Kamis, 27 Desember 2012

Mbah Nem


“Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu.”
(HR. Nasa’i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329)

Subuh baru saja berlalu. Langit di cakrawala masih gelap dengan hiasan bulan sisa semalam. Rahman merapikan buku-bukunya ke dalam tas ransel usangnya. Setelahnya, ia bergegas membantu sang ayah memberi makan ayam peliharaan mereka yang jumlahnya tidak banyak. Rahman masih asik dengan ayam-ayamnya ketika ibunya memanggil dari arah dapur.
“Rahmaan..”
“Iya, bu..” jawabnya seraya berlari-lari kecil menghampiri ibunya.
“Tolong antarkan ini ke Mbah Nem ya? Bilang, untuk sarapan. Setelah itu kamu cepat mandi dan siap-siap ke sekolah.”
Rahman menerima rantang nasi yang diberikan ibunya. Iya berjalan santai ke arah rumah Mbah Inem yang letaknya hanya berjarak tiga rumah dari mereka. Sebenarnya Mbah Inem, atau yang lebih akrab ia sapa Mbah Nem, tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Mbah Nem merupakan satu dari sekian banyak orangtua yang hidupnya menjadi sebatang kara saat anak-anaknya sudah mapan dan punya keluarga masing-masing. Mbah Nem tinggal sendiri sejak suaminya meninggal, ketiga anak-anaknya yang tinggal di Jakarta sangat jarang datang untuk menengok sang ibu yang sudah renta, bahkan di hari raya sekalipun. Mbah Nem hidup dari perhatian tetangga-tetangga yang merasa kasihan padanya, termasuk Rahman dan keluarganya.
Rahman sampai di depan rumah Mbah Nem. Ia mengetuk-ngetuk pintu dan mengucapkan salam tapi tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Meskipun Mbah Nem sudah renta, selama ini ia masih sanggup berjalan perlahan dan membukakan pintu, tapi kali ini sudah sekitar lima menit Rahman mengetuk pintu dan mengucapkan salam Mbah Nem belum juga keluar untuk membukakan pintu. Rahman bertanya pada tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kecil Mbah Nem, ia mengira mungkin Mbah Nem sakit dan tidak bisa membukakan pintu dan tetangganya tahu bagaimana kondisi nenek renta itu.
“Pak Ali, Mbah Nem sakit ya? Kok saya ketuk-ketuk pintunya ndak ada tanggepan?” tanyanya pada Pak Ali yang pagi itu sedang mencuci sepeda motor bebek kesayangannya di halaman rumah.
“Sejak kemarin, saya kok belum lihat Mbah Nem sama sekali ya Man? Saya juga kurang tau.”
“Oh, begitu ya.. terus gimana dong pak? Saya kok jadi khawatir ya sama keadaan Mbah Nem?”
“Coba langsung buka kenoknya aja Man, siapa tau tidak dikunci.” kata Pak Ali memberi saran yang langsung dilakukan oleh Rahman. Ia memutar kenok pintu rumah Mbah Nem dan tenyata benar tidak dikunci.
Rahman masuk dan mencari-cari Mbah Nem di seluruh ruangan yang ada di rumah itu, tapi ia sama sekali tidak menemukan Mbah Nem. Akhirnya ia berjalan menuju kamar mandi yang letaknya ada di bagian belakang rumah dan terkaget karena menemukan Mbah Nem jatuh terduduk dan tidak lagi bernafas. Mbah Nem telah meninggal. Rahman berteriak meminta pertolongan dan Pak Ali yang saat itu masih berada di halaman rumah segera bergegas menghampiri Rahman.
Mbah Nem meninggal sejak kemarin, hal ini disimpulkan oleh warga sekitar dengan melihat kondisi tubuh Mbah Nem yang hampir kaku. Tetangga-tetangganya menangis iba pada nenek renta yang kini sudah almarhumah tersebut. Ia dimakamkan hari itu juga di pemakaman desa. Pemakaman yang sangat sederhana dan tanpa dihadiri oleh putra-putrinya. Rahman yang mencoba menghubungi anak-anak Mbah Nem harus menelan kekecewaan karena semua anak-anak Mbah Nem mengatakan mereka tidak bisa pulang untuk memakamkan ibunya karena kesibukan yang mereka jalani dan menyerahkan semua prosesi pemakaman kepada tetangga-tetangga Mbah Nem.
Rahman ingat betul kisah perjuangan Mbah Nem dalam membesarkan anak-anaknya, karena ibunya sering sekali menceritakan kisah Mbah Nem kepada Rahman dan adiknya. Kata ibunya, agar Ia dan Mutia, adiknya, belajar arti perjuangan hidup dari kisah hidup Mbah nem. Semasa ibu Rahman masih belum memiliki Rahman dan adiknya, Mbah Nem bekerja sebagai TKI di Saudi untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Mbah Nem yang telah menjanda sejak anak ke-3 nya masih berada dalam kandungan ini memulai kehidupan yang serba berkekurangan sejak ia ditinggal sang suami menghadap Allah terlebih dahulu. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja, dan sejak saat itu Mbah Nem hidup  dalam kesetiannya pada kesendirian untuk membesarkan anak-anaknya. Tiga bulan pertama sejak kematian almarhum suaminya, Mbah Nem bertahan hidup dengan menggunakan uang belasungkawa yang ia terima dari perusahaan tempat almarhum suaminya bekerja. Ia putar uang yang tidak seberapa jika dibandingkan nyawa suaminya itu dengan susah payah, dalam kondisi perut yang membuncit karena hamil tua, ia berkeliling menjajakan es lilin dan gorengan setiap pagi dan sore. Saat ia melahirkan anak ketiganya, uang sisa tunjangan kematian suaminya habis untuk biaya dokter. Belum lepas tali pusar putra ke-3 nya Mbah Nem sudah bekerja dari rumah ke rumah sebagai buruh masak dan buruh cuci. Saat putra ke-3 nya berumur 1 tahun, Mbah Nem memutuskan untuk merantau ke Saudi demi bisa menyukupi kebutuhan sekolah dan sehari-hari anak-anaknya. Shinta, putri sulungnya yang saat itu masih siswa kelas 1 SMP, ia amanahkan untuk menjaga dua adiknya, Bayu dan Adi. Menjaga dua adik yang usianya masih sangat kecil—Bayu saat itu masih duduk di bangku kelas 3 SD, sedangkan Adi baru berumur satu tahun—bukan merupakan hal yang mudah bagi Shinta kecil. Ia harus belajar demi sekolahnya, tapi ia juga harus menjaga dan mengajari adik-adiknya. Rahman mengingat stiap detail cerita dari kisah hidup Mbah Nem berdasarkan cerita-cerita yang ia dapatkan dari ibunya. Rahman ingat saat ia bertanya pada ibunya,
“Bu, kenapa sih ibu perhatian banget sama Mbah Nem? Beliau kan bukan siapa-siapanya ibu?”
Mendengar pertanyaan Rahman ini, ibunya hanya tersenyum dan mulai meceritakan apa yang telah ia saksikan pada diri Mbah Nem. Keteguhan Mbah Nem sebagai orangtua semata wayang bagi anak-anaknya serta kesetiannya terhadap almarhum suaminya membuat sosok Mbah Nem menjadi sosok luar biasa yang patut untuk dikagumi. Anak-anak Mbah Nem, mereka bertiga juga merupakan anak-anak yang luar biasa, terutama Shinta. Rahman ingat, saat Rahman duduk di bangku TK, Shinta berhasil masuk perguruan tinggi setelah ia bekerja untuk menabung biaya uang masuk kuliah selama dua tahun. Mbah Nem yang saat itu masih bekerja sebagai TKI di Saudi sangat bangga terhadap putri sulungnya itu. Uang yang dikirim Mbah Nem dari hasilnya bekerja sebagai TKI di Saudi bukannya tidak cukup untuk membiayai uang masuk kulaihnya, tapi saat itu Shinta, menurut penuturannya kepada ibu Rahman yang saat itu sempat menanyakan hal ini kepadanya, lebih memilih untuk menyimpan uang lebih kiriman ibunya dalam bentuk deposito, agar bisa digunakan adik-adiknya untuk meneruskan sekolah hingga ke bangku perguruan tinngi, sedangkan untuk dirinya sendiri, Shinta memilih untuk bekerja terlebih dahulu jika ia menginginkan untuk melanjutkan pendidikannya.
Belum selesai Rahman mengingat semua memori tentang kisah Mbah Nem dan keluarganya, ia dikagetkan oleh tepukan di bahunya.
“Man..” Rahman menoleh,
“Ibu, ayah.. ada apa ya?” kata Rahman yang buru-buru menghapus genangan air dalam kantung matanya, mengingat cerita tentang Mbah Nem membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
“Kamu menangis, le?” kata ibunya yang telah menangkap gerakan ringkas Rahman untuk menyamarkan airmata yang sudah terlanjur menggenangi kantung mata Rahman.
“Oh-eh, mm.. Rahman hanya sedang mengingat cerita-cerita ibu tentang Mbah Nem, dan.. yah..” Rahman belum sempat melanjutkan kata-katanya ketika tiba-tiba ayahnya mengangkat lengannya, memintanya berdiri. Ayah Rahman memeluk Rahman. Pelukan jantan seorang lelaki, sepertinya.
“Anak baik. Ayah tahu kamu turut berduka atas meninggalnya Mbah Nem. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menangis karena ayah berencana mengajakmu ke Jakarta.” Rahman terbengong.
“Kenapa, le?” Tanya ibu Rahman yang memerhatikan raut bingung Rahman.
“Maaf, ke Jakarta untuk apa, yah?”
“Ayah ingin menjemput anak-anak Mbah Nem. Shinta, Bayu, dan Adi.”
“Untuk, apa yah?”
“Ayah hanya ingin melihat, sesibuk apa mereka sampai tega melewatkan momen terakhir untuk ibu mereka karena alasan kesibukan.”
Sebelum Rahman sempat bertanya lebih lanjut kepada ayahnya, ia melihat sebuah mobil Honda CR-V berhenti di depan rumahnya. Dari pintu sopir, Rahman melihat seorang laki-laki tinggi, putih, yang seingatnya adalah Adi, putra bungsu Mbah Nem yang sekarang tengah menempuh pendidikan perguruan tingginya di Jakarta. Ia berjalan tergesa menghampiri Rahman dan orangtuanya—yang saat itu belum menyadari kedatangan anakanak Mbah Nem tersebut—diikuti oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki yang ia rasa adalah Shinta dan Bayu. Rahman berkata pada ayahnya,
“Yah, Rahman rasa kita tidak perlu ke Jakarta.”
“Kenapa? Kamu tidak mau le?”
“Bukan karena Rahman tidak mau yah, tapi karena orang yang ingin kita temui sudah di sini, di belakang ayah.” Selang satu detik setelah Rahman menyelesaikan kata-katanya, kedua orangtua Rahman segera berbalik, memastikan bahwa apa yang dikatakan Rahman benar.
Alhamdulillah.” Ucap ibu Rahman perlahan.
Adi yang pertama kali sampai di hadapan ayah dan ibu Rahman segera menyalami kedua orangtua Rahman. Matanya merah, jelas betul jika ia habis menangis. Shinta dan Bayu yang menyusul juga tidak terlihat lebih baik, mereka berdua sama-sama dalam keadaan berantakan.
“Assalamualaikum, Pak, Bu.” Kata Bayu sembari menyalami kedua orangtua Rahman.
“Waalaikumsalam, Bay..” jawab ayah Rahman.
Di belakang Bayu, Shinta dan Adi yang tadinya sampai lebih dulu tertunduk, entah malu akan perbuatan mereka entah apa.
“Pak, jenazah ibu sudah dimakamkan?” kata Bayu.
“Sudah, Bay.. sejak satu jam yang lalu janazah ibumu sudah kami makamkan.” Kata ayah Rahman.
“Bisa antarkan kami ke makam ibu, pak?”
“Bisa, tentu saja. Tapi, Rahman bilang kamu, Shinta, dan Adi tidak bisa pulang? Lantas, sekarang apa? Jika tau kalian akan kesini, kami pasti akan menunggu kalian datang untuk melihat ibu kalian buat yang terakhir kali.”
“Iya pak, maafkan kami bertiga. Semoga ibu pun memaafkan kami..” Bayu terdiam, tidak melanjutkan kata-katanya. Airmata menggantung di pelupuk matanya. Ayah Rahman melihat betul bahwa ketiga anak itu telah menyesali perbuatan mereka selama ini. Rahman menatap Bayu, Shinta, dan Adi bergantian. Ada lega yang menyusup, ‘Mbah Nem mungkin akan senang melihat anak-anaknya kemari jika ia masih hidup,’ batinnya.
“Rahman, antarkan Mas Bayu, Mas Adi, dan Mbak Shinta ke makam Mbah Nem ya. Ayah dan ibu akan mengurus pengajian untuk Mbah Nem nanti malam.” Belum sempat Rahman menjawab permintaan ayahnya, Adi mendahuluinya dengan bertanya pada ayah Rahman,
“Pak, untuk pengajian ibu, biarkanlah kami yang mengurus. Kami merasa bertanggungjawab atas itu.. dan, kami juga terlalu banyak merepotkan bapak, ibu dan tetangga-tetangga disini untuk sesuatu yang seharusmya menjadi tanggungjawab kami sebagai anak-anak ibu..”
“Kami tidak merasa direpotkan, dan untuk masalah pengajian.. malam ini biar kami dan para tetangga yang mengurus semuanya, besok barulah kalian.” Kata ayah Rahman.
“Baiklah jika demikian.” Kata Adi dan Bayu bersamaan.
“Ya, sekarang ikutlah Rahman. Dia yang akan mengantarkan kalian ke makam ibu kalian.”
Tanpa memperpanjang pembicaraan mereka, Rahman segera beranjak dari tempatnya. Ia berjalan dalam hening. Ada berbagai perasaan menguasai hatinya. Ditengah keheningan yang ada diantara mereka, suara isak Shinta menjadi semakin keras. Terdengar sesal teramat dalam isak itu.
“Mbak, sudah.. sudah..” Adi merangkul bahu kakaknya erat dan berusaha menenangkan kakaknya. Rahman yang mencuri pandang semua kejadian itu, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. ‘Penyesalan selalu hadir saat semuanya telah terlambat,’ batinnya.
Mereka berempat sampai di sebuah makam yang tanahnya masih basah. Bunga taburan pelayat masih menghiasinya. Shinta menangis keras-keras, ia jatuh berlutut di samping makam tersebut. Adi yang berusaha menopang kakaknya ikut jatuh berlutut. Hanya Bayu yang masih tegar berdiri. Ia berlutut perlahan di samping makam wanita yang telah melahirkannya itu. Mereka bertiga meneteskan airmata duka yang sama. Tidak. Bukan hanya duka, tapi juga sesal dan rindu. Sudah hampir 3 tahun mereka tak pernah pulang menyambangi ibu mereka yang telah renta itu dan saat mereka sambang saat ini, ibu mereka telah beristirahat dari segala perasaan kecewa yang ia rasakan selama ia masih hidup.
“Maafkan Shinta, ibu.. Shinta bersalah. Shinta lebih mengutamakan keluarga dan pekerjaan Shinta di Jakarta. Tidak mengacuhkan ibu.. Shinta telah durhaka ibu.. Maafkanlah Shinta jika Shinta masih pantas untuk dimaafkan.” Perempuan muda itu memeluk nisan makam ibunya seolah-olah itulah ibunya. Ia menjerit tertahan. Menangis dan terisak-isak di samping makam ibunya.
“Maafkan Bayu, ibu..”
“Maafkan Adi, ibu.. Adi pantas dihukum, mintalah pada Allah agar Adi dihukum. Anak lanangmu ini sudah durhaka terhadapmu ibu.. tidak memenuhi kewajibannya sebagai anak lanang yang seharusnya menjaga dan melindungi ibu. Adi sibuk merintis kuliah dan karir Adi, membiarkan ibu menua bersama kecewa akan sikap kami. Maafkanlah Adi, Mas Bayu, dan Mbak Shinta, ibu.. kami adalah anak-anak yang tidak tahu berterimakasih atas semua jasa-jasa ibu.” Mengikuti kakak perempuannya, Adi pun mulai menjerit tertahan. Menangis sebisanya. Memeluk tanah makam ibunya. Dari mereka bertiga, hanya Bayu yang tidak banyak bicara, tapi Rahman tahu bahwa ia pun sama dengan kedua saudaranya.
Gerimis senja menyapa pamakaman hari itu. Menunjukkan seolah-olah Bumi pun turut menangis atas kepergian Mbah Nem. Perempuan, istri, dan ibu yang tidak biasa. Rahman ikut menangis, ia mungkin tidak paham betul apa yang dirasakan ketiga anak Mbah Nem itu tapi ia bisa merasakan penyesalan mereka. Duka yang menggelayut di tenagh-tengah mereka melahap waktu dengan cepat. Menggerogoti sisa-sisa senyuman dan menggantinya dengan airmata yang perlahan mengering, berteman mata yang mulai membengkak. Sudah lebih satu jam mereka di makam Mbah Nem, tapi tidak satu pu  dari ketiga anak Mbah Nem mau beranjak dari makam ibunya. Mereka mungkin berharap bahwa waktu yang mereka lewatkan sekarang mampu menebus tiga tahun yang mereka lewatkan tanpa bakti terhadap ibu mereka. Tapi harapan hanyalah harapan ketika raga telah terpisah dari dunia. Waktu tiga tahun yang telah terlewatkan oleh mereka dan dilalui dengan penantian yang berbuah kekecewaan seorang ibu mungkin tak dapat tertebus dengan hanya ribuan menit yang mereka lewatkan dalam duka.
“Mbak, Mas, sudah hampir maghrib. Mari kita pulang, tidak baik menangisi yang telah pergi secara berlebihan. Mari kita berdoa untuk Mbah Nem, dan setelah itu kita kembali ke rumah.” Kata Rahman memecah suara isak Shinta dan Adi yang masih terdengar pilu. Bayu menangguk, mengiyakan kata-kata Rahman. Ia menegakkan tubuh Adi dan Shinta, sehingga mereka bertiga duduk berjongkok di samping makam Mbah Nem. Bertiga, mereka menunduk dalam. Rahman ikut berjongkok bersebrangan dengan mereka bertiga. Dalam hening senja, ketiga anak-anak Mbah Nem mendoakan ibu mereka yang telah pergi. Mencari ceceran maaf atas apa yang telah mereka lakukan.
Selesai. Bayu berdiri, mengangkat kedua saudaranya. Rahman memimpin jalan. Mereka meninggalkan tanah pemakaman itu tepat saat adzan maghrib berkumandang. Berjalan dalam hening, sekali lagi, seperti saat mereka berangkat tadi. Semuanya masih baik-baik saja sampai saat Shinta mulai mengigau,
“Bay, Di, ibu memanggil kita.. ibu meminta kita menemaninya. Ayo kita kembali menemani ibu..” tatapan matanya nanar. Bayu dan Adi mulai khawatir, mereka berdua saling bertatapan. Rahman juga sama bingungnya. Terlalu lama menunggu reaksi kedua adiknya, Shinta berbalik arah berlari ke arah makam ibunya. Bayu, Adi, juga Rahman menyusulnya. Sampainya mereka tepat di depan makam Mbah Nem, mereka medapati putri sulung Mbah Nem itu pingsan.



***

-Aesaazzam-

1 komentar:

  1. Assalamu'alaikum w.w...
    Kenalkan saya Tonnie Firdaus.

    Perkenankan saya ingin menyampaikan berita baik, yaitu penawaran Paket perjalanan Ibadah Umroh 9 hari, untuk :

    1. Periode 28 desember 2013, $ 1.870 /org. Hotel *4.
    2. Periode 15 Januari 2014, $ 1.670 /org. Hotel *3
    3. Periode 30 Januari 2014, $ 1.730 /org. Hotel *3
    4. Periode Februari 2014, $ 1.750 /org. Hotel *3
    5. Periode Maret 2014, $ 1.750 /org. Hotel *3
    6. Periode April 2014, $ 1.750 /org. Hotel *3

    Harga promosi : 17Jt /org (quard)

    SEMUA HARGA PAKET SUDAH TERMASUK :
    - Perlengkapan Umroh lengkap Pria & wanita (Koper, ikhrom, mukena bergo, buku do'a dan seragam)
    - Tiket pesawat (ekonomi)
    - Pembimbing Umroh (selama di tanah suci)
    - Air zam-zam 10 lt / jamaah
    - Ziarah ke tempat2 sejarah
    - Manasik Umroh
    - Airport tax dan handling bandara

    *) Program jadwal, Hotel, pesawat dan Harga DAPAT BERUBAH sewaktu-waktu, menyesuaikan situasi dan kondisi reservasi tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

    Sampaikan juga berita baik ini kepada teman2 dan kerabat saudara.
    Semoga ini menjadi kebaikan dan berkah untuk kita semua..Amiin..amiin..Yaa Robbal alamiin

    Wassalamu'alaikum w.w.

    Tonnie Firdaus
    - 087 882 889 709
    - 0813 1527 2348

    BalasHapus