Senin, 13 Februari 2012

Suara-suara

Ketika akhir, menjadi satusatunya pengontrol bagi jiwa yang mahaegois..

Dan suarasuara itulah saksi, bahwa tidak ada yang terlalu lama dalam kehidupan yang sesekejap kedipan mata..

---------------------------------------------


Mendung menggelayuti malam yang sepi

Keheningan menyergap jiwa yang tengah sendiri

Hembusan angin mencipta sebuah melodi

Membisikkan ketakutan-ketakutan sarat arti


Tenggelam dalam sebuah perenungan

Mempertanyakan kembali kesiapan

Karena setiap detik yang terlewatkan

Tak kan luput dari pertanggungjawaban amalan


Ketika telah sampai masa

Tak kan ada kesempatan membela dengan kata

Mengapa jiwa selalu menegeluh

Dalam kucuran peluh


Ceceran khilaf di masa lalu

Penyesalan akan detik-detik yang terlanjur berlalu

Menjelma menjadi nafas yang memburu

Dan tetes sesal yang mengalir menderu


Satu suara mengatakan:

“Tuhanmu tak butuh tangis penyesalan,

Airmatamu adalah bagian dari sebuah kesia-siaan

Hanya hamburkan detikmu yang tersisa dalam kehidupan.”


Suara yang lain membisikkan:

“Alam telah merekam setiap kejadian dalam deret kesaksian,

Dan masing-masingnya menuntut adanya pertanggungjawaban,

Maka, sudah sejauh mana persiapan yang engkau lakukan?”


Aku terdiam,

Ku gaungkan kembali dalam hati,

“Jadi, sudah sejauh mana persiapan?

Jika hari hanya berisi ketakutan dan penyesalan,

Kapan engkau akan benar-benar siap menatap kematian?”



-aesazaam-

Sabtu, 04 Februari 2012

Suatu Ketika, Saat Senja Hadir Terlalu Dini

Entah berapa lama waktu berlalu,

Meretas rindu dalam masaku,

Tak ada pengganti. Tak kan pernah ada pengganti bagiku

Untuk kenangan yang telah menjadi terlalu manis di antara jemari bergenggam rindu


4 Februari 2012

Sebuah siang berkalang mendung menggelayut sendu

Kubiarkan angin menyapa rinduku

Menghadirkan senyum dalam satu

Ulasan cantik di atas ukhuwah yang teretas,


Mengalir bersama gerimis dan dayungan sayang,

Kubiarkan Matahari bersembunyi

Menatap iri pada kehangatan yang terpancar


Aku merapal rindu dalam tetesan hujan

Menggigil dalam senang,

Merajut asa dalam tawa yang terkembang

Mengeja sayang dalam teriakan di antara titik-titik yang jatuh tergenang


Lalu semesta pun seakan tahu

Menjelma serupa isyarat dalam reda,

Sebentar..


Tawa dan canda kalian

Melukis senyum dalam wajah bulan yang memucat

Karena waktu yang tak begitu bersahabat

Terlewat

Tanpa tahu, senja telah hadir begitu cepat


Aku terbangun dalam timangan

Saat siang telah menjadi terlalu singkat

Untuk dihabiskan dalam keberagaman--

Dalam kebersamaan dan sepiring nasi yang tersaji


Sungguh, aku aku tak ingin pergi

Tak ingin beranjak dari tikar plastik tempat kita berbagi

Kalian pun, enggan berhenti

Terus saja bercerita, dalam sajak-sajak tak tertulis

Berbagi gambar sebagai kenangan yang tak terbeli


Sekali lagi,

Saat senja hadir terlalu dini

Memaksaku bergegas dalam ketergesaan

Dan, waktu pun berlalu tanpa pamit

Dalam hujan yang menderas di atas kepalaku..


Senjaku berlalu

Bersama deru yang mengikat sejumput haru,

Betapa yang sederhana mampu membayar rindu

Mengumpulkan serpihan kenangan masa lalu

Menjadi satu


Melodiku kembali utuh

Dalam gitar kayu tua

Mengalunkan lega..


Terimakasih, saudara..

Semoga keberkahan teriring dalam langkah kita,

Selanjutnya..


-aesaazzam-