Jumat, 16 Desember 2011

Sidoarjo, Aku Bercerita

Sebuah puisi tentang kerinduan..
Sidoarjo, kota asal yang penuh akan memori dan kenangan masa silam..
tak hanya itu, separuh nafasku akan selalu tinggal..
Di sana, Di Sidoarjo..

Selamat membaca..
-------------------------------------

Sidoarjo, Aku Bercerita

Sidoarjo,

Di sana, di sebuah kota kecil di selatan kota surabaya

Aku meniti cerita

Antara aku dan mereka

***


Sidoarjo, aku bercerita..

Di sana, ada tiga tokoh berharga

Mama, adik, dan ayah tercinta

Merekalah penopang semangat saat raga melemah,

Saat langkah mulai tertatih dan goyah

Setelah Allah, untuk merekalah cita ku ada


Di sana pula, di sebuah sekolah

Di bawah jembatan layang..

Pernah ku ukir kisah

Yang indah dengan makna


Karena,


Di sana, aku pernah tertawa

Di sana, aku pernah menangis

Di sana, aku belajar mengeja cinta

Di sana, aku belajar memahami arti saudara


Sidoarjo,

Dari sana, aku...

Merangkai kisah menjadi sebuah makna

Menerjemahkan makna dari setiap peristiwa

Menemukan penghapus untuk setiap luka dalam peristiwa,


Aku tak pernah bisa jauh,

Karena di sana telah tertinggal sungguh

Hatiku terpaut

Tak mau lepas kecuali maut


Sidoarjo, aku bercerita

Malang, kota penuh keindahan

Tapi, aku tak kan melih mencari bandingan

Untuk apa yang telah kutemukan


Sidoarjo, coba dengar

Suara-suara kerinduan

Datang bersama hilangnya kebersamaan

Karena jarak yang memisahkan


Sidoarjo, aku bercerita

Di sana,

Tersimpan rahasia

Antara aku dan waktuku

Maukah kau bersabar?

Menunggu hingga waktu bertutur tentang takdirNya


Sekarang,

Aku hanya ingin titipkan

Doa, untuk keluarga dan saudara yang tinggal jauh dari pandangan

Semoga langkah senantiasa teriring keridhoan..

Dan,

Sebuah salam..

Dari seorang perindu di tengah kota Malang,


-aesaazzam-

Kamis, 08 Desember 2011

Menimang Canda

Diorama di kotak kaca
Menyanyi dalam alunan maya
Dengan aku yang terpaku nyata
Mereka punya cerita, aku juga

Coba dengar,
Aku punya keluarga
Bukan keluarga yang memanjakanku dengan gelimangan materi duniawi yang fana
Tetapi keluarga, yang membesarkanku dengan limpahan materi surgawi,
sebagai bekalku menpaki dunia
Keluarga yang menempa dan membangkitkanku saat semangatku melemah

Cob dengar,
Aku punya saudara
Bukan mereka yang hanya ada disaat suka
Tetapi saudara, yang selalu ada di antara keduanya
Baik suka maupun duka
Saudara yang tak pernah segan berbagi bahagia,
dan selalu menyediakan tangannya
Untuk menghapus tiap tetes airmata

Coba dengar,
Aku punya teman
Bukan teman yang selalu membuatku merasa nyaman
Tetapi teman, yang memaksaku untuk terus berkembang

Hangat,
Airmataku perlahan meluncur,
tak lagi sanggup bersembunyi dalam senyuman semu
Diorama di kotak kaca masih menyanyi dalam alunan maya
Menemani lamunanku yang tengah rindu menimang canda..

-aesaazzam-

Kamis, 01 Desember 2011

Selalu


Sebuah ingatan menggelitik ingatan dalam kalbuku
Ketika kita berjalan di bawah langit teduh
Kau. Aku. Kita.
Kuat dalam ikatan saudara

Kini, jarak dan kesibukan memisah
Menggerus waktu dan kesempatan bertemu
Terlintas pertanyaan dalam pikirku,

Saudaraku, apakah aku ada dalam ingatanmu?
Jika kau bertanya kepadaku, jawabnya: Selalu
Saudaraku, apakah ada rindu yang tersimpan untukku di hatimu?
Jika kau bertanya kepadaku, jawabnya: Selalu

Saudaraku, apakah tersimpan harapmu untukku?
Jika kamu bertanya kepadaku, jawabnya: Selalu
Saudaraku, apakah terselip namaku dalam setiap doamu?
Jika kau bertanya kepadaku, jawabnya: Selalu

Mungkin, menurutmu aku kekanakan
Mungkin, menurutmu aku berlebihan
Mungkin,
Seribu mungkin anggapanmu tentangku

Ah, tak apa
Apapun anggapanmu tentangku, aku hanya ingin kau tahu..
Selalu ada namamu dalam ingatanku
Selalu ada rindu yang kusimpan untukmu di hatiku
Selalu tersimpan harapku untukmu, semoga langkahmu tetap teguh
Selalu terselip namamu dalam setiap doaku, semoga Ia memberi yang terbaik untukmu

Meski tak pandai mengungkap sayang
Meski kata tak terangkai indah
Cukup bagiku jika kau tahu
Bahwa: Selalu
Semoga aku tak membuatmu bosan dengan selalu..

-aesaazzam-

Muslim dan Konsistensi

Sebuah catatan untuk kawan, dan pengingat bagi diri sendiri..
------------------------------


“...Maka tetaplah pada jalan yang lurus menuju kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya...”

(TQS. Fushshilat: 6)

Muslim dan konsistensi, sangat erat kaitannya. Seorang muslim, selalu dituntut konsistensinya untuk tetap menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Memilih menjadi seorang muslim sama halnya dengan memilih untuk tetap konsiten dengan apa yang telah dipilih. Namun, tidak dapat dipungkiri jika dalam menjalankan konsistensi sebagai seorang muslim halangan dan rintangan selalu datang silih berganti. Halangan dan rintangan tersebut Allah ujikan kepada kita untuk mengetahui sejauh mana ketetapan hati kita untuk terus berkonsistensi dengan apa yang telah kita pilih. Mari kita tengok kisah Yahya bin Yahya untuk memetik pelajaran tentang sebuah konsistensi.

***

Suatu hari, Yahya bin Yahya sedang duduk di majelis ilmu yang dipimpin oleh Imam Malik di Madinah. Yahya yang seorang pria asal Andalusia (Spanyol) rela melalui perjalanan yang jauh lintas benua demi menuntut ilmu kepada ulama yang tersohor itu. Tidak bisa terbayang bagaimana luar biasanya perjalanan dari Andalusia hingga ke Madinah.

Ketika ia dan para murid lainnya sedang duduk di majelis itu, tiba-tiba Madinah gempar. Rombongan gajah yang entah dari mana datangnya melewati Kota Madinah. Sontak, hampir seluruh penduduk Madinah berhamburan ingin menonton gajah tersebut. Maklum, tidak seperti kuda atau unta, di jazirah Arab gajah adalah makhluk spesial yang jarang terlihat. Kemunculannya adalah berita besar bagi seluruh warga.

Tidak terkecuali majelis Imam Malik, para murid yang awalnya menuntut ilmu tapi kemudian turut dalam euforia menyambut rombongan gajah. Yang masih tetap berada di tempat itu hanya tinggal Yahya bin Yahya dan Imam Malik.

Lalu Imam Malik bertanya, “Mengapa engkau tidak keluar juga untuk melihat gajah?”

“Aku jauh-jauh datang dari Andalusia untuk menuntut ilmu, bukan untuk melihat gajah”

Ya, jawaban yang sangat mantap keluar dari lisan penuntut ilmu yang satu ini. Hingga akhirnya ia dijuluki Aqilu Andalus, Orang berakal dari Andalusia. (Biografi Yahya bin Yahya Al-Laitsi, lihat dalam Thuqul Hamaamah, Ibn Hazm; Al-Maghrib, Ibn Sa’id)

***

Yahya bin Yahya telah mengajarkan pada kita, bahwa orang yang berakal sudah seharusnya mengerti tujuan hidupnya.

Bukan saja masalah tujuan hidup, tetapi lebih daripada itu. Tentang bagaimana seorang muslim seharusnya mengerti apa yang seharusnya ia lakukan, apa yang ia impikan, tentang apa yang ia perjuangkan. Ia juga seharusnya tahu bahwa akan banyak halangan yang menghalanginya untuk sampai kepada tujuannya dan memahami benar konsekuensi di balik semua pilihannya.

Karena ketika kita melakukan seuatu demi tujuan tertentu, maka pasti akan ada hal lain yang mampu merubah langkah kita, yang mampu mengubah tujuan kita. Hal-hal yang terkadang menjadi batu sandungan bagi orang yang mengejar mimpinya. Ia jatuh karena hal kecil di dalam dirinya yang ia tidak kelola dengan baik: Konsistensi.

Dan tidak sedikit pula halangan dalam mencapai tujuan yang mampu menjadi batu loncatan demi mewujudkan harapannya, karena ia memiliki hal kecil dalam dirinya: Konsistensi. Yang mampu membuat ia matang dalam menghadapi ujian, matang dalam kepribadian, matang dalam menghadapi perubahan.

Terlalu indah rasanya bila kita bayangkan bahwa hidup ini bagaikan jalanan lurus tanpa kelokan dan tebing terjal serta diaspal dengan aspal terbagus. Yang bisa kita lewati dengan mudah tanpa ada halangan sedikit pun untuk membelokkan arah laju kita. Ah, Kawan! Hidup tak seindah bayangan karena, akan selalu ada tikungan dan turunan yang harus kita lalui. Ketika kita berencana untuk mencapai satu hal, maka mau tak mau kita harus melewatinya. Jalan yang berkelok-kelok, yang kita tidak tahu bagaimana dan apa yang di balik tikungan itu harus kita tempuh untuk bisa sampai pada tujuan kita. Bila kita tidak memiliki satu niat yang kuat, bila kita tidak konsisten dengan apa yang kita kerjakan, maka kehilangan kendali di tikungan serta tergelincir ke dalam jurang akan sangat mungkin kita alami. Bagaikan mobil yang sedang mendaki. Ketika supirnya tengok kanan kiri dan tidak melihat jalan yang dilaluinya, maka ia tidak sadar kalau ternyata ia sudah di dalam jurang.

Dalam menghadapi tikungan itu, kita butuh kematangan seperti yang telah diajarkan Yahya bin Yahya, bagaimana ia tetap tidak kehilangan kendali meski terdapat halangan dan batu gelinciran.

Konsisten Sepanjang Zaman

Hidup ini terkadang sangatlah berat ketika kita tidak memiliki konsistensi. Padahal, bila kita terus konsisten dalam menggapai tujuan kita, maka insya Allah kita akan mendapatkan apa yang kita harapkan.

Dalam konteks seorang muslim, bagaimana ia seharusnya konsisten sebagai seorang muslim, yang mengaku beriman kepada Allah dan menjadi pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?

Seringkali kita jumapi kasus ketika seorang muslim tidak lagi tegar di jalan ke-Islamannya. Ia yang dengan mudahnya terhempas angin peradaban Barat dan terbang tanpa arah dan tujuan. Apakah ini adalah hakikat seorang muslim? Ketika seseorang menanggalkan identitas ke-Islamannya demi meraih tujuan duniawinya, sementara ia lupa dengan tujuan penciptaannya? Mari kita simak ayat berikut ini:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku”

(TQS. Adz-Dzariyaat: 56)

Sebagian besar ummat Islam lupa akan tujuan hidupnya, mereka terlalu larut dalam kesenangan duniawi yang membuat mereka tidak lagi konsisten dengan ke-Islaman mereka. Tidak konsisten di sini tentu saja bukan berarti langsung berpaling dari Islam. Dalam hal ini, identitas yang mereka sandang tetaplah seorang muslim, sayangnya, kepribadian, tindakan, dan pemikiran mereka keluar dari jalur syariat yang telah ditetapkan. Jika boleh meminjam istilah sinetron, kita menyebutnya ISLAM KTP. Ngga percaya?

Cobalah lihat, bagaimana kebanyakan orang sudah mengekor pada orang-orang kafir. Turut berhura-hura dalam pesta mereka. Turut bersuka cita dalam hari raya mereka. Turut serta dalam kebudayaan mereka. Padahal telah jelas hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sungguh, kalian akan mengikuti sunnah (cara hidupnya) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhabb (sejenis biawak), kalian pun akan memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?””

(HR. Bukhari no. 3456 dan Muslim no. 2669)

Apakah seperti ini kepribadian muslim yang memiliki konsistensi?

Sebelum menjawabnya, mari kita tengok kisah tokoh-tokoh muslim yang konsisten dalam meraih tujuannya.

1. Ketika keluarga Yassir, Bilal, Khabbab bin Arats, Khubaib bin Adi, dan segenap sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendapat ujian hingga bahkan meregang nyawa demi memegang kukuh keIslaman mereka, apakah mereka ikut dalam keinginan orang-orang kafir? Tidak.

2. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal harus mendekam dalam penjara demi membela Al-Qur’an bukanlah makhluk, meski ada beberapa keluarganya yang akhirnya melakukan taqiyah (pura-pura) untuk mengakui bahwa Qur’an adalah makhluk padahal tidak agar mereka selamat. Apakah Imam Ahmad berpindah keyakinannya? Tidak.

3. Atau yang paling dekat dengan kita, ketika Hamka mengeluarkan fatwa pada 1981 bahwa haram hukumnya mengucapkan selamat natal. Beliau dikecam di masa Orde Baru. Dan akhirnya demi tetap mempertahankan pendapatnya, ia rela mengundurkan diri dari jabatan Ketua MUI pusat.

Mengapa mereka begitu kuat dalam menjalankan prinsip mereka? Jawabannya adalah karena mereka sadar akan makna kehidupan, merka sadar akan tujuan penciptaannya di dunia, yaitu beribadah kepada Allah yang mencakup dalam segala hal. Dan mereka juga memiliki satu keistiqamahan, mereka memiliki konsistensi yang mampu membuat mereka tetap berpijar meski sudah berbeda zaman.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.”

(QS. Al-Ahqaf: 13)

--Waallahu a’lam bi showab --

1 Desember 2011 – Dari Berbagai Sumber

Lazuardi Terindah

Lazuardi terindah
Gulungan jingga mewarna angkasa
Hangat dalam dinginnya hembus angin
Aku terpaku, kekaguman nyata insani

Tiap detak terasa menyentak
Halus seirama nadi yang berdenyut
Panorama
Ingatan
Membaur. Melebur

Lazuardi terindah
Di sebuah senja
Berkalang seulas senyum rela
Lalu
Lewat

Lazuardi terindah
Bulir itu jatuh
Tapi dulu
Sekarang?
Tak ada. Hanya senang

Kelegaan menyesap
Tenang

Awan tak selamanya berkabut
Lazuardi ini, indah
Mengingatkan sosok yang pernah
Meski tak sempat memilih

Lazuardi terindah
Di sebuah senja
Berkalang seulas senyum rela
Di sebuah kota penuh sejarah
Dengan cerita-cerita rahasia

-aesaazzam-