Kamis, 27 Desember 2012

Mbah Nem


“Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu.”
(HR. Nasa’i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329)

Subuh baru saja berlalu. Langit di cakrawala masih gelap dengan hiasan bulan sisa semalam. Rahman merapikan buku-bukunya ke dalam tas ransel usangnya. Setelahnya, ia bergegas membantu sang ayah memberi makan ayam peliharaan mereka yang jumlahnya tidak banyak. Rahman masih asik dengan ayam-ayamnya ketika ibunya memanggil dari arah dapur.
“Rahmaan..”
“Iya, bu..” jawabnya seraya berlari-lari kecil menghampiri ibunya.
“Tolong antarkan ini ke Mbah Nem ya? Bilang, untuk sarapan. Setelah itu kamu cepat mandi dan siap-siap ke sekolah.”
Rahman menerima rantang nasi yang diberikan ibunya. Iya berjalan santai ke arah rumah Mbah Inem yang letaknya hanya berjarak tiga rumah dari mereka. Sebenarnya Mbah Inem, atau yang lebih akrab ia sapa Mbah Nem, tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Mbah Nem merupakan satu dari sekian banyak orangtua yang hidupnya menjadi sebatang kara saat anak-anaknya sudah mapan dan punya keluarga masing-masing. Mbah Nem tinggal sendiri sejak suaminya meninggal, ketiga anak-anaknya yang tinggal di Jakarta sangat jarang datang untuk menengok sang ibu yang sudah renta, bahkan di hari raya sekalipun. Mbah Nem hidup dari perhatian tetangga-tetangga yang merasa kasihan padanya, termasuk Rahman dan keluarganya.
Rahman sampai di depan rumah Mbah Nem. Ia mengetuk-ngetuk pintu dan mengucapkan salam tapi tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Meskipun Mbah Nem sudah renta, selama ini ia masih sanggup berjalan perlahan dan membukakan pintu, tapi kali ini sudah sekitar lima menit Rahman mengetuk pintu dan mengucapkan salam Mbah Nem belum juga keluar untuk membukakan pintu. Rahman bertanya pada tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kecil Mbah Nem, ia mengira mungkin Mbah Nem sakit dan tidak bisa membukakan pintu dan tetangganya tahu bagaimana kondisi nenek renta itu.
“Pak Ali, Mbah Nem sakit ya? Kok saya ketuk-ketuk pintunya ndak ada tanggepan?” tanyanya pada Pak Ali yang pagi itu sedang mencuci sepeda motor bebek kesayangannya di halaman rumah.
“Sejak kemarin, saya kok belum lihat Mbah Nem sama sekali ya Man? Saya juga kurang tau.”
“Oh, begitu ya.. terus gimana dong pak? Saya kok jadi khawatir ya sama keadaan Mbah Nem?”
“Coba langsung buka kenoknya aja Man, siapa tau tidak dikunci.” kata Pak Ali memberi saran yang langsung dilakukan oleh Rahman. Ia memutar kenok pintu rumah Mbah Nem dan tenyata benar tidak dikunci.
Rahman masuk dan mencari-cari Mbah Nem di seluruh ruangan yang ada di rumah itu, tapi ia sama sekali tidak menemukan Mbah Nem. Akhirnya ia berjalan menuju kamar mandi yang letaknya ada di bagian belakang rumah dan terkaget karena menemukan Mbah Nem jatuh terduduk dan tidak lagi bernafas. Mbah Nem telah meninggal. Rahman berteriak meminta pertolongan dan Pak Ali yang saat itu masih berada di halaman rumah segera bergegas menghampiri Rahman.
Mbah Nem meninggal sejak kemarin, hal ini disimpulkan oleh warga sekitar dengan melihat kondisi tubuh Mbah Nem yang hampir kaku. Tetangga-tetangganya menangis iba pada nenek renta yang kini sudah almarhumah tersebut. Ia dimakamkan hari itu juga di pemakaman desa. Pemakaman yang sangat sederhana dan tanpa dihadiri oleh putra-putrinya. Rahman yang mencoba menghubungi anak-anak Mbah Nem harus menelan kekecewaan karena semua anak-anak Mbah Nem mengatakan mereka tidak bisa pulang untuk memakamkan ibunya karena kesibukan yang mereka jalani dan menyerahkan semua prosesi pemakaman kepada tetangga-tetangga Mbah Nem.
Rahman ingat betul kisah perjuangan Mbah Nem dalam membesarkan anak-anaknya, karena ibunya sering sekali menceritakan kisah Mbah Nem kepada Rahman dan adiknya. Kata ibunya, agar Ia dan Mutia, adiknya, belajar arti perjuangan hidup dari kisah hidup Mbah nem. Semasa ibu Rahman masih belum memiliki Rahman dan adiknya, Mbah Nem bekerja sebagai TKI di Saudi untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Mbah Nem yang telah menjanda sejak anak ke-3 nya masih berada dalam kandungan ini memulai kehidupan yang serba berkekurangan sejak ia ditinggal sang suami menghadap Allah terlebih dahulu. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja, dan sejak saat itu Mbah Nem hidup  dalam kesetiannya pada kesendirian untuk membesarkan anak-anaknya. Tiga bulan pertama sejak kematian almarhum suaminya, Mbah Nem bertahan hidup dengan menggunakan uang belasungkawa yang ia terima dari perusahaan tempat almarhum suaminya bekerja. Ia putar uang yang tidak seberapa jika dibandingkan nyawa suaminya itu dengan susah payah, dalam kondisi perut yang membuncit karena hamil tua, ia berkeliling menjajakan es lilin dan gorengan setiap pagi dan sore. Saat ia melahirkan anak ketiganya, uang sisa tunjangan kematian suaminya habis untuk biaya dokter. Belum lepas tali pusar putra ke-3 nya Mbah Nem sudah bekerja dari rumah ke rumah sebagai buruh masak dan buruh cuci. Saat putra ke-3 nya berumur 1 tahun, Mbah Nem memutuskan untuk merantau ke Saudi demi bisa menyukupi kebutuhan sekolah dan sehari-hari anak-anaknya. Shinta, putri sulungnya yang saat itu masih siswa kelas 1 SMP, ia amanahkan untuk menjaga dua adiknya, Bayu dan Adi. Menjaga dua adik yang usianya masih sangat kecil—Bayu saat itu masih duduk di bangku kelas 3 SD, sedangkan Adi baru berumur satu tahun—bukan merupakan hal yang mudah bagi Shinta kecil. Ia harus belajar demi sekolahnya, tapi ia juga harus menjaga dan mengajari adik-adiknya. Rahman mengingat stiap detail cerita dari kisah hidup Mbah Nem berdasarkan cerita-cerita yang ia dapatkan dari ibunya. Rahman ingat saat ia bertanya pada ibunya,
“Bu, kenapa sih ibu perhatian banget sama Mbah Nem? Beliau kan bukan siapa-siapanya ibu?”
Mendengar pertanyaan Rahman ini, ibunya hanya tersenyum dan mulai meceritakan apa yang telah ia saksikan pada diri Mbah Nem. Keteguhan Mbah Nem sebagai orangtua semata wayang bagi anak-anaknya serta kesetiannya terhadap almarhum suaminya membuat sosok Mbah Nem menjadi sosok luar biasa yang patut untuk dikagumi. Anak-anak Mbah Nem, mereka bertiga juga merupakan anak-anak yang luar biasa, terutama Shinta. Rahman ingat, saat Rahman duduk di bangku TK, Shinta berhasil masuk perguruan tinggi setelah ia bekerja untuk menabung biaya uang masuk kuliah selama dua tahun. Mbah Nem yang saat itu masih bekerja sebagai TKI di Saudi sangat bangga terhadap putri sulungnya itu. Uang yang dikirim Mbah Nem dari hasilnya bekerja sebagai TKI di Saudi bukannya tidak cukup untuk membiayai uang masuk kulaihnya, tapi saat itu Shinta, menurut penuturannya kepada ibu Rahman yang saat itu sempat menanyakan hal ini kepadanya, lebih memilih untuk menyimpan uang lebih kiriman ibunya dalam bentuk deposito, agar bisa digunakan adik-adiknya untuk meneruskan sekolah hingga ke bangku perguruan tinngi, sedangkan untuk dirinya sendiri, Shinta memilih untuk bekerja terlebih dahulu jika ia menginginkan untuk melanjutkan pendidikannya.
Belum selesai Rahman mengingat semua memori tentang kisah Mbah Nem dan keluarganya, ia dikagetkan oleh tepukan di bahunya.
“Man..” Rahman menoleh,
“Ibu, ayah.. ada apa ya?” kata Rahman yang buru-buru menghapus genangan air dalam kantung matanya, mengingat cerita tentang Mbah Nem membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
“Kamu menangis, le?” kata ibunya yang telah menangkap gerakan ringkas Rahman untuk menyamarkan airmata yang sudah terlanjur menggenangi kantung mata Rahman.
“Oh-eh, mm.. Rahman hanya sedang mengingat cerita-cerita ibu tentang Mbah Nem, dan.. yah..” Rahman belum sempat melanjutkan kata-katanya ketika tiba-tiba ayahnya mengangkat lengannya, memintanya berdiri. Ayah Rahman memeluk Rahman. Pelukan jantan seorang lelaki, sepertinya.
“Anak baik. Ayah tahu kamu turut berduka atas meninggalnya Mbah Nem. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menangis karena ayah berencana mengajakmu ke Jakarta.” Rahman terbengong.
“Kenapa, le?” Tanya ibu Rahman yang memerhatikan raut bingung Rahman.
“Maaf, ke Jakarta untuk apa, yah?”
“Ayah ingin menjemput anak-anak Mbah Nem. Shinta, Bayu, dan Adi.”
“Untuk, apa yah?”
“Ayah hanya ingin melihat, sesibuk apa mereka sampai tega melewatkan momen terakhir untuk ibu mereka karena alasan kesibukan.”
Sebelum Rahman sempat bertanya lebih lanjut kepada ayahnya, ia melihat sebuah mobil Honda CR-V berhenti di depan rumahnya. Dari pintu sopir, Rahman melihat seorang laki-laki tinggi, putih, yang seingatnya adalah Adi, putra bungsu Mbah Nem yang sekarang tengah menempuh pendidikan perguruan tingginya di Jakarta. Ia berjalan tergesa menghampiri Rahman dan orangtuanya—yang saat itu belum menyadari kedatangan anakanak Mbah Nem tersebut—diikuti oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki yang ia rasa adalah Shinta dan Bayu. Rahman berkata pada ayahnya,
“Yah, Rahman rasa kita tidak perlu ke Jakarta.”
“Kenapa? Kamu tidak mau le?”
“Bukan karena Rahman tidak mau yah, tapi karena orang yang ingin kita temui sudah di sini, di belakang ayah.” Selang satu detik setelah Rahman menyelesaikan kata-katanya, kedua orangtua Rahman segera berbalik, memastikan bahwa apa yang dikatakan Rahman benar.
Alhamdulillah.” Ucap ibu Rahman perlahan.
Adi yang pertama kali sampai di hadapan ayah dan ibu Rahman segera menyalami kedua orangtua Rahman. Matanya merah, jelas betul jika ia habis menangis. Shinta dan Bayu yang menyusul juga tidak terlihat lebih baik, mereka berdua sama-sama dalam keadaan berantakan.
“Assalamualaikum, Pak, Bu.” Kata Bayu sembari menyalami kedua orangtua Rahman.
“Waalaikumsalam, Bay..” jawab ayah Rahman.
Di belakang Bayu, Shinta dan Adi yang tadinya sampai lebih dulu tertunduk, entah malu akan perbuatan mereka entah apa.
“Pak, jenazah ibu sudah dimakamkan?” kata Bayu.
“Sudah, Bay.. sejak satu jam yang lalu janazah ibumu sudah kami makamkan.” Kata ayah Rahman.
“Bisa antarkan kami ke makam ibu, pak?”
“Bisa, tentu saja. Tapi, Rahman bilang kamu, Shinta, dan Adi tidak bisa pulang? Lantas, sekarang apa? Jika tau kalian akan kesini, kami pasti akan menunggu kalian datang untuk melihat ibu kalian buat yang terakhir kali.”
“Iya pak, maafkan kami bertiga. Semoga ibu pun memaafkan kami..” Bayu terdiam, tidak melanjutkan kata-katanya. Airmata menggantung di pelupuk matanya. Ayah Rahman melihat betul bahwa ketiga anak itu telah menyesali perbuatan mereka selama ini. Rahman menatap Bayu, Shinta, dan Adi bergantian. Ada lega yang menyusup, ‘Mbah Nem mungkin akan senang melihat anak-anaknya kemari jika ia masih hidup,’ batinnya.
“Rahman, antarkan Mas Bayu, Mas Adi, dan Mbak Shinta ke makam Mbah Nem ya. Ayah dan ibu akan mengurus pengajian untuk Mbah Nem nanti malam.” Belum sempat Rahman menjawab permintaan ayahnya, Adi mendahuluinya dengan bertanya pada ayah Rahman,
“Pak, untuk pengajian ibu, biarkanlah kami yang mengurus. Kami merasa bertanggungjawab atas itu.. dan, kami juga terlalu banyak merepotkan bapak, ibu dan tetangga-tetangga disini untuk sesuatu yang seharusmya menjadi tanggungjawab kami sebagai anak-anak ibu..”
“Kami tidak merasa direpotkan, dan untuk masalah pengajian.. malam ini biar kami dan para tetangga yang mengurus semuanya, besok barulah kalian.” Kata ayah Rahman.
“Baiklah jika demikian.” Kata Adi dan Bayu bersamaan.
“Ya, sekarang ikutlah Rahman. Dia yang akan mengantarkan kalian ke makam ibu kalian.”
Tanpa memperpanjang pembicaraan mereka, Rahman segera beranjak dari tempatnya. Ia berjalan dalam hening. Ada berbagai perasaan menguasai hatinya. Ditengah keheningan yang ada diantara mereka, suara isak Shinta menjadi semakin keras. Terdengar sesal teramat dalam isak itu.
“Mbak, sudah.. sudah..” Adi merangkul bahu kakaknya erat dan berusaha menenangkan kakaknya. Rahman yang mencuri pandang semua kejadian itu, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. ‘Penyesalan selalu hadir saat semuanya telah terlambat,’ batinnya.
Mereka berempat sampai di sebuah makam yang tanahnya masih basah. Bunga taburan pelayat masih menghiasinya. Shinta menangis keras-keras, ia jatuh berlutut di samping makam tersebut. Adi yang berusaha menopang kakaknya ikut jatuh berlutut. Hanya Bayu yang masih tegar berdiri. Ia berlutut perlahan di samping makam wanita yang telah melahirkannya itu. Mereka bertiga meneteskan airmata duka yang sama. Tidak. Bukan hanya duka, tapi juga sesal dan rindu. Sudah hampir 3 tahun mereka tak pernah pulang menyambangi ibu mereka yang telah renta itu dan saat mereka sambang saat ini, ibu mereka telah beristirahat dari segala perasaan kecewa yang ia rasakan selama ia masih hidup.
“Maafkan Shinta, ibu.. Shinta bersalah. Shinta lebih mengutamakan keluarga dan pekerjaan Shinta di Jakarta. Tidak mengacuhkan ibu.. Shinta telah durhaka ibu.. Maafkanlah Shinta jika Shinta masih pantas untuk dimaafkan.” Perempuan muda itu memeluk nisan makam ibunya seolah-olah itulah ibunya. Ia menjerit tertahan. Menangis dan terisak-isak di samping makam ibunya.
“Maafkan Bayu, ibu..”
“Maafkan Adi, ibu.. Adi pantas dihukum, mintalah pada Allah agar Adi dihukum. Anak lanangmu ini sudah durhaka terhadapmu ibu.. tidak memenuhi kewajibannya sebagai anak lanang yang seharusnya menjaga dan melindungi ibu. Adi sibuk merintis kuliah dan karir Adi, membiarkan ibu menua bersama kecewa akan sikap kami. Maafkanlah Adi, Mas Bayu, dan Mbak Shinta, ibu.. kami adalah anak-anak yang tidak tahu berterimakasih atas semua jasa-jasa ibu.” Mengikuti kakak perempuannya, Adi pun mulai menjerit tertahan. Menangis sebisanya. Memeluk tanah makam ibunya. Dari mereka bertiga, hanya Bayu yang tidak banyak bicara, tapi Rahman tahu bahwa ia pun sama dengan kedua saudaranya.
Gerimis senja menyapa pamakaman hari itu. Menunjukkan seolah-olah Bumi pun turut menangis atas kepergian Mbah Nem. Perempuan, istri, dan ibu yang tidak biasa. Rahman ikut menangis, ia mungkin tidak paham betul apa yang dirasakan ketiga anak Mbah Nem itu tapi ia bisa merasakan penyesalan mereka. Duka yang menggelayut di tenagh-tengah mereka melahap waktu dengan cepat. Menggerogoti sisa-sisa senyuman dan menggantinya dengan airmata yang perlahan mengering, berteman mata yang mulai membengkak. Sudah lebih satu jam mereka di makam Mbah Nem, tapi tidak satu pu  dari ketiga anak Mbah Nem mau beranjak dari makam ibunya. Mereka mungkin berharap bahwa waktu yang mereka lewatkan sekarang mampu menebus tiga tahun yang mereka lewatkan tanpa bakti terhadap ibu mereka. Tapi harapan hanyalah harapan ketika raga telah terpisah dari dunia. Waktu tiga tahun yang telah terlewatkan oleh mereka dan dilalui dengan penantian yang berbuah kekecewaan seorang ibu mungkin tak dapat tertebus dengan hanya ribuan menit yang mereka lewatkan dalam duka.
“Mbak, Mas, sudah hampir maghrib. Mari kita pulang, tidak baik menangisi yang telah pergi secara berlebihan. Mari kita berdoa untuk Mbah Nem, dan setelah itu kita kembali ke rumah.” Kata Rahman memecah suara isak Shinta dan Adi yang masih terdengar pilu. Bayu menangguk, mengiyakan kata-kata Rahman. Ia menegakkan tubuh Adi dan Shinta, sehingga mereka bertiga duduk berjongkok di samping makam Mbah Nem. Bertiga, mereka menunduk dalam. Rahman ikut berjongkok bersebrangan dengan mereka bertiga. Dalam hening senja, ketiga anak-anak Mbah Nem mendoakan ibu mereka yang telah pergi. Mencari ceceran maaf atas apa yang telah mereka lakukan.
Selesai. Bayu berdiri, mengangkat kedua saudaranya. Rahman memimpin jalan. Mereka meninggalkan tanah pemakaman itu tepat saat adzan maghrib berkumandang. Berjalan dalam hening, sekali lagi, seperti saat mereka berangkat tadi. Semuanya masih baik-baik saja sampai saat Shinta mulai mengigau,
“Bay, Di, ibu memanggil kita.. ibu meminta kita menemaninya. Ayo kita kembali menemani ibu..” tatapan matanya nanar. Bayu dan Adi mulai khawatir, mereka berdua saling bertatapan. Rahman juga sama bingungnya. Terlalu lama menunggu reaksi kedua adiknya, Shinta berbalik arah berlari ke arah makam ibunya. Bayu, Adi, juga Rahman menyusulnya. Sampainya mereka tepat di depan makam Mbah Nem, mereka medapati putri sulung Mbah Nem itu pingsan.



***

-Aesaazzam-

El-Wardah: Mawar Milik Matahari


Wardah mengetuk-ngetukkan jarinya di meja makan. Sayur bening lengkap dengan segala lauk pauk favorit suaminya telah siap ia hidangkan sejak lepas ashar tadi. Hari ini tepat 3 tahun mereka menikah. Wardah berniat memberi kejutan untuk suaminya, sepagian ia sibuk menghias kamar mereka, memasak segala masakan favorit suaminya. Tapi sekarang, semangatnya yang tadi pagi menggelora telah mendingin bersamaan dengan sayur bening dan lauk pauk yang telah ia hidangkan di meja makan. Suaminya pulang terlambat lagi, dan yang membuatnya bersedih adalah karena suaminya tidak mengirimkan satu sms pun untuk mengabarkan keterlambatannya. Wardah menangis. Ia telah mempersiapkan dua tiket bioskop untuk ia tonton bersama suaminya malam ini, dua tiket bioskop untuk film Habibie dan Ainun. Tapi sampai film itu hampir habis diputar di bioskop, suaminya belum juga pulang padahal ini sudah lewat pukul 10. Ia robek tiket bioskop itu dan menelungkupkan wajahnya. Terisak-isak. Ia tidak menangisi hilangnya kesempatan menonton film tersebut, atau sia-sianya usahanya sepagian ini dalam menyiapkan kejutan manis untuk suaminya. Sungguh tidak. Ia menangisi perubahan sikap suaminya akhir-akhir ini. Pikirannya mulai bergeriliya ke masa-masa awal pernikahan mereka.
Wardah dan suaminya, Syam, menikah tiga tahun lalu. Sebuah jawaban dari doa panjang yang ia panjatkan pada Sang Mahacinta. Satu tahun pertama mereka lewati dengan bahagia, pernikahan sempurna tanpa prahara. Memasuki tahun kedua, ribut-ribut kecil mulai mengambil peran dalam pernikahan mereka, dan semua itu selalu dimulai dari sifat pencemburu Wardah.  Ya, Wardah adalah seorang wanita pencemburu. Pernah suatu kali mereka bertengkar karena Wardah mencium aroma parfum di pakaian Syam, padahal laki-laki itu bukan penyuka parfum dan ia hanya mengenakan parfum jika akan sholat jum’at.
“Kamu beli parfum, Bi?”
“Tidak, kamu kan tau aku tidak suka memakai parfum Umi.”
“Lalu ini bau parfum siapa? Wanita lain?
“Innalillah.. bagaimana mungkin kamu berbicara seperti itu kepadaku, Mi? Telah hilangkah kepercayaanmu terhadapku?”
“Maaf Bi, tidak. Aku.. aku hanya,”
“Cemburu?”
“Ya.” Wardah menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia takut menatap mata suaminya. Namun Syam mengangkat wajahnya. Membuatnya menatap lurus biji zaitun yang tersimpan dalam sorot mata lelaki yang ia cintai sepenuh hati itu.
“Lihat mata Abi, Umi.” Katan Syam tegas. Wardah menatap lekat mata suaminya.
“Apakah Umi menemukan cinta untuk wanita lain dalam mata Abi?” Katanya sungguh dan dalam. Wardah menggeleng. Ia berkata perlahan,
“Abi, maafkan Umi.. Umi percaya pada Abi. Umi hanya tidak percaya dengan wanita-wanita di sekeliling Abi. Maafkan Umi, Bi.”
Syam memeluk istrinya itu erat. Dalam pelukannya Syam berusaha meyakinkan Wardah bahwa cintanya hanya untuk wanita itu. Tidak untuk yang lain.
Lamunan Wardah dibuyarkan oleh suara hujan yang tiba-tiba menderas di luar. Alam seolah berkomplot dengan hujan, menerjemahkan hati yang tak pernah mampu berkata-kata. ‘Hujan, tak pernah sepenuhnya air.. karena selalu ada kamu, Bi, di separuh tetesnya..’ gumamnya di tengah isak yang tak ada tanda-tanda akan segera reda. Ia tertidur, terlelap dalam isakan. Dalam mimpinya, ia menemukan Syam tengah bersama wanita lain. Mereka berdua menatap Wardah yang menatap ke arah mereka, yang membuat Wardah semakin sedih adalah hadirnya seorang bayi dalam gendongan Syam.
“Tidaaaaaaaaak....” Wardah terbangun dari mimpi buruk yang menghampirinya.
Astaghfirullah..” Ia beristighfar. Merasa tidak tenang dengan mimpi yang baru saja ia lihat, ia memutuskan untuk melaksanakan tahajjud. Ia melihat jam dinding yang menggantung di dinding ruang makan, sudah pukul 2 dini hari dan suaminya belum juga ada kabar. Rasa cemas merayapi hati Wardah, bukan lagi cemburu yang bertakhta di sana, hanya ada harap semoga di maana pun suaminya berada, ia selalu dalam lindungan Allah. Wardah menghabiskan malamnya dalam munajah panjang. Hingga subuh menyapa dan akhirnya ia mendengar suara sepeda motor suaminya memasuki beranda rumah mungil mereka.
“Assalamualaikum.” Ucapan salam itu milik Syam. Wardah lega bukan main, suaminya itu pulang juga.
“Waalaikumsalam.” Wardah bergegas membukakan pintu untuk suaminya. Pintu terbuka dan Wardah menubruk suaminya dengan pelukan, sayang. Syam membalas pelukan istrinya itu. Mereka masih tetap berpelukan sampai Wardah melihat ada sosok lain di belakang suaminya. Syam tidak pulang seorang diri, ia pulang bersama seorang wanita. Cantik dengan pakaian yang.. ‘Astaghfirullah,’ batinnya menengang. Sebagai seorang wanita normal, instingnya akan bahaya mulai berbicara, tapi ia menahannya agar kata-kata itu tidak keluar, meluncur dari satu-satunya senjata yang ia miliki, lidahnya.
“Masuk, Bi.. maaf, Aku memelukmu terlalu lama sampai tidak sadar jika kita kedatangan tamu.” Wardah mempersilahkan tamunya masuk sementara ia membawakan tas dan jaket suaminya ke kamar. Syam masuk ke kamar dan mengganti baju dan bergegas mengambil air wudhu. ‘Dia belum sholat?’ Wardah melihat jam dinding di kamar mereka, sudah pukul 5 lewat. Wardah berjalan ke arah dapur, menghangatkan lauk pauk yang kemarin ia masak, membuat sayur bening sekali lagi, dan secangkir teh hangat untuk wanita yang pulang bersama suaminya.
“Silahkan Mbak, diminum dulu tehnya. Mbak mau baju ganti?” Wardah berusaha sopan terhadap wanita berpakain kantoran yang minim kain itu. Ia bertindak layaknya tidak ada badai yang tengah merajai hatinya saat ini. Ia bertindak sesuai dengan apa yang agamanya ajarkan. Wanita itu menyaut,
“Terimakasih, Mbak. Mm, boleh Mbak, jika Mbak tidak berekberatan meminjamkan baju untuk saya, tapi sebelumnya maaf jika saya berlaku tidak sopan karena belum memperkenalkan diri. Kenalkan, nama saya Asha.” Kata wanita itu seraya meyodorkan tangannya. Wardah menyambutnya, berusaha tetap hangat meskipun kenyataannya ia hampir pingsan menahan segala buncah dalam hatinya. Ia mungkin seorang muslimah yang taat, tapi ia juga merupakan seorang istri dengan kadar cinta yang besar—meski tidak sebesar cintanya kepada Tuhannya—kepada suaminya.
“Wardah. Baiklah, saya ambilkan baju saya dulu.” Katanya singkat. Ia berjalan menuju kamarnya. Syam masih di sana. Berdiri menatap pintu, seolah-olah ia memang sengaja berdiri mengunggu Wardah. Wardah tidak berkata apapun. Ia menuju lemari dan mengambil satu gamis terbaiknya untuk diberikan kepada Asha. Sebelum ia keluar kamar, Syam menahan tangannya. Ia meraih tangan istrinya dan membawanya dalam pelukan.
“Maaf..” lirihnya.
“Umi harus memberikan ini kepada teman Abi. Maaf, tidak sekarang.” Wardah melepaskan dirinya dari pelukan Syam. Ada kristal bening yang terlanjur meloloskan diri dari benteng rapuh yang ia bangun di pelupuk matanya. Ia memeberikan baju itu dengan segera, menjelaskan di mana letak kamar mandi, dan mempersilahkan Asha untuk mengganti baju. Setelah itu, ia beranjak ke dapur. Mempersiapkan sarapan untuk ia, suaminya dan tamu mereka.
Asha keluar dari kamar mandi, Wardah menyilahkannya untuk duduk di meja makan untuk sarapan bersama sementara ia berjalan ke kamarnya untuk memanggil Syam.
Dan, duduklah mereka bertiga di meja makan. Mereka makan dalam hening. Asha yang merasa tidak nyaman dengan suasana yang hening itu berusaha memecah sunyi dengan memuji masakan Wardah,
“Mbak Wardah ini, pintar sekali memasak ya? Masakannya enak lho. Mas Syam pasti seneng banget dimasakin begini enaknya setiap hari.” Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman tulus, sepertinya. Syam hanya membalas perkataan Asha dengan senyuman singkat, sementara yang dipuji, Wardah, tidak mengatakan apapun. Tersenyum pun, tidak. Merasa tidak ditanggapi oleh tuan rumahnya, Asha akhirnya menyerah dan melanjutkan makannya dalam diam.
Selesai makan, Asha menawarkan diri untuk membantu Wardah mencuci piring sebagai balasan atas sarapan yang telah ia dapatkan, namun atas nama sopan santun sebagai tuan rumah Wardah menolaknya. Akhirnya Asha pamit pulang kepada Syam dan Wardah.
Sekarang hanya tinggal mereka berdua. Syam dan Wardah. Syam menunggu Wardah membukan keheningan di antara mereka, tetapi ia tidak juga membuka mulutnya. Wardah sendiri bingung harus mengatakan apa, terlalu banyak yang ingin ia katakan dan semua itu menegrucut pada diam. Syam tidak lagi tahan, ia membuka pembicaraan,
“Katakan sesuatu Umi.. Abi tau Umi ingin menanyakan sesuatu.” Wardah masih diam. Lima menit yang sunyi kembali berlalu.
“Abi darimana semalam?” tanya Wardah akhirnya.
Alhamdulillah.. akhirnya. Baiklah, Abi akan jelaskan.. Umi, kemarin Abi tiba-tiba mendapatkan tugas untuk mengahdiri sebuah rapat di hotel Trio Indah, rapat itu untuk membahas proyek yang akan perusahaan Abi jalankan.”
“Dengan Asha?” Wardah mulai menangis. Ia sebal pada dirinya sendiri, kenapa ia tidak bisa menahan pertanyaan ini meluncur dari mulutnya.
“Iya Umi, dengan Asha. Asha adalah sekretaris bos Abi, tapi karena bos Abi juga sedang ada urusan di Surabaya, jadi Abi diminta menggantikannya, dengan Asha.”
“Bermalam di hotel? Kenapa Abi tidak memberi kabar apa pun kepada Umi?”
“Iya Umi, kami bermalam di hotel. Di kamar yang berbeda tentunya. Abi sebenarnya ingin menghubungi Umi, tapi rapat berakhir pukul 11 malam. Abi takut akan mengganggu tidur Umi jika Abi harus menelpon selarut itu.”
“Umi bahkan tidak tidur sampai pukul 12 malam, menunggu kabar dari Abi. Tapi, yasudahlah.. sudah berlalu.”
“Umi tidak marah?” tanya Syam takut-takut. Ia sungguh mencintai wanita itu, Wardah, istri yang ia persunting 3 tahun yang lalu itu sudah berhasil mencuri perhatiannya sejak mereka masih duduk di bangku kuliah. Ia takut jika ia menyakiti wanita itu, karena ia tidak pernah ingin menyakitinya.
“Marah atau tidak itu tidak penting lagi sekarang, yang penting Abi pulang dalam keadaan selamat.” Pungkasnya. Sejujurnya ia masih marah, masih banyak yang ingin ia katakan, tapi ia menahan semua itu. Menahannya samapai ke dasar emosinya. Dan mereka kembali terdiam.
“Mi, kok tumben sih pagi-pagi tadi kamu sudah masak selengkap itu. Sayur bening dengan lauk pauk lengkap favorit Abi, kapan belanjanya?” Kata-kata Syam ini justru menjadi pemantik api bagi emosi yang baru saja Wardah kubur ke dalam dasra yang paling dalam. Sekarang, pertanyaan yang baru saja Syam lontarkan itu justru membangunkan kembali emosi itu, maka Wardah tidak lagi sanngup bertahan dalam diamnya, ia menangis terisak-isak membuat Syam kebingungan.
“Umi, Abi salah ngomong ya?” tanyanya dengan raut muka kebingungan.
“Abi memang tidak pernah lama mengingat sesuatu ya? Atau memang Abi tidak pernah peduli? Atau jangan-jangan Abi memang tidak tau apaun tentang Umi?”
“Umi ngomong apa sih? Abi nggak ngerti Mi,”
“Kemarin, Umi sengaja masak makanan favorit Abi, menyiapkan dua tiket untuk nonton bioskop film Habibie dan Ainun seperti yang sudah kita rencakan, salah, yang sudah Abi rencanakan, sebelumnya.. untuk momen spesial 3 tahun pernikahan kita, tapi Abi bahkan tidak pulang semalaman, tidak memberi kabar dan ketika pulang, Umi mendapati Abi pulang dengan wanita lain yang pakaiannya sama sekali tidak pantas, Abi pikir bagaimana rasanya jadi Umi?”
Astaghfirullah.. Maafkan Abi, Umi..” Syam terduduk lemas.
“Dalam tidur, Umi bermimpi Abi bersama wanita lain menggendong seorang bayi. Istri mana yang pikirannya tidak macam-macam ketika sadar dirinya belum juga mampu memberi keturunan untuk suaminya, Bi? Umi begitu takut Abi meninggalkan Umi.. Abi bahkan lupa hari pernikahan kita, kan? Padahal Abi sendiri yang membuat rencana..”
“Mi, Abi sudah menjelaskan tentang kenapa Abi pulang terlambat dan siapa Asha bukan? Maafkan Abi.. dan, Abi juga meminta maaf karena telah menggagalkan rencana kita. Maafkan Abi yang pelupa..”
“Abi tidak pelupa, Abi hanya tidak mau mengingat dengan baik.. Atau memang Abi tidak tau apa-apa tentang Umi. Mungkin sekarang Abi lupa, siapa nama wanita yang Abi nikahi saat ini? Apa kesukaannya? Bunga Favoritnya? Tidak? Abi tidak tau apa-apa? Abi sudah tidak sayang sama Umi karena Umi belum mampu memberikan Abi keturunan sedangkan orangtua Abi sudah menuntut momongan dari Abi, bukan?”
“Kenapa jadi melebar seperti ini, Umi? Abi memang pelupa. Abi bukannya tidak mau mengingat Umi.. Maafkan Abi, kalilain Abi akan membawa buku kemana-mana untuk mencatat janji kita, dan Umi salah jika menyangka Abi melupakan semuanya tentang Umi. Abi tau semuanya tentang Umi. Abi tau siapa wanita yang Abi nikahi, dia El- Wardah Annisa. Sangat suka bahasa. Mawar pink dan dandelion? Ada yang salah Umi? Abi hanya merasa Umi tau kalau Abi memahami Umi, meskipun Abi—kita—lebih banyak diam, Abi pikir, begitulah cara kita selama ini saling mencinntai?” Syam menangis. Wardah belum pernah menyaksikannya menangis selama ini, tapi Wardah diam saja.
“Soal keturunan, Allah lah yang menentukan kapan Ia akan menitipkan keturunan di tengah-tengah keluarga kita, jika Abi tidak lagi menyayangi Umi karena permasalahan kecil seperti ini, sungguh Abi bodoh. Apa pun yang ibu dan bapak katakan, Abi tidak akan pernah menuntut Umi apa-apa.. selama Umi masih mau bertahan menemani Abi sampai kita tua nanti, ada anak atau tidak, jika Abi berdua dengan Umi, tidak akan ada masalah.”
Wardah terharu. Istri mana yang tidak terharu jika diberikan kata-kata seperti itu dari seorang suami yang notabene tidak berbakat menjadi seorang pujangga? Wardah dan Syam, dua individu berbeda yang disatukan Allah dalam satu ikatan suci pernikahan. Saling mengagumi satu sama lain, saling mencintai satu sama lain. Cinta yang satu sama dalamnya dengan cinta yang lain. Jika ada kesamaan yang membuat mereka merugi satu-satunya adalah, gengsi. Harga diri yang terlewat tinggi dengan tingkat cemburu berlebih membuat Wardah kadang memilih mengubur semuanya sendiri, berharap waktu membantunya memperbaiki semua dengan sendirinya. Sedangkan Syam, ia terlalu kikuk untuk mengungkapkan perasaannya, bahkan kepada istrinya sendiri.
“Abi, jika Abi tidak akan pernah mendapatkan keturunan dari Umi, apakah Abi akan meninggalkan Umi?” tanyaWardah. Ia sebenarnya tau jawaban apa yang akan diberikan oleh suaminya, tapi ia hanya ingin memastikan bahwa ia tidak berdiri sendirian dengan perasaannya.
“Abi tidak bisa memberikan Umi janji apapun, karena Allah lah yang Maha membolak-balikkan hati, tapi dengan apa yang Abi miliki saat ini, Abi sudah merasa cukup dengan Umi, ada atau tidak ada anak.” Wardah lega. Tapi ia masih belum mampu berkata apapun. Ia meninggalkan suaminya sendirian di ruang makan sementara ia masuk kamar. Mengambil scrapbook yang berisi foto-foto perjalanan mereka selama 3 tahun ini dan menuliskan sesuatu di halaman paling belakang buku tersebut. Ia menulis sebuah puisi, untuk Syam, suaminya.
Selesai menulis puisi tersebut, Wardah menelungkupkan wajahnya. Airmata masih terus membasah ia terisak-isak sampai tertidur. Kurang tidur semalam serta perasaan lelah dalam hatinya membuat kantuk menjadi satu-satunya pelipur. Syam ingin menyusul Wardah ke kamar, tapi ia paham betul jika dalam kondisi seperti ini yang istrinya itu butuhkan adalah menyendiri. Menunggu semuanya mereda. Pukul 10, Syam beranjak dari kursinya. Ia memutuskan untuk mengajak Wardah sholat dhuha, setidaknya apapun kondisi hati mereka jika semuanya dikemabalikan kepada yang Mahacinta, mereka tidak akan kehilangan pijakan.
klek..’ Syam membuka kenop pintu kamar mereka. Ia melihat Wardah menelungkupkan wajahnya. Scrapbook yang berisi foto-foto perjalanan pernikanahan mereka selama 3 tahun ia letaklan di sampingnya. Syam berjalan menghampiri istrinya, namun sebelum tangannya bergerak membangunkan istrinya, ia menangkap sebuah tulisan dalam scrapbook itu yang sebelumnya belum pernah ia lihat. Maka, ia baca ambil scrapbook itu, dan ia baca. Puisi, untuknya.

Pukul tujuh pagi
Matamu mulai menyajikan drama
Yang sudah lama
Tak ditayangkan di televisi
Kau hamparkan surat kabar di seluas ruangan, berharap
Kata-kata kan menutupi retak di dinding
Dan pecahan kata jendela

Bagaimana rasanya jadi lelaki?
yang teramat dicintai
semesta kau remas di tangan kananmu, sementara
tangan kirimu sibuk memangkas awan
dan menaburkan gerimis di bebukit gersang.

Kamu, lelakiku, ialah cuaca yang tak pernah datang tepat waktu
matahari kau padamkan tiap pagi, lalu
kau sajikan irisan rembulan

Tiap malam, lelakiku gemar mematahkan embun
lalu menyimpannya diam-diam di liang mataku saat aku terlelap
aku pun terjaga tiap pagi
Dengan rasa takut kau tinggal pergi*
Mata Syam basah membaca puisi yang ditulis oleh istrinya tersebut. Ia ingin membalas puisi tersebut, tapi ia sadar ia tidak sepandai istrinya dalam hal merangkai kata, maka ia putuskan untuk menulis hal lain dalam buku itu. Tepat di bawah puisi tulisan istrinya, ia menulis puisi yang lain, bukan karyanya tapi ia menyukai bagian puisi tersebut. Setelah menulis bagian puisi favoritnya, ia meletakkan scrapbook itu di tempatnya semula kemudian ia mengambil wudhu. Ia memilih untuk melaksanakan sholat dhuha di kamar, tidak di mushola seperti biasanya. Ia keraskan bacaan sholatnya, agar Wardah terbangun. Dan benar, memang Wardah terbangun. Ia mendapatkan scrapbook yang tadi ia tulisi, telah terisi dengan tulisan lain..

Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia. kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.

(Bagian puisi favoritku yang ditulis oleh BJ Habibie, untuk Almh. Istrinya, Ibu Ainun)

*Maafkan aku, Wardah..

Mata Wardah basah. Ia memandangi punggung suaminya. Wardah beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudhu. Menempatkan posisinya di belakang sang suami. Melaksanakan sholat dhuha bersama. Syam telah menyelesaikan 8 rakaatnya, dan berdiam dalam doa dan munajah sementara Wardah masih menggenapi rakaatnya yang ke delapan. Selesai melaksanakan dhuha mereka berdua larut dalam doa masing-masing. Syam terisak dalam doanya, pun Wardah. mereka berdua sama-sama menyerahkan segala permasalahan mereka pada Sang Maha. Selesai dengan doanya masing-masing, mereka terdiam. Sama-sama kikuk untuk memulai pembicaraan, sampai akhirnya Wardah memeluk suaminya dari belakang.
“Jangan katakan apa-apa, Bi.” Pintanya. Maka berdua, mereka tetap terdiam. Sampai Wardah melepaskan pelukannya, Syam berbalik menatap istrinya.
“Mungkin istriku bukan siapa-siapa, tapi istrikulah yang membuatku merasa menjadi seorang suami yang beruntung. Dan aku tau, ia lah satu-satunya mawar yang menjadi milik matahari. Bersamanya, aku yakin bisa menciptakan kisah yang mungkin jauh lebih indah dari kisah milik Pak Habibie dan Bu Ainun.” Ucap Syam.
Mata Wardah basah tapi bibirnya mengurucutkan senyum yang manis. Syam juga tersenyum. Mereka berdua tersenyum.



***




*) : Puisi tersebut berjudul : Tentang Sepasang Suami Istri Pada Pukul Tujuh Pagi, karya Mbak Fadhila Eka R. yang saya sadur dengan sedikit gubahan.


-Aesaazzam-



Senin, 22 Oktober 2012

Dialog Malam


Di sebuah pelataran, di antara hamparan senja, yang
merayap, menepi
Perlahan gelap menggulung langit malam yang tampak sepi

Semua bintang telah tercuri
wirid lemah bertanya:
“siapa pencuri? mengoyak semestaku dengan berani.”

di antara mendung yang mengepung bulan yang berpendar pudar
terdengar bisikan dari angin yang lalu:
“aku adalah cinta yang bersembunyi di balik rasa malu, diam-diam
kukoyak semestamu dari jauh,”


Lalu daun yang menari-nari begitu liarnya mengumandangkan nyanyian jawab:
“aku adalah kisah lalu dan masa depan,
yang akan menua bersamamu,”

-aesaazzam-