Sabtu, 06 Juli 2013

Before I say, “I do”


Aku duduk di sudut sebuah kafe bernuansa klasik favoritku. Musik instrumen “Reason” yang sejak tadi terus diputar oleh sang pegawai kafe menemaniku menyesap latte yang sekarang tinggal setengah. Sudah dua puluhan menit berlalu sejak aku tiba di kafe ini, kuketuk-ketukkan jariku di meja sambil menatap pintu kafe yang sedang sepi pengunjung ini. Lima menit ekstra telah berlalu, dua pengunjung, laki-laki dan perempuan, melangkah masuk dan duduk di meja yang berlawanan arah dengan mejaku. Pasangan kekasih, tebakku. Aku kembali mengalihkan pandanganku ke pintu masuk, di kejauhan aku melihat seseorang berambut gondrong tengah memarkirkan motornya, orang yang kutunngu sudah datang.
Laki-laki berambut gondrong ini mengenakan kemeja berwarna krem dan celana panjang berwarna khaki. Senyumnya mengembang menatapku, kutundukkan wajahku risih. Ia duduk di hadapanku dengan senyum yang masih mengembang.
“ Sudah lama?” sapanya.
“Dua puluh lima menit. Bisa nggak sih kalau janji on-time dikit? Kamu pikir kamu aja yang sibuk?” tegurku dengan nada sedikit tinggi, tapi yang ditegur malah tersenyum girang, terlihat sekali ia menikmati ekspresiku ketika marah. Aku menunduk jengah. Beberapa menit berlalu dengan aku yang masih menunduk. Lelah menunggunya berhenti tersenyum-senyum sendiri, aku kembali menegurnya, kali ini dengan nada tegas.
“Bram, kalau kamu masih mau asik dengan senyum-senyum anehmu itu mending aku pulang deh.”
Bram mengganti senyum-senyum sendirinya dengan ekspresi datar. Kali ini ia menatapku dalam, sementara aku meyibukkan diri mengalihkan pandangan dengan memutir ujung kerudungku. Di tatap sedemikian rupa oleh seorang lelaki yang pernah dengan terang-terangan mengatakan menyukaiku membuatku merasa semakin tidak nyaman.
“Bram..” tegurku ulang. Ia terkesiap, seperti kembali dari alam penjelajahannya yang entah dimana.
Lelaki bernama lengkap Aditya Bramantyo itu kini menatapku serius. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya berkata,
“Naskah novelmu sudah di ACC sama Mbak Uci, aku ditunjuk jadi editormu karena Mbak Uci sudah penuh kerjaannya. Kita dikasih waktu dua bulan buat nyelesain editing buat novelmu.”
Aku mengangkat kepalaku, menatapnya yang balas menatapku. Aku menggeleng-gelengkan kepala.
“Kamu? Nggak-nggak.. aku nggak mau kalau kamu yang jadi editorku, nggak ada editor lain apa? Mbak Ika, Mas Re, atau siapa kek.. kenapa kamu?” kataku ketus.
“Siapa lagi? Mbak Ika sama Mas Re juga udah penuh, tinggal aku yang masih longgar. Penerbit kita cuma punya 4 editor buat novel, kalau kamu nggak mau aku yang jadi editormu yaudah nggak usah nerbitin novel.” Jawabnya dengan ekspresi sedatar papan talenan.
Aku menghela nafas berat. Bayangan akan bertemu Bram setidaknya empat kali dalam seminggu memenuh kepalaku, ‘mana mungkin?’ batinku. Melihatku yang terlihat sangat tidak puas dengan keputusan sepihak Mbak Uci yang memilihnya menjadi editorku Bram kembali mengembangkan senyumnya.
“Ini namanya berkah.” Katanya. Aku tidak menanggapi perkataannya.
“Berhubung waktunya Cuma dua bulan, jadi aku harap kamu bisa bekerja sama dengan baik ya? Kita ketemu setidaknya seminggu empat kali, tempatnya nanti aku kabari sebelum kita ketemu. Aku sudah baca dan menurutku cukup bagus, tapi masih perlu editing di beberapa bagian, kita mulai minggu depan ya, oke?” katanya.
“Oke.” Jawabku singkat. Aku berdiri untuk membayar bill dari minumanku, dan pamit.
“Aku duluan, kalau ada apa-apa sms aja.” Kataku. Bram menahanku dengan menarik tanganku yang buru-buru dilepaskannya kembali.
“Sori, lupa.” Katanya sungkan dengan ekspresi wajah bersalah, aku hanya menganggukkan kepalaku, maaf diterima. Bram menghembuskan nafas lega. Sebagai seseorang yang sudah lama mengenalku, ia tahu benar aku menolak segala jenis kontak fisik dengan laki-laki yang bukan mukhrimku.
“Kamu balik sama siapa?” tanyanya.
“Motor. Aku bawa motor.” Jawabku singkat.
“Ada lagi?” tanyaku balik, memastikan ia tidak menahan langkahku lagi. Ia menggeleng lalu tersenyum.
“Take care, jangan ngebut.” Katanya lembut. Aku kembali mengangguk singkat dan bergegas keluar dari kafe itu.
Dalam perjalanan pulang, kucoba menghilangankan tekanan dalam pikiranku yang  masih dipenuhi dengan bayangan pertemuan-pertemuan yang akan aku lewati selama proses editing bersama Bram. Kutambah laju motor matic-ku menjadi 60km/ jam, angin dan udara lembab Jogja yang sedang digelayuti mendung mencoba berkawan dengan kegelisahan yang diam-diam menyelinap, membuat pikiranku semakin penuh dan tidak nyaman. Semoga tidak ada badai.


Minggu 1
Hari senin, pertemuan pertama proses editing novelku bersama Bram. Sudah satu jam berlalu sejak waktu janjian yang sudah kami sepakati, ‘Mister Telat’, batinku mengeluh. Mobil sedan merah memasuki area parkir salah satu toko kue sekaligus kafe di pinggiran kota Jogja tempatku menunggu Bram saat ini. Seorang laki-laki berambut gondrong dengan kemeja maroon keluar dari sedan itu.
“Akhirnya..” aku menghela nafas, kesal sekaligus lega.
Bram melangkahkan kainya terburu-buru memasuki kafe, menuju tepat ke arahku. Cukup sigap untuk tahu posisiku secara tepat di tengah susasana kafe yang lumayan rame.
“Sori, telat banget ya? Aku ada meeting tadi, sori banget.” Akunya begitu sampai di tempatku menunggunya. Aku diam, membiarkannya tenggelam dalam rasa bersalah selama beberapa saat aku rasa tidak ada salahnya. Bram kikuk, ia menarik kursi di depanku dan memosisikan dirinya untuk duduk di sebelahku, aku menarik kursiku menjauh, menjaga jarak.
“Sori.” Katanya singkat, mengerti. Aku masih diam. Ia mengeluarkan laptopnya, setelah proses loading selama beberapa saat, ia melanjutkan berbicara.
“Marah banget ya? Sori Zia, sori banget.. aku nggak ada maksud ngerjain kamu atau...”
“Jadi kamu mau ngerjain aku?” aku memotong perkataannya.
“Zia, please? Aku nggak ada maksud begitu... aku beneran ada meeting tadi, tanyain Mbak Uci deh...” katanya meyakinkanku.
“Setidaknya kamu bisa sms aku. Ah, sudahlah... nggak akan habisnya kalau aku ngomong sama kamu, langsung aja deh...” kataku menyudahi.
Handphoneku low-batt dan...” Bram tidak  melanjutkan pembelaannya karena ia melihatku mengemasi dompet dan tasku.
“Oke, oke. Aku salah, kita langsung aja. Ini bagian yang menurutku harus sedikit diperhalus di novelmu, bab satu, proses perkenalannya terlalu panjang, kebanyakan detail, coba baca.” Katanya serius, ia mengarahkan monitor laptopnya kepadaku. Aku yang kembali meletakkan tasku dalam posisiku semula mulai membaca hasil editingnya, ‘missing parts..’ batinku. Aku sengaja menambahkan detail dalam bagian pertama, karena bagian ini adalah bagian yang cukup penting menurutku. Aku melihat Bram mengawasiku yang tengah mengerut-ngerutkan kening dari sudut mataku, aku beredeham. Ia mengalihkan pandangannya, melihat-lihat sekitar kafe sebentar, lalu kembali menatapku diam dan dalam, ‘Allah...’ aku membatin.
“Gimana?” tanya Bram setelah beberapa saat.
“Aku minta salinannya, biar aku baca lagi di rumah, Rabu aku  kasih tau kamu hasilnya. Nih...” kataku sembari menyodorkan flashdisk-ku kepadanya.
Bram menyerahkan flashdisk-ku tanpa berkata-kata dan  aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam tasku. Saat aku bersiap-siap untuk meninggalkan kafe tersebut, Bram menahanku dengan pertanyaannya.
“Sebentar, Zia...” katanya. Aku menahan langkahku, menunggu. Ia melanjutkan kata-katanya.
“Kamu, mm, kamu...” katanya terbata, aku mulai tidak sabar.
“Aku? Kenapa?” tanyaku.
“Kamu kenapa sih nggak suka banget sama aku?” katanya. Selesai bertanya demikian, ia memalingkan wajahnya yang terlihat memerah. Aku terkesiap, tidak siap dengan jawaban. Aku diam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab,
“kata siapa aku nggak suka BANGET sama kamu?” kataku dengan menekankan kata ‘banget’ ke dalam jawabanku. Bram diam. Aku melanjutkan jawabanku.
“Aku Cuma nggak suka sama cowok gondrong. Not nice.” Kataku.


Rabu, pertemuan kedua proses editing novelku bersama Bram. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya, Bram telah menungguku di ruangannya. Ia memberiku kejutan kecil dengan potongan rambut terbarunya hari ini. Aku memasuki ruangannya yang beraroma lavender ini dengan tidak nyaman.
“Pagi, Zia...” Sapanya dengan senyum mengembang. Aku tidak menjawab.
“Aku sudah baca, dan aku nggak suka. Terlalu banyak sentuhanmu Bram. Ada beberapa yang aku setuju untuk merubahnya, tapi ada juga yang aku keberatan untuk merubahnya. Aku sengaja menambahkan detail di bagian pertama, karena dari sanalah cerita ini berawal, titik tolak. Menurutku detail yang aku tambahkan di sana nggak ngerusak kok, oke aja.. yaah, ada sih yang aku setuju sama kamu, harus diilangin, tapi untuk yang lain-lain, aku rasa nggak masalah. Ini...” kataku to-the-point sambil menyerahkan draf editing yang sudah kucetak tadi pagi. Aku tidak ingin berlama-lama dalam ruangan ini, entah kenapa. Bram tampak kecewa aku tidak memberikan tanggapan tentang ‘kejutan kecil’nya. Ia menerima draf-ku dan membolak-baliknya beberapa kali.
“Oke.” Katanya singkat.
“Oke?” tanyaku meminta penjelasan.
“Oke, bab satu  selesai. Aku setuju, bagus. Untuk bab dua, aku nggak ada masukan apapun, beberapa ejaan aja yang kayaknya perlu dikoreksi. Kita ke bab tiga, langsung?” katanya serius, membuatku sedikit tidak siap dengan reaksinya yang sedikit di luar kebiasaannya yang gemar mengulur-ulur waktu.
“Zia?” tanya Bram mengagetkanku. Aku merasa aneh, ada sesuatu yang ingin kusangkal dalam hatiku, kenyataan bahwa aku sedikit kecewa dengan reaksi Bram yang di luar dugaan membuatku  tidak nyaman. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku, Bram menatapku, menunggu.
“Oke, bab tiga, kenapa?” jawabku setelah beberapa saat.
“Kamu sakit?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng, tapi sejujurnya kepalaku memang sedikit pusing secara tiba-tiba.
“Lagi ada masalah?” tanyanya lagi, aku menggeleng.
You have my shoulders Zi, anytime...” katanya dengan tatapan sendu yang semakin membuatku risih dan ingin segera lenyap dari ruangan itu.
“Bram, aku  nggak pa-pa. Kembali ke topik awal, bab tiga, kenapa?” kataku dengan nada ketus yang sama sekali tidak kumaksudkan untuk terdengar demikian. Bram menatapku dalam sebelum akhirnya ia menyerahkan pc tablet miliknya yang telah berisi catatan untuk bab tiga novelku. Aku membacanya tanpa berkomentar.
“Tolong kirim salinannya ke email-ku ya. Sori, aku ijin duluan, harus gantiin ngajar dadakan. Thanks.” Kataku bergegas, tidak menunggunya meresponku.
Keluar dari kantor penerbitan yang cukup ternama di Jogja itu, hatiku menjadi tidak karuan. Sejauh sepuluh meter sejak aku meninggalkan kantor penerbit itu, aku tahu, satu bagian dari dalam diriku tidak lagi utuh. Penyangkalan bertemu dengan kegagalan, entah bagaimana.


Pertemuan-pertemuan selanjutnya tidak berjalan lancar. Sejak aku tahu bahwa bagian dalam diriku tertinggal dalam sebuah ruangan di kantor penerbitan ternama Jogja siang itu, susana hatiku tidak menunjukkan sesuatu yang ramah. Aku telah menempatkan Bram dalam posisi yang serba salah, dan entah bagaimana aku menikmati rasa bersalahnya. Aku tahu, ia tidak membuat kesalahan apapun, setiap masukannya untuk novelku pun positif, tapi entah kenapa respon yang kuberikan selalu negatif. Pada minggu keempat, yang berarti sudah satu bulan sejak proses editing novelku bersama Bram dimulai, Bram mulai terlihat emosi dengan sikapku yang angin-anginan  dengan emosi yang tidak bisa dikatakan  normal dan stabil.
“Kamu niat nggak sih ngerjain novel ini? Kalau semua proses editingnya terserah aku, bisa dibilang ini novel kita berdua, aku bukan lagi editor, tapi penulis. Zia, please?” katanya setengah putus asa setelah  melihatku yang tidak menunjukkan perkembangan apapun selain ‘terserah’.
“Aku sibuk banget akhir-akhir ini, jadwal ngajarku makin penuh. Dosen muda, banyak diminta ngisi jam kosong yang ditinggal seminar sama dosen aslinya, sori.” Kataku mencari alasan karena merasa sedikit tidak enak. Hatiku yang sedang bermasalah, tapi aku enggan untuk mengakuinya.
“Oke, pertemuan selanjutnya kita bahas bab sepuluh.” Katanya singkat. Bram bersiap meninggalkanku di ruangannya, sebelum akhirnya ia berbalik dari pintu dan berkata,
 “Zia, kita sudah tiga-perempat jalan, aku harap kamu bisa sedikit profesional dengan proyek ini, kalau kamu masih mau novelmu diterbitin tentunya. Aku duluan.”
Setelah berkata demikian, Bram benar-benar meninggalkan aku yang menatapnya menjauh.


Senin, pertemuan ke-14. Aku menunggu Bram di sebuah  kafe bernuansa klasik favoritku. Alunan musik instrumen gitar “Autumn in My Heart” yang sedang diputar di kafe itu menemani tiga menit pertamaku menunggu Bram. Secangkir latte yang masih utuh mengepulkan uapnya dihadapanku. Aku menatap jalanan yang sedang lengang karena belum memasuki jam makan siang. Kafe dan jalanan yang lengang mengantarkanku pada alam lamunan yang entah di mana, membuatku tanpa sadar meneteskan air mata. Bram telah duduk di hadapanku—aku tidak menyadari bahwa ia telah duduk di sana sejak beberapa menit yang lalu—menatapku dalam, seperti biasanya. Aku kikuk. Ia menyodorkan sapu tangannya ke hadapanku. Kutolak dengan menghapus air mataku menggunakan ujung lengan bajuku. Ia membiarkan sapu tangannya di hadapanku, tidak berkata-kata selama beberapa saat. Aku memecah keheningan yang menyeruak di antara kami berdua dengan mengutarakan keputusan yang telah kubuat secara sepihak. Kekacauan, badai, atau apapun itu yang sedang terjadi dalam hatiku, harus segera dihentikan.
“Bram, aku nyerah. Udahan aja deh Bram, dari awal proyek editing ini aku uda yakin nggak akan berhasil kalau itu kamu. Biar aku yang ngomong sama Mbak Uci besok, kalau pun novelku nggak jadi diterbitin aku nggak pa-pa. Makasi atas kerja kerasmu selama ini, dan maaf kalau aku terkesan nggak menghargai kamu, you must have had a hard time with me, sorry..” Kataku panjang lebar.
“Oke.” Bram menjawab singkat, detik selanjutnya aku hanya mendapati tatapan dalamnya meruntuhkan satu bagian yang lain dalam diriku. Ego. Ke-aku-anku.

Keesokan harinya aku memutuskan untuk segera menemui Mbak Uci di kantor penerbit, dan di sinilah aku sekarang, di sebuah ruangan beraroma jeruk, bau khas pengharum ruangan yang digantung di AC.
“Halo, Zia.” Kata Mbak Uci yang akhirnya menyambangiku di ruangannya setelah meeting selama setengah jam.
“Hai, mbak... sori, aku ganggu ya?” kataku basa-basi.
“Nggak kok, nyantai aja. Hmm, jadi? Kamu mau diganti siapa nih editornya?” tembak mbak Zia, langsung. Aku terdiam, tidak mengerti.
“Zia?” panggil Mbak Uci sambil melambai-lambaikan tanganya di depan mataku, membawaku kembali dari alam lamunan.
“Eh... sori, Mbak. Err.. maksudnya apa ya mbak? Editor baru, kok?” tanyaku bingung.
“Oh, jadi Bram belum bilang ke kamu? Ah, dasar anak itu...” katanya dengan raut kesal yang dibuat-buat. Setelah mendiamkanku dalam kebingungan selama beberapa saat, Mbak Uci menatapku dengan tatapan yang aneh.
“Aku nggak tau apa yang terjadi di antara kalian—kamu dan Bram—yang jelas katanya, Bram mengundurkan diri jadi editor kamu, alasannya sih dia nggak bisa bagi waktu, kerjaan dia juga lumayan banyak. Tapi, aku kira buka itu alasan sebenarnya, hmm... oke, Zia, jadi?” kata Mbak Uci menggantung kalimatnya. Aku masih terbata-bata mencerna setiap penjelasan dari Mbak Uci. ‘Bram mundur?’ pertanyaan itu memenuh kepalaku, menciptakan sensasi yang mampu membuat hatiku membelesak dalam rasa bersalah yang cukup serius.
“Mbak, sori... kayaknya aku harus pamit dulu, nanti aku kesini lagi. Permisi.” Kataku cepat. Aku meninggalkan ruangan Mbak Uci dan menuju ruangan Bram yang berada tepat di sebelah ruangan Mbak Uci, kosong. Bram sedang tidak di tempat. Aku melangkah gontai.
Keluar dari kantor penerbit, aku melihat sedan merah yang pernah dipakai Bram menemuiku saat kali pertama kami memulai proyek editing novelku. Bram keluar dari sedan itu, melihatku berdiri di depan pintu kantor penerbitan itu. Aku menatap Bram yang berjalan mendekat, kami berpapasan tapi Bram sama sekali tidak menoleh ke arahku. Aku diam mematung selama beberapa saat.
Ruangan beraroma lavender ini terasa sepi sementara kepalaku berisi ribuan kata yang tertahan untuk diutarakan. Waktu mengkristalkan kesunyian dan siap mengubahnya menjadi retakan menyakitkan setiap saat. Aku menghela nafas panjang. Di depanku, Bram duduk dengan tenang menungguku berbicara. Setelah mematung selama beberapa saat, aku mengejar Bram sampai ke ruangannya, tapi sekarang aku justru kebingungan dengan apa yang baru saja aku lakukan.
“Zia...”
“Bram...” kami saling memanggil nama secara bersamaan. Sunyi selama beberapa saat sebelum akhirnya aku memutuskan untuk mengutarakan maafku.
Sorry...” kataku. Pada akhirnya, setalah berderet kalimat kusiapkan untuk meminta maaf kepada Bram, hanya satu kata ‘sorry’ yang mampu aku ucapkan.  Bram terdiam, dan tersenyum dalam.
It’s fine. Kita emang nggak cocok, kamu nggak perlu meminta maaf untuk itu. Itu aja yang mau kamu sampein?” katanya tenang. Aku hanya mengangguk.
“Oke, kalau gitu aku harus ninggalin kamu duluan, ada meeting... bye Zia.” Pamit Bram seraya membereskan beberapa dokumen yang dibawanya menuju ruangan untuk meeting.

Tiga minggu setelah permintaan maaf itu aku hampir tidak pernah bertemu dengan Bram. Aku mendapatkan Mas Renaldi sebagai editor pengganti Bram. Tidak terlalu banyak halangan, karena proyekku dan Bram memang sudah hampir selesai. Hari ini aku pergi ke kantor penerbitan untuk mendiskusikan desain sampul novelku.
“Kalau gini gimana Zia? Dari tiga sampul yang masuk, aku lebih suka yang ini deh...” tanya Mas Re seraya menyodorkan kertas bergambarkan desain sampul untuk novelku. Aku menerimanya, melihat dengan seksama, dan memutuskan untuk menerima saran Mas Re.
“Oke.” Kataku singkat.
“Well, oke. Mm.. Zi, makan siang yuk? Udah jamnya nih... aku ajak yang lain juga,” ajak Mas Re.
“Em, boleh deh. Dimana mas?” tanyaku.
“Kafetaria bawah deh, nggak punya banyak waktu juga buat makan di luar, hehehe. Kamu  tunggu di bawah ya? Aku panggil Uci sama yang lainnya dulu.” Aku mengangguk.
Kafertaria yang lumayan besar untuk ukuran kator dengan skala pegawai yang tidak terlalu banyak itu terlihat penuh. Hampir tidak ada meja kosong yang bisa kutempati. Sebagai orang yang pertama kali tiba di sini, aku merasa bertanggungjawab untuk mencari tempat bagi kami. Setelah berkeliling, akhirnya aku menemukan satu meja panjang yang cukup untuk beberapa orang. Aku mengirim SMS pada Mas Re untuk memberitahukan posisi, supaya lebih mudah.
Lima menit berlalu, minuman yang kupesan sudah diantar. Dari pintu kafetaria aku melihat Mbak Uci melambai ke arahku, aku tersenyum, di belakang Mbak Uci aku melihat Mas Re dan Mbak Ika, ada Aldo dan Raisa—para desainer sampul kantor penerbitan kami—dan juga, Bram. Perasaanku mulai tidak karuan.
“Hai Zi, sori lama ya?” sapa Mbak Uci begitu sampai di meja kami.
“Enggak kok Mbak.” Jawabku singkat. Mereka pun duduk dan bergantian memesan makanan. Aku yang terlihat menikmati makan siangku dengan tidak berselera mendapat seloroh dari Aldo.
“Mbak Zia kenapa sih? Makanan kok diunyel-unyel gitu, nggak nafsu makan  ya gara-gara Mas Re? Hehehehe...” Katanya. Mas Re yang tidak terima namanya disebut-sebut sebagai faktor yang menurunkan nafsu makanku balas memberikan Aldo selorohan.
“Yang ada nih, Zia nggak nafsu makan gara-gara kamu duduk di sebelahnya dia Do, liat tuh rambut kamu, kribo nggak jelas banyak kutunya. Zia pasti khawatir kutu dari rambut kamu locat ke makanannya dia tuh, makanya jadi nggak nafsu makan..” seluruh yang ada di meja kami tertawa mendengar selorohan Mas Re, kecuali aku dan Bram. Sejak tiba di meja kami, Bram tidak terlalu banyak bicara. Entah bagaimana, aku merasakan perubahan sikap Bram yang cukup drastis. Mbak Uci yang menyadari situasi tidak nyaman yang terbentang antara aku dan Bram berusaha mencairkan suasana yang justru membuatku merasa semakin tidak nyaman.
“Bram, kamu nggak kangen nih sama Zia?” tanya Mbak Uci, aku tersenyum kecut mendengar pertanyaan Mbak Uci. Bram diam, Mas Renaldi menimpali.
“Bram takut kalah saing Ci sama aku.” Katanya sambil tersenyum ke arahku, membuatku semakin kikuk. Bram berdiri dari kursinya, pamit dengan sopan.
“Sori, aku duluan ya? Mau nyiapin materi untuk meeting nanti...” katanya dan berlalu.
Sepeninggal Bram, obrolan masih berlanjut, aku masih di sana, tapi hati dan pikiranku tidak lagi. Mereka tercuri dan hilang bersama langkah kaki Bram.


Satu bulan berlalu sejak makan siang bersama kami, aku mendengar Bram dipindahkan ke divisi Tabloid yang berkantor dua lantai di atas kantor penerbitan Buku dan Novel. Intensitas pertemuan  yang hampir tidak pernah terjadi antara aku dan Bram tidak begitu saja mengembalikan apa yang telah tercuri dariku. Kesibukan yang membunuh waktu untuk melamun pun nyatanya tidak begitu berhasil mengembalikan hatiku pada kondisi semula. Badai dalam diriku masih dalam fase yang jauh dari mebaik. Aku tahu.

Maret, 2013
Sudah satu minggu berlalu sejak hari pertama peluncuran novel keduaku, dan sudah delapan bulan berlalu sejak aku mendengar Bram dipindah tugaskan ke bagian Tabloid. Sejak hari itu, aku sudah tidak pernah bertemu dengan Bram, dan hanya mendengar beberapa kabar bahwa ia akan dipromosikan sebagai editor utama tabloid yang diterbitkan oleh kantor penerbitanku, entahlah. Hari ini aku menghadiri sesi bedah buku dan book-signing di sebuah toko buku kenamaan di Jogja. Bagian tengah toko yang sengaja dikosongkan untuk acara hari ini terlihat penuh dengan teman-teman pembacaku. Aku duduk menunggu sang MC mebuka sesi hari ini.
Di akhir sesi bedah buku, seorang laki-laki bertopi yang duduk di kursi deretan belakang terlihat mengacungkan tangannya. MC memintanya untuk bersabar karena sesi tanya jawab akan dilakukan setelah ia menyampaikan beberapa ringkasan tentang apa yang sudah aku sampaikan pada sesi sebelumnya. Laki-laki bertopi itu tidak menghiraukan perkataan sang MC dan tetap mengacungkan tangannya tinggi-tinggi seraya bertanya.
“Akhir dari novel ini, apakah sama dengan akhir cerita Anda, Mbak Zia? Mengambang dan penuh teka-teki?”  aku tertegun mendengar pertanyaannya. ‘Siapa laki-laki ini? Kenapa ia bisa mengorelasikan akhir cerita dalam novelku dengan kisah hidup pribadiku?’ batinku. Aku diam selama beberapa saat, sampai akhirnya laki-laki itu berjalan menuju mejaku, beberapa petugas keamanan terlihat bersiap-siap mengamankan laki-laki bertopi itu, namun ia terlihat tidak ragu melangkah ke mejaku dan menyodorkan novelnya—yang merupakan novel karyaku—ke hadapanku.
“Tidak bisakah kamu menggugurkan sedikit rasa aku-mu dan memanggilku kembali Zia?” tanyanya. Laki-laki itu membuka topinya dan menatapku lurus. Aku tertegun. Bram. Suaranya yang sedikit parau—mungkin karena sedang flu, aku tidak tahu—membuatku tidak mengenalinya lebih awal. Aku tertegun. Ada rindu yang siap untuk dilampiaskan, ada air mata yang siap untuk ditumpahkan, sementara aku terdiam.
“Apakah kamu benar-benar menginginkan akhir seperti ini?” tanyanya seraya membuka bagian akhir dari novel yang kutulis. Teman-teman pembacaku dan MC acara hari ini memperhatikanku dengan rasa penasaran tentang apa yang sesungguhnya terjadi. Air mataku mulai merembes keluar sementara Bram melanjutkan kata-katanya.
Why did  you make it so complicated?” Bram menghela nafas panjang. Aku menundukkan kepalaku dalam, tidak mampu berkata-kata.
It’s our story, isn’t it? Harusnya aku sadar dari awal...” lanjutnya. Aku masih terdiam dan sesenggukan yang entah untuk apa. Aku hanya merasakan ada batu besar yang baru saja didorong lepas dari hatiku, menyisakan lapang yang membahagiakan.
“Ziadatul Khair, will you marry me?” kata Bram akhirnya. Semua yang ada di tempat itu melontarkan teriakan tertahan.
“Bram...” kataku di tengah sesenggukanku. Bram menungguku melanjutkan perkataanku dengan sabar, sementara semua orang yang berada di tempat itu seperti menahan nafas menungguku melanjutkan perkataanku.
For causing your heart so much in troubles, I am sorry...  For letting you suffer in the past, I am sorry...  For my being ignorant, I am sorry... I am really, really sorry...” aku menggantung kata-kataku untuk mengambil nafas sejenak, kebahagiaan nyatanya cukup menguras energi.
Falling in love is one thing that I’ve never expected in my life time. Thus, rejecting my own feeling towards you becomes something that I’ve really mastered...”  Bram terdiam, masih menunggu.
For waiting me, I thank you. For not giving up on me, I thank you. And, yes... Aku mau jadi ibu jadi anak-anakmu.” Kataku akhirnya. Aku mendengar tepuk tangan riuh rendah. Aku tertawa lemah, sementara Bram mengusap anak sungai yang mengalir melalui kedua matanya, ada kelegaan yang tidak bisa kugambarkan dengan kata-kata.
“Makasi, Zia...” kata Bram sambil tersenyum lembut ke arahku. Aku menunduk malu. Dilamar di depan sekian banyak orang dan di tempat umum seeprti ini tidak pernah terlintas di pikiranku.
“Mm, Zi... aku seneng banget nih! Boleh peluk nggak?” katanya setengah bercanda. Aku mendongakkan kepalaku dan memasang muka jutek. Bram tertawa renyah.
“Oke, sori...” katanya sambil memamerkan deretan giginya, tersenyum lebar.


Sebelum akhirnya aku mengakui perasaanku terhadap Bram, aku sadar aku telah menggoreskan banyak sekali rasa sakit. Tapi beginilah cinta, harus ada pahit sebelum akhirnya dapat menikmati manisnya. Ada batas yang tak boleh dilanggar, dan sungguh kebahagiaan menyertai setiap usaha untuk selalu bersabar.


Maulisa, 05072013...
10:10 pm.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar