“Lebih baik kita
putus.” Tulisku pada sebuah pesan singkat yang aku kirimkan padanya. Drrt..
drrt.. tidak lama, handphoneku
menerima balasan sms. ‘Cepat sekali’
batinku.
“Kenapa?” tulisnya
singkat. Aku bingung. Tak tahu akan menjawab apa. Aku tahu benar, aku mencintai
laki-laki ini. Fian, Alfian. Dia laki-laki yang selama dua tahun belakangan ini
mengisi kekosongan dalam hatiku. Meskipun-kamu tahu- kami tidak bertemu. Ah!
Betapa cinta telah membuatku begitu naif. Baiklah, kepali pada Fian. Aku
meminta putus darinya. Aku tidak lagi tahan. Ya, maka kutulis balasan padanya:
“Aku sudah tidak
tahan.” SEND.
Sebenarnya apa yang
membuatku tidak tahan? Yap! Bukan! Bukan karena kami berpacaran jarak jauh dan
tidak pernah bertemu, melainkan karena aku sudah cukup lelah dengan sikapnya.
Ia kekanak-kanakan. Ia terlalu bergantung pada kakaknya, Vicky. Dan,
sejujurnya, Vicky juga merupakan salah satu alasanku memutuskan Fian. Yang aku
tahu, Vicky tidak pernah menyukaiku. Ia tidak menyetujui hubunganku dengan
Fian. Dua tahun berjalan, harapanku untuk dapat diterima olehnya mengambang
tanpa pernah menemui kejelasan. Fian tak
pernah melakukan apapun untuk ini, sementara aku tidak mau jika kami hanya
bermain-main dengan hubungan kami. Oke, katakanlah tida ada kata pacaran dalam
kamus islam, tapi yah.. kuakui aku belum sanggup memenuhi tuntutan yang satu
ini dalam agamaku, tapi aku berusaha untuk berpacaran hanya dengan satu orang
saja karena aku ingin hanya akan satu orang dalam hatiku, dengan begitu mungkin
aku akan merasa lebih baik. Tapi, siapa aku? Sehingga berhak menyusun aturanku
sendiri? Maka aku pikir, apa yang terjadi sekarang ini adalah cara Allah
menunujukkan padaku, bahwa aku hanyalah seorang perencana amatir yang tidak
berkuasa atas alur dalam hidupku sendiri. Sebaik apapun rencana kususun, Allah
jualah yang tahu rencana terbaik bagiku.
Ah, Rabb. Sebuah bukti yang nyata. Dua tahun berlalu, tapi semuanya masih tetap
sama. Vicky masih tetap tidak menerimaku. Aku lelah. Aku menunggu balasan sms
dari Fian. ‘Lama sekali,’
batinku. Tidakn lama kemudian, handphoneku bergetar memperlihatkan satu
pesan masuk dengan nama Fian tertera di layar.
“Kalau itu maumu,
baiklah. Aku tidak akan memaksakan hubungan kita.” Jawabnya.
Hhh..
kuhela napas panjang. Ada sedikit guratan kecewa, kupikir ia akan berusaha
mempertahankan hubungan kami, tapi..
“Terimakasih. Semoga
kita masih bisa berteman setelah ini.” Tulisku akhirnya.
“Moh! (Tidak mau)”
jawabnya. Ah, Fian selalu saja begini. Sifatnya selalu kekanak-kanakan.
“Baiklah,
terserah.” Pungkasku.
**
Satu jam berlalu, aku
merasakan sesuatu hilang dari hariku. Fian memang tidak selalu bersikap manis,
bahkan bisa dibilang ia cenderung kasar jika sedang marah, terlalu banyak
tuntutan dan sebagainya. Tapi aku memang telah terbiasa. Terbiasa dengan
sms-sms darinya. Terbiasa dengan segala tuntutannya yang kadang membuatku
susah. Pernah sekali waktu, aku dimintanya membelikan manisan kedondong. Aku
tahu dia sedikit sensitif dengan makanan di jalan, maka aku belikan ia manisan
kedondong di sebuah supermarket besar. Dengan uang yang mulai menipis di akhir
bulan aku menyisihkan sedikit demi bisa membuatnya senang. Sayangnya, usahaku
terlihat tidak ada harganya karena setelah susah payah aku membelikannya
manisan kedondong, adiknya, Andrea (satu-satunya penghubung antara aku dan
Fian), tidak mau menerimanya. Saat itu aku ingat sekali betapa kesal rasanya.
Tapi setelah itu, aku tetap memaafkannya, karena apa? Karena sebuah rasa yang
waktu itu masih kusebut CINTA. Tapi itu
dulu. Sekarang kami putus. Sekarang tidak ada lagi sms-sms darinya. Hh.. tanpa sadar aku menghela nafas,
berat. Mengisi kekosongan, aku
membuka-buka akunku dalam sebuah jejaring sosial, mengutip kata-kata cantik
untuk kubagikan dengan teman-teman terdekatku. Selesai. Kututup akunku dan
kembali bergelut dengan kekosongan itu.
**
Dua hari tanpa fian.
Sepertinya aku sudah mulai terbiasa. Ada Satria, Fandi, Aldi, dan Angga yang
menghiburku. Mereka berempat yang menamakan dirinya sebagai kelompok
orang-orang bodoh (sungguh ini hanya sebutan, karena pada kenyataannya mereka
berempat adalah orang-orang yang pintar) menjadi teman yang selalu siap
kapanpun aku membutuhkan mereka. Asa dan
Zahra kadang juga ikut menghiburku, memberiku nasehat yang kadang terdengar
seperti omelan seorang ibu terhadap anaknya. Ah, teman.. mereka selalu menjadi
penyemangat utama ketika semuanya terasa sulit. Aku memainkan handphoneku, mencoba semua aplikasi yang
sebenarnya sudah kuketahui fungsinya. Empat menit berlalu. Bosan. Aku
meletakkan handphoneku sesaat sebelum
sebuah pesan singkat masuk. Fian. Nama itu tertera di layar. ‘Ada apa?’
batinku. Aku mulai merasa tidak tenang. Kubuka pesan tersebut, dan...
“Apa maumu? Dasar
perempuan s****l, sudah puas memberi tahu semua orang tentang masalah kita, hah?”
Aku tertegun membaca
pesan ini, kasar. Airmataku jatuh. Ah, cengeng sekali. tapi berhadapan dengan
Fian memang membuatku murah sekali mengeluarkan airmata.
“Apa maksudmu?” jawabku
singkat.
“Tidak pura-pura tidak
tahu! Terus saja kamu mengoceh ke teman-temanmu tentag betapa brengseknya aku,
terus Rin! Alfarini, menyesal aku pernah mencintai seseorang sepertimu, cukup
tahu saja.. aku kecewa, f***!” balasnya panjang lebar. Dari semua kalimatnya,
umpatannya membuatku tertegun. Fian, teganya. Aku menangis sejadinya. Aku rasa,
lubang di hatiku semakin membesar, bukan-tidak karena perasaan kehilangan lagi,
tapi lebih pada perasaan terhina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat.
Setidaknya, dalam dua tahun-meski tanpa pertemuan-cukup banyak memberikan
kenangan manis, tapi semuanya seolah diluluh-lantakkan dengan satu pesan
singkat saja.
“Aku sama sekali tidak
mengerti apa maumu, apa maksudmu, apa tujuanmu. Kalu menurutmu aku salah, aku
minta maaf, tapi tolong jaga jaga kata-katamu. Sudah tidak ada hubungan apapun antara
kamu dan aku, jadi, kamu tidak berhak mengumpat dan berkata kasar terhadapku.
Terimakasih.” Balasku.
Kumatikan handphoneku dan kutenggelamkan wajahku
ke dalam bantal, aku menangis. Ah, Allah, terimakasih Kau membukanya sekarang.
Sekuel cinta itu palsu. Aku lelah. Benar-benar lelah, dan.. kecewa.
***
hmmmm...
BalasHapushmmm?
BalasHapus