“Aku
pergi Zahra.”
“Kemana?”
Cecarku.
“Kemanapun
itu, asalkan jauh darimu.” Katanya singkat sambil berlalu.
“Ila aina anta? Ila aina anta? Ila aina anta?
Laa tadzhab Hafiz..” Raungku tertahan
di udara, tapi ia tak sedikit pun berbalik menolehku.
Aku
tak sanggup. Ia tahu jelas itu.
**
Satu
jam yang lalu, ketika sebuah pesan singkat kuterima darinya, aku tahu ada yang
salah. Aku mencoba menerka. Buntu. Aku bergegas menghampirinya, ke taman mimpi
tempat kami bicara tanpa saling menatap.
Ia berdiri di sana. Di tepi danau favoritnya, tempat kali pertama kami bertemu.
“Assalamualaikum,
limadza?”
“Waalaikumsalam,
kamu sudah datang Zahra..” katanya seraya tersenyum. Tapi senyumnya sama sekali
tak menetramkan hatiku. ‘Hafiz.. apa yang
sebenarnya ingin kamu katakan?’ Aku membatin. Diamku membuat suasana
semakin tidak nyaman. Aku sadar itu, tapi aku bergeming sampai kata-kata yang
paling kutakutkan terungkap juga dari mulutnya.
“Zahra,
aku ingin pergi.” Satu kalimat ini membuatku menggigil. Aku menangis.
“Tapi
kenapa? Apa salahku? Kemarin semuanya masih baik-baik saja, apakah ada wanita
lain yang lebih baik dariku menghampirimu, Fiz?” Cecarku. Aku tak mampu menahan
butiran-butiran yang meluncur mulus dari mataku. Sungguh, aku benci terlihat
lemah di hadapannya. Laki-laki egois yang tak pernah berhenti menarik-ulur
hatiku sesuka hatinya, Hafiz.
“Ini
yang tidak aku sukai darimu, Ra. Kamu belum dewasa, cemburumu besar. Dari awal
aku berpikir ini salah Ra, maka kita akhiri saja.” Katanya dengan suara berat.
“Siti
Aisyah pun memiliki rasa cemburu yang besar terhadap Rasulullah, lantas kenapa
aku tak boleh? Baiklah Fiz, kalau aku tak boleh cemburu, jelaskan ada apa? Madza khoto’i, Hafiz?”
“Laa.. kamu tidak bersalah apapun. Aku hanya
berpikir ini salah. Sudahlah jangan bersedih, Allah sudah mengatur jodoh kita
masing-masing.. jika memang kita berjodoh, kita akan bertemu lagi..” Katanya.
“Sejak
awal aku tidak berpikir ini salah. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya Hafiz.
Tanpa syarat. Aku bersedia kamu pinang kapanpun kamu siap tanpa tuntutan apa
pun. Aku bersedia menunggumu kembali, bahkan jika menunggu adalah satu-satunya
caraku untuk bersamamu, aku tidak tidak akan pernah merasa keberatan untuk
melipatgandakan penantianku, selalu. Banyak pinangan yang datang padaku, tapi
aku menolaknya karena aku tahu siapa yang akan aku pilih sebagai imamku.”
“Ini
yang kutakutkan darimu Ra, kamu terlalu mencintaiku?”
“Apa
salahnya? Katakan padaku dimana letak kesalahanku jika aku mencintaimu?”
“Ini
salah Ra, setidaknya sampai kita benar-benar resmi dalam ikatan pernikahan aku
tak mau kamu terlalu mencintaiku?”
“Klasik.”
Kataku singkat. Aku tak mengerti. Tak pernah mengerti maksud laki-laki ini.
“Zahra,
kamu belum dewasa. Aku juga. Aku belum bekerja. Kamu masih kuliah. Sudahlah..”
“Kenapa
sekarang? Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini Fiz?” air mataku sudah
berhenti. Tidak ada lagi air mata yang jatuh, sekarang hanya ada tanda tanya
besar dan kebingungan akan sikap laki-laki ini.
“Karena...”
Kata-katanya menggantung.
“Karena
ada wanita lain, bukan? Siapa dia? Lebih cantik dariku? Lebih bisa memahamimu?
Bukan tipe pencemburu gila sepertiku? Katakan, Fiz..” Cecarku membabi buta.
“Zahra!”
Ia membentakku. Ia tak pernah membentakku dan ini membuatku semakin kalut. Aku
ketakutan.
Aku
menangis. Tak mampu berkata-kata. Ia, Hafiz, adalah laki-laki yang berpengaruh
besar dalam hidupku. Emosiku. Setelah dua tahun semua ini berlalu, ‘kenapa?’ Batinku merunut
pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak memiliki jawaban.
“Aku
pergi Zahra.”
“Kemana?”
Cecarku.
“Kemanapun
itu, asalkan jauh darimu.” Katanya singkat sambil berlalu.
“Ila aina anta? Ila aina anta? Ila aina anta?
Laa tadzhab Hafiz..” Raungku tertahan
di udara, tapi ia tak sedikit pun berbalik menolehku.
Aku
tak sanggup. Ia tahu jelas itu.
**
Aku
terduduk lesu. Air mata jatuh satu-satu. Menangis sekerasku. Hafiz.. Aku tidak
pernah mengerti kenapa aku bisa begitu mencintai laki-laki ini. Ia pergi.
Meninggalkanku. Tertatih menyusun lagi serpih-serpih hati yang ia hamburkan,
tanpa kejelasan. 'Ah, sampai kapan?'
Belum
satu hari berlalu, aku rindu. Bangunku. Tidurku. Makanku. Semua tentang
laki-laki ini.
Aku
berdiam diri di kediaman rindu, menjelajah setiap sudut ruang. Perlahan aku
mengerti betapa ia ada; memenuhi setiap ruang dalam ingatanku, Hafiz..
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar