Minggu, 14 Oktober 2012

SekuelCinta1


“Lebih baik kita putus.” Tulisku pada sebuah pesan singkat yang aku kirimkan padanya. Drrt.. drrt.. tidak lama, handphoneku menerima balasan sms. ‘Cepat sekali’ batinku.
“Kenapa?” tulisnya singkat. Aku bingung. Tak tahu akan menjawab apa. Aku tahu benar, aku mencintai laki-laki ini. Fian, Alfian. Dia laki-laki yang selama dua tahun belakangan ini mengisi kekosongan dalam hatiku. Meskipun-kamu tahu- kami tidak bertemu. Ah! Betapa cinta telah membuatku begitu naif. Baiklah, kepali pada Fian. Aku meminta putus darinya. Aku tidak lagi tahan. Ya, maka kutulis balasan padanya:
“Aku sudah tidak tahan.” SEND.
Sebenarnya apa yang membuatku tidak tahan? Yap! Bukan! Bukan karena kami berpacaran jarak jauh dan tidak pernah bertemu, melainkan karena aku sudah cukup lelah dengan sikapnya. Ia kekanak-kanakan. Ia terlalu bergantung pada kakaknya, Vicky. Dan, sejujurnya, Vicky juga merupakan salah satu alasanku memutuskan Fian. Yang aku tahu, Vicky tidak pernah menyukaiku. Ia tidak menyetujui hubunganku dengan Fian. Dua tahun berjalan, harapanku untuk dapat diterima olehnya mengambang tanpa pernah menemui kejelasan.  Fian tak pernah melakukan apapun untuk ini, sementara aku tidak mau jika kami hanya bermain-main dengan hubungan kami. Oke, katakanlah tida ada kata pacaran dalam kamus islam, tapi yah.. kuakui aku belum sanggup memenuhi tuntutan yang satu ini dalam agamaku, tapi aku berusaha untuk berpacaran hanya dengan satu orang saja karena aku ingin hanya akan satu orang dalam hatiku, dengan begitu mungkin aku akan merasa lebih baik. Tapi, siapa aku? Sehingga berhak menyusun aturanku sendiri? Maka aku pikir, apa yang terjadi sekarang ini adalah cara Allah menunujukkan padaku, bahwa aku hanyalah seorang perencana amatir yang tidak berkuasa atas alur dalam hidupku sendiri. Sebaik apapun rencana kususun, Allah jualah yang tahu rencana  terbaik bagiku. Ah, Rabb. Sebuah bukti yang nyata. Dua tahun berlalu, tapi semuanya masih tetap sama. Vicky masih tetap tidak menerimaku. Aku lelah. Aku menunggu balasan sms dari Fian. ‘Lama sekali,’ batinku.  Tidakn lama kemudian, handphoneku bergetar memperlihatkan satu pesan masuk dengan nama Fian tertera di layar.
“Kalau itu maumu, baiklah. Aku tidak akan memaksakan hubungan kita.” Jawabnya.
Hhh.. kuhela napas panjang. Ada sedikit guratan kecewa, kupikir ia akan berusaha mempertahankan hubungan kami, tapi..
“Terimakasih. Semoga kita masih bisa berteman setelah ini.” Tulisku akhirnya.
“Moh! (Tidak mau)” jawabnya. Ah, Fian selalu saja begini. Sifatnya selalu kekanak-kanakan.
“Baiklah, terserah.”  Pungkasku.
**
Satu jam berlalu, aku merasakan sesuatu hilang dari hariku. Fian memang tidak selalu bersikap manis, bahkan bisa dibilang ia cenderung kasar jika sedang marah, terlalu banyak tuntutan dan sebagainya. Tapi aku memang telah terbiasa. Terbiasa dengan sms-sms darinya. Terbiasa dengan segala tuntutannya yang kadang membuatku susah. Pernah sekali waktu, aku dimintanya membelikan manisan kedondong. Aku tahu dia sedikit sensitif dengan makanan di jalan, maka aku belikan ia manisan kedondong di sebuah supermarket besar. Dengan uang yang mulai menipis di akhir bulan aku menyisihkan sedikit demi bisa membuatnya senang. Sayangnya, usahaku terlihat tidak ada harganya karena setelah susah payah aku membelikannya manisan kedondong, adiknya, Andrea (satu-satunya penghubung antara aku dan Fian), tidak mau menerimanya. Saat itu aku ingat sekali betapa kesal rasanya. Tapi setelah itu, aku tetap memaafkannya, karena apa? Karena sebuah rasa yang waktu itu masih kusebut  CINTA. Tapi itu dulu. Sekarang kami putus. Sekarang tidak ada lagi sms-sms darinya. Hh.. tanpa sadar aku menghela nafas, berat.  Mengisi kekosongan, aku membuka-buka akunku dalam sebuah jejaring sosial, mengutip kata-kata cantik untuk kubagikan dengan teman-teman terdekatku. Selesai. Kututup akunku dan kembali bergelut dengan kekosongan itu.
**
Dua hari tanpa fian. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa. Ada Satria, Fandi, Aldi, dan Angga yang menghiburku. Mereka berempat yang menamakan dirinya sebagai kelompok orang-orang bodoh (sungguh ini hanya sebutan, karena pada kenyataannya mereka berempat adalah orang-orang yang pintar) menjadi teman yang selalu siap kapanpun aku membutuhkan mereka.  Asa dan Zahra kadang juga ikut menghiburku, memberiku nasehat yang kadang terdengar seperti omelan seorang ibu terhadap anaknya. Ah, teman.. mereka selalu menjadi penyemangat utama ketika semuanya terasa sulit. Aku memainkan handphoneku, mencoba semua aplikasi yang sebenarnya sudah kuketahui fungsinya. Empat menit berlalu. Bosan. Aku meletakkan handphoneku sesaat sebelum sebuah pesan singkat masuk. Fian. Nama itu tertera di layar. ‘Ada apa?’ batinku. Aku mulai merasa tidak tenang. Kubuka pesan tersebut, dan...
“Apa maumu? Dasar perempuan s****l, sudah puas memberi tahu semua orang tentang masalah kita, hah?”
Aku tertegun membaca pesan ini, kasar. Airmataku jatuh. Ah, cengeng sekali. tapi berhadapan dengan Fian memang membuatku murah sekali mengeluarkan airmata.
“Apa maksudmu?” jawabku singkat.
“Tidak pura-pura tidak tahu! Terus saja kamu mengoceh ke teman-temanmu tentag betapa brengseknya aku, terus Rin! Alfarini, menyesal aku pernah mencintai seseorang sepertimu, cukup tahu saja.. aku kecewa, f***!” balasnya panjang lebar. Dari semua kalimatnya, umpatannya membuatku tertegun. Fian, teganya. Aku menangis sejadinya. Aku rasa, lubang di hatiku semakin membesar, bukan-tidak karena perasaan kehilangan lagi, tapi lebih pada perasaan terhina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Setidaknya, dalam dua tahun-meski tanpa pertemuan-cukup banyak memberikan kenangan manis, tapi semuanya seolah diluluh-lantakkan dengan satu pesan singkat saja.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa maumu, apa maksudmu, apa tujuanmu. Kalu menurutmu aku salah, aku minta maaf, tapi tolong jaga jaga kata-katamu. Sudah tidak ada hubungan apapun antara kamu dan aku, jadi, kamu tidak berhak mengumpat dan berkata kasar terhadapku. Terimakasih.” Balasku.
Kumatikan handphoneku dan kutenggelamkan wajahku ke dalam bantal, aku menangis. Ah, Allah, terimakasih Kau membukanya sekarang. Sekuel cinta itu palsu. Aku lelah. Benar-benar lelah, dan.. kecewa.

***

2 komentar: