Ketika akhir, menjadi satusatunya pengontrol bagi jiwa yang mahaegois..
Dan suarasuara itulah saksi, bahwa tidak ada yang terlalu lama dalam kehidupan yang sesekejap kedipan mata..
---------------------------------------------
Mendung menggelayuti malam yang sepi
Keheningan menyergap jiwa yang tengah sendiri
Hembusan angin mencipta sebuah melodi
Membisikkan ketakutan-ketakutan sarat arti
Tenggelam dalam sebuah perenungan
Mempertanyakan kembali kesiapan
Karena setiap detik yang terlewatkan
Tak kan luput dari pertanggungjawaban amalan
Ketika telah sampai masa
Tak kan ada kesempatan membela dengan kata
Mengapa jiwa selalu menegeluh
Dalam kucuran peluh
Ceceran khilaf di masa lalu
Penyesalan akan detik-detik yang terlanjur berlalu
Menjelma menjadi nafas yang memburu
Dan tetes sesal yang mengalir menderu
Satu suara mengatakan:
“Tuhanmu tak butuh tangis penyesalan,
Airmatamu adalah bagian dari sebuah kesia-siaan
Hanya hamburkan detikmu yang tersisa dalam kehidupan.”
Suara yang lain membisikkan:
“Alam telah merekam setiap kejadian dalam deret kesaksian,
Dan masing-masingnya menuntut adanya pertanggungjawaban,
Maka, sudah sejauh mana persiapan yang engkau lakukan?”
Aku terdiam,
Ku gaungkan kembali dalam hati,
“Jadi, sudah sejauh mana persiapan?
Jika hari hanya berisi ketakutan dan penyesalan,
Kapan engkau akan benar-benar siap menatap kematian?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar