Senin, 22 Oktober 2012

Dialog Malam


Di sebuah pelataran, di antara hamparan senja, yang
merayap, menepi
Perlahan gelap menggulung langit malam yang tampak sepi

Semua bintang telah tercuri
wirid lemah bertanya:
“siapa pencuri? mengoyak semestaku dengan berani.”

di antara mendung yang mengepung bulan yang berpendar pudar
terdengar bisikan dari angin yang lalu:
“aku adalah cinta yang bersembunyi di balik rasa malu, diam-diam
kukoyak semestamu dari jauh,”


Lalu daun yang menari-nari begitu liarnya mengumandangkan nyanyian jawab:
“aku adalah kisah lalu dan masa depan,
yang akan menua bersamamu,”

-aesaazzam-

Minggu, 14 Oktober 2012

SekuelCinta1


“Lebih baik kita putus.” Tulisku pada sebuah pesan singkat yang aku kirimkan padanya. Drrt.. drrt.. tidak lama, handphoneku menerima balasan sms. ‘Cepat sekali’ batinku.
“Kenapa?” tulisnya singkat. Aku bingung. Tak tahu akan menjawab apa. Aku tahu benar, aku mencintai laki-laki ini. Fian, Alfian. Dia laki-laki yang selama dua tahun belakangan ini mengisi kekosongan dalam hatiku. Meskipun-kamu tahu- kami tidak bertemu. Ah! Betapa cinta telah membuatku begitu naif. Baiklah, kepali pada Fian. Aku meminta putus darinya. Aku tidak lagi tahan. Ya, maka kutulis balasan padanya:
“Aku sudah tidak tahan.” SEND.
Sebenarnya apa yang membuatku tidak tahan? Yap! Bukan! Bukan karena kami berpacaran jarak jauh dan tidak pernah bertemu, melainkan karena aku sudah cukup lelah dengan sikapnya. Ia kekanak-kanakan. Ia terlalu bergantung pada kakaknya, Vicky. Dan, sejujurnya, Vicky juga merupakan salah satu alasanku memutuskan Fian. Yang aku tahu, Vicky tidak pernah menyukaiku. Ia tidak menyetujui hubunganku dengan Fian. Dua tahun berjalan, harapanku untuk dapat diterima olehnya mengambang tanpa pernah menemui kejelasan.  Fian tak pernah melakukan apapun untuk ini, sementara aku tidak mau jika kami hanya bermain-main dengan hubungan kami. Oke, katakanlah tida ada kata pacaran dalam kamus islam, tapi yah.. kuakui aku belum sanggup memenuhi tuntutan yang satu ini dalam agamaku, tapi aku berusaha untuk berpacaran hanya dengan satu orang saja karena aku ingin hanya akan satu orang dalam hatiku, dengan begitu mungkin aku akan merasa lebih baik. Tapi, siapa aku? Sehingga berhak menyusun aturanku sendiri? Maka aku pikir, apa yang terjadi sekarang ini adalah cara Allah menunujukkan padaku, bahwa aku hanyalah seorang perencana amatir yang tidak berkuasa atas alur dalam hidupku sendiri. Sebaik apapun rencana kususun, Allah jualah yang tahu rencana  terbaik bagiku. Ah, Rabb. Sebuah bukti yang nyata. Dua tahun berlalu, tapi semuanya masih tetap sama. Vicky masih tetap tidak menerimaku. Aku lelah. Aku menunggu balasan sms dari Fian. ‘Lama sekali,’ batinku.  Tidakn lama kemudian, handphoneku bergetar memperlihatkan satu pesan masuk dengan nama Fian tertera di layar.
“Kalau itu maumu, baiklah. Aku tidak akan memaksakan hubungan kita.” Jawabnya.
Hhh.. kuhela napas panjang. Ada sedikit guratan kecewa, kupikir ia akan berusaha mempertahankan hubungan kami, tapi..
“Terimakasih. Semoga kita masih bisa berteman setelah ini.” Tulisku akhirnya.
“Moh! (Tidak mau)” jawabnya. Ah, Fian selalu saja begini. Sifatnya selalu kekanak-kanakan.
“Baiklah, terserah.”  Pungkasku.
**
Satu jam berlalu, aku merasakan sesuatu hilang dari hariku. Fian memang tidak selalu bersikap manis, bahkan bisa dibilang ia cenderung kasar jika sedang marah, terlalu banyak tuntutan dan sebagainya. Tapi aku memang telah terbiasa. Terbiasa dengan sms-sms darinya. Terbiasa dengan segala tuntutannya yang kadang membuatku susah. Pernah sekali waktu, aku dimintanya membelikan manisan kedondong. Aku tahu dia sedikit sensitif dengan makanan di jalan, maka aku belikan ia manisan kedondong di sebuah supermarket besar. Dengan uang yang mulai menipis di akhir bulan aku menyisihkan sedikit demi bisa membuatnya senang. Sayangnya, usahaku terlihat tidak ada harganya karena setelah susah payah aku membelikannya manisan kedondong, adiknya, Andrea (satu-satunya penghubung antara aku dan Fian), tidak mau menerimanya. Saat itu aku ingat sekali betapa kesal rasanya. Tapi setelah itu, aku tetap memaafkannya, karena apa? Karena sebuah rasa yang waktu itu masih kusebut  CINTA. Tapi itu dulu. Sekarang kami putus. Sekarang tidak ada lagi sms-sms darinya. Hh.. tanpa sadar aku menghela nafas, berat.  Mengisi kekosongan, aku membuka-buka akunku dalam sebuah jejaring sosial, mengutip kata-kata cantik untuk kubagikan dengan teman-teman terdekatku. Selesai. Kututup akunku dan kembali bergelut dengan kekosongan itu.
**
Dua hari tanpa fian. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa. Ada Satria, Fandi, Aldi, dan Angga yang menghiburku. Mereka berempat yang menamakan dirinya sebagai kelompok orang-orang bodoh (sungguh ini hanya sebutan, karena pada kenyataannya mereka berempat adalah orang-orang yang pintar) menjadi teman yang selalu siap kapanpun aku membutuhkan mereka.  Asa dan Zahra kadang juga ikut menghiburku, memberiku nasehat yang kadang terdengar seperti omelan seorang ibu terhadap anaknya. Ah, teman.. mereka selalu menjadi penyemangat utama ketika semuanya terasa sulit. Aku memainkan handphoneku, mencoba semua aplikasi yang sebenarnya sudah kuketahui fungsinya. Empat menit berlalu. Bosan. Aku meletakkan handphoneku sesaat sebelum sebuah pesan singkat masuk. Fian. Nama itu tertera di layar. ‘Ada apa?’ batinku. Aku mulai merasa tidak tenang. Kubuka pesan tersebut, dan...
“Apa maumu? Dasar perempuan s****l, sudah puas memberi tahu semua orang tentang masalah kita, hah?”
Aku tertegun membaca pesan ini, kasar. Airmataku jatuh. Ah, cengeng sekali. tapi berhadapan dengan Fian memang membuatku murah sekali mengeluarkan airmata.
“Apa maksudmu?” jawabku singkat.
“Tidak pura-pura tidak tahu! Terus saja kamu mengoceh ke teman-temanmu tentag betapa brengseknya aku, terus Rin! Alfarini, menyesal aku pernah mencintai seseorang sepertimu, cukup tahu saja.. aku kecewa, f***!” balasnya panjang lebar. Dari semua kalimatnya, umpatannya membuatku tertegun. Fian, teganya. Aku menangis sejadinya. Aku rasa, lubang di hatiku semakin membesar, bukan-tidak karena perasaan kehilangan lagi, tapi lebih pada perasaan terhina. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Setidaknya, dalam dua tahun-meski tanpa pertemuan-cukup banyak memberikan kenangan manis, tapi semuanya seolah diluluh-lantakkan dengan satu pesan singkat saja.
“Aku sama sekali tidak mengerti apa maumu, apa maksudmu, apa tujuanmu. Kalu menurutmu aku salah, aku minta maaf, tapi tolong jaga jaga kata-katamu. Sudah tidak ada hubungan apapun antara kamu dan aku, jadi, kamu tidak berhak mengumpat dan berkata kasar terhadapku. Terimakasih.” Balasku.
Kumatikan handphoneku dan kutenggelamkan wajahku ke dalam bantal, aku menangis. Ah, Allah, terimakasih Kau membukanya sekarang. Sekuel cinta itu palsu. Aku lelah. Benar-benar lelah, dan.. kecewa.

***

Rabu, 10 Oktober 2012

SekuelRindu1


“Aku pergi Zahra.”
“Kemana?” Cecarku.
“Kemanapun itu, asalkan jauh darimu.” Katanya singkat sambil berlalu.
Ila aina anta? Ila aina anta? Ila aina anta? Laa tadzhab Hafiz..” Raungku tertahan di udara, tapi ia tak sedikit pun berbalik menolehku.
Aku tak sanggup. Ia tahu jelas itu.
**
Satu jam yang lalu, ketika sebuah pesan singkat kuterima darinya, aku tahu ada yang salah. Aku mencoba menerka. Buntu. Aku bergegas menghampirinya, ke taman mimpi tempat  kami bicara tanpa saling menatap. Ia berdiri di sana. Di tepi danau favoritnya, tempat kali pertama kami bertemu.
“Assalamualaikum, limadza?”
“Waalaikumsalam, kamu sudah datang Zahra..” katanya seraya tersenyum. Tapi senyumnya sama sekali tak menetramkan hatiku. ‘Hafiz.. apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?’ Aku membatin. Diamku membuat suasana semakin tidak nyaman. Aku sadar itu, tapi aku bergeming sampai kata-kata yang paling kutakutkan terungkap juga dari mulutnya.
“Zahra, aku ingin pergi.” Satu kalimat ini membuatku menggigil. Aku menangis.
“Tapi kenapa? Apa salahku? Kemarin semuanya masih baik-baik saja, apakah ada wanita lain yang lebih baik dariku menghampirimu, Fiz?” Cecarku. Aku tak mampu menahan butiran-butiran yang meluncur mulus dari mataku. Sungguh, aku benci terlihat lemah di hadapannya. Laki-laki egois yang tak pernah berhenti menarik-ulur hatiku sesuka hatinya, Hafiz.
“Ini yang tidak aku sukai darimu, Ra. Kamu belum dewasa, cemburumu besar. Dari awal aku berpikir ini salah Ra, maka kita akhiri saja.” Katanya dengan suara berat.
“Siti Aisyah pun memiliki rasa cemburu yang besar terhadap Rasulullah, lantas kenapa aku tak boleh? Baiklah Fiz, kalau aku tak boleh cemburu, jelaskan ada apa? Madza khoto’i, Hafiz?”
Laa.. kamu tidak bersalah apapun. Aku hanya berpikir ini salah. Sudahlah jangan bersedih, Allah sudah mengatur jodoh kita masing-masing.. jika memang kita berjodoh, kita akan bertemu lagi..” Katanya.
“Sejak awal aku tidak berpikir ini salah. Aku mencintaimu tanpa tanda tanya Hafiz. Tanpa syarat. Aku bersedia kamu pinang kapanpun kamu siap tanpa tuntutan apa pun. Aku bersedia menunggumu kembali, bahkan jika menunggu adalah satu-satunya caraku untuk bersamamu, aku tidak tidak akan pernah merasa keberatan untuk melipatgandakan penantianku, selalu. Banyak pinangan yang datang padaku, tapi aku menolaknya karena aku tahu siapa yang akan aku pilih sebagai imamku.”
“Ini yang kutakutkan darimu Ra, kamu terlalu mencintaiku?”
“Apa salahnya? Katakan padaku dimana letak kesalahanku jika aku mencintaimu?”
“Ini salah Ra, setidaknya sampai kita benar-benar resmi dalam ikatan pernikahan aku tak mau kamu terlalu mencintaiku?”
“Klasik.” Kataku singkat. Aku tak mengerti. Tak pernah mengerti maksud laki-laki ini.
“Zahra, kamu belum dewasa. Aku juga. Aku belum bekerja. Kamu masih kuliah. Sudahlah..”
“Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kamu mengatakan semua ini Fiz?” air mataku sudah berhenti. Tidak ada lagi air mata yang jatuh, sekarang hanya ada tanda tanya besar dan kebingungan akan sikap laki-laki ini.
“Karena...” Kata-katanya menggantung.
“Karena ada wanita lain, bukan? Siapa dia? Lebih cantik dariku? Lebih bisa memahamimu? Bukan tipe pencemburu gila sepertiku? Katakan, Fiz..” Cecarku membabi buta.
“Zahra!” Ia membentakku. Ia tak pernah membentakku dan ini membuatku semakin kalut. Aku ketakutan.
Aku menangis. Tak mampu berkata-kata. Ia, Hafiz, adalah laki-laki yang berpengaruh besar dalam hidupku. Emosiku. Setelah dua tahun semua ini berlalu, ‘kenapa?’ Batinku merunut pertanyaan-pertanyaan yang seolah tak memiliki jawaban.
“Aku pergi Zahra.”
“Kemana?” Cecarku.
“Kemanapun itu, asalkan jauh darimu.” Katanya singkat sambil berlalu.
Ila aina anta? Ila aina anta? Ila aina anta? Laa tadzhab Hafiz..” Raungku tertahan di udara, tapi ia tak sedikit pun berbalik menolehku.
Aku tak sanggup. Ia tahu jelas itu.
**
Aku terduduk lesu. Air mata jatuh satu-satu. Menangis sekerasku. Hafiz.. Aku tidak pernah mengerti kenapa aku bisa begitu mencintai laki-laki ini. Ia pergi. Meninggalkanku. Tertatih menyusun lagi serpih-serpih hati yang ia hamburkan, tanpa kejelasan. 'Ah, sampai kapan?'
Belum satu hari berlalu, aku rindu. Bangunku. Tidurku. Makanku. Semua tentang laki-laki ini.
Aku berdiam diri di kediaman rindu, menjelajah setiap sudut ruang. Perlahan aku mengerti betapa ia ada; memenuhi setiap ruang dalam ingatanku, Hafiz..

***