Dunia
tersa begitu gelap
Tak
ada cahaya
Tapi
ia tetap bersinar
Dengan
keyakinan harapan dan cinta..
Kugy terdiam di kamarnya dan segalanya
masih terasa gelap; bibir kugy mengulum senyum. Kugy mengalami kebutaan saat ia
masih berusia dua tahun. Saat itu ia mengalami kecelakaan bersama kedua
orangtuanya yang mengakibatkan papanya meninggal dan ia sendiri mengalami
kebutaan permanen sedangkan mamanya hanya mengalami luka-luka ringan. Sejak
kecelakaan itu, kugy mengalami trauma yang dalam terhadap motor dan jalan raya.
Kugy tak menyalahkan siapapun atas kebutaan yang merenggut cahaya dalam
hidupnya. Ia juga tak pernah menangis karena selalu menjadi olok-olokan teman
seumurannya. Ia selalu terlihat kuat karena ia tidak ingin mamanya bersedih.
Sejak papanya meninggal, mamanya berjuang sendirian membesarkannya sampai ia
berusia 17 tahun. Mereka berdua tidak hidup dalam kelebihan tidak juga dalam
kekurangan, segalanya terasa cukup. Kugy sangat menyayangi mamanya begitupun
mamanya yang sangat menyayangi Kugy. Sore ini, mamanya berulang tahun. Kugy
telah mempersiapkan kado kecil untuk mamanya, sebuah lagu yang liriknya ia
ciptakan sendiri. Mbok Minah juga telah ia minta untuk membuatkan kue tart
kecil untuk mamanya. Kugy sudah tidak sabar menunggu kehadiran mamanya.
Derum mobil Kinar, mama Kugy, terdengar
memasuki halaman. Kugy berjalan dengan dituntun mbok Minah di sampingnya menuju
pintu depan. Ia ingin menyambut kedatangan mamanya dengan kue tart dan nyanyian
selamat ulang tahun. Namun sebelum Kugy melaksanakan niatnya, ia mendengar
suara langkah kaki lain, langkah kaki selain milik mamanya. Kugy hanya berdiri
di depan pintu tanpa melakukan apapun sampai mamanya menghampirinya dan mencium
pipinya sayang.
“Sore sayang.. kamu ngapain berdiri di
depan pintu kayak gini?” tanya mamanya.
“Sore ma, eh-oh.. emm.. Mama dateng sama
sapa?” Kugy balik bertanya kepada mamanya, alih-alih menjawab pertanyaan yang diajukan
mamanya.
“Oh.. mata-hati kamu semakin tajam ya?
Mama datang sama om Adit. Dia teman sekantor mama. Kenalin gy..”
Kugy mengulurkan tangannya dan disambut
oleh laki-laki yang sekarang berdiri di samping mamanya.
“Kenalkan om, nama saya Rikugy Karunia
tapi om cukup panggil saya Ugy.” Kata Kugy memperkenalkan dirinya. Kinar
tersenyum melihat Kugy.
“Salam kenal Ugy, nama om, Aditya
Satrio. Kamu boleh panggil om, apa aja yang kamu suka.” Laki-laki itu tersenyum
ramah.
“Om Paijo boleh dong om? Hehehe.” Kugy
bercanda dengan laki-laki teman ibunya yang baru dikenalnya itu. Kemudian ia
teringat sesuatu yang sudah ia rencanakan bersama mbok Minah. Kugy memulai
menyanyikan lagunya. “...Kuingin seperti
pelangi memberikan warna-warni walau hanya sekejap saja, tapi indahnya selalu
ada.. kuingin seperti mentari menyinari hari-hari dengan senyum yang
menghangatkan hati walau hanya sekejap saja tapi indahnya membekas selamnya..”
Kugy menghentikan nyanyiannya dan memeluk mamanya. Ia membisikkan lagu ulang
tahun di telinga mamanya. Ibu dan anak itu larut dalam haru yang menyeruak.
Mbok Minah ikut meneteskan airmatanya begitu juga dengan Adit, laki-laki itu
semakin bulat tekadnya untuk menikahi Kinar, mama Kugy.
Kinar melepaskan pelukannya dan meniup
lilin di atas kue yang dari tadi di pegang oleh Mbok Minah. Sambil menyeka
airmata yang menetes, Kinar mengatakan sesuatu kepada Kugy.
“Sayang, Mama dan Om Adit punya sesuatu
untuk kami sampaikan ke kamu. Ayo kita masuk dan bicara di dalam.”
Sesampainya di ruang tamu, Kugy membuka
percakapan.
“Mama sama om Adit mau ngomong apa ke
Ugy?”
Kinar dan Adit terlihat bertatapan
sebelum akhirnya tangan Kinar memegang tangan Adit untuk menguatkannya.
“Ugy, Om Adit minta maaf jika apa yang
nanti om sampaikan membuat Ugy kaget. Tapi om harap, Ugy mau mengerti.” Adit
membuka percakapan mereka. Terlihat sekali jika ia sedikit gugup, tapi genggaman
tangan Kinar mampu meredam rasa gugupnya.
“Om sama Mama mau nikah?” Tembak Kugy
tepat sasaran.
Kinar menatap putrinya tak percaya.
Kebutaan mengasah matahati Kugy menjadi lebih tajam. Segera Kinar menjawab
pertanyaan Kugy.
“Iya sayang.. kamu tidak keberatan kan?”
Katanya takut-takut.
“Tentu saja nggak Ma.. Kugy seneng kalo
akhirnya Mama bisa menemukan pengganti Papa untuk Kugy.. menikahlah.”
Kinar menghambur memeluk putrinya. Ia
sama sekali tidak menyangka akan mendapatkan restu yang mulus dari Kugy. Kugy
mengijinkannya menikah dengan Adit tanpa bantahan sedikitpun. Kinar memang
telah menyangka bahwa Kugy tidak akan keberatan ia menikah lagi setelah 15
tahun menjanda tapi ia mengira Kugy akan sedikit mengajukan pertanyaan atau
semacamnya tapi ternyata tidak.
“Terimakasih Ugy,” ucap Adit pelan.
“Terimakasih juga Om,” balas Kugy.
Masalah yang tersisa sekarang adalah
menaklukkan hati Galang, putra semata-wayang Adit, yang sampai detik ini masih
menunjukkan sikap permusuhannya kepada Adit. Galang menganggap papanya-lah yang
harus dipersalahkan karena kematian mamanya. Sejak kematian mamanya, Galang
mulai menjaga jarak dengan papanya.
Di tengah kehangatan di rumah Ugy,
Galang di tempat yang lain tengah asik dengan kegiatan yang mulai ia tekuni
sejak mamanya meninggal, balap motor. Malam ini
akan ada balapan motor antar geng motor se-Surabaya, Galang tengah
bersiap-siap bersama-sama teman satu gengnya untuk balapan nanti malam ketika
tiba-tiba dering handponenya
berbunyi.
“Halo?” Sapa Galang acuh tak acuh pada
pria di sebrang telepon. Ia Adit, papanya.
“Galang, ada yang mau Papa bicarain..
kamu bisa pulang cepat dan ikut makan malam bareng Papa?” Kata Adit.
“Mau ngomong apaan sih? Ngomong aja
disini.” Galang menjawab Papanya ogah-ogahan.
“Pokoknya malam ini, kita makan bareng.
Kalau kamu nggak pulang, uang jajan kamu Papa stop.” ancam Adit.
“Huh! You Got It. Oke, aku pulang.” Galang
menutup teleponnya dan beralih pada teman-temannya.
“Aku pulang.” Katanya. Tanpa menjelaskan
apapun, Galang memacu motornya secepat kilat.
Dan ceritapun mengalir sampai pada hari
pernikahan antara Kinar dan Adit. Meskipun pada awalnya Galang menentang keras
pernikahan mereka, namun pada akhirnya ia hanya bisa membiarkan papanya
mendapatkan apa yang ia inginkan. Selepas pesta pernikahan, Kinar dan Adit
merasa sangat lelah karena seharian melayani tamu undangan yang datang. Di
tengah semua rasa penat, tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan Galang dari
arah dapur rumah mereka. Seminggu yang lalu sebelum pernikahan Kinar dan Adit
memutuskan untuk tinggal di rumah Kinar, sedangkan rumah Adit mereka sewakan
kepada orang lain. Keputusan ini awalnya ditentang keras oleh Galang, namun
pada akhirnya ia mengalah pada papanya.
“Heh! BUTA kamu ya? Kalau jalan
lihat-lihat! Dasar BUTA!” Teriak Galang brutal kepada Kugy.
Kugy yang serta merta mendapat teriakan
yang begitu keras dari Galang hanya bisa menggigil dan berkata takut-takut
kepadanya.
“Ma-ma-maaf Kak, Ugy nggak sengaja. Ugy
kira nggak ada siapa-siapa di depan Ugy.”
“Kakak, kakak! Siapa yang mau punya adek BUTA kayak kamu hah? Jangan pernah
berpikir aku bakalan mau saudaraan sama orang BUTA dan BODOH kayak kamu! Dengerin
itu!” Bentak Galang. Dan ia pun membanting gelas yang separuh isinya sudah
tumpah karena tertabrak Kugy.
Kinar dan Adit datang tergopoh-gopoh
mendengar suara teriakan Galang yang begitu keras.
“Galang! Apa-apaan kamu? Ugy sekarang
adik kamu, tolong jangan kasar sama dia!” Teriak Adit.
“Sudah Mas, sudah..” kata Kinar
menengahi, kemudian ia berkata pada Galang, “Galang, kamu boleh tidak senang
pada saya, kamu boleh membentak saya, kamu boleh berteriak kepada saya tapi
tolong jangan bentak Ugy. Dia nggak salah apapun sama kamu. Dia memang buta,
tapi bukan berarti kamu bisa berteriak-teriak menghinanya seperti tadi.” Ucap Kinar
lirih tapi tegas.
Galang beralih tanpa meninggalkan
sepatah kata pun. Sementara Kugy masih cukup kaget dengan apa yang baru saja ia
alami.
“Ugy, kamu nggak papa kan sayang?” Kata
Kinar beralih memeluk Kugy.
“Nggak Ma, Ugy nggak papa. Ugy tidur
dulu ya Ma, malem.” Pamit Kugy.
Dan malam itu pun berakhir dalam senyap.
Keesokan paginya Kugy sudah terlihat ceria kembali, seperti kebiasaannya ia
memainkan pianonya dengan perasaan senang.
“Heh BUTA! Kamu pikir lagu yang kamu
mainin itu enak ya? Berisik tau! Berhenti main atau aku suruh orang buang piano
bulukan ini!” Kata Galang yang tiba-tiba muncul mengagetkan Kugy.
“Kakak nggak suka Ugy main piano?
Kenapa? Ugy mainnya fals ya?” Kata Kugy ramah. Ia seolah-olah mengabaikan
perkataan kasar Galang.
“Aku harus bilang berapa kali ke kamu
hah? Aku bukan kakak kamu!” Bentak Galang.
“Kenapa aku nggak boleh panggil Kak
Galang kakak? Papa-Mama kita kan sudah menikah, berarti kita saudaraan dong?”
Jawabnya riang.
“Aku nggak SUDI punya saudara BUTA kayak
kamu!”
Kinar yang tiba-tiba datang dari arah
dapur menampar keras pipi Galang. Matanya berkaca-kaca.
“Saya sudah bilang sama kamu, jangan
menghina Ugy! Kamu sama sekali tidak berhak menghina anak saya!” Kinar
berteriak, tangisnya pecah. Hatinya terluka mendengar buah hati yang begitu ia
sayangi dihina serta merta oleh Galang, anak tirinya. Kugy yang bisa merasakan
bahwa mamanya tengah menangis, berkata perlahan.
“Ma, jangan nangis.” Ia beralih pada
Galang, “Kak, kalau Ugy nggak boleh panggil Kak Galang kakak, terus Ugy harus
panggil Kakak apa?”
“Nggak usah panggil-panggil aku!” Dan
Galang pun pergi ke kamarnya dengan membanting pintunya keras-keras.
Kugy berjalan meraba-raba ke arah mamanya
dan memeluknya sambil berbisik,
“Ma, Ugy nggak papa kok kalau Kak Galang
bentak-bentakin Ugy kayak tadi. Mama jangan nangis ya? Ugy sayang sama Mama,
Ugy nggak mau lihat Mama nangis gara-gara Ugy.”
Kinar terdiam. Airmatanya meleleh deras.
Betapapun Kugy mengatakan bahwa ia baik-baik saja dengan perkataan Galang namun
tetap saja ia tak bisa menerima perlakuan Galang terhadap Kugy.
Setelah kejadian piano itu, Galang tidak
pulang ke rumah. Ia pergi ke tempat teman-teman geng motornya. Melampiaskan
segala kekesalannya dengan balapan liar di malam hari. Hari itu, hujan
mengguyur Surabaya sejak pagi. Adit yang sejak beberapa hari mengkhwatirkan
tingkah laku Galang mulai mencari-cari kemana Galang pergi selama ia
meninggalkan rumah. Adit menghubungi semua teman Galang yang ia ketahui tapi
nihil, karena tidak seorangpun dari mereka tahu kemana Galang pergi. Adit
mencoba menghubungi ponsel Galang berulang-ulang tapi teleponnya tidak dijawab.
Ia mencoba menelpon dengan nomor lain, tapi setelah Galang mendengar itu suara
papanya, ia memutuskan sambungan. Kinar pun mencoba menghungi Galang dan
meminta maaf atas tindakannya yang telah menampar Galang tempo hari, tapi semua
itu tidak ia gubris. Setelah beberapa hari mencoba dengan hasil yang nihil,
Adit hampir menyerah menghadapi Galang ketika sebuah kabar mengejutkan
diterimanya dari rumah sakit. Galang kecelakaan dan sekarang ia koma. Adit
bergegas menuju rumah sakit tempat Galang dirawat. Ia menghubungi Kinar, yang
hari itu kebetulan tidak masuk kantor, melalui ponselnya.
“Halo, Ma.. Galang kecelakaan. Dia koma.
Aku sedang menuju ke RS. Mitra Keluarga, kamu nyusul ya?” telepon ditutup dan
Adit menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal, sayang kondisi jalanan
Surabaya yang macet pada jam makan siang menguji kesabarannya.
Ruangan itu bercat coklat putih. Tidak
ada apa-apa di ruangan itu kecuali sebuah ranjang dengan Galang yang terbaring
lemah di atasnya. Pintu depan ruangan itu bertuliskan ICU. Adit tengah menatap
putranya dibalik pintu itu. Ia menatap Galang yang belum sadarkan diri sejak ia
dibawa kesini kemarin sore. Di koridor yang panjang, seorang perempuan berjalan
tergopoh-gopoh menghampiri Adit yang tengah berdiri kuyu. Adit menoleh dan
mereka berpelukan. Adit menangis di bahu perempuan itu. Ini kali kedua ia
menangis setlah kematian istri pertamanya, mama Galang.
“Sabar ya Pa, Galang pasti sembuh. Dia
pasti sadar kembali.” kata perempuan itu, berusaha menenangkan suaminya.
Sementara Adit tidak mampu berkata apapun.
Dokter yang menangani Galang menghampiri
Adit dan Kinar yang tengah duduk di ruang tunggu. Ia meminta mereka
mengikutinya ke ruangannya. Sesampainya di ruangan yang tidak lebih ramai dari
kamar ICU yang sekarang ditempati Galang, ia menyilahkan suami-istri yang
terlihat sama lelahnya itu untuk duduk. Adit yang merasa sudah tidak memiliki
tenaga lagi, meminta sang dokter untuk langsung menyampaikan apa yang ingin ia
sampaikan.
“Begini Pak, Bu, kecelakaan yang dialami
oleh Galang telah membuat saraf kiri Galang mati, kemungkinan besar Galang akan
mengalami kelumpuhan permanen pada anggota tubuhnya yang kanan.”
“Apa? Lumpuh?” Adit tidak ingin
mempercayai apa yang baru saja ia dengar. Putra tampannya akan mengalami
kelumpuhan permanen pada anggota tubuh sebelah kanan? Ini adalah mimpi buruk
yang tidak pernah melintas dalam benaknya.
“Apa kelumpuhan ini tidak dapat
diterapi, Dok?” tanya Kinar yang tangannya terus menggenggam tangan Adit.
“Ini hanya perkiraan saya, kondisi
Galang yang sesungguhnya tidak bisa dipastikan sebelum dia siuman. Prediksi ini
tidak mutlak, apapun bisa terjadi. Tapi, mengingat benturan kepala yang dialami
oleh Galang cukup keras bisa jadi apa yang sudah saya prediksikan menjadi lebih
buruk jika Galang tidak juga sadar. Saya harap, Bapak dan Ibu tetap sabar. Kami
akan berusaha yang terbaik untuk Galang.”
Mendengar penuturan dokter, Adit tidak
mampu berkata apa-apa. Batinnya dipenuhi rasa bersalah kepada Galang. Adit
terdiam dan menunduk, sementara Kinar berusaha menghiburnya dengan
mengelus-elus pundaknya.
“Baiklah, Dok. Terimakasih untuk
penjelasannya, kami mohon lakukan yang terbaik untuk anak kami. Kami permisi.”
Ucap Kinar yang disambut oleh sang dokter dengan menyilahkan mereka untuk
menemui Galang yang masih terbaring lemah di kamar ICU.
Saat Adit dan Kinar kembali dari ruangan
dokter, Kugy telah duduk di ruang tunggu bersama Pak Murdi, supir kantor Adit,
yang mengantar Kugy untuk menmui mamanya setelah mendengar kabar bahwa Galang
kecelakaan. Kugy mendengar langkah kaki mendekat, kali ini ia tidak mencoba menghampiri
langkah kaki yang sudah ia hapal tersebut, melainkan menunggunya
menghampirinya. Kinar duduk di samping Kugy dan menggenggam tangan Kugy rapat
tanpa suara, sementara Adit berdiri mematung dibalik pintu ruang ICU.
“Kak Galang pasti sembuh Pa,” ucap Kugy
pada Adit. Adit menoleh dan berjalan menghampiri Kugy.
“Iya, Ugy. Kak Galang pasti sembuh.”
Adit mengatakan itu dengan airmata menetes dari kedua matanya yang tampak
lelah. Lalu ia melanjutkan..
“Ugy, maafin Kak Galang ya? Kak Galang
sudah kasar sama Ugy, doakan Kak Galang, biar Kak Galang cepat sadar dan bisa
kembali ke tengah-tengah kita lagi.”
“Iya, Pa.” Kugy melepaskan genggaman
tangan Mamanya dan memeluk papa tirinya itu, sayang.
Sepuluh hari berlalu, tapi Galang belum
juga sadar. Dokter sudah mulai kehilangan harapan akan kesembuhan Galang,
sementara Adit hanya bisa berdoa semoga Tuhan berkenan membagi mukjizatNya
untuk putra semata-wayangnya, Galang. Sore hari pada hari ke sebelas, Galang
akhirnya sadar dari komanya. Dokter yang menangani Galang berkata bahwa apa
yang terjadi pada Galang benar-benar merupakan mukjizat dari Tuhan. Galang
kembali dari komanya setelah sepuluh hari terbaring tak sadarkan diri, dan
semua prediksi yang sempat diberikan dokter saat Galang koma ternyata salah.
Setelah beberapa kali pemeriksaan, Galang dinyatakan tidak akan mengalami
kelumpuhan secara permanen. Ia memang akan lumpuh sementara, tapi kelumpuhan
itu akan pulih setelah diterapi secara perlahan-lahan. Adit sangat bersyukur,
Tuhan Maha Baik. Ia mendegar doa Adit untuk Galang.
Hari ke lima belas Galang dirawat di
rumah sakit, ia sudah diperbolehkan pulang. Dengan menggunakan kursi roda, ia
dituntun papanya untuk pulang ke rumah, tapi sebelum mereka memasuki mobil
Galang berkata pada papanya.
“Aku mau ke makam Mama sebentar, boleh?”
Adit yang sempat terbengong mendengar
permintaan Galang yang tidak biasa itu segera menjawab permintaan Galang dengan
anggukan senang. Ia senang akhirnya Galang mau berkunjung ke makam istri
pertamanya. Sejak Almarhumah mamanya meninggal, Galang tidak pernah mengunjungi
makam wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu karena Galang tidak
pernah mau menerima kenyataan kalau mamanya telah meninggal. Ia menjaga jarak
dengan Adit dan menimpakan semua kesalahan pada Adit atas meninggalnya mamanya
karena ia sendiri takut untuk mengakui bahwa ia juga bersalah pada mamanya.
Semasa wanita itu hidup, Galang tidak pernah menjadi anak yang manis. Ia
merasa, semua kasih sayang yang diberikan oleh mamanya terlalu berlebihan
sehingga terkadang ia justru menjadi acuh terhadap mamanya dan membiarkan
mamanya berteman dengan kesendirian dan menyembunyian penyakitnya sampai beliau
meninggal. Galang menyesal. Tapi itu dulu, sekarang Galang mau mengunjungi
makam mamanya dan itu membuat Adit senang sekali. kinar yang melihat kilau
bahagia di mata suaminya, bertanya takut-takut pada Galang. Ia takut emosi
Galang masih belum stabil, jadi ia bertanya dengan menggunakan sebutan ‘tante’
untuk dirinya.
“Em, Tante boleh ikut ke makam Mama kamu,
Galang?” pertanyaan itu dijawab dengan anggukan oleh Galang.
Tiga puluh menit berada di depan makam
mamanya, Galang tidak melakukan apapun. Tidak ada pergerakan dari tubuhnya,
kecuali matanya yang terus mengalirkan airmata. Adit mengusap-usap bahu Galang,
berusaha menenangkan sesenggukan Galang. Setelah puas menangis, Galang akhirnya
berkata pada nisan mamanya.
“Maaf Ma, Maafin Galang.. Galang janji
akan berubah. Sepuluh hari bareng Mama sudah bikin Galang sadar, Galang sudah
banyak salah sama Papa juga Tante Kinar. Mama baik-baik disana ya? Galang
janji, Galang nggak akan lama-lama ninggalin Mama disana sendirian.”
Adit merasa terenyak mendengar perkataan
Galang. Ada sesuatu yang berubah mengganjal hatinya, tapi ia berusaha
mengenyahkan perasaan itu dan berkata pada Galang.
“Sudah, Galang?”
“Sudah. Ayo pulang.” katanya singkat.
Dan mobil pun melaju membelah senja yang mulai merangkak menghadirkan pesona
petang di hari itu.
Di rumah, Kugy telah menyiapkan sebuah
pesta penyambutan kecil-kecilan untuk kakaknya. Dengan dibantu Mbok Minah, ia
membuat spanduk kecil yang bertuliskan ‘Selamat Datang’ untuk Galang yang
dipasang di atas pintu masuk. Lima belas menit berlalu, suara mobil Adit
terdengar sayup-sayup memasuki halaman rumah. Adit turun dan membantu Galang
untuk duduk di kursi rodanya. Bertiga dengan Kinar mereka berjalan menuju
beranda rumah dan mendapati sebuah spanduk sederhana yang telah disiapkan Kugy
untuk Galang. Kinar tersenyum, Kugy selalu punya kejutan untuk orang-orang
disekelilingnya. Meski demikian, usaha Kugy tak cukup membuat Galang tersenyum.
Ia hanya diam menatap spanduk kecil yang dibuat khusus untuknya itu. Dituntun
Mbok Minah, Kugy berjalan menghampiri Galang.
“Selamat datang, Kak Galang.” ucapnya
lirih.
“Terimakasih,” jawab Galang singkat. Ia
lalu menoleh pada papanya dan berkata, “aku capek.” lalu Adit mendorong kursi
roda Galang menuju kamarnya.
Satu bulan berlalu sejak Gaalng kembali
pulang ke rumah. Kondisinya sudah lebih baik, meskipun ia masih harus tetap
terapi untuk bisa kembali berjalan normal. Sikap Galang pun sedikit demi
sedikit berubah, meski tidak sepenuhnya bisa terbuka terhadap keluarga barunya,
tapi ia sudah tidak sekasar dulu dan ini membuat Kinar bersyukur. Sutau siang,
ketika Kugy sedang memainkan lagu dengan piano klasiknya, Galang menjalankan
kursi rodanya menuju Kugy. Kugy yang kali ini sedang asyik memainkan lagu
dengan pianonya, tidak menyadari kehadiran Galang di sampingnya sampai Galang
memanggil namanya.
“Gy..”
“Eh-oh..” Kugy tergeragap. Ia takut
Galang akan marah-marah seperti dulu saat ia memainkan piano. Galang yang
menangkap aroma takut dari gelagat Kugy langsung menjelaskan.
“Nggak papa, aku nggak marah kamu main
piano. Aku Cuma mau ngobrol bentar, kalau boleh.” katanya.
Hufff..
Kugy menghembuskan nafasnya lega. Galang hanya tersenyum melihat Kugy yang
sudah ketakutan di awal, lalu Galang melanjutkan kembali kata-katanya.
“Kamu takut banget ya sama aku?”
“Nggak sih Kak, eh?” Kugi menghentikan
perkataannya sebelum akhirnya bertanya pada Galang, “aku boleh panggil Kak
Galang, kakak?”
“Boleh,” jawab Galang singkat. Lalu ia
mengulangi kembali pertanyaannya kepada Kugy, “jadi, kalau kamu nggak takut
sama aku kenapa kamu sampai menghembuskan nafas lega begitu aku bilang kalau
aku nggak marah?” tanyanya penasaran.
“Aku memang nggak takut sama kakak, aku
tau kakak nggak akan menyakiti secara fisik, tapi aku takut kalau justru kakak
yang akan sakit kalau marah-marah..”
“Hah?” tanya Galang tak mengerti atas
penjelasan Kugy.
“Intinya, Ugy nggak pengen Kak Galang
marah-marah. Marah-marah itu nggak sehat.”
“Ooo,” Galang mebulatkan bibirnya. Lalu
Kugy bertanya kepadanya,
“Kak Galang katanya mau ngobrol, apa?”
“Gy, kamu uda berapa lama buta?” tanyanya.
Pertanyaan itu membuat Kugy terdiam. Galang merasa ia telah salah mengajukan
pertanyaan, ia takut Kugy akan tersinggung dengan kata-katanya, lalu dia
memumutuskan untuk meralat pertanyaannya, tapi Kugy sudah menjawab
pertanyaannya kalem.
“15 tahun kak. Aku buta sejak aku umur 2
tahun, sekarang aku sudah 17 tahun, jadi aku sudah akrab dengan gelap selama 15
tahun. Kenapa kakak menanyakan itu?”
“Gy, sori. Aku nggak maksud nyinggung
perasaan kamu..” Galang mencoba mengklarifikasi maksudnya sebelum nakhirnya ia
menambahkan pertanyaan yang lain untuk Kugy, “15 tahun hidup dalam gelap, yang
paling kamu kangenin apa Gy?”
“Matahari..” jawab Kugy kalem. Matanya
menerawang kosong.
“Kenapa matahari?” tanya Galang bingung.
“Selama ini aku cuma bisa ngerasain hangatnya
matahari aja, aku sudah lupa gimana bentuknya matahari.. makanya, aku kangen
banget sama warna matahari. Hehehe.”
“Oo.. siapa yang paling bersalah atas
kebutaan kamu Gy?”
“Nggak ada yang salah kali kak. Semuanya
sudah digariskan oleh Tuhan seperti ini, and I am very grateful for whatever He
has chosen for me.”
“Bahasa Inggris kamu bagus Gy,” timpal
Galang nggak nyambung, kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
Di dapur, Kinar dan Mbok Minah ikut
tersenyum bahagia menyaksikan keakuran dua kakak-beradik yang berbeda orang tua
tersebut.
Kata-kata Kugy membuat Galang mengagumi
adik tirinya tersebut. Sejak obrolan singkat tersebut, Galang jadi sering
tertawa bersama Kugy. Kugy juga tidak pernah lupa mengingatkan Galang untuk
terapi dan meminum obat.
Jam demi jam menjumlahkan dirinya
menjadi hari, hari demi hari menggabungkan dirinya menjadi bulan. Sudah dua
bulan terlewati sejak galang sadar dari komanya. Sekarang ia dinyatakan sembuh
total oleh dokter. Ia sudah bisa berjalan dan beraktivitas seperti sedia kala.
Gerimis mewarnai subuh kala itu. Galang
terduduk di sajadahnya. Kepalanya pusing. Ia merasa bahwa waktunya akan segera habis.
Ia mengambil kertas dan menulis sesuatu. Setelah itu, ia membaringkan tubuhnya
di atas ranjangnya dan terpejam. Ia melihat sosok putih yang sudah menunggunya
untuk bergabung. Galang pergi untuk selamanya.
Kinar mengetuk pintu kamar galang, namun
tidak ada jawaban. Ia memanggil-manggil nama Galang, tetap tidak ada jawaban.
Ia memutar kenok pintu kamar Galang, tidak dikunci. Ia melihat Galang tidur
terbaring dan mendapati ia sudah tidak lagi bernafas. Kinar menangis, ia
berteriak memanggil Adit yang lari tergopoh-gopoh setelah mendengar teriakan
Kinar. Mereka berdua menangis. Di tengah tangisan mereka, Kugy masuk dan
bertanya apa yang telah terjadi, namun tak satu pun dari Adit maupun Kinar
mampu berkata-kata. Adit berjalan menhampiri sajadah yang masih tergelar di
samping ranjang Galang dan menemukan secarik kertas. Kertas yang sempat
ditulisi Galang sebelum ia pergi. Di dalam kertas tersebut terdapat tulisan:
“Berikan
matahari yang Kugy rindukan dengan memberikan kedua bola mataku. Biarkan ia
melihat warna matahari setelah ia bersabar hanya dengan merasakan hangatnya.
Galang minta maaf atas semua kesalaahan yang pernah Galang lakukan. Semoga
Papa, Tante Kinar dan Kugy bahagia selamanya.”
Adit
jatuh terduduk. Kinar berlari menghampirinya, ia bertanya pada Adit dan Adit
memberikan surat yang ditulis Galang sebelum ia pergi. Kinar menangis. Ia
memeluk Adit erat, mencoba menabahkan hati suaminya itu. Dalam tangis pilu,
memori membawa ingatan Adit peda saat mereka mengunjungi makam almarhumah istri
pertamanya dua bulan yang lalu. Ia ingat
betul perasaan aneh yang tiba-tiba menyusup hatinya saat Galang mengatakan
bahwa ia tidak akan berlama-lama meninggalkan mamanya sendirian. Rupanya saat
itu galang telah merasa bahwa waktunya tidak banyal tersisa. Adit kembali
menangis dalam pelukan Kinar.
Galang dimakamkan keesokan harinya,
setelah menjalani proses otopsi. Dokter menyatakan ada penggumpalan pembuluh
darah di otak Galang yang luput dari pengetahuan dokterdan membuatnya meninggal.
Pihak rumah sakit meminta maaf atas kelalaian dalam proses pemeriksaan dan
berjanji akan memberikan asuransi kematian, tapi Adit menolaknya. Ia tidak
ingin memperpanjang masalah. Ia sudah mengikhlaskan apapun yang telah terjadi
pada putranya.
Hari ketiga setelah kepergian Galang, Adit
memasuki kamar Galang, mencoba mengenang apapun tentang putra semata wayangnya
itu. Ia sangat menyesal. Semasa Galang hidup, sedikit sekali waktu yang
dihabiskan Adit bersama Galang. Tapi penyesalan selalu datang lebih lambat dari
kenyataan yang sudah terjadi. Kinar menyusul Adit ke kamar Galang, mengajaknya
untuk keluar. Ia tidak ingin Adit berlarut-larut dalam penyesalannya.
Satu
bulan kemudian...
Matahri bersinar terik sekali. kugy
berada di depan sebuah makam yang penuh dengan bunga tulip. Bunga tulip itu
baru saja diletakkannya disana, Kugy berharap semoga orang yang telah berbaring
di dalam makam itu tahu bahwa ia merindukannya. Nisan di makam itu bertuliskan
nama Galang Prasetya bin Aditya Satrio. Kugy mengelus nisan itu, dan berkata
lirih.
“Terimakasih atas matahari yang kakak
kasih, matahari itu cantik ya kak?” Ia berhenti, mengusap airmata yang jatuh
satu-satu, lalu melanjutkan, “secantik hati kakak yang telah berbaik hati
membagi cahaya untuk Ugy, semoga Tuhan memberikan tempat terbaikNya untuk
kakak.”
Kugy selesai. Ia berjalan menyusuri
setiap makam menuju pintu keluar. Tapi ia tidak keluar sendirian, karena ia selalu
membawa serta Galang dalam sorot matanya yang teduh.
¤¤¤
