Kamis, 27 Desember 2012

Matahari Untuk Ugy




Dunia tersa begitu gelap
Tak ada cahaya
Tapi ia tetap bersinar
Dengan keyakinan harapan dan cinta..

Kugy terdiam di kamarnya dan segalanya masih terasa gelap; bibir kugy mengulum senyum. Kugy mengalami kebutaan saat ia masih berusia dua tahun. Saat itu ia mengalami kecelakaan bersama kedua orangtuanya yang mengakibatkan papanya meninggal dan ia sendiri mengalami kebutaan permanen sedangkan mamanya hanya mengalami luka-luka ringan. Sejak kecelakaan itu, kugy mengalami trauma yang dalam terhadap motor dan jalan raya. Kugy tak menyalahkan siapapun atas kebutaan yang merenggut cahaya dalam hidupnya. Ia juga tak pernah menangis karena selalu menjadi olok-olokan teman seumurannya. Ia selalu terlihat kuat karena ia tidak ingin mamanya bersedih. Sejak papanya meninggal, mamanya berjuang sendirian membesarkannya sampai ia berusia 17 tahun. Mereka berdua tidak hidup dalam kelebihan tidak juga dalam kekurangan, segalanya terasa cukup. Kugy sangat menyayangi mamanya begitupun mamanya yang sangat menyayangi Kugy. Sore ini, mamanya berulang tahun. Kugy telah mempersiapkan kado kecil untuk mamanya, sebuah lagu yang liriknya ia ciptakan sendiri. Mbok Minah juga telah ia minta untuk membuatkan kue tart kecil untuk mamanya. Kugy sudah tidak sabar menunggu kehadiran mamanya.
Derum mobil Kinar, mama Kugy, terdengar memasuki halaman. Kugy berjalan dengan dituntun mbok Minah di sampingnya menuju pintu depan. Ia ingin menyambut kedatangan mamanya dengan kue tart dan nyanyian selamat ulang tahun. Namun sebelum Kugy melaksanakan niatnya, ia mendengar suara langkah kaki lain, langkah kaki selain milik mamanya. Kugy hanya berdiri di depan pintu tanpa melakukan apapun sampai mamanya menghampirinya dan mencium pipinya sayang.
“Sore sayang.. kamu ngapain berdiri di depan pintu kayak gini?” tanya mamanya.
“Sore ma, eh-oh.. emm.. Mama dateng sama sapa?” Kugy balik bertanya kepada mamanya, alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan mamanya.
“Oh.. mata-hati kamu semakin tajam ya? Mama datang sama om Adit. Dia teman sekantor mama. Kenalin gy..”
Kugy mengulurkan tangannya dan disambut oleh laki-laki yang sekarang berdiri di samping mamanya.
“Kenalkan om, nama saya Rikugy Karunia tapi om cukup panggil saya Ugy.” Kata Kugy memperkenalkan dirinya. Kinar tersenyum melihat Kugy.
“Salam kenal Ugy, nama om, Aditya Satrio. Kamu boleh panggil om, apa aja yang kamu suka.” Laki-laki itu tersenyum ramah.
“Om Paijo boleh dong om? Hehehe.” Kugy bercanda dengan laki-laki teman ibunya yang baru dikenalnya itu. Kemudian ia teringat sesuatu yang sudah ia rencanakan bersama mbok Minah. Kugy memulai menyanyikan lagunya. “...Kuingin seperti pelangi memberikan warna-warni walau hanya sekejap saja, tapi indahnya selalu ada.. kuingin seperti mentari menyinari hari-hari dengan senyum yang menghangatkan hati walau hanya sekejap saja tapi indahnya membekas selamnya..” Kugy menghentikan nyanyiannya dan memeluk mamanya. Ia membisikkan lagu ulang tahun di telinga mamanya. Ibu dan anak itu larut dalam haru yang menyeruak. Mbok Minah ikut meneteskan airmatanya begitu juga dengan Adit, laki-laki itu semakin bulat tekadnya untuk menikahi Kinar, mama Kugy.
Kinar melepaskan pelukannya dan meniup lilin di atas kue yang dari tadi di pegang oleh Mbok Minah. Sambil menyeka airmata yang menetes, Kinar mengatakan sesuatu kepada Kugy.
“Sayang, Mama dan Om Adit punya sesuatu untuk kami sampaikan ke kamu. Ayo kita masuk dan bicara di dalam.”
Sesampainya di ruang tamu, Kugy membuka percakapan.
“Mama sama om Adit mau ngomong apa ke Ugy?”
Kinar dan Adit terlihat bertatapan sebelum akhirnya tangan Kinar memegang tangan Adit untuk menguatkannya.
“Ugy, Om Adit minta maaf jika apa yang nanti om sampaikan membuat Ugy kaget. Tapi om harap, Ugy mau mengerti.” Adit membuka percakapan mereka. Terlihat sekali jika ia sedikit gugup, tapi genggaman tangan Kinar mampu meredam rasa gugupnya.
“Om sama Mama mau nikah?” Tembak Kugy tepat sasaran.
Kinar menatap putrinya tak percaya. Kebutaan mengasah matahati Kugy menjadi lebih tajam. Segera Kinar menjawab pertanyaan Kugy.
“Iya sayang.. kamu tidak keberatan kan?” Katanya takut-takut.
“Tentu saja nggak Ma.. Kugy seneng kalo akhirnya Mama bisa menemukan pengganti Papa untuk Kugy.. menikahlah.”
Kinar menghambur memeluk putrinya. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan restu yang mulus dari Kugy. Kugy mengijinkannya menikah dengan Adit tanpa bantahan sedikitpun. Kinar memang telah menyangka bahwa Kugy tidak akan keberatan ia menikah lagi setelah 15 tahun menjanda tapi ia mengira Kugy akan sedikit mengajukan pertanyaan atau semacamnya tapi ternyata tidak.
“Terimakasih Ugy,” ucap Adit pelan.
“Terimakasih juga Om,” balas Kugy.
Masalah yang tersisa sekarang adalah menaklukkan hati Galang, putra semata-wayang Adit, yang sampai detik ini masih menunjukkan sikap permusuhannya kepada Adit. Galang menganggap papanya-lah yang harus dipersalahkan karena kematian mamanya. Sejak kematian mamanya, Galang mulai menjaga jarak dengan papanya.
Di tengah kehangatan di rumah Ugy, Galang di tempat yang lain tengah asik dengan kegiatan yang mulai ia tekuni sejak mamanya meninggal, balap motor. Malam ini  akan ada balapan motor antar geng motor se-Surabaya, Galang tengah bersiap-siap bersama-sama teman satu gengnya untuk balapan nanti malam ketika tiba-tiba dering handponenya berbunyi.
“Halo?” Sapa Galang acuh tak acuh pada pria di sebrang telepon. Ia Adit, papanya.
“Galang, ada yang mau Papa bicarain.. kamu bisa pulang cepat dan ikut makan malam bareng Papa?” Kata Adit.
“Mau ngomong apaan sih? Ngomong aja disini.” Galang menjawab Papanya ogah-ogahan.
“Pokoknya malam ini, kita makan bareng. Kalau kamu nggak pulang, uang jajan kamu Papa stop.” ancam Adit.
“Huh! You Got It. Oke, aku pulang.” Galang menutup teleponnya dan beralih pada teman-temannya.
“Aku pulang.” Katanya. Tanpa menjelaskan apapun, Galang memacu motornya secepat kilat.
Dan ceritapun mengalir sampai pada hari pernikahan antara Kinar dan Adit. Meskipun pada awalnya Galang menentang keras pernikahan mereka, namun pada akhirnya ia hanya bisa membiarkan papanya mendapatkan apa yang ia inginkan. Selepas pesta pernikahan, Kinar dan Adit merasa sangat lelah karena seharian melayani tamu undangan yang datang. Di tengah semua rasa penat, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan Galang dari arah dapur rumah mereka. Seminggu yang lalu sebelum pernikahan Kinar dan Adit memutuskan untuk tinggal di rumah Kinar, sedangkan rumah Adit mereka sewakan kepada orang lain. Keputusan ini awalnya ditentang keras oleh Galang, namun pada akhirnya ia mengalah pada papanya.
“Heh! BUTA kamu ya? Kalau jalan lihat-lihat! Dasar BUTA!” Teriak Galang brutal kepada Kugy.
Kugy yang serta merta mendapat teriakan yang begitu keras dari Galang hanya bisa menggigil dan berkata takut-takut kepadanya.
“Ma-ma-maaf Kak, Ugy nggak sengaja. Ugy kira nggak ada siapa-siapa di depan Ugy.”
“Kakak, kakak!  Siapa yang mau punya adek BUTA kayak kamu hah? Jangan pernah berpikir aku bakalan mau saudaraan sama orang BUTA dan BODOH kayak kamu! Dengerin itu!” Bentak Galang. Dan ia pun membanting gelas yang separuh isinya sudah tumpah karena tertabrak Kugy.
Kinar dan Adit datang tergopoh-gopoh mendengar suara teriakan Galang yang begitu keras.
“Galang! Apa-apaan kamu? Ugy sekarang adik kamu, tolong jangan kasar sama dia!” Teriak Adit.
“Sudah Mas, sudah..” kata Kinar menengahi, kemudian ia berkata pada Galang, “Galang, kamu boleh tidak senang pada saya, kamu boleh membentak saya, kamu boleh berteriak kepada saya tapi tolong jangan bentak Ugy. Dia nggak salah apapun sama kamu. Dia memang buta, tapi bukan berarti kamu bisa berteriak-teriak menghinanya seperti tadi.” Ucap Kinar lirih tapi tegas.
Galang beralih tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Sementara Kugy masih cukup kaget dengan apa yang baru saja ia alami.
“Ugy, kamu nggak papa kan sayang?” Kata Kinar beralih memeluk Kugy.
“Nggak Ma, Ugy nggak papa. Ugy tidur dulu ya Ma, malem.” Pamit Kugy.
Dan malam itu pun berakhir dalam senyap. Keesokan paginya Kugy sudah terlihat ceria kembali, seperti kebiasaannya ia memainkan pianonya dengan perasaan senang.
“Heh BUTA! Kamu pikir lagu yang kamu mainin itu enak ya? Berisik tau! Berhenti main atau aku suruh orang buang piano bulukan ini!” Kata Galang yang tiba-tiba muncul mengagetkan Kugy.
“Kakak nggak suka Ugy main piano? Kenapa? Ugy mainnya fals ya?” Kata Kugy ramah. Ia seolah-olah mengabaikan perkataan kasar Galang.
“Aku harus bilang berapa kali ke kamu hah? Aku bukan kakak kamu!” Bentak Galang.
“Kenapa aku nggak boleh panggil Kak Galang kakak? Papa-Mama kita kan sudah menikah, berarti kita saudaraan dong?” Jawabnya riang.
“Aku nggak SUDI punya saudara BUTA kayak kamu!”
Kinar yang tiba-tiba datang dari arah dapur menampar keras pipi Galang. Matanya berkaca-kaca.
“Saya sudah bilang sama kamu, jangan menghina Ugy! Kamu sama sekali tidak berhak menghina anak saya!” Kinar berteriak, tangisnya pecah. Hatinya terluka mendengar buah hati yang begitu ia sayangi dihina serta merta oleh Galang, anak tirinya. Kugy yang bisa merasakan bahwa mamanya tengah menangis, berkata perlahan.
“Ma, jangan nangis.” Ia beralih pada Galang, “Kak, kalau Ugy nggak boleh panggil Kak Galang kakak, terus Ugy harus panggil Kakak apa?”
“Nggak usah panggil-panggil aku!” Dan Galang pun pergi ke kamarnya dengan membanting pintunya keras-keras.
Kugy berjalan meraba-raba ke arah mamanya dan memeluknya sambil berbisik,
“Ma, Ugy nggak papa kok kalau Kak Galang bentak-bentakin Ugy kayak tadi. Mama jangan nangis ya? Ugy sayang sama Mama, Ugy nggak mau lihat Mama nangis gara-gara Ugy.”
Kinar terdiam. Airmatanya meleleh deras. Betapapun Kugy mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan perkataan Galang namun tetap saja ia tak bisa menerima perlakuan Galang terhadap Kugy.
Setelah kejadian piano itu, Galang tidak pulang ke rumah. Ia pergi ke tempat teman-teman geng motornya. Melampiaskan segala kekesalannya dengan balapan liar di malam hari. Hari itu, hujan mengguyur Surabaya sejak pagi. Adit yang sejak beberapa hari mengkhwatirkan tingkah laku Galang mulai mencari-cari kemana Galang pergi selama ia meninggalkan rumah. Adit menghubungi semua teman Galang yang ia ketahui tapi nihil, karena tidak seorangpun dari mereka tahu kemana Galang pergi. Adit mencoba menghubungi ponsel Galang berulang-ulang tapi teleponnya tidak dijawab. Ia mencoba menelpon dengan nomor lain, tapi setelah Galang mendengar itu suara papanya, ia memutuskan sambungan. Kinar pun mencoba menghungi Galang dan meminta maaf atas tindakannya yang telah menampar Galang tempo hari, tapi semua itu tidak ia gubris. Setelah beberapa hari mencoba dengan hasil yang nihil, Adit hampir menyerah menghadapi Galang ketika sebuah kabar mengejutkan diterimanya dari rumah sakit. Galang kecelakaan dan sekarang ia koma. Adit bergegas menuju rumah sakit tempat Galang dirawat. Ia menghubungi Kinar, yang hari itu kebetulan tidak masuk kantor, melalui ponselnya.
“Halo, Ma.. Galang kecelakaan. Dia koma. Aku sedang menuju ke RS. Mitra Keluarga, kamu nyusul ya?” telepon ditutup dan Adit menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal, sayang kondisi jalanan Surabaya yang macet pada jam makan siang menguji kesabarannya.
Ruangan itu bercat coklat putih. Tidak ada apa-apa di ruangan itu kecuali sebuah ranjang dengan Galang yang terbaring lemah di atasnya. Pintu depan ruangan itu bertuliskan ICU. Adit tengah menatap putranya dibalik pintu itu. Ia menatap Galang yang belum sadarkan diri sejak ia dibawa kesini kemarin sore. Di koridor yang panjang, seorang perempuan berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Adit yang tengah berdiri kuyu. Adit menoleh dan mereka berpelukan. Adit menangis di bahu perempuan itu. Ini kali kedua ia menangis setlah kematian istri pertamanya, mama Galang.
“Sabar ya Pa, Galang pasti sembuh. Dia pasti sadar kembali.” kata perempuan itu, berusaha menenangkan suaminya. Sementara Adit tidak mampu berkata apapun.
Dokter yang menangani Galang menghampiri Adit dan Kinar yang tengah duduk di ruang tunggu. Ia meminta mereka mengikutinya ke ruangannya. Sesampainya di ruangan yang tidak lebih ramai dari kamar ICU yang sekarang ditempati Galang, ia menyilahkan suami-istri yang terlihat sama lelahnya itu untuk duduk. Adit yang merasa sudah tidak memiliki tenaga lagi, meminta sang dokter untuk langsung menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan.
“Begini Pak, Bu, kecelakaan yang dialami oleh Galang telah membuat saraf kiri Galang mati, kemungkinan besar Galang akan mengalami kelumpuhan permanen pada anggota tubuhnya yang kanan.”
“Apa? Lumpuh?” Adit tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Putra tampannya akan mengalami kelumpuhan permanen pada anggota tubuh sebelah kanan? Ini adalah mimpi buruk yang tidak pernah melintas dalam benaknya.
“Apa kelumpuhan ini tidak dapat diterapi, Dok?” tanya Kinar yang tangannya terus menggenggam tangan Adit.
“Ini hanya perkiraan saya, kondisi Galang yang sesungguhnya tidak bisa dipastikan sebelum dia siuman. Prediksi ini tidak mutlak, apapun bisa terjadi. Tapi, mengingat benturan kepala yang dialami oleh Galang cukup keras bisa jadi apa yang sudah saya prediksikan menjadi lebih buruk jika Galang tidak juga sadar. Saya harap, Bapak dan Ibu tetap sabar. Kami akan berusaha yang terbaik untuk Galang.”
Mendengar penuturan dokter, Adit tidak mampu berkata apa-apa. Batinnya dipenuhi rasa bersalah kepada Galang. Adit terdiam dan menunduk, sementara Kinar berusaha menghiburnya dengan mengelus-elus pundaknya.
“Baiklah, Dok. Terimakasih untuk penjelasannya, kami mohon lakukan yang terbaik untuk anak kami. Kami permisi.” Ucap Kinar yang disambut oleh sang dokter dengan menyilahkan mereka untuk menemui Galang yang masih terbaring lemah di kamar ICU.
Saat Adit dan Kinar kembali dari ruangan dokter, Kugy telah duduk di ruang tunggu bersama Pak Murdi, supir kantor Adit, yang mengantar Kugy untuk menmui mamanya setelah mendengar kabar bahwa Galang kecelakaan. Kugy mendengar langkah kaki mendekat, kali ini ia tidak mencoba menghampiri langkah kaki yang sudah ia hapal tersebut, melainkan menunggunya menghampirinya. Kinar duduk di samping Kugy dan menggenggam tangan Kugy rapat tanpa suara, sementara Adit berdiri mematung dibalik pintu ruang ICU.
“Kak Galang pasti sembuh Pa,” ucap Kugy pada Adit. Adit menoleh dan berjalan menghampiri Kugy.
“Iya, Ugy. Kak Galang pasti sembuh.” Adit mengatakan itu dengan airmata menetes dari kedua matanya yang tampak lelah. Lalu ia melanjutkan..
“Ugy, maafin Kak Galang ya? Kak Galang sudah kasar sama Ugy, doakan Kak Galang, biar Kak Galang cepat sadar dan bisa kembali ke tengah-tengah kita lagi.”
“Iya, Pa.” Kugy melepaskan genggaman tangan Mamanya dan memeluk papa tirinya itu, sayang.
Sepuluh hari berlalu, tapi Galang belum juga sadar. Dokter sudah mulai kehilangan harapan akan kesembuhan Galang, sementara Adit hanya bisa berdoa semoga Tuhan berkenan membagi mukjizatNya untuk putra semata-wayangnya, Galang. Sore hari pada hari ke sebelas, Galang akhirnya sadar dari komanya. Dokter yang menangani Galang berkata bahwa apa yang terjadi pada Galang benar-benar merupakan mukjizat dari Tuhan. Galang kembali dari komanya setelah sepuluh hari terbaring tak sadarkan diri, dan semua prediksi yang sempat diberikan dokter saat Galang koma ternyata salah. Setelah beberapa kali pemeriksaan, Galang dinyatakan tidak akan mengalami kelumpuhan secara permanen. Ia memang akan lumpuh sementara, tapi kelumpuhan itu akan pulih setelah diterapi secara perlahan-lahan. Adit sangat bersyukur, Tuhan Maha Baik. Ia mendegar doa Adit untuk Galang.
Hari ke lima belas Galang dirawat di rumah sakit, ia sudah diperbolehkan pulang. Dengan menggunakan kursi roda, ia dituntun papanya untuk pulang ke rumah, tapi sebelum mereka memasuki mobil Galang berkata pada papanya.
“Aku mau ke makam Mama sebentar, boleh?”
Adit yang sempat terbengong mendengar permintaan Galang yang tidak biasa itu segera menjawab permintaan Galang dengan anggukan senang. Ia senang akhirnya Galang mau berkunjung ke makam istri pertamanya. Sejak Almarhumah mamanya meninggal, Galang tidak pernah mengunjungi makam wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu karena Galang tidak pernah mau menerima kenyataan kalau mamanya telah meninggal. Ia menjaga jarak dengan Adit dan menimpakan semua kesalahan pada Adit atas meninggalnya mamanya karena ia sendiri takut untuk mengakui bahwa ia juga bersalah pada mamanya. Semasa wanita itu hidup, Galang tidak pernah menjadi anak yang manis. Ia merasa, semua kasih sayang yang diberikan oleh mamanya terlalu berlebihan sehingga terkadang ia justru menjadi acuh terhadap mamanya dan membiarkan mamanya berteman dengan kesendirian dan menyembunyian penyakitnya sampai beliau meninggal. Galang menyesal. Tapi itu dulu, sekarang Galang mau mengunjungi makam mamanya dan itu membuat Adit senang sekali. kinar yang melihat kilau bahagia di mata suaminya, bertanya takut-takut pada Galang. Ia takut emosi Galang masih belum stabil, jadi ia bertanya dengan menggunakan sebutan ‘tante’ untuk dirinya.
“Em, Tante boleh ikut ke makam Mama kamu, Galang?” pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Galang.
Tiga puluh menit berada di depan makam mamanya, Galang tidak melakukan apapun. Tidak ada pergerakan dari tubuhnya, kecuali matanya yang terus mengalirkan airmata. Adit mengusap-usap bahu Galang, berusaha menenangkan sesenggukan Galang. Setelah puas menangis, Galang akhirnya berkata pada nisan mamanya.
“Maaf Ma, Maafin Galang.. Galang janji akan berubah. Sepuluh hari bareng Mama sudah bikin Galang sadar, Galang sudah banyak salah sama Papa juga Tante Kinar. Mama baik-baik disana ya? Galang janji, Galang nggak akan lama-lama ninggalin Mama disana sendirian.”
Adit merasa terenyak mendengar perkataan Galang. Ada sesuatu yang berubah mengganjal hatinya, tapi ia berusaha mengenyahkan perasaan itu dan berkata pada Galang.
“Sudah, Galang?”
“Sudah. Ayo pulang.” katanya singkat. Dan mobil pun melaju membelah senja yang mulai merangkak menghadirkan pesona petang di hari itu.
Di rumah, Kugy telah menyiapkan sebuah pesta penyambutan kecil-kecilan untuk kakaknya. Dengan dibantu Mbok Minah, ia membuat spanduk kecil yang bertuliskan ‘Selamat Datang’ untuk Galang yang dipasang di atas pintu masuk. Lima belas menit berlalu, suara mobil Adit terdengar sayup-sayup memasuki halaman rumah. Adit turun dan membantu Galang untuk duduk di kursi rodanya. Bertiga dengan Kinar mereka berjalan menuju beranda rumah dan mendapati sebuah spanduk sederhana yang telah disiapkan Kugy untuk Galang. Kinar tersenyum, Kugy selalu punya kejutan untuk orang-orang disekelilingnya. Meski demikian, usaha Kugy tak cukup membuat Galang tersenyum. Ia hanya diam menatap spanduk kecil yang dibuat khusus untuknya itu. Dituntun Mbok Minah, Kugy berjalan menghampiri Galang.
“Selamat datang, Kak Galang.” ucapnya lirih.
“Terimakasih,” jawab Galang singkat. Ia lalu menoleh pada papanya dan berkata, “aku capek.” lalu Adit mendorong kursi roda Galang menuju kamarnya.
Satu bulan berlalu sejak Gaalng kembali pulang ke rumah. Kondisinya sudah lebih baik, meskipun ia masih harus tetap terapi untuk bisa kembali berjalan normal. Sikap Galang pun sedikit demi sedikit berubah, meski tidak sepenuhnya bisa terbuka terhadap keluarga barunya, tapi ia sudah tidak sekasar dulu dan ini membuat Kinar bersyukur. Sutau siang, ketika Kugy sedang memainkan lagu dengan piano klasiknya, Galang menjalankan kursi rodanya menuju Kugy. Kugy yang kali ini sedang asyik memainkan lagu dengan pianonya, tidak menyadari kehadiran Galang di sampingnya sampai Galang memanggil namanya.
“Gy..”
“Eh-oh..” Kugy tergeragap. Ia takut Galang akan marah-marah seperti dulu saat ia memainkan piano. Galang yang menangkap aroma takut dari gelagat Kugy langsung menjelaskan.
“Nggak papa, aku nggak marah kamu main piano. Aku Cuma mau ngobrol bentar, kalau boleh.” katanya.
Hufff.. Kugy menghembuskan nafasnya lega. Galang hanya tersenyum melihat Kugy yang sudah ketakutan di awal, lalu Galang melanjutkan kembali kata-katanya.
“Kamu takut banget ya sama aku?”
“Nggak sih Kak, eh?” Kugi menghentikan perkataannya sebelum akhirnya bertanya pada Galang, “aku boleh panggil Kak Galang, kakak?”
“Boleh,” jawab Galang singkat. Lalu ia mengulangi kembali pertanyaannya kepada Kugy, “jadi, kalau kamu nggak takut sama aku kenapa kamu sampai menghembuskan nafas lega begitu aku bilang kalau aku nggak marah?” tanyanya penasaran.
“Aku memang nggak takut sama kakak, aku tau kakak nggak akan menyakiti secara fisik, tapi aku takut kalau justru kakak yang akan sakit kalau marah-marah..”
“Hah?” tanya Galang tak mengerti atas penjelasan Kugy.
“Intinya, Ugy nggak pengen Kak Galang marah-marah. Marah-marah itu nggak sehat.”
“Ooo,” Galang mebulatkan bibirnya. Lalu Kugy bertanya kepadanya,
“Kak Galang katanya mau ngobrol, apa?”
“Gy, kamu uda berapa lama buta?” tanyanya. Pertanyaan itu membuat Kugy terdiam. Galang merasa ia telah salah mengajukan pertanyaan, ia takut Kugy akan tersinggung dengan kata-katanya, lalu dia memumutuskan untuk meralat pertanyaannya, tapi Kugy sudah menjawab pertanyaannya kalem.
“15 tahun kak. Aku buta sejak aku umur 2 tahun, sekarang aku sudah 17 tahun, jadi aku sudah akrab dengan gelap selama 15 tahun. Kenapa kakak menanyakan itu?”
“Gy, sori. Aku nggak maksud nyinggung perasaan kamu..” Galang mencoba mengklarifikasi maksudnya sebelum nakhirnya ia menambahkan pertanyaan yang lain untuk Kugy, “15 tahun hidup dalam gelap, yang paling kamu kangenin apa Gy?”
“Matahari..” jawab Kugy kalem. Matanya menerawang kosong.
“Kenapa matahari?” tanya Galang bingung.
“Selama ini aku cuma bisa ngerasain hangatnya matahari aja, aku sudah lupa gimana bentuknya matahari.. makanya, aku kangen banget sama warna matahari. Hehehe.”
“Oo.. siapa yang paling bersalah atas kebutaan kamu Gy?”
“Nggak ada yang salah kali kak. Semuanya sudah digariskan oleh Tuhan seperti ini, and I am very grateful for whatever He has chosen for me.”
“Bahasa Inggris kamu bagus Gy,” timpal Galang nggak nyambung, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
Di dapur, Kinar dan Mbok Minah ikut tersenyum bahagia menyaksikan keakuran dua kakak-beradik yang berbeda orang tua tersebut.
Kata-kata Kugy membuat Galang mengagumi adik tirinya tersebut. Sejak obrolan singkat tersebut, Galang jadi sering tertawa bersama Kugy. Kugy juga tidak pernah lupa mengingatkan Galang untuk terapi dan meminum obat.
Jam demi jam menjumlahkan dirinya menjadi hari, hari demi hari menggabungkan dirinya menjadi bulan. Sudah dua bulan terlewati sejak galang sadar dari komanya. Sekarang ia dinyatakan sembuh total oleh dokter. Ia sudah bisa berjalan dan beraktivitas seperti sedia kala.
Gerimis mewarnai subuh kala itu. Galang terduduk di sajadahnya. Kepalanya pusing. Ia merasa bahwa waktunya akan segera habis. Ia mengambil kertas dan menulis sesuatu. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya dan terpejam. Ia melihat sosok putih yang sudah menunggunya untuk bergabung. Galang pergi untuk selamanya.
Kinar mengetuk pintu kamar galang, namun tidak ada jawaban. Ia memanggil-manggil nama Galang, tetap tidak ada jawaban. Ia memutar kenok pintu kamar Galang, tidak dikunci. Ia melihat Galang tidur terbaring dan mendapati ia sudah tidak lagi bernafas. Kinar menangis, ia berteriak memanggil Adit yang lari tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan Kinar. Mereka berdua menangis. Di tengah tangisan mereka, Kugy masuk dan bertanya apa yang telah terjadi, namun tak satu pun dari Adit maupun Kinar mampu berkata-kata. Adit berjalan menhampiri sajadah yang masih tergelar di samping ranjang Galang dan menemukan secarik kertas. Kertas yang sempat ditulisi Galang sebelum ia pergi. Di dalam kertas tersebut terdapat tulisan:
“Berikan matahari yang Kugy rindukan dengan memberikan kedua bola mataku. Biarkan ia melihat warna matahari setelah ia bersabar hanya dengan merasakan hangatnya. Galang minta maaf atas semua kesalaahan yang pernah Galang lakukan. Semoga Papa, Tante Kinar dan Kugy bahagia selamanya.”

Adit jatuh terduduk. Kinar berlari menghampirinya, ia bertanya pada Adit dan Adit memberikan surat yang ditulis Galang sebelum ia pergi. Kinar menangis. Ia memeluk Adit erat, mencoba menabahkan hati suaminya itu. Dalam tangis pilu, memori membawa ingatan Adit peda saat mereka mengunjungi makam almarhumah istri pertamanya dua bulan yang lalu.  Ia ingat betul perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup hatinya saat Galang mengatakan bahwa ia tidak akan berlama-lama meninggalkan mamanya sendirian. Rupanya saat itu galang telah merasa bahwa waktunya tidak banyal tersisa. Adit kembali menangis dalam pelukan Kinar.
Galang dimakamkan keesokan harinya, setelah menjalani proses otopsi. Dokter menyatakan ada penggumpalan pembuluh darah di otak Galang yang luput dari pengetahuan dokterdan membuatnya meninggal. Pihak rumah sakit meminta maaf atas kelalaian dalam proses pemeriksaan dan berjanji akan memberikan asuransi kematian, tapi Adit menolaknya. Ia tidak ingin memperpanjang masalah. Ia sudah mengikhlaskan apapun yang telah terjadi pada putranya.
Hari ketiga setelah kepergian Galang, Adit memasuki kamar Galang, mencoba mengenang apapun tentang putra semata wayangnya itu. Ia sangat menyesal. Semasa Galang hidup, sedikit sekali waktu yang dihabiskan Adit bersama Galang. Tapi penyesalan selalu datang lebih lambat dari kenyataan yang sudah terjadi. Kinar menyusul Adit ke kamar Galang, mengajaknya untuk keluar. Ia tidak ingin Adit berlarut-larut dalam penyesalannya.

Satu bulan kemudian...

Matahri bersinar terik sekali. kugy berada di depan sebuah makam yang penuh dengan bunga tulip. Bunga tulip itu baru saja diletakkannya disana, Kugy berharap semoga orang yang telah berbaring di dalam makam itu tahu bahwa ia merindukannya. Nisan di makam itu bertuliskan nama Galang Prasetya bin Aditya Satrio. Kugy mengelus nisan itu, dan berkata lirih.
“Terimakasih atas matahari yang kakak kasih, matahari itu cantik ya kak?” Ia berhenti, mengusap airmata yang jatuh satu-satu, lalu melanjutkan, “secantik hati kakak yang telah berbaik hati membagi cahaya untuk Ugy, semoga Tuhan memberikan tempat terbaikNya untuk kakak.”
Kugy selesai. Ia berjalan menyusuri setiap makam menuju pintu keluar. Tapi ia tidak keluar sendirian, karena ia selalu membawa serta Galang dalam sorot matanya yang teduh.

¤¤¤

Mbah Nem


“Hendaklah kamu tetap berbakti kepada ibumu karena sesungguhnya surga berada di kedua telapak kaki ibu.”
(HR. Nasa’i, Hakim 2/104, 4/151, Ahmad 3/329)

Subuh baru saja berlalu. Langit di cakrawala masih gelap dengan hiasan bulan sisa semalam. Rahman merapikan buku-bukunya ke dalam tas ransel usangnya. Setelahnya, ia bergegas membantu sang ayah memberi makan ayam peliharaan mereka yang jumlahnya tidak banyak. Rahman masih asik dengan ayam-ayamnya ketika ibunya memanggil dari arah dapur.
“Rahmaan..”
“Iya, bu..” jawabnya seraya berlari-lari kecil menghampiri ibunya.
“Tolong antarkan ini ke Mbah Nem ya? Bilang, untuk sarapan. Setelah itu kamu cepat mandi dan siap-siap ke sekolah.”
Rahman menerima rantang nasi yang diberikan ibunya. Iya berjalan santai ke arah rumah Mbah Inem yang letaknya hanya berjarak tiga rumah dari mereka. Sebenarnya Mbah Inem, atau yang lebih akrab ia sapa Mbah Nem, tidak memiliki hubungan keluarga dengannya. Mbah Nem merupakan satu dari sekian banyak orangtua yang hidupnya menjadi sebatang kara saat anak-anaknya sudah mapan dan punya keluarga masing-masing. Mbah Nem tinggal sendiri sejak suaminya meninggal, ketiga anak-anaknya yang tinggal di Jakarta sangat jarang datang untuk menengok sang ibu yang sudah renta, bahkan di hari raya sekalipun. Mbah Nem hidup dari perhatian tetangga-tetangga yang merasa kasihan padanya, termasuk Rahman dan keluarganya.
Rahman sampai di depan rumah Mbah Nem. Ia mengetuk-ngetuk pintu dan mengucapkan salam tapi tidak terdengar jawaban dari dalam rumah. Meskipun Mbah Nem sudah renta, selama ini ia masih sanggup berjalan perlahan dan membukakan pintu, tapi kali ini sudah sekitar lima menit Rahman mengetuk pintu dan mengucapkan salam Mbah Nem belum juga keluar untuk membukakan pintu. Rahman bertanya pada tetangga yang rumahnya bersebelahan dengan rumah kecil Mbah Nem, ia mengira mungkin Mbah Nem sakit dan tidak bisa membukakan pintu dan tetangganya tahu bagaimana kondisi nenek renta itu.
“Pak Ali, Mbah Nem sakit ya? Kok saya ketuk-ketuk pintunya ndak ada tanggepan?” tanyanya pada Pak Ali yang pagi itu sedang mencuci sepeda motor bebek kesayangannya di halaman rumah.
“Sejak kemarin, saya kok belum lihat Mbah Nem sama sekali ya Man? Saya juga kurang tau.”
“Oh, begitu ya.. terus gimana dong pak? Saya kok jadi khawatir ya sama keadaan Mbah Nem?”
“Coba langsung buka kenoknya aja Man, siapa tau tidak dikunci.” kata Pak Ali memberi saran yang langsung dilakukan oleh Rahman. Ia memutar kenok pintu rumah Mbah Nem dan tenyata benar tidak dikunci.
Rahman masuk dan mencari-cari Mbah Nem di seluruh ruangan yang ada di rumah itu, tapi ia sama sekali tidak menemukan Mbah Nem. Akhirnya ia berjalan menuju kamar mandi yang letaknya ada di bagian belakang rumah dan terkaget karena menemukan Mbah Nem jatuh terduduk dan tidak lagi bernafas. Mbah Nem telah meninggal. Rahman berteriak meminta pertolongan dan Pak Ali yang saat itu masih berada di halaman rumah segera bergegas menghampiri Rahman.
Mbah Nem meninggal sejak kemarin, hal ini disimpulkan oleh warga sekitar dengan melihat kondisi tubuh Mbah Nem yang hampir kaku. Tetangga-tetangganya menangis iba pada nenek renta yang kini sudah almarhumah tersebut. Ia dimakamkan hari itu juga di pemakaman desa. Pemakaman yang sangat sederhana dan tanpa dihadiri oleh putra-putrinya. Rahman yang mencoba menghubungi anak-anak Mbah Nem harus menelan kekecewaan karena semua anak-anak Mbah Nem mengatakan mereka tidak bisa pulang untuk memakamkan ibunya karena kesibukan yang mereka jalani dan menyerahkan semua prosesi pemakaman kepada tetangga-tetangga Mbah Nem.
Rahman ingat betul kisah perjuangan Mbah Nem dalam membesarkan anak-anaknya, karena ibunya sering sekali menceritakan kisah Mbah Nem kepada Rahman dan adiknya. Kata ibunya, agar Ia dan Mutia, adiknya, belajar arti perjuangan hidup dari kisah hidup Mbah nem. Semasa ibu Rahman masih belum memiliki Rahman dan adiknya, Mbah Nem bekerja sebagai TKI di Saudi untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Mbah Nem yang telah menjanda sejak anak ke-3 nya masih berada dalam kandungan ini memulai kehidupan yang serba berkekurangan sejak ia ditinggal sang suami menghadap Allah terlebih dahulu. Suaminya meninggal dalam sebuah kecelakaan kerja, dan sejak saat itu Mbah Nem hidup  dalam kesetiannya pada kesendirian untuk membesarkan anak-anaknya. Tiga bulan pertama sejak kematian almarhum suaminya, Mbah Nem bertahan hidup dengan menggunakan uang belasungkawa yang ia terima dari perusahaan tempat almarhum suaminya bekerja. Ia putar uang yang tidak seberapa jika dibandingkan nyawa suaminya itu dengan susah payah, dalam kondisi perut yang membuncit karena hamil tua, ia berkeliling menjajakan es lilin dan gorengan setiap pagi dan sore. Saat ia melahirkan anak ketiganya, uang sisa tunjangan kematian suaminya habis untuk biaya dokter. Belum lepas tali pusar putra ke-3 nya Mbah Nem sudah bekerja dari rumah ke rumah sebagai buruh masak dan buruh cuci. Saat putra ke-3 nya berumur 1 tahun, Mbah Nem memutuskan untuk merantau ke Saudi demi bisa menyukupi kebutuhan sekolah dan sehari-hari anak-anaknya. Shinta, putri sulungnya yang saat itu masih siswa kelas 1 SMP, ia amanahkan untuk menjaga dua adiknya, Bayu dan Adi. Menjaga dua adik yang usianya masih sangat kecil—Bayu saat itu masih duduk di bangku kelas 3 SD, sedangkan Adi baru berumur satu tahun—bukan merupakan hal yang mudah bagi Shinta kecil. Ia harus belajar demi sekolahnya, tapi ia juga harus menjaga dan mengajari adik-adiknya. Rahman mengingat stiap detail cerita dari kisah hidup Mbah Nem berdasarkan cerita-cerita yang ia dapatkan dari ibunya. Rahman ingat saat ia bertanya pada ibunya,
“Bu, kenapa sih ibu perhatian banget sama Mbah Nem? Beliau kan bukan siapa-siapanya ibu?”
Mendengar pertanyaan Rahman ini, ibunya hanya tersenyum dan mulai meceritakan apa yang telah ia saksikan pada diri Mbah Nem. Keteguhan Mbah Nem sebagai orangtua semata wayang bagi anak-anaknya serta kesetiannya terhadap almarhum suaminya membuat sosok Mbah Nem menjadi sosok luar biasa yang patut untuk dikagumi. Anak-anak Mbah Nem, mereka bertiga juga merupakan anak-anak yang luar biasa, terutama Shinta. Rahman ingat, saat Rahman duduk di bangku TK, Shinta berhasil masuk perguruan tinggi setelah ia bekerja untuk menabung biaya uang masuk kuliah selama dua tahun. Mbah Nem yang saat itu masih bekerja sebagai TKI di Saudi sangat bangga terhadap putri sulungnya itu. Uang yang dikirim Mbah Nem dari hasilnya bekerja sebagai TKI di Saudi bukannya tidak cukup untuk membiayai uang masuk kulaihnya, tapi saat itu Shinta, menurut penuturannya kepada ibu Rahman yang saat itu sempat menanyakan hal ini kepadanya, lebih memilih untuk menyimpan uang lebih kiriman ibunya dalam bentuk deposito, agar bisa digunakan adik-adiknya untuk meneruskan sekolah hingga ke bangku perguruan tinngi, sedangkan untuk dirinya sendiri, Shinta memilih untuk bekerja terlebih dahulu jika ia menginginkan untuk melanjutkan pendidikannya.
Belum selesai Rahman mengingat semua memori tentang kisah Mbah Nem dan keluarganya, ia dikagetkan oleh tepukan di bahunya.
“Man..” Rahman menoleh,
“Ibu, ayah.. ada apa ya?” kata Rahman yang buru-buru menghapus genangan air dalam kantung matanya, mengingat cerita tentang Mbah Nem membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.
“Kamu menangis, le?” kata ibunya yang telah menangkap gerakan ringkas Rahman untuk menyamarkan airmata yang sudah terlanjur menggenangi kantung mata Rahman.
“Oh-eh, mm.. Rahman hanya sedang mengingat cerita-cerita ibu tentang Mbah Nem, dan.. yah..” Rahman belum sempat melanjutkan kata-katanya ketika tiba-tiba ayahnya mengangkat lengannya, memintanya berdiri. Ayah Rahman memeluk Rahman. Pelukan jantan seorang lelaki, sepertinya.
“Anak baik. Ayah tahu kamu turut berduka atas meninggalnya Mbah Nem. Tapi sekarang bukan waktunya untuk menangis karena ayah berencana mengajakmu ke Jakarta.” Rahman terbengong.
“Kenapa, le?” Tanya ibu Rahman yang memerhatikan raut bingung Rahman.
“Maaf, ke Jakarta untuk apa, yah?”
“Ayah ingin menjemput anak-anak Mbah Nem. Shinta, Bayu, dan Adi.”
“Untuk, apa yah?”
“Ayah hanya ingin melihat, sesibuk apa mereka sampai tega melewatkan momen terakhir untuk ibu mereka karena alasan kesibukan.”
Sebelum Rahman sempat bertanya lebih lanjut kepada ayahnya, ia melihat sebuah mobil Honda CR-V berhenti di depan rumahnya. Dari pintu sopir, Rahman melihat seorang laki-laki tinggi, putih, yang seingatnya adalah Adi, putra bungsu Mbah Nem yang sekarang tengah menempuh pendidikan perguruan tingginya di Jakarta. Ia berjalan tergesa menghampiri Rahman dan orangtuanya—yang saat itu belum menyadari kedatangan anakanak Mbah Nem tersebut—diikuti oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki yang ia rasa adalah Shinta dan Bayu. Rahman berkata pada ayahnya,
“Yah, Rahman rasa kita tidak perlu ke Jakarta.”
“Kenapa? Kamu tidak mau le?”
“Bukan karena Rahman tidak mau yah, tapi karena orang yang ingin kita temui sudah di sini, di belakang ayah.” Selang satu detik setelah Rahman menyelesaikan kata-katanya, kedua orangtua Rahman segera berbalik, memastikan bahwa apa yang dikatakan Rahman benar.
Alhamdulillah.” Ucap ibu Rahman perlahan.
Adi yang pertama kali sampai di hadapan ayah dan ibu Rahman segera menyalami kedua orangtua Rahman. Matanya merah, jelas betul jika ia habis menangis. Shinta dan Bayu yang menyusul juga tidak terlihat lebih baik, mereka berdua sama-sama dalam keadaan berantakan.
“Assalamualaikum, Pak, Bu.” Kata Bayu sembari menyalami kedua orangtua Rahman.
“Waalaikumsalam, Bay..” jawab ayah Rahman.
Di belakang Bayu, Shinta dan Adi yang tadinya sampai lebih dulu tertunduk, entah malu akan perbuatan mereka entah apa.
“Pak, jenazah ibu sudah dimakamkan?” kata Bayu.
“Sudah, Bay.. sejak satu jam yang lalu janazah ibumu sudah kami makamkan.” Kata ayah Rahman.
“Bisa antarkan kami ke makam ibu, pak?”
“Bisa, tentu saja. Tapi, Rahman bilang kamu, Shinta, dan Adi tidak bisa pulang? Lantas, sekarang apa? Jika tau kalian akan kesini, kami pasti akan menunggu kalian datang untuk melihat ibu kalian buat yang terakhir kali.”
“Iya pak, maafkan kami bertiga. Semoga ibu pun memaafkan kami..” Bayu terdiam, tidak melanjutkan kata-katanya. Airmata menggantung di pelupuk matanya. Ayah Rahman melihat betul bahwa ketiga anak itu telah menyesali perbuatan mereka selama ini. Rahman menatap Bayu, Shinta, dan Adi bergantian. Ada lega yang menyusup, ‘Mbah Nem mungkin akan senang melihat anak-anaknya kemari jika ia masih hidup,’ batinnya.
“Rahman, antarkan Mas Bayu, Mas Adi, dan Mbak Shinta ke makam Mbah Nem ya. Ayah dan ibu akan mengurus pengajian untuk Mbah Nem nanti malam.” Belum sempat Rahman menjawab permintaan ayahnya, Adi mendahuluinya dengan bertanya pada ayah Rahman,
“Pak, untuk pengajian ibu, biarkanlah kami yang mengurus. Kami merasa bertanggungjawab atas itu.. dan, kami juga terlalu banyak merepotkan bapak, ibu dan tetangga-tetangga disini untuk sesuatu yang seharusmya menjadi tanggungjawab kami sebagai anak-anak ibu..”
“Kami tidak merasa direpotkan, dan untuk masalah pengajian.. malam ini biar kami dan para tetangga yang mengurus semuanya, besok barulah kalian.” Kata ayah Rahman.
“Baiklah jika demikian.” Kata Adi dan Bayu bersamaan.
“Ya, sekarang ikutlah Rahman. Dia yang akan mengantarkan kalian ke makam ibu kalian.”
Tanpa memperpanjang pembicaraan mereka, Rahman segera beranjak dari tempatnya. Ia berjalan dalam hening. Ada berbagai perasaan menguasai hatinya. Ditengah keheningan yang ada diantara mereka, suara isak Shinta menjadi semakin keras. Terdengar sesal teramat dalam isak itu.
“Mbak, sudah.. sudah..” Adi merangkul bahu kakaknya erat dan berusaha menenangkan kakaknya. Rahman yang mencuri pandang semua kejadian itu, hanya bisa menghembuskan nafas panjang. ‘Penyesalan selalu hadir saat semuanya telah terlambat,’ batinnya.
Mereka berempat sampai di sebuah makam yang tanahnya masih basah. Bunga taburan pelayat masih menghiasinya. Shinta menangis keras-keras, ia jatuh berlutut di samping makam tersebut. Adi yang berusaha menopang kakaknya ikut jatuh berlutut. Hanya Bayu yang masih tegar berdiri. Ia berlutut perlahan di samping makam wanita yang telah melahirkannya itu. Mereka bertiga meneteskan airmata duka yang sama. Tidak. Bukan hanya duka, tapi juga sesal dan rindu. Sudah hampir 3 tahun mereka tak pernah pulang menyambangi ibu mereka yang telah renta itu dan saat mereka sambang saat ini, ibu mereka telah beristirahat dari segala perasaan kecewa yang ia rasakan selama ia masih hidup.
“Maafkan Shinta, ibu.. Shinta bersalah. Shinta lebih mengutamakan keluarga dan pekerjaan Shinta di Jakarta. Tidak mengacuhkan ibu.. Shinta telah durhaka ibu.. Maafkanlah Shinta jika Shinta masih pantas untuk dimaafkan.” Perempuan muda itu memeluk nisan makam ibunya seolah-olah itulah ibunya. Ia menjerit tertahan. Menangis dan terisak-isak di samping makam ibunya.
“Maafkan Bayu, ibu..”
“Maafkan Adi, ibu.. Adi pantas dihukum, mintalah pada Allah agar Adi dihukum. Anak lanangmu ini sudah durhaka terhadapmu ibu.. tidak memenuhi kewajibannya sebagai anak lanang yang seharusnya menjaga dan melindungi ibu. Adi sibuk merintis kuliah dan karir Adi, membiarkan ibu menua bersama kecewa akan sikap kami. Maafkanlah Adi, Mas Bayu, dan Mbak Shinta, ibu.. kami adalah anak-anak yang tidak tahu berterimakasih atas semua jasa-jasa ibu.” Mengikuti kakak perempuannya, Adi pun mulai menjerit tertahan. Menangis sebisanya. Memeluk tanah makam ibunya. Dari mereka bertiga, hanya Bayu yang tidak banyak bicara, tapi Rahman tahu bahwa ia pun sama dengan kedua saudaranya.
Gerimis senja menyapa pamakaman hari itu. Menunjukkan seolah-olah Bumi pun turut menangis atas kepergian Mbah Nem. Perempuan, istri, dan ibu yang tidak biasa. Rahman ikut menangis, ia mungkin tidak paham betul apa yang dirasakan ketiga anak Mbah Nem itu tapi ia bisa merasakan penyesalan mereka. Duka yang menggelayut di tenagh-tengah mereka melahap waktu dengan cepat. Menggerogoti sisa-sisa senyuman dan menggantinya dengan airmata yang perlahan mengering, berteman mata yang mulai membengkak. Sudah lebih satu jam mereka di makam Mbah Nem, tapi tidak satu pu  dari ketiga anak Mbah Nem mau beranjak dari makam ibunya. Mereka mungkin berharap bahwa waktu yang mereka lewatkan sekarang mampu menebus tiga tahun yang mereka lewatkan tanpa bakti terhadap ibu mereka. Tapi harapan hanyalah harapan ketika raga telah terpisah dari dunia. Waktu tiga tahun yang telah terlewatkan oleh mereka dan dilalui dengan penantian yang berbuah kekecewaan seorang ibu mungkin tak dapat tertebus dengan hanya ribuan menit yang mereka lewatkan dalam duka.
“Mbak, Mas, sudah hampir maghrib. Mari kita pulang, tidak baik menangisi yang telah pergi secara berlebihan. Mari kita berdoa untuk Mbah Nem, dan setelah itu kita kembali ke rumah.” Kata Rahman memecah suara isak Shinta dan Adi yang masih terdengar pilu. Bayu menangguk, mengiyakan kata-kata Rahman. Ia menegakkan tubuh Adi dan Shinta, sehingga mereka bertiga duduk berjongkok di samping makam Mbah Nem. Bertiga, mereka menunduk dalam. Rahman ikut berjongkok bersebrangan dengan mereka bertiga. Dalam hening senja, ketiga anak-anak Mbah Nem mendoakan ibu mereka yang telah pergi. Mencari ceceran maaf atas apa yang telah mereka lakukan.
Selesai. Bayu berdiri, mengangkat kedua saudaranya. Rahman memimpin jalan. Mereka meninggalkan tanah pemakaman itu tepat saat adzan maghrib berkumandang. Berjalan dalam hening, sekali lagi, seperti saat mereka berangkat tadi. Semuanya masih baik-baik saja sampai saat Shinta mulai mengigau,
“Bay, Di, ibu memanggil kita.. ibu meminta kita menemaninya. Ayo kita kembali menemani ibu..” tatapan matanya nanar. Bayu dan Adi mulai khawatir, mereka berdua saling bertatapan. Rahman juga sama bingungnya. Terlalu lama menunggu reaksi kedua adiknya, Shinta berbalik arah berlari ke arah makam ibunya. Bayu, Adi, juga Rahman menyusulnya. Sampainya mereka tepat di depan makam Mbah Nem, mereka medapati putri sulung Mbah Nem itu pingsan.



***

-Aesaazzam-