Sabtu, 04 Februari 2012

Suatu Ketika, Saat Senja Hadir Terlalu Dini

Entah berapa lama waktu berlalu,

Meretas rindu dalam masaku,

Tak ada pengganti. Tak kan pernah ada pengganti bagiku

Untuk kenangan yang telah menjadi terlalu manis di antara jemari bergenggam rindu


4 Februari 2012

Sebuah siang berkalang mendung menggelayut sendu

Kubiarkan angin menyapa rinduku

Menghadirkan senyum dalam satu

Ulasan cantik di atas ukhuwah yang teretas,


Mengalir bersama gerimis dan dayungan sayang,

Kubiarkan Matahari bersembunyi

Menatap iri pada kehangatan yang terpancar


Aku merapal rindu dalam tetesan hujan

Menggigil dalam senang,

Merajut asa dalam tawa yang terkembang

Mengeja sayang dalam teriakan di antara titik-titik yang jatuh tergenang


Lalu semesta pun seakan tahu

Menjelma serupa isyarat dalam reda,

Sebentar..


Tawa dan canda kalian

Melukis senyum dalam wajah bulan yang memucat

Karena waktu yang tak begitu bersahabat

Terlewat

Tanpa tahu, senja telah hadir begitu cepat


Aku terbangun dalam timangan

Saat siang telah menjadi terlalu singkat

Untuk dihabiskan dalam keberagaman--

Dalam kebersamaan dan sepiring nasi yang tersaji


Sungguh, aku aku tak ingin pergi

Tak ingin beranjak dari tikar plastik tempat kita berbagi

Kalian pun, enggan berhenti

Terus saja bercerita, dalam sajak-sajak tak tertulis

Berbagi gambar sebagai kenangan yang tak terbeli


Sekali lagi,

Saat senja hadir terlalu dini

Memaksaku bergegas dalam ketergesaan

Dan, waktu pun berlalu tanpa pamit

Dalam hujan yang menderas di atas kepalaku..


Senjaku berlalu

Bersama deru yang mengikat sejumput haru,

Betapa yang sederhana mampu membayar rindu

Mengumpulkan serpihan kenangan masa lalu

Menjadi satu


Melodiku kembali utuh

Dalam gitar kayu tua

Mengalunkan lega..


Terimakasih, saudara..

Semoga keberkahan teriring dalam langkah kita,

Selanjutnya..


-aesaazzam-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar