Aku duduk di sudut sebuah kafe bernuansa klasik
favoritku. Musik instrumen “Reason” yang sejak tadi terus diputar oleh sang
pegawai kafe menemaniku menyesap latte
yang sekarang tinggal setengah. Sudah dua puluhan menit berlalu sejak aku tiba
di kafe ini, kuketuk-ketukkan jariku di meja sambil menatap pintu kafe yang
sedang sepi pengunjung ini. Lima menit ekstra telah berlalu, dua pengunjung,
laki-laki dan perempuan, melangkah masuk dan duduk di meja yang berlawanan arah
dengan mejaku. Pasangan kekasih, tebakku. Aku kembali mengalihkan pandanganku
ke pintu masuk, di kejauhan aku melihat seseorang berambut gondrong tengah
memarkirkan motornya, orang yang kutunngu sudah datang.
Laki-laki
berambut gondrong ini mengenakan kemeja berwarna krem dan celana panjang
berwarna khaki. Senyumnya mengembang
menatapku, kutundukkan wajahku risih. Ia duduk di hadapanku dengan senyum yang
masih mengembang.
“
Sudah lama?” sapanya.
“Dua
puluh lima menit. Bisa nggak sih kalau janji on-time dikit? Kamu pikir kamu aja yang sibuk?” tegurku dengan nada
sedikit tinggi, tapi yang ditegur malah tersenyum girang, terlihat sekali ia
menikmati ekspresiku ketika marah. Aku menunduk jengah. Beberapa menit berlalu
dengan aku yang masih menunduk. Lelah menunggunya berhenti tersenyum-senyum
sendiri, aku kembali menegurnya, kali ini dengan nada tegas.
“Bram,
kalau kamu masih mau asik dengan senyum-senyum anehmu itu mending aku pulang
deh.”
Bram
mengganti senyum-senyum sendirinya dengan ekspresi datar. Kali ini ia menatapku
dalam, sementara aku meyibukkan diri mengalihkan pandangan dengan memutir ujung
kerudungku. Di tatap sedemikian rupa oleh seorang lelaki yang pernah dengan
terang-terangan mengatakan menyukaiku membuatku merasa semakin tidak nyaman.
“Bram..”
tegurku ulang. Ia terkesiap, seperti kembali dari alam penjelajahannya yang
entah dimana.
Lelaki
bernama lengkap Aditya Bramantyo itu kini menatapku serius. Ia menghela nafas
panjang sebelum akhirnya berkata,
“Naskah
novelmu sudah di ACC sama Mbak Uci, aku ditunjuk jadi editormu karena Mbak Uci
sudah penuh kerjaannya. Kita dikasih waktu dua bulan buat nyelesain editing
buat novelmu.”
Aku
mengangkat kepalaku, menatapnya yang balas menatapku. Aku menggeleng-gelengkan
kepala.
“Kamu?
Nggak-nggak.. aku nggak mau kalau kamu yang jadi editorku, nggak ada editor
lain apa? Mbak Ika, Mas Re, atau siapa kek.. kenapa kamu?” kataku ketus.
“Siapa
lagi? Mbak Ika sama Mas Re juga udah penuh, tinggal aku yang masih longgar.
Penerbit kita cuma punya 4 editor buat novel, kalau kamu nggak mau aku yang
jadi editormu yaudah nggak usah nerbitin novel.” Jawabnya dengan ekspresi
sedatar papan talenan.
Aku
menghela nafas berat. Bayangan akan bertemu Bram setidaknya empat kali dalam
seminggu memenuh kepalaku, ‘mana mungkin?’
batinku. Melihatku yang terlihat sangat tidak puas dengan keputusan sepihak
Mbak Uci yang memilihnya menjadi editorku Bram kembali mengembangkan senyumnya.
“Ini
namanya berkah.” Katanya. Aku tidak menanggapi perkataannya.
“Berhubung
waktunya Cuma dua bulan, jadi aku harap kamu bisa bekerja sama dengan baik ya?
Kita ketemu setidaknya seminggu empat kali, tempatnya nanti aku kabari sebelum
kita ketemu. Aku sudah baca dan menurutku cukup bagus, tapi masih perlu editing
di beberapa bagian, kita mulai minggu depan ya, oke?” katanya.
“Oke.”
Jawabku singkat. Aku berdiri untuk membayar bill
dari minumanku, dan pamit.
“Aku
duluan, kalau ada apa-apa sms aja.” Kataku. Bram menahanku dengan menarik
tanganku yang buru-buru dilepaskannya kembali.
“Sori,
lupa.” Katanya sungkan dengan ekspresi wajah bersalah, aku hanya menganggukkan
kepalaku, maaf diterima. Bram menghembuskan nafas lega. Sebagai seseorang yang
sudah lama mengenalku, ia tahu benar aku menolak segala jenis kontak fisik
dengan laki-laki yang bukan mukhrimku.
“Kamu
balik sama siapa?” tanyanya.
“Motor.
Aku bawa motor.” Jawabku singkat.
“Ada
lagi?” tanyaku balik, memastikan ia tidak menahan langkahku lagi. Ia menggeleng
lalu tersenyum.
“Take
care, jangan ngebut.” Katanya lembut. Aku kembali mengangguk singkat dan
bergegas keluar dari kafe itu.
Dalam
perjalanan pulang, kucoba menghilangankan tekanan dalam pikiranku yang masih dipenuhi dengan bayangan
pertemuan-pertemuan yang akan aku lewati selama proses editing bersama Bram.
Kutambah laju motor matic-ku menjadi
60km/ jam, angin dan udara lembab Jogja yang sedang digelayuti mendung mencoba
berkawan dengan kegelisahan yang diam-diam menyelinap, membuat pikiranku
semakin penuh dan tidak nyaman. Semoga tidak ada badai.
❤
Minggu 1
Hari
senin, pertemuan pertama proses editing novelku bersama Bram. Sudah satu jam
berlalu sejak waktu janjian yang sudah kami sepakati, ‘Mister Telat’, batinku mengeluh. Mobil sedan merah memasuki area
parkir salah satu toko kue sekaligus kafe di pinggiran kota Jogja tempatku menunggu
Bram saat ini. Seorang laki-laki berambut gondrong dengan kemeja maroon keluar dari sedan itu.
“Akhirnya..”
aku menghela nafas, kesal sekaligus lega.
Bram
melangkahkan kainya terburu-buru memasuki kafe, menuju tepat ke arahku. Cukup
sigap untuk tahu posisiku secara tepat di tengah susasana kafe yang lumayan
rame.
“Sori,
telat banget ya? Aku ada meeting
tadi, sori banget.” Akunya begitu sampai di tempatku menunggunya. Aku diam,
membiarkannya tenggelam dalam rasa bersalah selama beberapa saat aku rasa tidak
ada salahnya. Bram kikuk, ia menarik kursi di depanku dan memosisikan dirinya
untuk duduk di sebelahku, aku menarik kursiku menjauh, menjaga jarak.
“Sori.”
Katanya singkat, mengerti. Aku masih diam. Ia mengeluarkan laptopnya, setelah
proses loading selama beberapa saat, ia melanjutkan berbicara.
“Marah
banget ya? Sori Zia, sori banget.. aku nggak ada maksud ngerjain kamu atau...”
“Jadi
kamu mau ngerjain aku?” aku memotong perkataannya.
“Zia,
please? Aku nggak ada maksud
begitu... aku beneran ada meeting
tadi, tanyain Mbak Uci deh...” katanya meyakinkanku.
“Setidaknya
kamu bisa sms aku. Ah, sudahlah... nggak akan habisnya kalau aku ngomong sama
kamu, langsung aja deh...” kataku menyudahi.
“Handphoneku low-batt dan...” Bram tidak
melanjutkan pembelaannya karena ia melihatku mengemasi dompet dan tasku.
“Oke,
oke. Aku salah, kita langsung aja. Ini bagian yang menurutku harus sedikit
diperhalus di novelmu, bab satu, proses perkenalannya terlalu panjang,
kebanyakan detail, coba baca.” Katanya serius, ia mengarahkan monitor laptopnya
kepadaku. Aku yang kembali meletakkan tasku dalam posisiku semula mulai membaca
hasil editingnya, ‘missing parts..’
batinku. Aku sengaja menambahkan detail dalam bagian pertama, karena bagian ini
adalah bagian yang cukup penting menurutku. Aku melihat Bram mengawasiku yang
tengah mengerut-ngerutkan kening dari sudut mataku, aku beredeham. Ia
mengalihkan pandangannya, melihat-lihat sekitar kafe sebentar, lalu kembali
menatapku diam dan dalam, ‘Allah...’
aku membatin.
“Gimana?”
tanya Bram setelah beberapa saat.
“Aku
minta salinannya, biar aku baca lagi di rumah, Rabu aku kasih tau kamu hasilnya. Nih...” kataku
sembari menyodorkan flashdisk-ku
kepadanya.
Bram
menyerahkan flashdisk-ku tanpa berkata-kata dan
aku menerimanya dan memasukkannya ke dalam tasku. Saat aku bersiap-siap
untuk meninggalkan kafe tersebut, Bram menahanku dengan pertanyaannya.
“Sebentar,
Zia...” katanya. Aku menahan langkahku, menunggu. Ia melanjutkan kata-katanya.
“Kamu,
mm, kamu...” katanya terbata, aku mulai tidak sabar.
“Aku?
Kenapa?” tanyaku.
“Kamu
kenapa sih nggak suka banget sama aku?” katanya. Selesai bertanya demikian, ia
memalingkan wajahnya yang terlihat memerah. Aku terkesiap, tidak siap dengan
jawaban. Aku diam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab,
“kata
siapa aku nggak suka BANGET sama kamu?” kataku dengan menekankan kata ‘banget’
ke dalam jawabanku. Bram diam. Aku melanjutkan jawabanku.
“Aku
Cuma nggak suka sama cowok gondrong. Not nice.” Kataku.
❤
Rabu,
pertemuan kedua proses editing novelku bersama Bram. Berbeda dengan pertemuan
sebelumnya, Bram telah menungguku di ruangannya. Ia memberiku kejutan kecil
dengan potongan rambut terbarunya hari ini. Aku memasuki ruangannya yang
beraroma lavender ini dengan tidak nyaman.
“Pagi,
Zia...” Sapanya dengan senyum mengembang. Aku tidak menjawab.
“Aku
sudah baca, dan aku nggak suka. Terlalu banyak sentuhanmu Bram. Ada beberapa
yang aku setuju untuk merubahnya, tapi ada juga yang aku keberatan untuk
merubahnya. Aku sengaja menambahkan detail di bagian pertama, karena dari
sanalah cerita ini berawal, titik tolak. Menurutku detail yang aku tambahkan di
sana nggak ngerusak kok, oke aja.. yaah, ada sih yang aku setuju sama kamu,
harus diilangin, tapi untuk yang lain-lain, aku rasa nggak masalah. Ini...”
kataku to-the-point sambil
menyerahkan draf editing yang sudah kucetak tadi pagi. Aku tidak ingin
berlama-lama dalam ruangan ini, entah kenapa. Bram tampak kecewa aku tidak
memberikan tanggapan tentang ‘kejutan kecil’nya. Ia menerima draf-ku dan
membolak-baliknya beberapa kali.
“Oke.”
Katanya singkat.
“Oke?”
tanyaku meminta penjelasan.
“Oke,
bab satu selesai. Aku setuju, bagus.
Untuk bab dua, aku nggak ada masukan apapun, beberapa ejaan aja yang kayaknya
perlu dikoreksi. Kita ke bab tiga, langsung?” katanya serius, membuatku sedikit
tidak siap dengan reaksinya yang sedikit di luar kebiasaannya yang gemar
mengulur-ulur waktu.
“Zia?”
tanya Bram mengagetkanku. Aku merasa aneh, ada sesuatu yang ingin kusangkal
dalam hatiku, kenyataan bahwa aku sedikit kecewa dengan reaksi Bram yang di
luar dugaan membuatku tidak nyaman. Aku
menggeleng-gelengkan kepalaku, Bram menatapku, menunggu.
“Oke,
bab tiga, kenapa?” jawabku setelah beberapa saat.
“Kamu
sakit?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. Aku menggeleng, tapi sejujurnya
kepalaku memang sedikit pusing secara tiba-tiba.
“Lagi
ada masalah?” tanyanya lagi, aku menggeleng.
“You
have my shoulders Zi, anytime...” katanya dengan tatapan sendu yang semakin
membuatku risih dan ingin segera lenyap dari ruangan itu.
“Bram,
aku nggak pa-pa. Kembali ke topik awal,
bab tiga, kenapa?” kataku dengan nada ketus yang sama sekali tidak kumaksudkan
untuk terdengar demikian. Bram menatapku dalam sebelum akhirnya ia menyerahkan pc tablet
miliknya yang telah berisi catatan untuk bab tiga novelku. Aku membacanya tanpa
berkomentar.
“Tolong
kirim salinannya ke email-ku ya. Sori, aku ijin duluan, harus gantiin ngajar
dadakan. Thanks.” Kataku bergegas, tidak menunggunya meresponku.
Keluar dari kantor penerbitan
yang cukup ternama di Jogja itu, hatiku menjadi tidak karuan. Sejauh sepuluh
meter sejak aku meninggalkan kantor penerbit itu, aku tahu, satu bagian dari
dalam diriku tidak lagi utuh. Penyangkalan bertemu dengan kegagalan, entah
bagaimana.
❤
Pertemuan-pertemuan
selanjutnya tidak berjalan lancar. Sejak aku tahu bahwa bagian dalam diriku
tertinggal dalam sebuah ruangan di kantor penerbitan ternama Jogja siang itu,
susana hatiku tidak menunjukkan sesuatu yang ramah. Aku telah menempatkan Bram
dalam posisi yang serba salah, dan entah bagaimana aku menikmati rasa
bersalahnya. Aku tahu, ia tidak membuat kesalahan apapun, setiap masukannya
untuk novelku pun positif, tapi entah kenapa respon yang kuberikan selalu
negatif. Pada minggu keempat, yang berarti sudah satu bulan sejak proses
editing novelku bersama Bram dimulai, Bram mulai terlihat emosi dengan sikapku
yang angin-anginan dengan emosi yang tidak bisa dikatakan normal dan stabil.
“Kamu
niat nggak sih ngerjain novel ini? Kalau semua proses editingnya terserah aku,
bisa dibilang ini novel kita berdua, aku bukan lagi editor, tapi penulis. Zia, please?” katanya setengah putus asa
setelah melihatku yang tidak menunjukkan
perkembangan apapun selain ‘terserah’.
“Aku
sibuk banget akhir-akhir ini, jadwal ngajarku makin penuh. Dosen muda, banyak
diminta ngisi jam kosong yang ditinggal seminar sama dosen aslinya, sori.”
Kataku mencari alasan karena merasa sedikit tidak enak. Hatiku yang sedang
bermasalah, tapi aku enggan untuk mengakuinya.
“Oke,
pertemuan selanjutnya kita bahas bab sepuluh.” Katanya singkat. Bram bersiap
meninggalkanku di ruangannya, sebelum akhirnya ia berbalik dari pintu dan
berkata,
“Zia, kita sudah tiga-perempat jalan, aku
harap kamu bisa sedikit profesional dengan proyek ini, kalau kamu masih mau
novelmu diterbitin tentunya. Aku duluan.”
Setelah
berkata demikian, Bram benar-benar meninggalkan aku yang menatapnya menjauh.
❤
Senin,
pertemuan ke-14. Aku menunggu Bram di sebuah
kafe bernuansa klasik favoritku. Alunan musik instrumen gitar “Autumn in
My Heart” yang sedang diputar di kafe itu menemani tiga menit pertamaku
menunggu Bram. Secangkir latte yang
masih utuh mengepulkan uapnya dihadapanku. Aku menatap jalanan yang sedang
lengang karena belum memasuki jam makan siang. Kafe dan jalanan yang lengang
mengantarkanku pada alam lamunan yang entah di mana, membuatku tanpa sadar
meneteskan air mata. Bram telah duduk di hadapanku—aku tidak menyadari bahwa ia
telah duduk di sana sejak beberapa menit yang lalu—menatapku dalam, seperti
biasanya. Aku kikuk. Ia menyodorkan sapu tangannya ke hadapanku. Kutolak dengan
menghapus air mataku menggunakan ujung lengan bajuku. Ia membiarkan sapu
tangannya di hadapanku, tidak berkata-kata selama beberapa saat. Aku memecah
keheningan yang menyeruak di antara kami berdua dengan mengutarakan keputusan
yang telah kubuat secara sepihak. Kekacauan, badai, atau apapun itu yang sedang
terjadi dalam hatiku, harus segera dihentikan.
“Bram,
aku nyerah. Udahan aja deh Bram, dari awal proyek editing ini aku uda yakin
nggak akan berhasil kalau itu kamu. Biar aku yang ngomong sama Mbak Uci besok,
kalau pun novelku nggak jadi diterbitin aku nggak pa-pa. Makasi atas kerja
kerasmu selama ini, dan maaf kalau aku terkesan nggak menghargai kamu, you must have had a hard time with me, sorry..”
Kataku panjang lebar.
“Oke.”
Bram menjawab singkat, detik selanjutnya aku hanya mendapati tatapan dalamnya
meruntuhkan satu bagian yang lain dalam diriku. Ego. Ke-aku-anku.
❤
Keesokan
harinya aku memutuskan untuk segera menemui Mbak Uci di kantor penerbit, dan di
sinilah aku sekarang, di sebuah ruangan beraroma jeruk, bau khas pengharum
ruangan yang digantung di AC.
“Halo,
Zia.” Kata Mbak Uci yang akhirnya menyambangiku di ruangannya setelah meeting selama setengah jam.
“Hai,
mbak... sori, aku ganggu ya?” kataku basa-basi.
“Nggak
kok, nyantai aja. Hmm, jadi? Kamu mau diganti siapa nih editornya?” tembak mbak
Zia, langsung. Aku terdiam, tidak mengerti.
“Zia?”
panggil Mbak Uci sambil melambai-lambaikan tanganya di depan mataku, membawaku
kembali dari alam lamunan.
“Eh...
sori, Mbak. Err.. maksudnya apa ya mbak? Editor baru, kok?” tanyaku bingung.
“Oh,
jadi Bram belum bilang ke kamu? Ah, dasar anak itu...” katanya dengan raut
kesal yang dibuat-buat. Setelah mendiamkanku dalam kebingungan selama beberapa
saat, Mbak Uci menatapku dengan tatapan yang aneh.
“Aku
nggak tau apa yang terjadi di antara kalian—kamu dan Bram—yang jelas katanya,
Bram mengundurkan diri jadi editor kamu, alasannya sih dia nggak bisa bagi
waktu, kerjaan dia juga lumayan banyak. Tapi, aku kira buka itu alasan
sebenarnya, hmm... oke, Zia, jadi?” kata Mbak Uci menggantung kalimatnya. Aku
masih terbata-bata mencerna setiap penjelasan dari Mbak Uci. ‘Bram mundur?’ pertanyaan itu memenuh
kepalaku, menciptakan sensasi yang mampu membuat hatiku membelesak dalam rasa
bersalah yang cukup serius.
“Mbak,
sori... kayaknya aku harus pamit dulu, nanti aku kesini lagi. Permisi.” Kataku
cepat. Aku meninggalkan ruangan Mbak Uci dan menuju ruangan Bram yang berada
tepat di sebelah ruangan Mbak Uci, kosong. Bram sedang tidak di tempat. Aku
melangkah gontai.
Keluar dari kantor penerbit,
aku melihat sedan merah yang pernah dipakai Bram menemuiku saat kali pertama
kami memulai proyek editing novelku. Bram keluar dari sedan itu, melihatku
berdiri di depan pintu kantor penerbitan itu. Aku menatap Bram yang berjalan
mendekat, kami berpapasan tapi Bram sama sekali tidak menoleh ke arahku. Aku
diam mematung selama beberapa saat.
Ruangan beraroma lavender ini
terasa sepi sementara kepalaku berisi ribuan kata yang tertahan untuk
diutarakan. Waktu mengkristalkan kesunyian dan siap mengubahnya menjadi retakan
menyakitkan setiap saat. Aku menghela nafas panjang. Di depanku, Bram duduk
dengan tenang menungguku berbicara. Setelah mematung selama beberapa saat, aku
mengejar Bram sampai ke ruangannya, tapi sekarang aku justru kebingungan dengan
apa yang baru saja aku lakukan.
“Zia...”
“Bram...”
kami saling memanggil nama secara bersamaan. Sunyi selama beberapa saat sebelum
akhirnya aku memutuskan untuk mengutarakan maafku.
“Sorry...” kataku. Pada akhirnya, setalah
berderet kalimat kusiapkan untuk meminta maaf kepada Bram, hanya satu kata ‘sorry’ yang mampu aku ucapkan. Bram terdiam, dan tersenyum dalam.
“It’s fine. Kita emang nggak cocok, kamu
nggak perlu meminta maaf untuk itu. Itu aja yang mau kamu sampein?” katanya
tenang. Aku hanya mengangguk.
“Oke,
kalau gitu aku harus ninggalin kamu duluan, ada meeting... bye Zia.” Pamit Bram seraya membereskan beberapa dokumen
yang dibawanya menuju ruangan untuk meeting.
❤
Tiga
minggu setelah permintaan maaf itu aku hampir tidak pernah bertemu dengan Bram.
Aku mendapatkan Mas Renaldi sebagai editor pengganti Bram. Tidak terlalu banyak
halangan, karena proyekku dan Bram memang sudah hampir selesai. Hari ini aku
pergi ke kantor penerbitan untuk mendiskusikan desain sampul novelku.
“Kalau
gini gimana Zia? Dari tiga sampul yang masuk, aku lebih suka yang ini deh...”
tanya Mas Re seraya menyodorkan kertas bergambarkan desain sampul untuk
novelku. Aku menerimanya, melihat dengan seksama, dan memutuskan untuk menerima
saran Mas Re.
“Oke.”
Kataku singkat.
“Well,
oke. Mm.. Zi, makan siang yuk? Udah jamnya nih... aku ajak yang lain juga,” ajak
Mas Re.
“Em,
boleh deh. Dimana mas?” tanyaku.
“Kafetaria
bawah deh, nggak punya banyak waktu juga buat makan di luar, hehehe. Kamu tunggu di bawah ya? Aku panggil Uci sama yang
lainnya dulu.” Aku mengangguk.
Kafertaria yang lumayan besar
untuk ukuran kator dengan skala pegawai yang tidak terlalu banyak itu terlihat
penuh. Hampir tidak ada meja kosong yang bisa kutempati. Sebagai orang yang
pertama kali tiba di sini, aku merasa bertanggungjawab untuk mencari tempat
bagi kami. Setelah berkeliling, akhirnya aku menemukan satu meja panjang yang
cukup untuk beberapa orang. Aku mengirim SMS pada Mas Re untuk memberitahukan
posisi, supaya lebih mudah.
Lima menit berlalu, minuman
yang kupesan sudah diantar. Dari pintu kafetaria aku melihat Mbak Uci melambai
ke arahku, aku tersenyum, di belakang Mbak Uci aku melihat Mas Re dan Mbak Ika,
ada Aldo dan Raisa—para desainer sampul kantor penerbitan kami—dan juga, Bram.
Perasaanku mulai tidak karuan.
“Hai
Zi, sori lama ya?” sapa Mbak Uci begitu sampai di meja kami.
“Enggak
kok Mbak.” Jawabku singkat. Mereka pun duduk dan bergantian memesan makanan.
Aku yang terlihat menikmati makan siangku dengan tidak berselera mendapat
seloroh dari Aldo.
“Mbak
Zia kenapa sih? Makanan kok diunyel-unyel gitu, nggak nafsu makan ya gara-gara Mas Re? Hehehehe...” Katanya. Mas
Re yang tidak terima namanya disebut-sebut sebagai faktor yang menurunkan nafsu
makanku balas memberikan Aldo selorohan.
“Yang
ada nih, Zia nggak nafsu makan gara-gara kamu duduk di sebelahnya dia Do, liat
tuh rambut kamu, kribo nggak jelas banyak kutunya. Zia pasti khawatir kutu dari
rambut kamu locat ke makanannya dia tuh, makanya jadi nggak nafsu makan..”
seluruh yang ada di meja kami tertawa mendengar selorohan Mas Re, kecuali aku
dan Bram. Sejak tiba di meja kami, Bram tidak terlalu banyak bicara. Entah
bagaimana, aku merasakan perubahan sikap Bram yang cukup drastis. Mbak Uci yang
menyadari situasi tidak nyaman yang terbentang antara aku dan Bram berusaha
mencairkan suasana yang justru membuatku merasa semakin tidak nyaman.
“Bram,
kamu nggak kangen nih sama Zia?” tanya Mbak Uci, aku tersenyum kecut mendengar
pertanyaan Mbak Uci. Bram diam, Mas Renaldi menimpali.
“Bram
takut kalah saing Ci sama aku.” Katanya sambil tersenyum ke arahku, membuatku
semakin kikuk. Bram berdiri dari kursinya, pamit dengan sopan.
“Sori,
aku duluan ya? Mau nyiapin materi untuk meeting
nanti...” katanya dan berlalu.
Sepeninggal
Bram, obrolan masih berlanjut, aku masih di sana, tapi hati dan pikiranku tidak
lagi. Mereka tercuri dan hilang bersama langkah kaki Bram.
❤
Satu
bulan berlalu sejak makan siang bersama kami, aku mendengar Bram dipindahkan ke
divisi Tabloid yang berkantor dua
lantai di atas kantor penerbitan Buku dan Novel. Intensitas pertemuan yang hampir tidak pernah terjadi antara aku
dan Bram tidak begitu saja mengembalikan apa yang telah tercuri dariku.
Kesibukan yang membunuh waktu untuk melamun pun nyatanya tidak begitu berhasil
mengembalikan hatiku pada kondisi semula. Badai dalam diriku masih dalam fase
yang jauh dari mebaik. Aku tahu.
❤
Maret, 2013
Sudah
satu minggu berlalu sejak hari pertama peluncuran novel keduaku, dan sudah
delapan bulan berlalu sejak aku mendengar Bram dipindah tugaskan ke bagian Tabloid. Sejak hari itu, aku sudah tidak
pernah bertemu dengan Bram, dan hanya mendengar beberapa kabar bahwa ia akan
dipromosikan sebagai editor utama tabloid yang diterbitkan oleh kantor
penerbitanku, entahlah. Hari ini aku menghadiri sesi bedah buku dan book-signing di sebuah toko buku
kenamaan di Jogja. Bagian tengah toko yang sengaja dikosongkan untuk acara hari
ini terlihat penuh dengan teman-teman pembacaku. Aku duduk menunggu sang MC
mebuka sesi hari ini.
Di akhir sesi bedah buku,
seorang laki-laki bertopi yang duduk di kursi deretan belakang terlihat
mengacungkan tangannya. MC memintanya untuk bersabar karena sesi tanya jawab
akan dilakukan setelah ia menyampaikan beberapa ringkasan tentang apa yang
sudah aku sampaikan pada sesi sebelumnya. Laki-laki bertopi itu tidak
menghiraukan perkataan sang MC dan tetap mengacungkan tangannya tinggi-tinggi
seraya bertanya.
“Akhir
dari novel ini, apakah sama dengan akhir cerita Anda, Mbak Zia? Mengambang dan
penuh teka-teki?” aku tertegun mendengar
pertanyaannya. ‘Siapa laki-laki ini?
Kenapa ia bisa mengorelasikan akhir cerita dalam novelku dengan kisah hidup
pribadiku?’ batinku. Aku diam selama beberapa saat, sampai akhirnya
laki-laki itu berjalan menuju mejaku, beberapa petugas keamanan terlihat
bersiap-siap mengamankan laki-laki bertopi itu, namun ia terlihat tidak ragu
melangkah ke mejaku dan menyodorkan novelnya—yang merupakan novel karyaku—ke hadapanku.
“Tidak
bisakah kamu menggugurkan sedikit rasa aku-mu dan memanggilku kembali Zia?”
tanyanya. Laki-laki itu membuka topinya dan menatapku lurus. Aku tertegun.
Bram. Suaranya yang sedikit parau—mungkin karena sedang flu, aku tidak
tahu—membuatku tidak mengenalinya lebih awal. Aku tertegun. Ada rindu yang siap
untuk dilampiaskan, ada air mata yang siap untuk ditumpahkan, sementara aku
terdiam.
“Apakah
kamu benar-benar menginginkan akhir seperti ini?” tanyanya seraya membuka
bagian akhir dari novel yang kutulis. Teman-teman pembacaku dan MC acara hari
ini memperhatikanku dengan rasa penasaran tentang apa yang sesungguhnya
terjadi. Air mataku mulai merembes keluar sementara Bram melanjutkan
kata-katanya.
“Why did
you make it so complicated?” Bram menghela nafas panjang. Aku
menundukkan kepalaku dalam, tidak mampu berkata-kata.
“It’s our story, isn’t it? Harusnya aku
sadar dari awal...” lanjutnya. Aku masih terdiam dan sesenggukan yang entah
untuk apa. Aku hanya merasakan ada batu besar yang baru saja didorong lepas
dari hatiku, menyisakan lapang yang membahagiakan.
“Ziadatul
Khair, will you marry me?” kata Bram
akhirnya. Semua yang ada di tempat itu melontarkan teriakan tertahan.
“Bram...”
kataku di tengah sesenggukanku. Bram menungguku melanjutkan perkataanku dengan
sabar, sementara semua orang yang berada di tempat itu seperti menahan nafas
menungguku melanjutkan perkataanku.
“For causing your heart so much in troubles, I am sorry... For letting you suffer in
the past, I am sorry... For
my being ignorant, I am sorry... I am really, really sorry...” aku menggantung kata-kataku untuk mengambil nafas sejenak,
kebahagiaan nyatanya cukup menguras energi.
“Falling in love is one thing that I’ve never expected
in my life time. Thus, rejecting my own feeling towards you becomes something
that I’ve really mastered...” Bram terdiam, masih menunggu.
“For
waiting me, I thank you. For not giving up on me, I thank you. And, yes... Aku mau jadi ibu jadi anak-anakmu.” Kataku akhirnya. Aku
mendengar tepuk tangan riuh rendah. Aku tertawa lemah, sementara Bram mengusap
anak sungai yang mengalir melalui kedua matanya, ada kelegaan yang tidak bisa
kugambarkan dengan kata-kata.
“Makasi,
Zia...” kata Bram sambil tersenyum lembut ke arahku. Aku menunduk malu. Dilamar
di depan sekian banyak orang dan di tempat umum seeprti ini tidak pernah
terlintas di pikiranku.
“Mm,
Zi... aku seneng banget nih! Boleh peluk nggak?” katanya setengah bercanda. Aku
mendongakkan kepalaku dan memasang muka jutek. Bram tertawa renyah.
“Oke,
sori...” katanya sambil memamerkan deretan giginya, tersenyum lebar.
❤
Sebelum
akhirnya aku mengakui perasaanku terhadap Bram, aku sadar aku telah
menggoreskan banyak sekali rasa sakit. Tapi beginilah cinta, harus ada pahit
sebelum akhirnya dapat menikmati manisnya. Ada batas yang tak boleh dilanggar,
dan sungguh kebahagiaan menyertai setiap usaha untuk selalu bersabar.
❤
Maulisa, 05072013...
10:10 pm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar