Jumat, 29 Maret 2013

Cinta itu...



Laila mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, mulutnya mengeja. Suaranya lirih, tapi cukup untuk membuat hatinya berdegub di luar normal. Hanya ada satu nama yang dia eja. Ejaan yang tak pernah lupa dia sebut berganti-gantian dengan setiap hembus nafasnya.  Dia menatap undangan pernikahan di hadapannya dengan nanar. Tanggul itu, tanggul yang coba dia bangun bersisihan dengan kelopak matanya, sudah jebol sejak beberapa saat yang lalu jika saja dia tidak ingat dimana dia sekarang berada. Dia menghela nafasnya, panjang.
Ruangan beraroma kafein itu terlihat lengang. Hanya ada tiga orang, di tengah ruangan, terlihat sepasang muda-mudi yang sedang asik bercengkrama dan tersenyum dan saling menatap penuh kekaguman, Aphrodite sedang berbaik hati menebar bunganya. Di sudut ruangan itu Laila tersenyum kecut menatap sepasang kasmaran itu. ‘Lihat saja, jika Aphrodite bosan pada kalian, cinta akan terasa sepahit ampas espresso-ku ini.’ batinnya, miris. Dia kembali memfokuskan diri pada undangan yang kini tergeletak manis di hadapannya. Dari arah pintu, terlihat seorang perempuan masuk dengan tergesa. Dia menuju meja di sudut ruangan, meja Laila yang kini tengah terpekur.
“La...” sapa perempuan itu takut-takut, sementara yang disapa bergeming.
“La...” panggil perempuan itu sekali lagi, tidak ada respon. Perempuan itu tetap menunggu. Lima menit berlalu, Laila tetap bergeming. Perempuan itu terlihat kesal, dia menarik kursi di hadapan Laila.
“Undangan ini...” ucap Laila akhirnya.
“Aku tahu, aku juga menerimanya. La, sudahlah...” jawab perempuan itu prihatin, ini akan sangat menyakitkan, dia paham.
“Tujuh tahun, degup itu masih terpelihara dengan baik. Tujuh tahun, aku memutuskan untuk jatuh pada satu. Tujuh tahun, aku memupuk harap agar pagi suatu saat menjadi saksi ketika aku tak lagi harus mengeja namanya, karena aku bisa meneriakkan namanya keras-keras. Tujuh tahun...” Laila terisak.
“Tujuh tahun penuh kebodohan, hm?” Perempuan yang ternyata kawan baik Laila ini terlihat gemas menatap sahabatnya.
“Iya, aku bodoh sudah jatuh cinta. Bodoh. Bodoh. Bodoh.” Laila mulai memukul-mukul kepalanya. Dia menelangkupkan kepalanya ke atas meja, memukul-mukulkan genggaman tangannya, terisak-isak.
“Dan alangkah baiknya jika kamu akhiri saja kebodohanmu itu dengan tidak menangisi apa yang tidak sepatutnya kamu tangisi, ayolah La.. duniamu belum kiamat hanya karena Fitrah menikah. Lagipula, dari semula kamu tahu ini tidak akan berhasil. Fitrah menyayangimu seperti dia menyayangi adiknya sendiri, tidak lebih.”
“Aku tidak bisa memilih aku akan jatuh cinta pada siapa, Gi. Rasa itu muncul begitu saja seperti dracula yang menghisap seluruh darahku, perasaanku. Dia tidak menyisakan satu tempat pun untu logikaku. Cinta tak pernah ada logika, bukan?”
“Bukan. Dengarkan aku, jika kamu bilang cinta itu tidak bisa memilih kepada siapa dia akan jatuh, aku setuju. Kamu benar...” Perempuan bernama Gia itu terlihat tidak sabar, dia gemas melihat kepasrahan sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu terhadap cinta yang menurutnya salah tempat dan konsep, dia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya, “..Hh, tapi setelah cinta itu jatuh, pilihan pelakulah yang menjadi penentu, apakah akan memupuk atau mengubur. Selama ini kamu memilih untuk memupuk perasaanmu, mengabaikan semua logikamu yang berteriak-teriak untuk menghentikan semua kebodohanmu itu, apa aku benar?”
Laila mencerna setiap kata yang Gia lontarkan dengan emosi datar. Gia benar, dia salah dan dia sakit. Dia tidak membela diri, percuma. Pembelaan dirinya tidak akan merubah kenyataan bahwa Fitrah tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar adik perempuan, yang tidak pernah dia miliki, dan bahwa Fitrah akan segera menikah dalam waktu kurang dari satu bulan.
“Kalo aku bilang ke Fitrah aku cinta sama dia, dia bakalan batalin pernikahannya nggak ya Gi?” Laila menutup wajahnya, frustasi.
“Hah? Silahkan saja. Tidak ada salahnya mencoba, mungkin Aphrodite bisa sedikit berbaik hati kepadamu.”
“Hahahahaha, kamu gila.” Dan sekali lagi Laila menangis sesenggukan. Dia sudah tidak lagi peduli berada  dimana dia sekarang, baginya tidak ada yang lebih menyakitkan dari apa yang sedang dia rasakan, persetan dengan malu.
“La, please? Kita pergi dari sini, aku tau tempat yang bagus buat kamu menenangkan diri.” Gia memohon. Dia mulai merasa risih dengan pandangan pengunjung kafe itu, meskipun tak terlalu banyak orang di sana. Laila bergeming di tempatnya. Gia menarik ujung lengan kemeja Laila, tidak ada respon. Dia menyerah dan berjalan ke luar kafe, ‘Laila harus belajar membenahi perasaannya, mungkin dia butuh waktu sendiri untuk sementara waktu..’ batinnya. Gia sudah akan meninggalkan pelataran kafe klasik itu dengan mobil sedan keluaran 80-an miliknya sebelum tiba-tiba Laila meneriakkan namanya dan berjalan tergesa keluar dari kafe tersebut.
“Giaaaaaa.. tungguuuuu, pleaaaase.” Gia menunggu.
“Gi, aku butuh kamarmu, boleh?” Kata Laila di tengah nafasnya yang masih ngos-ngosan karena berjalan terburu-buru.
“Kalo buat nangisin Fitrah, nggak.” Kata Gia tegas. Dia tidak ingin sahabatnya ia menyambung kisah melankolisnya lagi.
“Nggak. Aku nggak akan nangis lagi. Janji.” Kata Laila sungguh-sungguh. Sudah tidak terlihat kristal air mata yang tadi sempat membanjir matanya, meskipun sembab masih terpampang jelas di sana. Gia diam berpikir. Dia penasaran kenapa Laila membutuhkan kamarnya yang jelas tidak lebih besar dan nyaman dari kamar Laila sendiri. Jika dilihat dari latar belakang keluarganya, Laila memang bukan berasal dari keluarga kaya raya yang mampu memanjakannya dengan harta berlimpah, tapi dia terlahir dengan kemampuan berpikir di atas rata-rata. Sejak menjadi sahabatnya di bangku kuliah, Gia hafal benar nilai indeks prestasi Laila yang tidak pernah jauh dari angka 3,99, angka yang nyaris sempurna. Kecemerlangannya dalam berpikir inilah yang mengantarkan Laila ke gerbang kesuksesan dalam berkarir, belum satu tahun bekerja di perusahaan tempatnya bernaung sekarang, Laila sudah menduduki jabatan prestisius dalam Perusahaan Multi Nasional itu. Sayang, kisah cintanya tidak berjalan semulus dan sebrilian karir dan otaknya. Lama terdiam, akhirnya Gia menganggukkan kepalanya dan membukakan pintu mobilnya.
“Masuk deh, kamu nggak bawa mobil kan?”
“Aku bawa mobil, tapi mobilku aku tinggal di kantor, anterin ke kantor dulu ya?”
“Oke.”
***
“Masuk La, aku bikinin kamu makan dulu, belum makan kan?” Kata Gia mempersilahkan Laila masuk ke kamarnya, dan tanpa menunggu jawaban Laila dia berjalan ke arah dapur menyiapkan makan siang untuk Laila dan untuk dirinya sendiri. Laila melangkahkan kakinya ke kamar Gia, kamar yang selalu tertata rapi dan minimalis.
Laila mengeluarkan laptop-nya dan mulai menyibukkan diri dengannya. Lima belas menit berlalu, Laila masih sibuk dengan laptop-nya menuliskan sesuatu, sementara Gia belum juga kembali dari dapur. Laila menghentikan aktifitasnya sejenak, dadanya terasa sesak, kristal di matanya menerobos keluar lagi. Dia segera menghapus air matanya dengan punggung tangannya, dia tidak ingin Gia melihatnya menangis lagi. Dia beranjak dari tempat tidur Gia dan berjalan menuju jendela kamar Gia. Kamar Gia terletak di lantai dua, dari jendela ini Laila bisa melihat pemandangan padatnya rumah penduduk di Bandung. Laila berlama-lama melihat pemandangan di luar jendela kamar Gia, rumah padat penduduk di sekitar perumahan Gia seperti simbolisasi sempurna kepadatan yang juga tengah berlalu lalang dalam pikirannya, dia mengehela nafas panjang dan tidak menyadari bahwa si empunya kamar sedang berdiri mengawasinya dari depan pintu. Setelah puas, Laila membalikkan badannya hendak meneruskan tulisannya tapi dia melihat Gia berdiri di depan pintu, entah sejak kapan.
“Gi? Ngapain berdiri di situ?” Tanyanya heran.
“Ngeliatin kamu, khawatir tiba-tiba kamu loncat dari jendela kamarku aja sih, haha.” Jawab Gia bercanda tapi Laila merespon kata-katanya dengan serius, di luar dugaan Gia.
“Tadinya sih aku berniat begitu Gi, tapi rupanya Fitrah belum mampu membuatku segila itu, syukurlah.” Katanya. Bibirnya melengkungkan senyum, getir. Gia mengerti bagaimana perasaan sahabatnya itu sekarang, dia tidak banyak berkomentar dan menyerahkan proses penyembuhan hati Laila pada sang waktu, dia hanya berharap semoga semuanya tidak berjalan lambat.
“Ah, sudahlah. Yuk makan, kamu pasti lapar kan?” Kata Gia, mengalihkan pembicaraan.
“Iya, aku lapar—sekali. Hahaha.” Laila menerima mangkuk sup ayam yang diangsurkan Gia, dan menyendokkan sup yang terlihat menggiurkan itu ke mulutnya.
“Seadanya ya La, aku belum sempat belanja.. cuma ini bahan yang tersisa di kulkas, hehehe.”
“Seadanya? Sup seenak ini bagaimana bisa seadanya Gi, kamu jangan keterlaluan kalau merendah.. ini sih makanan rumahan, rasa hotel bintang lima.” Kata Laila sungguh-sungguh. Gia memang sosok ideal istri idaman, cantik, ulet, tlaten, pintar memasak, mapan, paket lengkap, tidak heran jika banyak pria mapan yang menaruh hati padanya. Laila melihat ke dalam dirinya, selama ini dia tidak pernah didekati lelaki manapun. Stok kenalan laki-laki yang dekat dengannya cukup terbatas karena berkisar pada Papanya, Adin—kakaknya, Fere—adiknya, dan Fitrah—sahabat yang dia anggap lebih daripada sahabat, karena dia diam-diam menyimpan cinta untuk laki-laki itu. Sisanya cuma sekedar kenal, dikenal dan sudah. Dalam pikirannya yang berkeliaran kemana-mana, Laila tidak benar-benar mendengarkan apa yang sedang Gia katakan. Gia menyadari hal itu,
“La? Kamu dengerin aku nggak sih?”
“Hah? Sori, kenapa Gi?” Jawab Laila yang mulai kembali ke alam sadarnya.
“Hh, nggak. Sudah lupain aja, lanjutin makanmu.”
“Gi, kamu beruntung banget ya? cantik, ulet, tlaten, pintar memasak, mapan, paket lengkap istri idaman. Banyak pria mengejarmu, sedangkan aku?”
“La, itu sih kamunya aja yang ngga peka. Yang aku tau, pria-pria yang mengejarku itu awalnya mengejarmu, tapi karena kamu terlalu kaku dan menutup diri, makanya mereka menyerah dan beralih mengejarku, aku sih dapat sisa perhatiannya aja.” Kata Gia setengah bercanda. Laila terdiam, mangkuk supnya sudah hampir kosong. Dia menyudahi pembicaraan yang dia mulai dengan tersenyum simpul ke arah Gia dan beranjak ke dapur untuk mencuci mangkuknya. Gia yang juga sudah menhabiskan supnya, menyusul Laila ke dapur.
“Gi, aku boleh nginep di sini selama beberapa hari ya?” kata Laila di sela-sela mencuci piring.
“Boleh aja, mau berapa lama pun kamu tinggal di sini, aku tidak keberatan, tapi kamu harus memberitahu orangtuamu kalau kamu di sini, jangan buat mereka khawatir.” Jawab Gia.
“Oke.”

***
Hari-hari Laila berjalan normal seperti sebelumnya. Hari ini genap satu minggu dia menginap di rumah Gia, dan genap satu minggu juga dia menghindari Fitrah. Sebenarnya dia tidak ingin bersikap pengecut dengan terus menghindar dan bersembunyi dari Fitrah, tapi hati kecilnya mengatakan bahwa dia belum benar-benar siap bertatap muka dengan Fitrah, ‘Biarkan begini dulu’ batinnya selalu.
“La, kemarin Fitrah menemuiku.” Kata Gia tiba-tiba. Laila berhenti mengetik dan mendongakkan kepalanya. Saraf ditubuhnya seperti disetrum ratusan watt listrik yang membuatnya lumpuh setiap kali nama Fitrah disebut, tapi dia berusaha menyembunyikan semua itu di depan Gia. 
“Oh, untuk apa dia menemuiku? Tidak untuk mencariku kan?” Laila berusaha memberikan respon senatural mungkin, yang terlihat sebaliknya di mata Gia.
“Dia mencarimu, katanya kamu selalu me-reject teleponnya setiap kali dia menelponmu, benar?” Tanya Gia penuh selidik.
“Iya.” Jawab Laila jujur.
“Sampai kapan kamu mau menghindarinya?”
“Sampai aku datang ke pernikahannya nanti.” Jawab Laila seadanya. Dia memang sudah memikirkan hal ini matang-matang, hatinya bulat memutuskan untuk tidak akan menghubungi Fitrah sebelum dia resmi mengucapkan ijab kabul tiga minggu lagi.
“Terserah kamu sajalah, aku hanya tidak berharap kamu bertindak pengecut dengan hatimu sendiri.”
“Terimakasih Gi, aku tidak akan bertindak pengecut pada akhirnya, tapi untuk saat ini aku ingin benar-benar menguatkan hatiku.”
“Aku paham.”

***
Tiga minggu berlangsung begitu cepat. Pernikahan Fitrah hanya berjarak dua hari lagi. Laila telah menyelesaikan tulisannya, ia juga telah mencetaknya menjadi sebuah buku mini yang terlihat seperti sebuah diary. Ketika Gia bertanya itu buku apa, Laila hanya tersenyum simpul dan membuat Gia semakin penasaran.
“La... lusa kamu datang di akad nikah Fitrah?”
“Nggak. Aku ada meeting dengan perusahaan tempat Fitrah bekerja, seharusnya Fitrah yang akan menghadiri meeting itu dan asistenku yang akan mewakiliku, tapi aku ingat kalau Fitrah sedang melangsungkan akad nikah pada jam itu, jadi kuputuskan untuk menghadiri meeting itu sendiri, hehehehe.” Jawab Laila dengan senyum lebar. Gia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Dia tidak pernah benar-benar memahami jalan pikran Laila.

***
Waktu untuk rapat masih beberapa menit lagi, tapi Laila sudah duduk manis di ruang rapat perusahaan tempat Fitrah bekerja. Dia menunggu sambil mempersiapkan kembali bahan presentasinya, proyek yang ditanganinya kali ini lumayan besar dan dia harus memastikan bahwa presentasinya harus terlihat meyakinkan untuk memenangkan proyek tersebut. Waktu di jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi tak seorang pun dari perusahaan Fitrah itu menampakkan batang hidungnya di ruang rapat itu, Laila mulai menggerutu. Pukul sepuluh lewat lima menit, seseorang terlihat memasuki ruangan rapat, Laila membalikkan kursi putarnya dan melihat siapa yang akan mewakili Fitrah untuk rapat kali ini dan ia terkejut karena melihat Fitrah sendirilah yang menghadiri rapat itu. Jutaan pertanyaan berkeliaran dalam kepalanya ‘bukankah, apakah..’ batinnya. Fitrah tersenyum ke arah Laila, dia masuk ditemani oleh Andita—sekretarisnya.
“Maafkan atas ketidak profesionalan kami dengan datang terlambat, ada hal yang harus saya selesaikan terlebih dahulu sebelum menghadiri rapat kali ini.” Kata Fitrah membuka pembicaraan, dia membungkukkan badannya sedikit dan duduk di kursi yang bersebrangan dengan Laila. Laila mengangguk kikuk.
“Baiklah rapat bisa kita mulai sekarang, Bu Laila.” Kata Fitrah.
Laila memulai presentasinya. Sesuai harapannya, dia menyampaikan prrsentasinya dengan sangat baik, meskipun hatinya berderum-derum tidak menentu. Rapat selesai, perusahaan Fitrah—yang diwakili oleh Fitrah—mengatakan akan memberikan keputusan dua hari dari sekarang. Laila bergegas mengemasi barang-banrangnya dan meninggalkan ruang rapat sementara Fitrah masih menginstruksikan beberapa hal pada sekretarisnya. Laila hendak melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan itu, sebelum tiba-tiba Fitrah menangkap lengannya.
“Tunggu.” Katanya singkat. Ada marah yang terselip dalam kata-kata itu, Laila tau. Dia menoleh, menatap Fitrah tidak tepat ke mata bening laki-laki itu.
“Ya, Pak Fitrah? Apa ada kesepakatan yang masih belum kita bicarakan?” Laila berusaha bersifat formal.
“Tidak, tidak ada.” Jawab Fitrah yang kaget mendengar pertanyaan Laila.
“Kalau begitu, ijinkan saya pergi, masih ada rapat yang harus saya hadiri setelah ini.” Kata Laila sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Fitrah pada lengannya. Tapi cengkraman tangan Fitrah jauh lebih kuat dari tenaga Laila.
“Fit, lepaskan tanganku.” Kata Laila akhirnya karena Fitrah tidak juga melepaskan lengannya sementara mereka mulai menjadi pusat perhatian di tempat itu. Fitrah tidak menghiraukan permintaan Laila dan menariknya keluar menuju mobilnya yang terparkir di basement. Dia tidak mengacuhkan Laila yang meronta minta dilepaskan tangannya. Setelah sama-sama duduk di dalam mobil Fitrah, Fitrah terlihat mengatur nafasnya—emosinya. Laila menunduk, menahan sebisanya untuk tidak tiba-tiba menangis di depan Fitrah.
“Sekarang katakan, kenapa kamu menghindariku? Satu bulan ini aku mencarimu kemana-mana, semua teleponku kamu reject, aku mencari ke rumah orangtua mu tapi mereka bilang tidak tau, Adin dan Fere juga sama saja, Gia juga tidak. Aku baru tau kalau kamu punya keahlian untuk bersembunyi juga ternyata.” Kata Fitrah memburu.
“Aku tidak kemana-mana. Aku bekerja seperti biasa, hidup seperti biasa. Tidak kemana-mana.” Jawab Laila datar.
“Lalu kenapa kamu menghindariku? Apakah aku berbuat salah terhadapmu? La, kita sudah bersahabat tahunan, tidak bisakah kamu memberitahuku baik-baik jika aku berbuat salah? Aku mau menikah pun rasanya kamu tidak peduli.”
“Aku tidak menghindarimu, hanya tidak ingin bertemu denganmu. Bukan kamu yang salah, tapi aku yang bodoh. Aku tau kamu akan menikah, justru karena itu aku tidak ingin bertemu denganmu. Nah, sudah kujawab semua pertanyaanmu, sekarang ijinkan aku keluar dari mobilmu atau aku akan berteriak dan melaporkanmu atas tindakan tidak menyenangkan dengan membawaku secara paksa ke mobilmu.” Jawab Laila tegas. Fitrah membuka mulutnya tidak percaya, dia tidak paham apa kesalahannya sehingga Laila bisa berbicara seperti itu terhadapnya. Akhirnya dia membuka pintu mobilnya, tapi sebelum Laila beranjak ia mengatakan,
“Aku butuh penjelasan La, itupun jika kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu.” Katanya tanpa menatap Laila.
“Penjelasanku akan aku berikan sebagai kado pernikahanmu, besok.” Jawab Laila. Dia berjalan cepat ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Fitrah.
Laila menangis sesenggukan di dalam mobilnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah membuat Fitrah begitu marah tanpa bisa mengungkapkan kemarahannya. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas cintanya kepada Fitrah yang tidak seharusnya ia biarkan tumbuh subur dan membuahkan kecewa. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas semuanya. Entah kekuatan siapa yang telah dia pinjam untuk telihat kuat di depan Fitrah, yang jelas dia sangat bersyukur dia tidak harus menampakkan kelemahannya di hadapan Fitrah. Laila menghapus airmatanya dan mengijak gas mobilnya kuat, melaju secepat kilat membelah jalanan Kota Bandung yang mulai terik.


***
23 September 2017, 19.00 WIB

Laila telah siap, hanya beberapa tinggal sapuan lipstik di bibirnya dan dia akan terlihat sempurna untuk pesta resepsi Fitrah yang di gelar digelar di Hotel Aston Braga, sebuah hotel bintang empat yang cukup terkenal di Bandung, malam ini.
“La, sudah siap?” Tanya Gia yang kemudian terbengong melihat penampilan Laila. Sahabatnya itu terlihat berbeda.
“OMG. Cantik banget. Sumpah.” Katanya kagum.
“Ahahaha, kamu bisa aja. Aku ingat kalau aku punya gaun ini, berhubung gaun ini pemberian seseorang yang spesial, tidak ada salahnya jika aku mengenakannya di acara spesial orang itu malam ini.” Kata Laila dengan senyum simpulnya.
“Jadi gaun itu pemberian Fitrah?” Tanya Gia yang dijawab anggukan oleh Laila.
“Dua bulan lalu, saat aku berulang tahun. Biru. Dia memang tau dengan baik seleraku.” Selesai mengucapkan kata-kata itu, mata Laila menerawang kosong. Gia mengelus pundak Laila yang dibiarkan terbuka.
“Yuk ah..” Kata Laila menghentikan sesi melankolisnya malam ini, ‘no more tears’ batinnya.
“Ayo.”
Mereka berangkat ke acara resepsi itu menggunakan mobil Laila. Gia menolak menggunakan mobilnya karena mobilnya itu sering rewel akhir-akhir ini.

***
Sesampainya di tempat resepsi, Laila tiba-tiba merasa pusing melihat banyaknya orang yang ada di tempat itu. Dia memang tidak begitu menyukai keramaian.
“La... you okay?” Tanya Gia yang melihat Laila memijat-mijat keningnya.
“Oke kok, cuma ini, banyak banget sih orangnya. Kamu kan tau aku ngga kebiasa sama tempat yang sumpek banyak orang begini, ah, tapi sudahlah, ayo masuk. Kita selesaikan ini secepatnya, dan pulang secepatnya.” Katanya. Gia mengangguk, dia mengikuti Laila dari belakang.
Dekorasi pelaminan Fitrah yang bergaya internasional terlihat begitu mewah. Laila heran, setaunya Fitrah tidak begitu suka hal-hal yang berlebihan. Fitrah melihat Laila masuk ke ruang resepsinya, dia datang bersama Gia. Laila berjalan ke arah pelaminan—ke arahnya. Laila berdiri tidak jauh dari pelaminan tempat Fitrah dan Fatim—nama istri Fitrah—yang tengah menyalami para undangan.
“Yuk, La...” Gia menggandeng Laila menuju pelaminan untuk bersalaman dengan Fitrah dan istrinya. Laila mengangguk mengikuti Gia.
Akhirnya antrian Laila mengantarkannya ke depan Fatim, dia memeluk Fatim dan mengucapkan basa-basi selamat sambil tersenyum manis. Fitrah mengawasi Laila, dia memakai gaun pemberiannya. Laila maju ke arah Fitrah, seperti pada Fatim, dia juga memeluk dan mengucapkan basa-basi selamat sambil tersenyum manis. Laila sudah hendak pergi dari pelaminan itu sesaat sebelum Fitrah menarik tangannya.
“Mana hadiahku?” Tanyanya langsung. Hadiah yang dia maksud adalah penjelasan Laila atas sifatnya akhir-akhir ini, Laila tersenyum, senyum yang sebelumnya tidak pernah membuat Fitrah merasa begitu tidak nyaman seperti saat ini. Laila berbisik di telinga Fitrah, dia tau tindakannya akan memancing reaksi dari kerabat Fitrah tapi dia tidak peduli.
“Kalau kamu bisa mendapatkan ijin dari istrimu untuk meninggalkan pelaminan ini selama beberapa menit, akan kuberikan hadiahmu.” Dan Laila berlalu.
Fitrah menjelaskan beberapa hal kepada Fatim, dan dia bergegas menyusul Laila. Laila sedang berdiri di samping Gia saat dia melihat Fitrah berjalan tergesa menghampirinya.
“Gi, kalau Fitrah kesini, bilang aku tunggu dia di restoran hotel ya.” Laila berlalu dari ruangan yang penuh orang itu.

***
“La...” Sapa Fitrah. Laila menoleh, dia meletakkan gelas wine-nya—yang sebenarnya berisi sebuah soft drink berkarbonasi  rasa lemon itu—dan mempersilahkan Fitrah duduk.
“Sejak kapan kamu ‘minum’?”
“Ini 2017 Fitrah. Kamu minum apa?” Jawabnya yang tidak menjawab pertanyaan Fitrah
“Tidak usah, aku bilang pada Fatim tidak akan lama. Cepat katakan semuanya sekarang.”
“Wow, belum satu bulan menikah kamu sudah berubah menjadi Pak Fitrah, suami yang takut istri ya?” Kata Laila nyinyir.
“Terserah apa katamu, yang jelas aku butuh penjelasanmu sekarang.” Jawab Fitrah tegas. Laila duduk tegap di kursinya, ia mengambil sebuah amplop putih di dalam tasnya. Amplop itu berisi tulisannya selama satu bulan ini yang ia sulap menjadi sebuah buku bersampul dua anak remaja usia SMA—laki-laki dan perempuan—yang saling bergandengan menyaksikan matahari tenggelam, ya, itu foto Fitrah dan Laila saat mereka berdarmawisata ke Anyer sembilan tahun silam.
“Apa ini?” Tanya Fitrah terheran-heran menerima amplop itu.
“Jawaban yang kamu mau. Maafkan jika aku mengecewakanmu atas sikapku. Oiya, minumlah ini.” Katanya sambil mengangsurkan gelasnya ke mulut Fitrah sebelum dia sempat menolak. Fitrah meminum cairan dala gelas Laila dan menyadari bahwa itu bukan wine seperti dugaan awalnya. Laila pergi dari restoran itu sambil berlari cepat.
Fitrah tidak sempat mengejar Laila, tapi dia tidak kembali ke aula resepsinya melainkan ke kamarnya. Dia membuka amplop pembirian Laila dan tertegun menatap cover depan buku yang tersimpan dalam amplop itu. Ia membuka halaman pertama buku itu yang bertuliskan:
Untuk Fitrah,
Mulanya Fitrah tertawa membaca tulisan dalam buku bikinan sendiri itu, buku itu merupakan cerita pertemanan antara dia dan Laila, sejak kali pertama mereka pertama bertemu. Fitrah membaca setiap tulisan dalam buku itu dengan cepat, dan sampailah dia pada halaman ketika Laila mengakui semua perasaannya yang tidak biasa terhadap Fitrah, perasaan yang bersemi sejak tujuh tahun silam dan baru diketahuinya sekarang.
“Gila...” Fitrah menggumam, emosinya sedang dipermainkan oleh kata-kata yang tertulis dalam buku itu. Satu jam berlalu dan Fitrah masih terpekur membaca buku itu, dia tau pasti Fatim sedang mencari-carinya sekarang, tapi Fitrah enggan beranjak dari duduknya dan kembali ke ruang resepsi pernikahannya.
Fitrah meneteskan airmatanya, dia tidak menyangka ternyata Laila menyimpan cinta yang begitu besar untuknya, tapi dia menjadi terlalu buta untuk menyadari hal itu. Di halaman terakhir buku yang tebalnya tidak lebih dari 50 halaman itu Laila menuliskan:
               Cinta itu...
Bohong jika tidak menyakitkan, buktinya aku merasakan sakitnya mencintai..
Bohong jika bisa seratus persen ikhlas memberi tanpa berharap menerima..
Bohong jika mau berkorban apapun demi melihat orang yang kita cintai bahagia..
Bohong, bohong, bohong..
Tapi..
Cinta itu,
Benar membuatku belajar menghargai diriku,
Benar membuatku belajar untuk tidak jadi bodoh. Terimakasih, Fitrah..

PS. Aku memberikanmu 2 tiket bulan madu ke maldives—aku tau kau suka sekali tempat ini—sebagai permintaan maafku. Bye.

--Waktu Malam.
Fitrah menyelesaikan buku itu tepat saat pintu kamarnya terbuka, Fatim datang dengan raut muka yang menggambarkan kelegaan. Fitrah tersenyum melihatnya, dia mengibarkan dua tiket pemberian Laila,
“Tiket bulan madu gratis buat kita dari Laila.” Katanya sambil tersenyu lebar. Fatim berjalan menghampirinya.
“Ada masalah?” Katanya khawatir.
“Tidak, tentu saja tidak ada. Memang siapa yang berani membuat masalah di hari pernikahanku? Hehehe..” Jawabnya, dia menyembunyikan bukunya di balik selimut yang dia duduki. Dia memutuskan bahwa tidak akan ada yang berubah, meski seandainya dia juga mencintai Laila, dia tetap tidak akan meninggalkan Fatim. ‘Aku tidak akan meninggalkanmu, karena bapakku berhutang banyak sekali pada papamu.’ batinya. Kisahnya dan Laila hanya akan menjadi rahasia manis yang dia simpan sampai dia tua nanti.

***


Cinta itu...
Kadang membuat kita berperilaku, bodoh.


Waktu merasa bodoh,
--Aesaazzam







Minggu, 10 Maret 2013

RECTOVERSO

Cinta, sederhana dalam ketidakmengertian..
sayang, rumit dalam keangkuhan kata.
Gerakanmu tiada pasti. Larimu tak tahu arah.
Karena hati tempatmu bermain-main,
tak sepenuhnya milik yang mencinta..
Ada Sang Maha yang mengatur segalanya..
Namun, aku terus di sini, di tempat..
aku mulai menerjemah rasa menjadi rindu. Bertemu
Dengan keyakinan seperti orang bodoh. Mencintaimu.
Tanpa mengenalmu. Hanya percaya kamu ada. Sejak 4 bulan aku berada dalam kandungan mama..

Aku tak perlu mencari jauh.
Karena kita,
RECTOVERSO.

----------------------------------------------------------------

Aku adalah bayanganmu,
Kamu adalah bayanganku..
Temukan aku dalam hela nafasmu,
Kutemukan kamu dalam setiap kedip mataku..
Kita, tak pernah jauh. Aku tahu


Waktu aku tahu, rindu itu apa..
--Aesaazzam

Sabtu, 09 Maret 2013

Curhat Buat Sahabat: Dengarkan Saja



Aku di sini. Di bumi. Masih hidup dan punya mimpi, kamu, maukah mendengarkanku? Dengarkan saja, ya?

Telah lama aku tahu dunia itu penuh rasa.. tapi cinta, apa itu cinta?
Aku tahu cinta itu ada, istri dan suami, anak dan orang tua, sahabat dan karib, makhluk dan Penciptanya, tapi laki-laki dan perempuan? Maksudku berulang-ulang? Orang yang berbeda? Tanpa ikatan?

Telah banyak aku tahu tentang kisah—yang menurut mereka—cinta,
Tapi aku tetap tidak mengerti.
Di mataku, definisi cinta yang mereka suguhkan menjadi terlalu—maaf—murah.
Datang dan pergi. Putus. Berganti. Satu, dua, bahkan lebih dari lima, sepuluh? Apa cinta?
Apakah cinta bisa berganti? Setelah putus? Terus?

Aku bukan ahli. Aku tidak tahu.
Tapi menurutku, adanya putus dan berganti membuat rasa itu terlihat tidak istimewa, padahal
Seharusnya rasa itu, istimewa.

Jika mereka—yang merasa—mendengar ini, seperti kamu mendengarku, mungkin mereka akan paham maksudku, tapi, mungkin juga mereka akan berpura-pura. Menyangkal. Mencari pembenaran. Menyalahkan yang benar, membenarkan yang salah.
Aku juga begitu, kadang-kadang, untuk sesuatu yang bukan prinsipal. Tapi cinta? Sahabat, selain prinsip, ini juga tentang kepatuhan, jadi tentu, aku memilih.
Memilih untuk memberikan harga yang mahal, karena menurutku, ia istimewa.

Maka, aku di sini, mendaki puncak mimpi.. hanya duduk diam mengawasi..
Aku tidak memaksa mereka—tidak juga kamu—untuk memahami perkataanku.
Aku tahu, setiap orang punya jalannya, mereka bebas memilih, aku juga.

Dan, sampailah aku
Menapaki jalanku sendirian, menggambari kanvasku sendirian, menuliskan ceritaku sendirian.
Bertahan pada keyakinan sakral, yang menjagaku dari segala yang tak pada tempatnya,
Sampai nanti...
Seorang pria biasa saja, dengan cintanya yang sederhana
Datang menjemputku untuk menapaki jalan surga, berdua

Sampai nanti...
Seorang pria biasa saja, datang menjemputku yang apa adanya,
bukan ada apanya..

Sampai nanti,
Seorang pria biasa saja, dengan senyumnya yang menentramkan, menggandeng tanganku menjemput senja, bersama

Mimpiku ini, jangan katakan membuatmu tertawa—tapi jika kamu ingin, tertawalah, hanya saja
Kamu harus mengakui, kamu juga ingin, kan?

Ah, sudahlah..

Terimakasih telah mendengarkanku, aku harap aku tidak terlalu memaksamu untuk mendengarkanku...
Sekali lagi, ingat ini: cinta itu datang tepat pada waktunya, ia seperti matahari yang terbit dan tenggelam tak pernah salah.
Jangan terburu-buru,  jangan kamu cari dan menjadi sakit karenanya..
kamu itu, ibarat lolipop kemasan, paham, kan?
Cinta itu istimewa, bersabarlah. Hatimu yang menuntun, tidak perlu mencoba-coba,
Sayang jika ia meledak sia-sia, setuju?


Waktu mati lampu,
Aesaazzam-