Laila
mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, mulutnya mengeja. Suaranya lirih, tapi
cukup untuk membuat hatinya berdegub di luar normal. Hanya ada satu nama yang dia
eja. Ejaan yang tak pernah lupa dia sebut berganti-gantian dengan setiap hembus
nafasnya. Dia menatap undangan
pernikahan di hadapannya dengan nanar. Tanggul itu, tanggul yang coba dia
bangun bersisihan dengan kelopak matanya, sudah jebol sejak beberapa saat yang
lalu jika saja dia tidak ingat dimana dia sekarang berada. Dia menghela
nafasnya, panjang.
Ruangan beraroma
kafein itu terlihat lengang. Hanya ada tiga orang, di tengah ruangan, terlihat
sepasang muda-mudi yang sedang asik bercengkrama dan tersenyum dan saling
menatap penuh kekaguman, Aphrodite sedang
berbaik hati menebar bunganya. Di sudut ruangan itu Laila tersenyum kecut
menatap sepasang kasmaran itu. ‘Lihat
saja, jika Aphrodite bosan pada kalian, cinta akan terasa sepahit ampas
espresso-ku ini.’ batinnya, miris. Dia kembali memfokuskan diri pada
undangan yang kini tergeletak manis di hadapannya. Dari arah pintu, terlihat
seorang perempuan masuk dengan tergesa. Dia menuju meja di sudut ruangan, meja
Laila yang kini tengah terpekur.
“La...” sapa
perempuan itu takut-takut, sementara yang disapa bergeming.
“La...” panggil
perempuan itu sekali lagi, tidak ada respon. Perempuan itu tetap menunggu. Lima
menit berlalu, Laila tetap bergeming. Perempuan itu terlihat kesal, dia menarik
kursi di hadapan Laila.
“Undangan ini...”
ucap Laila akhirnya.
“Aku tahu, aku juga
menerimanya. La, sudahlah...” jawab perempuan itu prihatin, ini akan sangat
menyakitkan, dia paham.
“Tujuh tahun, degup
itu masih terpelihara dengan baik. Tujuh tahun, aku memutuskan untuk jatuh pada
satu. Tujuh tahun, aku memupuk harap agar pagi suatu saat menjadi saksi ketika
aku tak lagi harus mengeja namanya, karena aku bisa meneriakkan namanya
keras-keras. Tujuh tahun...” Laila terisak.
“Tujuh tahun penuh
kebodohan, hm?” Perempuan yang ternyata kawan baik Laila ini terlihat gemas
menatap sahabatnya.
“Iya, aku bodoh
sudah jatuh cinta. Bodoh. Bodoh. Bodoh.” Laila mulai memukul-mukul kepalanya. Dia
menelangkupkan kepalanya ke atas meja, memukul-mukulkan genggaman tangannya,
terisak-isak.
“Dan alangkah
baiknya jika kamu akhiri saja kebodohanmu itu dengan tidak menangisi apa yang
tidak sepatutnya kamu tangisi, ayolah La.. duniamu belum kiamat hanya karena
Fitrah menikah. Lagipula, dari semula kamu tahu ini tidak akan berhasil. Fitrah
menyayangimu seperti dia menyayangi adiknya sendiri, tidak lebih.”
“Aku tidak bisa
memilih aku akan jatuh cinta pada siapa, Gi. Rasa itu muncul begitu saja
seperti dracula yang menghisap
seluruh darahku, perasaanku. Dia tidak menyisakan satu tempat pun untu
logikaku. Cinta tak pernah ada logika, bukan?”
“Bukan. Dengarkan
aku, jika kamu bilang cinta itu tidak bisa memilih kepada siapa dia akan jatuh,
aku setuju. Kamu benar...” Perempuan bernama Gia itu terlihat tidak sabar, dia
gemas melihat kepasrahan sahabat yang sudah dia anggap seperti saudaranya itu
terhadap cinta yang menurutnya salah tempat dan konsep, dia menghela nafas
panjang sebelum melanjutkan kata-katanya, “..Hh, tapi setelah cinta itu jatuh,
pilihan pelakulah yang menjadi penentu, apakah akan memupuk atau mengubur.
Selama ini kamu memilih untuk memupuk perasaanmu, mengabaikan semua logikamu
yang berteriak-teriak untuk menghentikan semua kebodohanmu itu, apa aku benar?”
Laila mencerna
setiap kata yang Gia lontarkan dengan emosi datar. Gia benar, dia salah dan dia
sakit. Dia tidak membela diri, percuma. Pembelaan dirinya tidak akan merubah
kenyataan bahwa Fitrah tidak pernah menganggapnya lebih dari sekedar adik
perempuan, yang tidak pernah dia miliki, dan bahwa Fitrah akan segera menikah
dalam waktu kurang dari satu bulan.
“Kalo aku bilang ke
Fitrah aku cinta sama dia, dia bakalan batalin pernikahannya nggak ya Gi?”
Laila menutup wajahnya, frustasi.
“Hah? Silahkan
saja. Tidak ada salahnya mencoba, mungkin Aphrodite
bisa sedikit berbaik hati kepadamu.”
“Hahahahaha, kamu
gila.” Dan sekali lagi Laila menangis sesenggukan. Dia sudah tidak lagi peduli
berada dimana dia sekarang, baginya
tidak ada yang lebih menyakitkan dari apa yang sedang dia rasakan, persetan
dengan malu.
“La, please? Kita pergi dari sini, aku tau
tempat yang bagus buat kamu menenangkan diri.” Gia memohon. Dia mulai merasa
risih dengan pandangan pengunjung kafe itu, meskipun tak terlalu banyak orang
di sana. Laila bergeming di tempatnya. Gia menarik ujung lengan kemeja Laila,
tidak ada respon. Dia menyerah dan berjalan ke luar kafe, ‘Laila harus belajar membenahi perasaannya, mungkin dia butuh waktu
sendiri untuk sementara waktu..’ batinnya. Gia sudah akan meninggalkan
pelataran kafe klasik itu dengan mobil sedan keluaran 80-an miliknya sebelum
tiba-tiba Laila meneriakkan namanya dan berjalan tergesa keluar dari kafe tersebut.
“Giaaaaaa..
tungguuuuu, pleaaaase.” Gia menunggu.
“Gi, aku butuh
kamarmu, boleh?” Kata Laila di tengah nafasnya yang masih ngos-ngosan karena
berjalan terburu-buru.
“Kalo buat nangisin
Fitrah, nggak.” Kata Gia tegas. Dia tidak ingin sahabatnya ia menyambung kisah
melankolisnya lagi.
“Nggak. Aku nggak
akan nangis lagi. Janji.” Kata Laila sungguh-sungguh. Sudah tidak terlihat
kristal air mata yang tadi sempat membanjir matanya, meskipun sembab masih
terpampang jelas di sana. Gia diam berpikir. Dia penasaran kenapa Laila
membutuhkan kamarnya yang jelas tidak lebih besar dan nyaman dari kamar Laila
sendiri. Jika dilihat dari latar belakang keluarganya, Laila memang bukan
berasal dari keluarga kaya raya yang mampu memanjakannya dengan harta
berlimpah, tapi dia terlahir dengan kemampuan berpikir di atas rata-rata. Sejak
menjadi sahabatnya di bangku kuliah, Gia hafal benar nilai indeks prestasi
Laila yang tidak pernah jauh dari angka 3,99, angka yang nyaris sempurna.
Kecemerlangannya dalam berpikir inilah yang mengantarkan Laila ke gerbang
kesuksesan dalam berkarir, belum satu tahun bekerja di perusahaan tempatnya
bernaung sekarang, Laila sudah menduduki jabatan prestisius dalam Perusahaan
Multi Nasional itu. Sayang, kisah cintanya tidak berjalan semulus dan sebrilian
karir dan otaknya. Lama terdiam, akhirnya Gia menganggukkan kepalanya dan
membukakan pintu mobilnya.
“Masuk deh, kamu
nggak bawa mobil kan?”
“Aku bawa mobil,
tapi mobilku aku tinggal di kantor, anterin ke kantor dulu ya?”
“Oke.”
***
“Masuk La, aku bikinin
kamu makan dulu, belum makan kan?” Kata Gia mempersilahkan Laila masuk ke
kamarnya, dan tanpa menunggu jawaban Laila dia berjalan ke arah dapur
menyiapkan makan siang untuk Laila dan untuk dirinya sendiri. Laila
melangkahkan kakinya ke kamar Gia, kamar yang selalu tertata rapi dan
minimalis.
Laila mengeluarkan laptop-nya dan mulai menyibukkan diri
dengannya. Lima belas menit berlalu, Laila masih sibuk dengan laptop-nya menuliskan sesuatu, sementara
Gia belum juga kembali dari dapur. Laila menghentikan aktifitasnya sejenak,
dadanya terasa sesak, kristal di matanya menerobos keluar lagi. Dia segera
menghapus air matanya dengan punggung tangannya, dia tidak ingin Gia melihatnya
menangis lagi. Dia beranjak dari tempat tidur Gia dan berjalan menuju jendela
kamar Gia. Kamar Gia terletak di lantai dua, dari jendela ini Laila bisa
melihat pemandangan padatnya rumah penduduk di Bandung. Laila berlama-lama
melihat pemandangan di luar jendela kamar Gia, rumah padat penduduk di sekitar
perumahan Gia seperti simbolisasi sempurna kepadatan yang juga tengah berlalu
lalang dalam pikirannya, dia mengehela nafas panjang dan tidak menyadari bahwa
si empunya kamar sedang berdiri mengawasinya dari depan pintu. Setelah puas,
Laila membalikkan badannya hendak meneruskan tulisannya tapi dia melihat Gia
berdiri di depan pintu, entah sejak kapan.
“Gi? Ngapain
berdiri di situ?” Tanyanya heran.
“Ngeliatin kamu,
khawatir tiba-tiba kamu loncat dari jendela kamarku aja sih, haha.” Jawab Gia
bercanda tapi Laila merespon kata-katanya dengan serius, di luar dugaan Gia.
“Tadinya sih aku
berniat begitu Gi, tapi rupanya Fitrah belum mampu membuatku segila itu,
syukurlah.” Katanya. Bibirnya melengkungkan senyum, getir. Gia mengerti
bagaimana perasaan sahabatnya itu sekarang, dia tidak banyak berkomentar dan
menyerahkan proses penyembuhan hati Laila pada sang waktu, dia hanya berharap
semoga semuanya tidak berjalan lambat.
“Ah, sudahlah. Yuk
makan, kamu pasti lapar kan?” Kata Gia, mengalihkan pembicaraan.
“Iya, aku
lapar—sekali. Hahaha.” Laila menerima mangkuk sup ayam yang diangsurkan Gia,
dan menyendokkan sup yang terlihat menggiurkan itu ke mulutnya.
“Seadanya ya La,
aku belum sempat belanja.. cuma ini bahan yang tersisa di kulkas, hehehe.”
“Seadanya? Sup
seenak ini bagaimana bisa seadanya Gi, kamu jangan keterlaluan kalau merendah..
ini sih makanan rumahan, rasa hotel bintang lima.” Kata Laila sungguh-sungguh.
Gia memang sosok ideal istri idaman, cantik, ulet, tlaten, pintar memasak, mapan, paket lengkap, tidak heran jika
banyak pria mapan yang menaruh hati padanya. Laila melihat ke dalam dirinya,
selama ini dia tidak pernah didekati lelaki manapun. Stok kenalan laki-laki
yang dekat dengannya cukup terbatas karena berkisar pada Papanya,
Adin—kakaknya, Fere—adiknya, dan Fitrah—sahabat yang dia anggap lebih daripada
sahabat, karena dia diam-diam menyimpan cinta untuk laki-laki itu. Sisanya cuma
sekedar kenal, dikenal dan sudah. Dalam pikirannya yang berkeliaran
kemana-mana, Laila tidak benar-benar mendengarkan apa yang sedang Gia katakan.
Gia menyadari hal itu,
“La? Kamu dengerin
aku nggak sih?”
“Hah? Sori, kenapa
Gi?” Jawab Laila yang mulai kembali ke alam sadarnya.
“Hh, nggak. Sudah
lupain aja, lanjutin makanmu.”
“Gi, kamu beruntung
banget ya? cantik, ulet, tlaten,
pintar memasak, mapan, paket lengkap istri idaman. Banyak pria mengejarmu,
sedangkan aku?”
“La, itu sih
kamunya aja yang ngga peka. Yang aku tau, pria-pria yang mengejarku itu awalnya
mengejarmu, tapi karena kamu terlalu kaku dan menutup diri, makanya mereka
menyerah dan beralih mengejarku, aku sih dapat sisa perhatiannya aja.” Kata Gia
setengah bercanda. Laila terdiam, mangkuk supnya sudah hampir kosong. Dia
menyudahi pembicaraan yang dia mulai dengan tersenyum simpul ke arah Gia dan
beranjak ke dapur untuk mencuci mangkuknya. Gia yang juga sudah menhabiskan
supnya, menyusul Laila ke dapur.
“Gi, aku boleh
nginep di sini selama beberapa hari ya?” kata Laila di sela-sela mencuci
piring.
“Boleh aja, mau
berapa lama pun kamu tinggal di sini, aku tidak keberatan, tapi kamu harus
memberitahu orangtuamu kalau kamu di sini, jangan buat mereka khawatir.” Jawab
Gia.
“Oke.”
***
Hari-hari Laila
berjalan normal seperti sebelumnya. Hari ini genap satu minggu dia menginap di
rumah Gia, dan genap satu minggu juga dia menghindari Fitrah. Sebenarnya dia
tidak ingin bersikap pengecut dengan terus menghindar dan bersembunyi dari
Fitrah, tapi hati kecilnya mengatakan bahwa dia belum benar-benar siap bertatap
muka dengan Fitrah, ‘Biarkan begini dulu’
batinnya selalu.
“La, kemarin Fitrah
menemuiku.” Kata Gia tiba-tiba. Laila berhenti mengetik dan mendongakkan
kepalanya. Saraf ditubuhnya seperti disetrum ratusan watt listrik yang
membuatnya lumpuh setiap kali nama Fitrah disebut, tapi dia berusaha
menyembunyikan semua itu di depan Gia.
“Oh, untuk apa dia
menemuiku? Tidak untuk mencariku kan?” Laila berusaha memberikan respon
senatural mungkin, yang terlihat sebaliknya di mata Gia.
“Dia mencarimu,
katanya kamu selalu me-reject
teleponnya setiap kali dia menelponmu, benar?” Tanya Gia penuh selidik.
“Iya.” Jawab Laila
jujur.
“Sampai kapan kamu
mau menghindarinya?”
“Sampai aku datang
ke pernikahannya nanti.” Jawab Laila seadanya. Dia memang sudah memikirkan hal
ini matang-matang, hatinya bulat memutuskan untuk tidak akan menghubungi Fitrah
sebelum dia resmi mengucapkan ijab kabul tiga minggu lagi.
“Terserah kamu
sajalah, aku hanya tidak berharap kamu bertindak pengecut dengan hatimu
sendiri.”
“Terimakasih Gi,
aku tidak akan bertindak pengecut pada akhirnya, tapi untuk saat ini aku ingin
benar-benar menguatkan hatiku.”
“Aku paham.”
***
Tiga minggu
berlangsung begitu cepat. Pernikahan Fitrah hanya berjarak dua hari lagi. Laila
telah menyelesaikan tulisannya, ia juga telah mencetaknya menjadi sebuah buku
mini yang terlihat seperti sebuah diary. Ketika Gia bertanya itu buku apa,
Laila hanya tersenyum simpul dan membuat Gia semakin penasaran.
“La... lusa kamu
datang di akad nikah Fitrah?”
“Nggak. Aku ada meeting dengan perusahaan tempat Fitrah
bekerja, seharusnya Fitrah yang akan menghadiri meeting itu dan asistenku yang akan mewakiliku, tapi aku ingat
kalau Fitrah sedang melangsungkan akad nikah pada jam itu, jadi kuputuskan
untuk menghadiri meeting itu sendiri,
hehehehe.” Jawab Laila dengan senyum lebar. Gia hanya geleng-geleng kepala
melihat tingkah sahabatnya itu. Dia tidak pernah benar-benar memahami jalan
pikran Laila.
***
Waktu untuk rapat masih
beberapa menit lagi, tapi Laila sudah duduk manis di ruang rapat perusahaan
tempat Fitrah bekerja. Dia menunggu sambil mempersiapkan kembali bahan
presentasinya, proyek yang ditanganinya kali ini lumayan besar dan dia harus
memastikan bahwa presentasinya harus terlihat meyakinkan untuk memenangkan
proyek tersebut. Waktu di jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh, tapi
tak seorang pun dari perusahaan Fitrah itu menampakkan batang hidungnya di
ruang rapat itu, Laila mulai menggerutu. Pukul sepuluh lewat lima menit,
seseorang terlihat memasuki ruangan rapat, Laila membalikkan kursi putarnya dan
melihat siapa yang akan mewakili Fitrah untuk rapat kali ini dan ia terkejut karena
melihat Fitrah sendirilah yang menghadiri rapat itu. Jutaan pertanyaan
berkeliaran dalam kepalanya ‘bukankah,
apakah..’ batinnya. Fitrah tersenyum ke arah Laila, dia masuk ditemani oleh
Andita—sekretarisnya.
“Maafkan atas
ketidak profesionalan kami dengan datang terlambat, ada hal yang harus saya
selesaikan terlebih dahulu sebelum menghadiri rapat kali ini.” Kata Fitrah
membuka pembicaraan, dia membungkukkan badannya sedikit dan duduk di kursi yang
bersebrangan dengan Laila. Laila mengangguk kikuk.
“Baiklah rapat bisa
kita mulai sekarang, Bu Laila.” Kata Fitrah.
Laila memulai
presentasinya. Sesuai harapannya, dia menyampaikan prrsentasinya dengan sangat
baik, meskipun hatinya berderum-derum tidak menentu. Rapat selesai, perusahaan
Fitrah—yang diwakili oleh Fitrah—mengatakan akan memberikan keputusan dua hari
dari sekarang. Laila bergegas mengemasi barang-banrangnya dan meninggalkan
ruang rapat sementara Fitrah masih menginstruksikan beberapa hal pada
sekretarisnya. Laila hendak melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan itu,
sebelum tiba-tiba Fitrah menangkap lengannya.
“Tunggu.” Katanya
singkat. Ada marah yang terselip dalam kata-kata itu, Laila tau. Dia menoleh,
menatap Fitrah tidak tepat ke mata bening laki-laki itu.
“Ya, Pak Fitrah?
Apa ada kesepakatan yang masih belum kita bicarakan?” Laila berusaha bersifat
formal.
“Tidak, tidak ada.”
Jawab Fitrah yang kaget mendengar pertanyaan Laila.
“Kalau begitu,
ijinkan saya pergi, masih ada rapat yang harus saya hadiri setelah ini.” Kata
Laila sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Fitrah pada lengannya. Tapi
cengkraman tangan Fitrah jauh lebih kuat dari tenaga Laila.
“Fit, lepaskan
tanganku.” Kata Laila akhirnya karena Fitrah tidak juga melepaskan lengannya
sementara mereka mulai menjadi pusat perhatian di tempat itu. Fitrah tidak
menghiraukan permintaan Laila dan menariknya keluar menuju mobilnya yang
terparkir di basement. Dia tidak
mengacuhkan Laila yang meronta minta dilepaskan tangannya. Setelah sama-sama
duduk di dalam mobil Fitrah, Fitrah terlihat mengatur nafasnya—emosinya. Laila
menunduk, menahan sebisanya untuk tidak tiba-tiba menangis di depan Fitrah.
“Sekarang katakan,
kenapa kamu menghindariku? Satu bulan ini aku mencarimu kemana-mana, semua
teleponku kamu reject, aku mencari ke rumah orangtua mu tapi mereka bilang
tidak tau, Adin dan Fere juga sama saja, Gia juga tidak. Aku baru tau kalau
kamu punya keahlian untuk bersembunyi juga ternyata.” Kata Fitrah memburu.
“Aku tidak
kemana-mana. Aku bekerja seperti biasa, hidup seperti biasa. Tidak kemana-mana.”
Jawab Laila datar.
“Lalu kenapa kamu
menghindariku? Apakah aku berbuat salah terhadapmu? La, kita sudah bersahabat
tahunan, tidak bisakah kamu memberitahuku baik-baik jika aku berbuat salah? Aku
mau menikah pun rasanya kamu tidak peduli.”
“Aku tidak
menghindarimu, hanya tidak ingin bertemu denganmu. Bukan kamu yang salah, tapi
aku yang bodoh. Aku tau kamu akan menikah, justru karena itu aku tidak ingin
bertemu denganmu. Nah, sudah kujawab semua pertanyaanmu, sekarang ijinkan aku
keluar dari mobilmu atau aku akan berteriak dan melaporkanmu atas tindakan
tidak menyenangkan dengan membawaku secara paksa ke mobilmu.” Jawab Laila
tegas. Fitrah membuka mulutnya tidak percaya, dia tidak paham apa kesalahannya
sehingga Laila bisa berbicara seperti itu terhadapnya. Akhirnya dia membuka
pintu mobilnya, tapi sebelum Laila beranjak ia mengatakan,
“Aku butuh
penjelasan La, itupun jika kamu masih menganggapku sebagai sahabatmu.” Katanya
tanpa menatap Laila.
“Penjelasanku akan
aku berikan sebagai kado pernikahanmu, besok.” Jawab Laila. Dia berjalan cepat
ke mobilnya yang terparkir tidak jauh dari mobil Fitrah.
Laila menangis
sesenggukan di dalam mobilnya. Dia menyalahkan dirinya sendiri karena telah
membuat Fitrah begitu marah tanpa bisa mengungkapkan kemarahannya. Dia
menyalahkan dirinya sendiri atas cintanya kepada Fitrah yang tidak seharusnya
ia biarkan tumbuh subur dan membuahkan kecewa. Dia menyalahkan dirinya sendiri
atas semuanya. Entah kekuatan siapa yang telah dia pinjam untuk telihat kuat di
depan Fitrah, yang jelas dia sangat bersyukur dia tidak harus menampakkan
kelemahannya di hadapan Fitrah. Laila menghapus airmatanya dan mengijak gas
mobilnya kuat, melaju secepat kilat membelah jalanan Kota Bandung yang mulai
terik.
***
23 September
2017, 19.00 WIB
Laila telah siap,
hanya beberapa tinggal sapuan lipstik di bibirnya dan dia akan terlihat
sempurna untuk pesta resepsi Fitrah yang di gelar digelar di Hotel Aston Braga,
sebuah hotel bintang empat yang cukup terkenal di Bandung, malam ini.
“La, sudah siap?”
Tanya Gia yang kemudian terbengong melihat penampilan Laila. Sahabatnya itu
terlihat berbeda.
“OMG. Cantik
banget. Sumpah.” Katanya kagum.
“Ahahaha, kamu bisa
aja. Aku ingat kalau aku punya gaun ini, berhubung gaun ini pemberian seseorang
yang spesial, tidak ada salahnya jika aku mengenakannya di acara spesial orang
itu malam ini.” Kata Laila dengan senyum simpulnya.
“Jadi gaun itu
pemberian Fitrah?” Tanya Gia yang dijawab anggukan oleh Laila.
“Dua bulan lalu,
saat aku berulang tahun. Biru. Dia memang tau dengan baik seleraku.” Selesai
mengucapkan kata-kata itu, mata Laila menerawang kosong. Gia mengelus pundak
Laila yang dibiarkan terbuka.
“Yuk ah..” Kata
Laila menghentikan sesi melankolisnya malam ini, ‘no more tears’ batinnya.
“Ayo.”
Mereka berangkat ke
acara resepsi itu menggunakan mobil Laila. Gia menolak menggunakan mobilnya
karena mobilnya itu sering rewel akhir-akhir ini.
***
Sesampainya di
tempat resepsi, Laila tiba-tiba merasa pusing melihat banyaknya orang yang ada
di tempat itu. Dia memang tidak begitu menyukai keramaian.
“La... you okay?” Tanya Gia yang melihat Laila
memijat-mijat keningnya.
“Oke kok, cuma ini,
banyak banget sih orangnya. Kamu kan tau aku ngga kebiasa sama tempat yang
sumpek banyak orang begini, ah, tapi sudahlah, ayo masuk. Kita selesaikan ini
secepatnya, dan pulang secepatnya.” Katanya. Gia mengangguk, dia mengikuti
Laila dari belakang.
Dekorasi pelaminan
Fitrah yang bergaya internasional terlihat begitu mewah. Laila heran, setaunya
Fitrah tidak begitu suka hal-hal yang berlebihan. Fitrah melihat Laila masuk ke
ruang resepsinya, dia datang bersama Gia. Laila berjalan ke arah pelaminan—ke
arahnya. Laila berdiri tidak jauh dari pelaminan tempat Fitrah dan Fatim—nama
istri Fitrah—yang tengah menyalami para undangan.
“Yuk, La...” Gia
menggandeng Laila menuju pelaminan untuk bersalaman dengan Fitrah dan istrinya.
Laila mengangguk mengikuti Gia.
Akhirnya antrian
Laila mengantarkannya ke depan Fatim, dia memeluk Fatim dan mengucapkan
basa-basi selamat sambil tersenyum manis. Fitrah mengawasi Laila, dia memakai
gaun pemberiannya. Laila maju ke arah Fitrah, seperti pada Fatim, dia juga
memeluk dan mengucapkan basa-basi selamat sambil tersenyum manis. Laila sudah
hendak pergi dari pelaminan itu sesaat sebelum Fitrah menarik tangannya.
“Mana hadiahku?”
Tanyanya langsung. Hadiah yang dia maksud adalah penjelasan Laila atas sifatnya
akhir-akhir ini, Laila tersenyum, senyum yang sebelumnya tidak pernah membuat
Fitrah merasa begitu tidak nyaman seperti saat ini. Laila berbisik di telinga
Fitrah, dia tau tindakannya akan memancing reaksi dari kerabat Fitrah tapi dia
tidak peduli.
“Kalau kamu bisa
mendapatkan ijin dari istrimu untuk meninggalkan pelaminan ini selama beberapa
menit, akan kuberikan hadiahmu.” Dan Laila berlalu.
Fitrah menjelaskan beberapa
hal kepada Fatim, dan dia bergegas menyusul Laila. Laila sedang berdiri di
samping Gia saat dia melihat Fitrah berjalan tergesa menghampirinya.
“Gi, kalau Fitrah
kesini, bilang aku tunggu dia di restoran hotel ya.” Laila berlalu dari ruangan
yang penuh orang itu.
***
“La...” Sapa
Fitrah. Laila menoleh, dia meletakkan gelas wine-nya—yang
sebenarnya berisi sebuah soft drink berkarbonasi rasa lemon itu—dan mempersilahkan Fitrah
duduk.
“Sejak kapan kamu
‘minum’?”
“Ini 2017 Fitrah.
Kamu minum apa?” Jawabnya yang tidak menjawab pertanyaan Fitrah
“Tidak usah, aku
bilang pada Fatim tidak akan lama. Cepat katakan semuanya sekarang.”
“Wow, belum satu
bulan menikah kamu sudah berubah menjadi Pak Fitrah, suami yang takut istri
ya?” Kata Laila nyinyir.
“Terserah apa
katamu, yang jelas aku butuh penjelasanmu sekarang.” Jawab Fitrah tegas. Laila
duduk tegap di kursinya, ia mengambil sebuah amplop putih di dalam tasnya.
Amplop itu berisi tulisannya selama satu bulan ini yang ia sulap menjadi sebuah
buku bersampul dua anak remaja usia SMA—laki-laki dan perempuan—yang saling
bergandengan menyaksikan matahari tenggelam, ya, itu foto Fitrah dan Laila saat
mereka berdarmawisata ke Anyer sembilan tahun silam.
“Apa ini?” Tanya
Fitrah terheran-heran menerima amplop itu.
“Jawaban yang kamu
mau. Maafkan jika aku mengecewakanmu atas sikapku. Oiya, minumlah ini.” Katanya
sambil mengangsurkan gelasnya ke mulut Fitrah sebelum dia sempat menolak.
Fitrah meminum cairan dala gelas Laila dan menyadari bahwa itu bukan wine seperti dugaan awalnya. Laila pergi
dari restoran itu sambil berlari cepat.
Fitrah tidak sempat
mengejar Laila, tapi dia tidak kembali ke aula resepsinya melainkan ke
kamarnya. Dia membuka amplop pembirian Laila dan tertegun menatap cover depan
buku yang tersimpan dalam amplop itu. Ia membuka halaman pertama buku itu yang
bertuliskan:
Untuk Fitrah,
Mulanya
Fitrah tertawa membaca tulisan dalam buku bikinan sendiri itu, buku itu
merupakan cerita pertemanan antara dia dan Laila, sejak kali pertama mereka
pertama bertemu. Fitrah membaca setiap tulisan dalam buku itu dengan cepat, dan
sampailah dia pada halaman ketika Laila mengakui semua perasaannya yang tidak
biasa terhadap Fitrah, perasaan yang bersemi sejak tujuh tahun silam dan baru
diketahuinya sekarang.
“Gila...”
Fitrah menggumam, emosinya sedang dipermainkan oleh kata-kata yang tertulis
dalam buku itu. Satu jam berlalu dan Fitrah masih terpekur membaca buku itu,
dia tau pasti Fatim sedang mencari-carinya sekarang, tapi Fitrah enggan
beranjak dari duduknya dan kembali ke ruang resepsi pernikahannya.
Fitrah
meneteskan airmatanya, dia tidak menyangka ternyata Laila menyimpan cinta yang
begitu besar untuknya, tapi dia menjadi terlalu buta untuk menyadari hal itu.
Di halaman terakhir buku yang tebalnya tidak lebih dari 50 halaman itu Laila
menuliskan:
Cinta itu...
Bohong jika
tidak menyakitkan, buktinya aku merasakan sakitnya mencintai..
Bohong jika
bisa seratus persen ikhlas memberi tanpa berharap menerima..
Bohong jika
mau berkorban apapun demi melihat orang yang kita cintai bahagia..
Bohong,
bohong, bohong..
Tapi..
Cinta itu,
Benar
membuatku belajar menghargai diriku,
Benar
membuatku belajar untuk tidak jadi bodoh. Terimakasih, Fitrah..
PS. Aku
memberikanmu 2 tiket bulan madu ke maldives—aku tau kau suka sekali tempat
ini—sebagai permintaan maafku. Bye.
--Waktu Malam.
Fitrah
menyelesaikan buku itu tepat saat pintu kamarnya terbuka, Fatim datang dengan
raut muka yang menggambarkan kelegaan. Fitrah tersenyum melihatnya, dia
mengibarkan dua tiket pemberian Laila,
“Tiket
bulan madu gratis buat kita dari Laila.” Katanya sambil tersenyu lebar. Fatim
berjalan menghampirinya.
“Ada
masalah?” Katanya khawatir.
“Tidak,
tentu saja tidak ada. Memang siapa yang berani membuat masalah di hari
pernikahanku? Hehehe..” Jawabnya, dia menyembunyikan bukunya di balik selimut
yang dia duduki. Dia memutuskan bahwa tidak akan ada yang berubah, meski
seandainya dia juga mencintai Laila, dia tetap tidak akan meninggalkan Fatim. ‘Aku tidak akan meninggalkanmu, karena
bapakku berhutang banyak sekali pada papamu.’ batinya. Kisahnya dan Laila
hanya akan menjadi rahasia manis yang dia simpan sampai dia tua nanti.
***
Cinta itu...
Kadang membuat kita
berperilaku, bodoh.
Waktu merasa bodoh,
--Aesaazzam

