Wardah
mengetuk-ngetukkan jarinya di meja makan. Sayur bening lengkap dengan segala
lauk pauk favorit suaminya telah siap ia hidangkan sejak lepas ashar tadi. Hari
ini tepat 3 tahun mereka menikah. Wardah berniat memberi kejutan untuk suaminya,
sepagian ia sibuk menghias kamar mereka, memasak segala masakan favorit
suaminya. Tapi sekarang, semangatnya yang tadi pagi menggelora telah mendingin
bersamaan dengan sayur bening dan lauk pauk yang telah ia hidangkan di meja
makan. Suaminya pulang terlambat lagi, dan yang membuatnya bersedih adalah
karena suaminya tidak mengirimkan satu sms pun untuk mengabarkan
keterlambatannya. Wardah menangis. Ia telah mempersiapkan dua tiket bioskop untuk
ia tonton bersama suaminya malam ini, dua tiket bioskop untuk film Habibie dan
Ainun. Tapi sampai film itu hampir habis diputar di bioskop, suaminya belum
juga pulang padahal ini sudah lewat pukul 10. Ia robek tiket bioskop itu
dan menelungkupkan wajahnya. Terisak-isak. Ia tidak menangisi hilangnya
kesempatan menonton film tersebut, atau sia-sianya usahanya sepagian ini dalam
menyiapkan kejutan manis untuk suaminya. Sungguh tidak. Ia menangisi perubahan
sikap suaminya akhir-akhir ini. Pikirannya mulai bergeriliya ke masa-masa awal
pernikahan mereka.
Wardah dan suaminya,
Syam, menikah tiga tahun lalu. Sebuah jawaban dari doa panjang yang ia
panjatkan pada Sang Mahacinta. Satu tahun pertama mereka lewati dengan bahagia,
pernikahan sempurna tanpa prahara. Memasuki tahun kedua, ribut-ribut kecil
mulai mengambil peran dalam pernikahan mereka, dan semua itu selalu dimulai
dari sifat pencemburu Wardah. Ya, Wardah
adalah seorang wanita pencemburu. Pernah suatu kali mereka bertengkar karena
Wardah mencium aroma parfum di pakaian Syam, padahal laki-laki itu bukan
penyuka parfum dan ia hanya mengenakan parfum jika akan sholat jum’at.
“Kamu beli parfum,
Bi?”
“Tidak, kamu kan
tau aku tidak suka memakai parfum Umi.”
“Lalu ini bau
parfum siapa? Wanita lain?
“Innalillah..
bagaimana mungkin kamu berbicara seperti itu kepadaku, Mi? Telah hilangkah
kepercayaanmu terhadapku?”
“Maaf Bi, tidak.
Aku.. aku hanya,”
“Cemburu?”
“Ya.” Wardah
menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia takut menatap mata suaminya. Namun Syam
mengangkat wajahnya. Membuatnya menatap lurus biji zaitun yang tersimpan dalam
sorot mata lelaki yang ia cintai sepenuh hati itu.
“Lihat mata Abi, Umi.”
Katan Syam tegas. Wardah menatap lekat mata suaminya.
“Apakah Umi
menemukan cinta untuk wanita lain dalam mata Abi?” Katanya sungguh dan dalam.
Wardah menggeleng. Ia berkata perlahan,
“Abi, maafkan Umi..
Umi percaya pada Abi. Umi hanya tidak percaya dengan wanita-wanita di
sekeliling Abi. Maafkan Umi, Bi.”
Syam memeluk
istrinya itu erat. Dalam pelukannya Syam berusaha meyakinkan Wardah bahwa
cintanya hanya untuk wanita itu. Tidak untuk yang lain.
Lamunan Wardah
dibuyarkan oleh suara hujan yang tiba-tiba menderas di luar. Alam seolah
berkomplot dengan hujan, menerjemahkan hati yang tak pernah mampu berkata-kata.
‘Hujan, tak pernah sepenuhnya air..
karena selalu ada kamu, Bi, di separuh tetesnya..’ gumamnya di tengah isak
yang tak ada tanda-tanda akan segera reda. Ia tertidur, terlelap dalam isakan.
Dalam mimpinya, ia menemukan Syam tengah bersama wanita lain. Mereka berdua
menatap Wardah yang menatap ke arah mereka, yang membuat Wardah semakin sedih
adalah hadirnya seorang bayi dalam gendongan Syam.
“Tidaaaaaaaaak....”
Wardah terbangun dari mimpi buruk yang menghampirinya.
“Astaghfirullah..” Ia beristighfar.
Merasa tidak tenang dengan mimpi yang baru saja ia lihat, ia memutuskan untuk
melaksanakan tahajjud. Ia melihat jam
dinding yang menggantung di dinding ruang makan, sudah pukul 2 dini hari dan
suaminya belum juga ada kabar. Rasa cemas merayapi hati Wardah, bukan lagi
cemburu yang bertakhta di sana, hanya ada harap semoga di maana pun suaminya
berada, ia selalu dalam lindungan Allah. Wardah menghabiskan malamnya dalam
munajah panjang. Hingga subuh menyapa dan akhirnya ia mendengar suara sepeda
motor suaminya memasuki beranda rumah mungil mereka.
“Assalamualaikum.”
Ucapan salam itu milik Syam. Wardah lega bukan main, suaminya itu pulang juga.
“Waalaikumsalam.”
Wardah bergegas membukakan pintu untuk suaminya. Pintu terbuka dan Wardah
menubruk suaminya dengan pelukan, sayang. Syam membalas pelukan istrinya itu. Mereka
masih tetap berpelukan sampai Wardah melihat ada sosok lain di belakang
suaminya. Syam tidak pulang seorang diri, ia pulang bersama seorang wanita.
Cantik dengan pakaian yang.. ‘Astaghfirullah,’
batinnya menengang. Sebagai seorang wanita normal, instingnya akan bahaya mulai
berbicara, tapi ia menahannya agar kata-kata itu tidak keluar, meluncur dari
satu-satunya senjata yang ia miliki, lidahnya.
“Masuk, Bi.. maaf,
Aku memelukmu terlalu lama sampai tidak sadar jika kita kedatangan tamu.”
Wardah mempersilahkan tamunya masuk sementara ia membawakan tas dan jaket
suaminya ke kamar. Syam masuk ke kamar dan mengganti baju dan bergegas
mengambil air wudhu. ‘Dia belum sholat?’
Wardah melihat jam dinding di kamar mereka, sudah pukul 5 lewat. Wardah
berjalan ke arah dapur, menghangatkan lauk pauk yang kemarin ia masak, membuat
sayur bening sekali lagi, dan secangkir teh hangat untuk wanita yang pulang
bersama suaminya.
“Silahkan Mbak,
diminum dulu tehnya. Mbak mau baju ganti?” Wardah berusaha sopan terhadap
wanita berpakain kantoran yang minim kain itu. Ia bertindak layaknya tidak ada
badai yang tengah merajai hatinya saat ini. Ia bertindak sesuai dengan apa yang
agamanya ajarkan. Wanita itu menyaut,
“Terimakasih, Mbak.
Mm, boleh Mbak, jika Mbak tidak berekberatan meminjamkan baju untuk saya, tapi
sebelumnya maaf jika saya berlaku tidak sopan karena belum memperkenalkan diri.
Kenalkan, nama saya Asha.” Kata wanita itu seraya meyodorkan tangannya. Wardah
menyambutnya, berusaha tetap hangat meskipun kenyataannya ia hampir pingsan
menahan segala buncah dalam hatinya. Ia mungkin seorang muslimah yang taat,
tapi ia juga merupakan seorang istri dengan kadar cinta yang besar—meski tidak
sebesar cintanya kepada Tuhannya—kepada suaminya.
“Wardah. Baiklah,
saya ambilkan baju saya dulu.” Katanya singkat. Ia berjalan menuju kamarnya.
Syam masih di sana. Berdiri menatap pintu, seolah-olah ia memang sengaja
berdiri mengunggu Wardah. Wardah tidak berkata apapun. Ia menuju lemari dan
mengambil satu gamis terbaiknya untuk diberikan kepada Asha. Sebelum ia keluar
kamar, Syam menahan tangannya. Ia meraih tangan istrinya dan membawanya dalam
pelukan.
“Maaf..” lirihnya.
“Umi harus
memberikan ini kepada teman Abi. Maaf, tidak sekarang.” Wardah melepaskan
dirinya dari pelukan Syam. Ada kristal bening yang terlanjur meloloskan diri
dari benteng rapuh yang ia bangun di pelupuk matanya. Ia memeberikan baju itu
dengan segera, menjelaskan di mana letak kamar mandi, dan mempersilahkan Asha
untuk mengganti baju. Setelah itu, ia beranjak ke dapur. Mempersiapkan sarapan
untuk ia, suaminya dan tamu mereka.
Asha keluar dari
kamar mandi, Wardah menyilahkannya untuk duduk di meja makan untuk sarapan
bersama sementara ia berjalan ke kamarnya untuk memanggil Syam.
Dan, duduklah
mereka bertiga di meja makan. Mereka makan dalam hening. Asha yang merasa tidak
nyaman dengan suasana yang hening itu berusaha memecah sunyi dengan memuji
masakan Wardah,
“Mbak Wardah ini,
pintar sekali memasak ya? Masakannya enak lho. Mas Syam pasti seneng banget
dimasakin begini enaknya setiap hari.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman
tulus, sepertinya. Syam hanya membalas perkataan Asha dengan senyuman singkat,
sementara yang dipuji, Wardah, tidak mengatakan apapun. Tersenyum pun, tidak.
Merasa tidak ditanggapi oleh tuan rumahnya, Asha akhirnya menyerah dan
melanjutkan makannya dalam diam.
Selesai makan, Asha
menawarkan diri untuk membantu Wardah mencuci piring sebagai balasan atas
sarapan yang telah ia dapatkan, namun atas nama sopan santun sebagai tuan rumah
Wardah menolaknya. Akhirnya Asha pamit pulang kepada Syam dan Wardah.
Sekarang hanya
tinggal mereka berdua. Syam dan Wardah. Syam menunggu Wardah membukan
keheningan di antara mereka, tetapi ia tidak juga membuka mulutnya. Wardah
sendiri bingung harus mengatakan apa, terlalu banyak yang ingin ia katakan dan
semua itu menegrucut pada diam. Syam tidak lagi tahan, ia membuka pembicaraan,
“Katakan sesuatu Umi..
Abi tau Umi ingin menanyakan sesuatu.” Wardah masih diam. Lima menit yang sunyi
kembali berlalu.
“Abi darimana
semalam?” tanya Wardah akhirnya.
“Alhamdulillah.. akhirnya. Baiklah, Abi
akan jelaskan.. Umi, kemarin Abi tiba-tiba mendapatkan tugas untuk mengahdiri
sebuah rapat di hotel Trio Indah, rapat itu untuk membahas proyek yang akan
perusahaan Abi jalankan.”
“Dengan Asha?”
Wardah mulai menangis. Ia sebal pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa
menahan pertanyaan ini meluncur dari mulutnya.
“Iya Umi, dengan
Asha. Asha adalah sekretaris bos Abi, tapi karena bos Abi juga sedang ada
urusan di Surabaya, jadi Abi diminta menggantikannya, dengan Asha.”
“Bermalam di hotel?
Kenapa Abi tidak memberi kabar apa pun kepada Umi?”
“Iya Umi, kami
bermalam di hotel. Di kamar yang berbeda tentunya. Abi sebenarnya ingin
menghubungi Umi, tapi rapat berakhir pukul 11 malam. Abi takut akan mengganggu
tidur Umi jika Abi harus menelpon selarut itu.”
“Umi bahkan tidak
tidur sampai pukul 12 malam, menunggu kabar dari Abi. Tapi, yasudahlah.. sudah
berlalu.”
“Umi tidak marah?”
tanya Syam takut-takut. Ia sungguh mencintai wanita itu, Wardah, istri yang ia
persunting 3 tahun yang lalu itu sudah berhasil mencuri perhatiannya sejak
mereka masih duduk di bangku kuliah. Ia takut jika ia menyakiti wanita itu,
karena ia tidak pernah ingin menyakitinya.
“Marah atau tidak
itu tidak penting lagi sekarang, yang penting Abi pulang dalam keadaan
selamat.” Pungkasnya. Sejujurnya ia masih marah, masih banyak yang ingin ia
katakan, tapi ia menahan semua itu. Menahannya samapai ke dasar emosinya. Dan
mereka kembali terdiam.
“Mi, kok tumben sih
pagi-pagi tadi kamu sudah masak selengkap itu. Sayur bening dengan lauk pauk
lengkap favorit Abi, kapan belanjanya?” Kata-kata Syam ini justru menjadi
pemantik api bagi emosi yang baru saja Wardah kubur ke dalam dasra yang paling
dalam. Sekarang, pertanyaan yang baru saja Syam lontarkan itu justru
membangunkan kembali emosi itu, maka Wardah tidak lagi sanngup bertahan dalam
diamnya, ia menangis terisak-isak membuat Syam kebingungan.
“Umi, Abi salah
ngomong ya?” tanyanya dengan raut muka kebingungan.
“Abi memang tidak
pernah lama mengingat sesuatu ya? Atau memang Abi tidak pernah peduli? Atau
jangan-jangan Abi memang tidak tau apaun tentang Umi?”
“Umi ngomong apa
sih? Abi nggak ngerti Mi,”
“Kemarin, Umi
sengaja masak makanan favorit Abi, menyiapkan dua tiket untuk nonton bioskop
film Habibie dan Ainun seperti yang sudah kita rencakan, salah, yang sudah Abi
rencanakan, sebelumnya.. untuk momen spesial 3 tahun pernikahan kita, tapi Abi bahkan
tidak pulang semalaman, tidak memberi kabar dan ketika pulang, Umi mendapati
Abi pulang dengan wanita lain yang pakaiannya sama sekali tidak pantas, Abi
pikir bagaimana rasanya jadi Umi?”
“Astaghfirullah.. Maafkan Abi, Umi..”
Syam terduduk lemas.
“Dalam tidur, Umi
bermimpi Abi bersama wanita lain menggendong seorang bayi. Istri mana yang
pikirannya tidak macam-macam ketika sadar dirinya belum juga mampu memberi
keturunan untuk suaminya, Bi? Umi begitu takut Abi meninggalkan Umi.. Abi
bahkan lupa hari pernikahan kita, kan? Padahal Abi sendiri yang membuat
rencana..”
“Mi, Abi sudah
menjelaskan tentang kenapa Abi pulang terlambat dan siapa Asha bukan? Maafkan
Abi.. dan, Abi juga meminta maaf karena telah menggagalkan rencana kita.
Maafkan Abi yang pelupa..”
“Abi tidak pelupa,
Abi hanya tidak mau mengingat dengan baik.. Atau memang Abi tidak tau apa-apa
tentang Umi. Mungkin sekarang Abi lupa, siapa nama wanita yang Abi nikahi saat
ini? Apa kesukaannya? Bunga Favoritnya? Tidak? Abi tidak tau apa-apa? Abi sudah
tidak sayang sama Umi karena Umi belum mampu memberikan Abi keturunan sedangkan
orangtua Abi sudah menuntut momongan dari Abi, bukan?”
“Kenapa jadi
melebar seperti ini, Umi? Abi memang pelupa. Abi bukannya tidak mau mengingat
Umi.. Maafkan Abi, kalilain Abi akan membawa buku kemana-mana untuk mencatat
janji kita, dan Umi salah jika menyangka Abi melupakan semuanya tentang Umi.
Abi tau semuanya tentang Umi. Abi tau siapa wanita yang Abi nikahi, dia El-
Wardah Annisa. Sangat suka bahasa. Mawar pink dan dandelion? Ada yang salah
Umi? Abi hanya merasa Umi tau kalau Abi memahami Umi, meskipun Abi—kita—lebih banyak
diam, Abi pikir, begitulah cara kita selama ini saling mencinntai?” Syam
menangis. Wardah belum pernah menyaksikannya menangis selama ini, tapi Wardah
diam saja.
“Soal keturunan,
Allah lah yang menentukan kapan Ia akan menitipkan keturunan di tengah-tengah
keluarga kita, jika Abi tidak lagi menyayangi Umi karena permasalahan kecil
seperti ini, sungguh Abi bodoh. Apa pun yang ibu dan bapak katakan, Abi tidak akan
pernah menuntut Umi apa-apa.. selama Umi masih mau bertahan menemani Abi sampai
kita tua nanti, ada anak atau tidak, jika Abi berdua dengan Umi, tidak akan ada
masalah.”
Wardah terharu.
Istri mana yang tidak terharu jika diberikan kata-kata seperti itu dari seorang
suami yang notabene tidak berbakat
menjadi seorang pujangga? Wardah dan Syam, dua individu berbeda yang disatukan
Allah dalam satu ikatan suci pernikahan. Saling mengagumi satu sama lain,
saling mencintai satu sama lain. Cinta yang satu sama dalamnya dengan cinta
yang lain. Jika ada kesamaan yang membuat mereka merugi satu-satunya adalah,
gengsi. Harga diri yang terlewat tinggi dengan tingkat cemburu berlebih membuat
Wardah kadang memilih mengubur semuanya sendiri, berharap waktu membantunya memperbaiki
semua dengan sendirinya. Sedangkan Syam, ia terlalu kikuk untuk mengungkapkan
perasaannya, bahkan kepada istrinya sendiri.
“Abi, jika Abi
tidak akan pernah mendapatkan keturunan dari Umi, apakah Abi akan meninggalkan
Umi?” tanyaWardah. Ia sebenarnya tau jawaban apa yang akan diberikan oleh
suaminya, tapi ia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak berdiri sendirian
dengan perasaannya.
“Abi tidak bisa
memberikan Umi janji apapun, karena Allah lah yang Maha membolak-balikkan hati,
tapi dengan apa yang Abi miliki saat ini, Abi sudah merasa cukup dengan Umi,
ada atau tidak ada anak.” Wardah lega. Tapi ia masih belum mampu berkata
apapun. Ia meninggalkan suaminya sendirian di ruang makan sementara ia masuk
kamar. Mengambil scrapbook yang
berisi foto-foto perjalanan mereka selama 3 tahun ini dan menuliskan sesuatu di
halaman paling belakang buku tersebut. Ia menulis sebuah puisi, untuk Syam,
suaminya.
Selesai menulis
puisi tersebut, Wardah menelungkupkan wajahnya. Airmata masih terus membasah ia
terisak-isak sampai tertidur. Kurang tidur semalam serta perasaan lelah dalam
hatinya membuat kantuk menjadi satu-satunya pelipur. Syam ingin menyusul Wardah
ke kamar, tapi ia paham betul jika dalam kondisi seperti ini yang istrinya itu
butuhkan adalah menyendiri. Menunggu semuanya mereda. Pukul 10, Syam beranjak
dari kursinya. Ia memutuskan untuk mengajak Wardah sholat dhuha, setidaknya apapun kondisi hati mereka jika semuanya
dikemabalikan kepada yang Mahacinta, mereka tidak akan kehilangan pijakan.
‘klek..’ Syam membuka kenop pintu kamar
mereka. Ia melihat Wardah menelungkupkan wajahnya. Scrapbook yang berisi foto-foto perjalanan pernikanahan mereka
selama 3 tahun ia letaklan di sampingnya. Syam berjalan menghampiri istrinya,
namun sebelum tangannya bergerak membangunkan istrinya, ia menangkap sebuah
tulisan dalam scrapbook itu yang
sebelumnya belum pernah ia lihat. Maka, ia baca ambil scrapbook itu, dan ia baca. Puisi, untuknya.
Pukul tujuh
pagi
Matamu mulai
menyajikan drama
Yang sudah lama
Tak ditayangkan di
televisi
Kau hamparkan surat
kabar di seluas ruangan, berharap
Kata-kata kan
menutupi retak di dinding
Dan pecahan kata
jendela
Bagaimana rasanya
jadi lelaki?
yang teramat
dicintai
semesta kau remas
di tangan kananmu, sementara
tangan kirimu sibuk
memangkas awan
dan menaburkan
gerimis di bebukit gersang.
Kamu, lelakiku,
ialah cuaca yang tak pernah datang tepat waktu
matahari kau
padamkan tiap pagi, lalu
kau sajikan irisan
rembulan
Tiap malam,
lelakiku gemar mematahkan embun
lalu menyimpannya
diam-diam di liang mataku saat aku terlelap
aku pun terjaga
tiap pagi
Dengan rasa takut
kau tinggal pergi*
Mata Syam basah
membaca puisi yang ditulis oleh istrinya tersebut. Ia ingin membalas puisi
tersebut, tapi ia sadar ia tidak sepandai istrinya dalam hal merangkai kata,
maka ia putuskan untuk menulis hal lain dalam buku itu. Tepat di bawah puisi
tulisan istrinya, ia menulis puisi yang lain, bukan karyanya tapi ia menyukai
bagian puisi tersebut. Setelah menulis bagian puisi favoritnya, ia meletakkan
scrapbook itu di tempatnya semula kemudian ia mengambil wudhu. Ia memilih untuk
melaksanakan sholat dhuha di kamar,
tidak di mushola seperti biasanya. Ia keraskan bacaan sholatnya, agar Wardah
terbangun. Dan benar, memang Wardah terbangun. Ia mendapatkan scrapbook yang tadi ia tulisi, telah
terisi dengan tulisan lain..
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku
adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia. kau
ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
(Bagian puisi favoritku yang ditulis oleh BJ Habibie,
untuk Almh. Istrinya, Ibu Ainun)
*Maafkan aku, Wardah..
Mata Wardah basah.
Ia memandangi punggung suaminya. Wardah beranjak ke kamar mandi dan mengambil
air wudhu. Menempatkan posisinya di belakang sang suami. Melaksanakan sholat
dhuha bersama. Syam telah menyelesaikan 8 rakaatnya, dan berdiam dalam doa dan
munajah sementara Wardah masih menggenapi rakaatnya yang ke delapan. Selesai
melaksanakan dhuha mereka berdua
larut dalam doa masing-masing. Syam terisak dalam doanya, pun Wardah. mereka
berdua sama-sama menyerahkan segala permasalahan mereka pada Sang Maha. Selesai
dengan doanya masing-masing, mereka terdiam. Sama-sama kikuk untuk memulai
pembicaraan, sampai akhirnya Wardah memeluk suaminya dari belakang.
“Jangan katakan
apa-apa, Bi.” Pintanya. Maka berdua, mereka tetap terdiam. Sampai Wardah
melepaskan pelukannya, Syam berbalik menatap istrinya.
“Mungkin istriku
bukan siapa-siapa, tapi istrikulah yang membuatku merasa menjadi seorang suami
yang beruntung. Dan aku tau, ia lah satu-satunya mawar yang menjadi milik
matahari. Bersamanya, aku yakin bisa menciptakan kisah yang mungkin jauh lebih
indah dari kisah milik Pak Habibie dan Bu Ainun.” Ucap Syam.
Mata Wardah basah
tapi bibirnya mengurucutkan senyum yang manis. Syam juga tersenyum. Mereka berdua
tersenyum.
***
*) : Puisi tersebut
berjudul : Tentang Sepasang Suami Istri Pada Pukul Tujuh Pagi, karya Mbak
Fadhila Eka R. yang saya sadur dengan sedikit gubahan.
-Aesaazzam-

syam dan wardah...
BalasHapuskisah cinta "habibie ainun" versi antum,
mantap!
coba masalahnya dibikin lebih greget lagi
ana tunggu karya berikutnya
hehehe..
BalasHapussyukron.
tapi ini ngga ada apa-apanya sm ceritanya pak habibie sm bu ainun,
:D
iya, insyaAllah nanti bikin yg lebih greget lagi.