Sabtu, 10 Maret 2012

Ialah "Gigih"

Setelah lolos seleksi ke tiga, puisi ini berhenti melaju..

Dan sempat memupuskan harapan yang awalnya membumbung,

Hmm, tapi saya rasa.. puisi ini bagus untuk evaluasi, jika kita masih sering mengeluh tentang beratnya hidup..

Selamat Membaca..

-------------------------------------------------


Siang dan malam tak ada beda

Mentari dan rembulan terlihat sama

Bukan karena ia mati rasa

Tapi karena ia, buta..


Ia tak mengenal ragam warna

Karena dalam dunianya

Hanya satu tersisa

Hitam,


Pun demikian,

Ia tak pernah menuntut pada Tuhan

Ia, lelaki dengan hati yang lapang

Berjalan tegar menyusur hari-hari panjang


Ia tak mengenal keluh

Baginya, hari takkan usai jika hanya keluh tanpa cucuran peluh

Gelap yang menerangi harinya, tak membuatnya luntur dalam teguh

Meski kedua matanya buta, nuraninya utuh..


Ia malu, jika harus berpasrah dengan ikhtiar yang lemah

Sedang mengharap pemberianNya yang melimpah,

Baginya, hidup tak sama dengan mie instan

Yang untuk memperolehnya tak perlu banyak perjuangan

Baginya, kebahagiaan dan perut yang kenyang,

Hanya dapat diperoleh dengan usaha dan jerih payah..


Kedua matanya memang tak sempurna

Tapi kedua kakinya, tetap tegak menapak tanah

Melangkah pasti

Demi mencari sesuap nasi, untuk anak-istri


Ia lah uswah

Di tengah sosialita yang serba mewah

Dengan kehidupan kota yang tumpah ruah


Ia lah gigih dalam sosok yang nyata...


Sidoarjo, 10 Januari 2012