Setelah lolos seleksi ke tiga, puisi ini berhenti melaju..
Dan sempat memupuskan harapan yang awalnya membumbung,
Hmm, tapi saya rasa.. puisi ini bagus untuk evaluasi, jika kita masih sering mengeluh tentang beratnya hidup..
Selamat Membaca..
-------------------------------------------------
Siang dan malam tak ada beda
Mentari dan rembulan terlihat sama
Bukan karena ia mati rasa
Tapi karena ia, buta..
Ia tak mengenal ragam warna
Karena dalam dunianya
Hanya satu tersisa
Hitam,
Pun demikian,
Ia tak pernah menuntut pada Tuhan
Ia, lelaki dengan hati yang lapang
Berjalan tegar menyusur hari-hari panjang
Ia tak mengenal keluh
Baginya, hari takkan usai jika hanya keluh tanpa cucuran peluh
Gelap yang menerangi harinya, tak membuatnya luntur dalam teguh
Meski kedua matanya buta, nuraninya utuh..
Ia malu, jika harus berpasrah dengan ikhtiar yang lemah
Sedang mengharap pemberianNya yang melimpah,
Baginya, hidup tak sama dengan mie instan
Yang untuk memperolehnya tak perlu banyak perjuangan
Baginya, kebahagiaan dan perut yang kenyang,
Hanya dapat diperoleh dengan usaha dan jerih payah..
Kedua matanya memang tak sempurna
Tapi kedua kakinya, tetap tegak menapak tanah
Melangkah pasti
Demi mencari sesuap nasi, untuk anak-istri
Ia lah uswah
Di tengah sosialita yang serba mewah
Dengan kehidupan kota yang tumpah ruah
Ia lah gigih dalam sosok yang nyata...
Sidoarjo, 10 Januari 2012