Puisi ini, sungguh berbeda dari style menulis saya.. mencoba 'gaya' yang lain, serta tema yang lain, tergugah dengan fenomena pacaran dimana-mana.. andai kalian bersabar, tentulah hadiah Allah akan jauh lebih besar, InsyaAllah ---------------------------------------------
***
Aku berjalan dengan langkah pasti
Meski tak tahu kemana kaki membawa
Buta arah
Tak tahu timur, barat, selatan ataupun utara
Hanya ikuti kata hati
Jejak tapak kakiku menari
Bersama tanah yang mengering
Kerana tersiram sinaran mentari
Pasir-pasir berbisik
Menceritakan apa yang kucari
Seolah-olah mereka mengerti
Apa yang tersembunyi
Benar saja,
Ternyata hati telah bercerita
Kunci rahasia
Yang turut bersama pulang
Ketika diri mengakrabi cinta
Sungguh, bukan cinta sementara yang kudamba
Bukan yang terpaut pada kekaguman fisik semata
Bukan
Yang kucari, pulang
Pulang
Yang menuntunku menggapai mutiara-Nya
Yang melengkapkan dien ku,
Yang mengubah sabitku menjadi purnama yang utuh
Kuijinkan takdirNya menuntun hati
Kelak,
Jika bukan ia, mungkin aku yang akan menemukannya
Dalam tumpukan sifat seorang imam
Yang kuperlukan hanyalah sabar
Menantikan kejutanNya
Sebab Allah selalu punya cara
Kinipun,
Jalan Pulang ku telah ada,
Meskipun belum kutahu ia,
Yang kutahu,
Ia masih tersembunyi dibalik sebuah wajah dan nama
Allah, aku ingin bercerita.. karena hanya kepadamu, kupercayakan ceritaku.. sungguh, tumpukan tugas ini, menghimpitku dengan tekanan, hingga tak terasa keluh ku pun meluncur begitu saja, Allah, aku tahu tak ada sebuah guna dari keluh melainkan beban akan terasa semakin berat.. karenanya, sungguh hanya kekuatan dariMu yang aku harap dapat menjagaku dari sikap lemah..
--------------------------------------------
Keluh
Luh,
Keluh
Peluh,
Pe
Luh-ke
Luh
Lu – luh
Ke
Lu --
Ruh
Peluh pun meluruh
Bersama cucuran keluh
Rabb,
Lemahnya jiwa tak sanggup dengan coba
Padahal belum seberapa
Keluh pun meluncur
Bersama tetesan peluh
Rabb,
Betapa manja
Jiwa yang rapuh
Tak tahan uji
Padahal mengaku telah dewasa diri
Lelah
Leleh
Leh
Lah
Lah
Leh
Lah
Le --
Lah
Lelahku meleleh
Keluh pun turut meluruh
Rabb,
Tak sanggup sembunyikan luh
Yang leleh bersama peluh
Sungguh,
Engkau Maha Tahu
Dan,
Tak kan ada beban melebihi kuatku
Tapi..
Rabb,
Lemahnya jiwa
Sujud. Ampun. Karena tak pandai mengucap syukur
Padahal,
Engkau Maha Baik
Benarlah, jika diri yang papa
Dekat dengan le –
Mah,
Maka, kuatMu adalah satu-satunya sandaran
Agar tak jatuh dalam kehinaan yang dibisikkan oleh syetan
Sebuah puisi tentang kerinduan.. Sidoarjo, kota asal yang penuh akan memori dan kenangan masa silam.. tak hanya itu, separuh nafasku akan selalu tinggal.. Di sana, Di Sidoarjo..