Sebuah catatan untuk sebuah perubahan.. perlahan tapi pasti mempersiapkan sebuah akhir kehidupan dalam kondisi terbaik, InsyaAllah.. :)
Sabtu, 12 Mei 2012
Lilin Hati
Sabtu, 10 Maret 2012
Ialah "Gigih"
Setelah lolos seleksi ke tiga, puisi ini berhenti melaju..
Dan sempat memupuskan harapan yang awalnya membumbung,
Hmm, tapi saya rasa.. puisi ini bagus untuk evaluasi, jika kita masih sering mengeluh tentang beratnya hidup..
Selamat Membaca..
-------------------------------------------------
Siang dan malam tak ada beda
Mentari dan rembulan terlihat sama
Bukan karena ia mati rasa
Tapi karena ia, buta..
Ia tak mengenal ragam warna
Karena dalam dunianya
Hanya satu tersisa
Hitam,
Pun demikian,
Ia tak pernah menuntut pada Tuhan
Ia, lelaki dengan hati yang lapang
Berjalan tegar menyusur hari-hari panjang
Ia tak mengenal keluh
Baginya, hari takkan usai jika hanya keluh tanpa cucuran peluh
Gelap yang menerangi harinya, tak membuatnya luntur dalam teguh
Meski kedua matanya buta, nuraninya utuh..
Ia malu, jika harus berpasrah dengan ikhtiar yang lemah
Sedang mengharap pemberianNya yang melimpah,
Baginya, hidup tak sama dengan mie instan
Yang untuk memperolehnya tak perlu banyak perjuangan
Baginya, kebahagiaan dan perut yang kenyang,
Hanya dapat diperoleh dengan usaha dan jerih payah..
Kedua matanya memang tak sempurna
Tapi kedua kakinya, tetap tegak menapak tanah
Melangkah pasti
Demi mencari sesuap nasi, untuk anak-istri
Ia lah uswah
Di tengah sosialita yang serba mewah
Dengan kehidupan kota yang tumpah ruah
Ia lah gigih dalam sosok yang nyata...
Sidoarjo, 10 Januari 2012
Senin, 13 Februari 2012
Suara-suara
Ketika akhir, menjadi satusatunya pengontrol bagi jiwa yang mahaegois..
Dan suarasuara itulah saksi, bahwa tidak ada yang terlalu lama dalam kehidupan yang sesekejap kedipan mata..
---------------------------------------------
Mendung menggelayuti malam yang sepi
Keheningan menyergap jiwa yang tengah sendiri
Hembusan angin mencipta sebuah melodi
Membisikkan ketakutan-ketakutan sarat arti
Tenggelam dalam sebuah perenungan
Mempertanyakan kembali kesiapan
Karena setiap detik yang terlewatkan
Tak kan luput dari pertanggungjawaban amalan
Ketika telah sampai masa
Tak kan ada kesempatan membela dengan kata
Mengapa jiwa selalu menegeluh
Dalam kucuran peluh
Ceceran khilaf di masa lalu
Penyesalan akan detik-detik yang terlanjur berlalu
Menjelma menjadi nafas yang memburu
Dan tetes sesal yang mengalir menderu
Satu suara mengatakan:
“Tuhanmu tak butuh tangis penyesalan,
Airmatamu adalah bagian dari sebuah kesia-siaan
Hanya hamburkan detikmu yang tersisa dalam kehidupan.”
Suara yang lain membisikkan:
“Alam telah merekam setiap kejadian dalam deret kesaksian,
Dan masing-masingnya menuntut adanya pertanggungjawaban,
Maka, sudah sejauh mana persiapan yang engkau lakukan?”
Aku terdiam,
Ku gaungkan kembali dalam hati,
“Jadi, sudah sejauh mana persiapan?
Jika hari hanya berisi ketakutan dan penyesalan,
Kapan engkau akan benar-benar siap menatap kematian?”
Sabtu, 04 Februari 2012
Suatu Ketika, Saat Senja Hadir Terlalu Dini
Entah berapa lama waktu berlalu,
Meretas rindu dalam masaku,
Tak ada pengganti. Tak kan pernah ada pengganti bagiku
Untuk kenangan yang telah menjadi terlalu manis di antara jemari bergenggam rindu
4 Februari 2012
Sebuah siang berkalang mendung menggelayut sendu
Kubiarkan angin menyapa rinduku
Menghadirkan senyum dalam satu
Ulasan cantik di atas ukhuwah yang teretas,
Mengalir bersama gerimis dan dayungan sayang,
Kubiarkan Matahari bersembunyi
Menatap iri pada kehangatan yang terpancar
Aku merapal rindu dalam tetesan hujan
Menggigil dalam senang,
Merajut asa dalam tawa yang terkembang
Mengeja sayang dalam teriakan di antara titik-titik yang jatuh tergenang
Lalu semesta pun seakan tahu
Menjelma serupa isyarat dalam reda,
Sebentar..
Tawa dan canda kalian
Melukis senyum dalam wajah bulan yang memucat
Karena waktu yang tak begitu bersahabat
Terlewat
Tanpa tahu, senja telah hadir begitu cepat
Aku terbangun dalam timangan
Saat siang telah menjadi terlalu singkat
Untuk dihabiskan dalam keberagaman--
Dalam kebersamaan dan sepiring nasi yang tersaji
Sungguh, aku aku tak ingin pergi
Tak ingin beranjak dari tikar plastik tempat kita berbagi
Kalian pun, enggan berhenti
Terus saja bercerita, dalam sajak-sajak tak tertulis
Berbagi gambar sebagai kenangan yang tak terbeli
Sekali lagi,
Saat senja hadir terlalu dini
Memaksaku bergegas dalam ketergesaan
Dan, waktu pun berlalu tanpa pamit
Dalam hujan yang menderas di atas kepalaku..
Senjaku berlalu
Bersama deru yang mengikat sejumput haru,
Betapa yang sederhana mampu membayar rindu
Mengumpulkan serpihan kenangan masa lalu
Menjadi satu
Melodiku kembali utuh
Dalam gitar kayu tua
Mengalunkan lega..
Terimakasih, saudara..
Semoga keberkahan teriring dalam langkah kita,
Selanjutnya..
