Sabtu, 09 Maret 2013

Curhat Buat Sahabat: Dengarkan Saja



Aku di sini. Di bumi. Masih hidup dan punya mimpi, kamu, maukah mendengarkanku? Dengarkan saja, ya?

Telah lama aku tahu dunia itu penuh rasa.. tapi cinta, apa itu cinta?
Aku tahu cinta itu ada, istri dan suami, anak dan orang tua, sahabat dan karib, makhluk dan Penciptanya, tapi laki-laki dan perempuan? Maksudku berulang-ulang? Orang yang berbeda? Tanpa ikatan?

Telah banyak aku tahu tentang kisah—yang menurut mereka—cinta,
Tapi aku tetap tidak mengerti.
Di mataku, definisi cinta yang mereka suguhkan menjadi terlalu—maaf—murah.
Datang dan pergi. Putus. Berganti. Satu, dua, bahkan lebih dari lima, sepuluh? Apa cinta?
Apakah cinta bisa berganti? Setelah putus? Terus?

Aku bukan ahli. Aku tidak tahu.
Tapi menurutku, adanya putus dan berganti membuat rasa itu terlihat tidak istimewa, padahal
Seharusnya rasa itu, istimewa.

Jika mereka—yang merasa—mendengar ini, seperti kamu mendengarku, mungkin mereka akan paham maksudku, tapi, mungkin juga mereka akan berpura-pura. Menyangkal. Mencari pembenaran. Menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah.
Aku juga begitu, kadang-kadang, untuk sesuatu yang bukan prinsipal. Tapi cinta? Sahabat, selain prinsip, ini juga tentang kepatuhan, jadi tentu, aku memilih.
Memilih untuk memberikan harga yang mahal, karena menurutku, ia istimewa.

Maka, aku di sini, mendaki puncak mimpi.. hanya duduk diam mengawasi..
Aku tidak memaksa mereka—tidak juga kamu—untuk memahami perkataanku.
Aku tahu, setiap orang punya jalannya, mereka bebas memilih, aku juga.

Dan, sampailah aku
Menapaki jalanku sendirian, menggambari kanvasku sendirian, menuliskan ceritaku sendirian.
Bertahan pada keyakinan sakral, yang menjagaku dari segala yang tak pada tempatnya,
Sampai nanti...
Seorang pria biasa saja, dengan cintanya yang sederhana
Datang menjemputku untuk menapaki jalan surga, berdua

Sampai nanti...
Seorang pria biasa saja, datang menjemputku yang apa adanya,
bukan ada apanya..

Sampai nanti,
Seorang pria biasa saja, dengan senyumnya yang menentramkan, menggandeng tanganku menjemput senja, bersama

Mimpiku ini, jangan katakan membuatmu tertawa—tapi jika kamu ingin, tertawalah, hanya saja
Kamu harus mengakui, kamu juga ingin, kan?

Ah, sudahlah..

Terimakasih telah mendengarkanku, aku harap aku tidak terlalu memaksamu untuk mendengarkanku...
Sekali lagi, ingat ini: cinta itu datang tepat pada waktunya, ia seperti matahari yang terbit dan tenggelam tak pernah salah.
Jangan terburu-buru,  jangan kamu cari dan menjadi sakit karenanya..
kamu itu, ibarat lolipop kemasan, paham, kan?
Cinta itu istimewa, bersabarlah. Hatimu yang menuntun, tidak perlu mencoba-coba,
Sayang jika ia meledak sia-sia, setuju?


Waktu mati lampu,
Aesaazzam-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar