Rabu, 10 Oktober 2012

SekuelRindu1


“Aku pergi Zahra.”
“Kemana?” Cecarku.
“Kemanapun itu, asalkan jauh darimu.” Katanya singkat sambil berlalu.
Ila aina anta? Ila aina anta? Ila aina anta? Laa tadzhab Hafiz..” Raungku tertahan di udara, tapi ia tak sedikit pun berbalik menolehku.
Aku tak sanggup. Ia tahu jelas itu.
**
Satu jam yang lalu, ketika sebuah pesan singkat kuterima darinya, aku tahu ada yang salah. Aku mencoba menerka. Buntu. Aku bergegas menghampirinya, ke taman mimpi tempat  kami bicara tanpa saling menatap. Ia berdiri di sana. Di tepi danau favoritnya, tempat kali pertama kami bertemu.
“Assalamualaikum, limadza?”
“Waalaikumsalam, kamu sudah datang Zahra..” katanya seraya tersenyum. Tapi senyumnya sama sekali tak menetramkan hatiku. ‘Hafiz.. apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?’ Aku membatin. Diamku membuat suasana semakin tidak nyaman. Aku sadar itu, tapi aku bergeming sampai kata-kata yang paling kutakutkan terungkap juga dari mulutnya.
“Zahra, aku ingin pergi.” Satu kalimat ini membuatku menggigil. Aku menangis.
“Tapi kenapa? Apa salahku? Kemarin semuanya masih baik-baik saja, apakah ada wanita lain yang lebih baik dariku menghampirimu, Fiz?” Cecarku. Aku tak mampu menahan butiran-butiran yang meluncur mulus dari mataku. Sungguh, aku benci terlihat lemah di hadapannya. Laki-laki egois yang tak pernah berhenti menarik-ulur hatiku sesuka hatinya, Hafiz.
“Ini yang tidak aku sukai darimu, Ra. Kamu belum dewasa, cemburumu besar. Dari awal aku berpikir ini salah Ra, maka kita akhiri saja.” Katanya dengan suara berat.
“Siti Aisyah pun memiliki rasa cemburu yang besar terhadap Rasulullah, lantas kenapa aku tak boleh? Baiklah Fiz, kalau aku tak boleh cemburu, jelaskan ada apa? Madza khoto’i, Hafiz?”
Laa.. kamu tidak bersalah apapun. Aku hanya berpikir ini salah. Sudahlah jangan bersedih, Allah sudah mengatur jodoh kita masing-masing.. jika memang kita berjodoh, kita akan bertemu lagi..” Katanya.
“Sejak awal aku tidak berpikir ini salah. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya Hafiz. Tanpa syarat. Aku bersedia kamu pinang kapanpun kamu siap tanpa tuntutan apa pun. Aku bersedia menunggumu kembali, bahkan jika menunggu adalah satu-satunya caraku untuk bersamamu, aku tidak tidak akan pernah merasa keberatan untuk melipatgandakan penantianku, selalu. Banyak pinangan yang datang padaku, tapi aku menolaknya karena aku tahu siapa yang akan aku pilih sebagai imamku.”
“Ini yang kutakutkan darimu Ra, kamu terlalu mencintaiku?”
“Apa salahnya? Katakan padaku dimana letak kesalahanku jika aku mencintaimu?”
“Ini salah Ra, setidaknya sampai kita benar-benar resmi dalam ikatan pernikahan aku tak mau kamu terlalu mencintaiku?”
“Klasik.” Kataku singkat. Aku tak mengerti. Tak pernah mengerti maksud laki-laki ini.
“Zahra, kamu belum dewasa. Aku juga. Aku belum bekerja. Kamu masih kuliah. Sudahlah..”
“Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini Fiz?” air mataku sudah berhenti. Tidak ada lagi air mata yang jatuh, sekarang hanya ada tanda tanya besar dan kebingungan akan sikap laki-laki ini.
“Karena...” Kata-katanya menggantung.
“Karena ada wanita lain, bukan? Siapa dia? Lebih cantik dariku? Lebih bisa memahamimu? Bukan tipe pencemburu gila sepertiku? Katakan, Fiz..” Cecarku membabi buta.
“Zahra!” Ia membentakku. Ia tak pernah membentakku dan ini membuatku semakin kalut. Aku ketakutan.
Aku menangis. Tak mampu berkata-kata. Ia, Hafiz, adalah laki-laki yang berpengaruh besar dalam hidupku. Emosiku. Setelah dua tahun semua ini berlalu, ‘kenapa?’ Batinku merunut pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak memiliki jawaban.
“Aku pergi Zahra.”
“Kemana?” Cecarku.
“Kemanapun itu, asalkan jauh darimu.” Katanya singkat sambil berlalu.
Ila aina anta? Ila aina anta? Ila aina anta? Laa tadzhab Hafiz..” Raungku tertahan di udara, tapi ia tak sedikit pun berbalik menolehku.
Aku tak sanggup. Ia tahu jelas itu.
**
Aku terduduk lesu. Air mata jatuh satu-satu. Menangis sekerasku. Hafiz.. Aku tidak pernah mengerti kenapa aku bisa begitu mencintai laki-laki ini. Ia pergi. Meninggalkanku. Tertatih menyusun lagi serpih-serpih hati yang ia hamburkan, tanpa kejelasan. 'Ah, sampai kapan?'
Belum satu hari berlalu, aku rindu. Bangunku. Tidurku. Makanku. Semua tentang laki-laki ini.
Aku berdiam diri di kediaman rindu, menjelajah setiap sudut ruang. Perlahan aku mengerti betapa ia ada; memenuhi setiap ruang dalam ingatanku, Hafiz..

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar