalani setiap ujian yang Ia berikan.
Esok harinya, Syam memang sudah lebih baik. Ia sudah masuk kerja, tapi ia belum berbicara sepatah kata pun  pada Wardah. Wardah memilih untuk mendiamkannya, ia tahu suaminya butuh waktu.
Kondisinya yang belum benar-benar membaik membuatnya tidak konsentrasi dalam bekerja, akhirnya ia memutuskan untuk ijin pulang lebih cepat dengan alasan masih tidak enak badan. Dan, di sinilah ia sekarang. Duduk di ruang tamu sendirian, merenung. Renungannya buyar ketika Wardah menepuk punggungya dari belakang. Syam tergeragap. Alam nyatanya kembali.
“Bi, ayo kita sholat Maghrib, sudah adzan. Kita jamaah ya? Umi kangen diimamin sama Abi. Dua hari ini Umi sholat sendirian terus.” Kata Wardah seraya tersenyum.
Syam tidak mengatakan apapun, tapi ia beranjak dari tempatnya duduk dan mengambil air wudhu. Mereka sholat dalam khidmat. Selesai melantunkan salam terakhir, keduanya berdoa dalam keheningan yang khusyu’. Airmata Syam berlelehan, pun Wardah. Sepuluh menit berlalu dalam keheningan, sebelum kemudian Syam—yang tetap berada dalam posisinya tanpa menatap Wardah—membuka pembicaraan.
“Maafkan Abi, Umi. Abi, cacat.” Katanya. Airmatanya meleleh, deras. Wardah memeluknya dari belakang. Tidak mengatakan apapun. Ia berharap, pelukannya mampu menenangkan hati suaminya yang tengah bergemuruh. Tidak mudah bagi seorang laki-laki untuk menerima ketidaksempurnaannya. Maka Wardah hanya ingin suaminya tahu, bahwa tidak akan ada yang berubah. Cintanya masih sama besar. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Cintanya tidak akan mudah beralih, semudah malam menggulingkan siang. Ia mencintai suaminya karena kecintaannya kepada Allah, karena kepatuhannya kepada Allah.
“Kamu harus menerima tekanan dan sindiran dari kedua orangtua dan saudara-saudaraku untuk permasalahan yang menjadi milikku. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik, Wardah. Akan aku ceraikan kamu jika kamu memintanya. Carilah suami yang sekiranya bisa melengkapi dirimu, yang mampu menjadikanmu ibu bagi anak-anaknya.” Kata suaminya, sesenggukan. Bukan hal yang mudah bagi Syam mengatakan demikian kepada istri yang teramat ia cintai. Akhirnya, ia merasakan apa yang selama ini rasakan. ‘Sesakit ini rasanya, Rabb..’ batinnya. Airmata wardah membasahi punggung Syam. Ia berkata terbata-bata.
“Aku menyadari satu hal Bi,”  ia menggantung kalimatnya, sebelum kemudian melanjutkannya,
“Aku menyadari bahwa mencintaimu adalah sebuah kesalahan. Kesalahan berlapis yang kusyukuri, karena tak pernah ada penyesalan yang mengikuti. Karena bisa mencintaimu adalah sebuah keajaiban sempurna yang mengakar lekang dalam barisan waktu. Menjadi istrimu adalah sebuah anugerah yang tak pernah berhenti kusyukuri setiap harinya. Aku ingat, hari itu, ketika kita bersama mengucap janji, tunduk teduh pada keakuan hattim detik ini, dan selamanya, nanti. Sumpah demi Rabb yang memegang nyawaku, jangan pernah terucap kata cerai darimu, untukku Bi. Aku mencintaimu, titik tanpa koma. Tidak peduli apa kekuranganmu atau kelebihanmu. Karena pernikahan bukan tentang kekurangan atau kelebihan, tapi tentang kesempurnaan yang saling melengkapi di antara keduanya.” Airmata Wardah berderai selesai ia mengucapkan kalimat itu. Ia mencintai suaminya, sudah itu saja.
Syam tertegun. Ia tau istrinya mahir merangkai kata-kata indah, tapi tidak pernah terdengar seindah ini. Dalam jernih kata-kata itu, ia temukan cinta yang selama ini membuatnya selalu merasa teduh. Tapi ia tetap tidak bisa membiarkan istrinya tersiksa dengan ketiadaan anak-anak di tengah keluarga kecil mereka.
“Tapi aku tidak sempurna, Wardah. Aku bukan laki-laki yang pantas mendampingimu.  Aku laki-laki yang mungkin tidak akan pernah mampu memberimu tangisan anak-anak yang begitu kamu rindukan.” Katanya.
“Kamu memang bukan laki-laki Bi. Tapi kamulah pria yang dipilihkan Allah untukku. Pria yang berhasil memetik mawar untuk melengkapi ketidak sempurnaannya, karena aku pun tidak sempurna. Tapi bersamamu, aku memiliki kesempurnaan itu. Mungkin aku akan merindukan tangisan anak-anak di tengah keluarga kita, aku tidak akan munafik, naluriku sebagai wanita yang juga ingin merasakan hamil, melahirkan, dan menyusui anak-anakku kuat tapi cintaku kepadamu, karena ketaatanmu, karena kepatuhanmu terhadap Pencipta kita, jauh lebih kuat melebihi apapun.”
Syam terharu. Benar terharu. Ia merasa Allah begitu murah hati kepadanya, sehingga memberikan wanita luar biasa untuknya.
“Ayah dan ibumu? Mereka pasti akan menyuruhmu meminta cerai dariku.” Kata Syam masih merasa ia tidak pantas, kali ini di depan kedua mertuanya.
“Abi, ayah dan ibu tidak akan pernah begitu. Mereka akan menghormati keputusanku.” Kata Wardah, kalem.
Syam berbalik, membuat wardah melepaskan pelukannya. Ia menatap wardah lekat-lekat.
“Terimakasih, Mawarku.”
“Untuk apa?”
“Untuk kesetiaan dan pengertianmu yang begitu besar.”
“Hmm.. baiklah. Terimakasih..” balas Wardah.
“Untuk apa?” tanya Syam bingung.
“Untuk sinarmu yang selalu membuatku merasa hangat, Matahariku.” Katanya dengan senyum manis. Syam tersenyum, lalu ia berkata.
“Soal anak..”
“Ssst..” kata Wardah memutus perkataan Syam sebelum ia sempat melanjutkan. Kemudian, ia berkata,
“Abi tidak perlu khawatir soal anak, kita bisa adopsi anak terlebih dahulu kan? Sembari Abi menjalani pengobatan dari dokter? Apa yang Abi alami saat ini belum mutlak. Masih ada kemungkinan kita akan memiliki anak, sekecil apapun kemungkinan itu kita tetap harus percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan hambaNya.”
“Alhamdulillah ya Allah, Engkau anugerahkan hamba bidadari cantik yang mampu menerima kekuranganku..” ucap Syam. Ia mengecup kening istrinya, sayang.
“Bapak dan ibu?” tanya Syam lagi. Ia bingung harus mengatakan apa pada bapak dan ibunya nanti.
“Allah yang akan membantu kita menjelaskan kepada bapak dan ibu tentang kondisi Abi.” Kata Wardah, mantap.
“InsyaAllah, Amin.” Ucap Syam, kemudian ia melanjutkan perkataannya,
“Ngomong-nomong, Umi mau adopsi berapa anak?” tanyanya sambil tersenyum.
“Terserah Abi, 1, 2, atau 3 juga boleh. Hehehe.” Jawab Wardah, tertawa.
“3? Apa Umi sanggup?” Gurau Syam.
“Kenapa tidak? Kan ada Abi..” Dan mereka berdua pun tertawa. Tawa yang indah. Tawa bahagia yang mengiring adzan Isya’ yang sayup-sayup terdengar.
El-Wardah, mawar yang telah dipilih Allah untuk mendampingi dan menyempurnakan kekurangan matahari yang telah menyinari hidupnya dalam naungan lembaga suci pernikahan. Syamsuddin Rijal, matahari milik mawar yang mampu menghangatkan hari-harinya, membuatkannya cerita seindah kisah milik Habibie dan Ainun, versi mereka.
***

Absurd tapi absolut. Begitu mengagumkan kemiripan antara cinta, dan kelekatan. Dua-duanya serba tak terduga. Cinta yang terlahir dari ketaatan dan kepatuhan pada Ilahi telah membumihanguskan kewarasan, mengesampingkan keegoisan, itulah nyatanya. Seperti lilin yang membakar dirinya hingga luluh lantak pada ketiadaan. Menjadi awal seperti sedia kala, senyawa dalam dirinya tanpa api yang berpijar sebagai pengakhirannya.


-aesaazzam-




2 komentar:

  1. konfliknya lebih greget,
    tapi ada sedikit yg agak berlebihan, syam mengendarai mobil tidak pulang 2 hari 2 malam, itu terlalu.. hehe

    dan masih terasa wardah lebih dominan daripada syam sbg tokoh utama, ^^

    BalasHapus
  2. namanya juga lagi labil, hehehehehehe
    tapi kan dianya kan ke masjid, meskipun gak pulang ^^v
    #penulis yang suka ngeles :p

    lhoo, iya memang masih pakai wardah..
    cuman judulnya pakai suaminya,

    kok sdh baca aja sih? terimakasih yaa..

    ini sekuel terakhir, setelah ini an ngga nulis ttg suami-istri dulu, libur ^^
    ganti genre.

    BalasHapus